9 : Masih Terbayang-bayang Masalalu

1100 Words
Setelah mengalami hal tak terduga seharian itu, kini Altair dan Alesha tengah disibukkan oleh barang-barang oleh-oleh yang dibawa sang ayah. Padahal kedua anak itu tidak meminta apapun saat Johan pergi, tapi inisiatif pria itu sendiri yang membawakannya. Seperti halnya saat ini, Altair sedang membuka kardus robot-robotan yang bisa berbicara dan bergerak, anak usia lima tahun itu tersenyum senang. Ia memang sudah menginginkan mainan itu sejak satu minggu yang lalu, pasalnya ada teman sekelasnya yang membawa robot semacam itu ke sekolah, alhasil Altair pun menginginkannya. Namun, ia paham karena sang ibu sering melarangnya untuk meminta ini itu, alhasil Altair tidak berani mengutarakan keinginannya. "Mainannya bagus, Al suka." Kardus mainan itu telah terbuka, memperlihatkan mainan yang didamba-dambakan anak laki-laki itu, matanya mengerjap bahagia. "Syukurlah jika kamu suka, berarti Papa tidak salah pilih." jawab Johan, ia mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Papa baik, terimakasih." ujar Altair dan Alesha bersamaan. Keduanya memang sudah diajarkan beberapa etika yang positif, seperti contohnya; mengatakan kata maaf, tolong dan terimakasih. Semua didikan itu merupakan hasil dari Aleya, ia ingin agar anaknya tumbuh menjadi sosok yang memiliki tata krama. Tidak dipungkiri, Johan memiliki sifat yang sombong dan arogan, bisa saja gen jelek itu menurun pada anak-anaknya. Meski saat ini Johan sudah berubah menjadi pribadi yang cukup fleksibel, tapi tetap saja sifat sombong bawaan dari lahirnya masih melekat, hanya saja Johan tidak menunjukkannya di depan Aleya dan anak-anaknya. Aleya berdiri diambang pintu melihat pemandangan itu, terdengar hela napas panjang. Sebenarnya, apapun akan Johan berikan jika anak-anaknya yang meminta. Tapi Aleya tetaplah perempuan yang tidak ingin membebani orang lain, meski status Johan adalah ayah biologis dari kedua anak itu. Hubungan Aleya dan Johan memang sudah membaik, bahkan Aleya juga telah mengesampingkan penderitaannya di masa lalu akibat pria itu. Akan tetapi, ia harus tahu diri dan posisi, Johan bukan siapa-siapanya. Secara pandangan hukum dan agama, anak yang lahir diluar pernikahan bukanlah tanggung jawab sang ayah. Oleh karena itu, Aleya masih bersikap tidak enak hati jika Johan terlalu memanjakan kedua anaknya. Terkadang Aleya berpikir, Johan melakukan segalanya karena hanya Altair dan Alesha lah satu-satunya penerus seorang Zachari yang sah. Bila pria itu tidak divonis mandul, apakah Johan masih mau mengakui mereka? "Mama?!" Tiba-tiba saja suara anak kecil berseru, memanggil nama sang ibu dengan senyuman yang memperlihatkan giginya yang tumbuh dengan rapi. Aleya tersentak kaget, ia mengerjapkan matanya sambil mengangkat kepala dari sandaran pintu. "Ya?" jawab perempuan itu. "Aku punya mainan baru." Alesha mengangkat mainan khas anak-anak perempuan, apa lagi jika tidak jauh-jauh dari boneka, barbie dan lainnya. Anak itu seolah lupa, saat menelpon Johan beberapa hari lalu, ia tidak ingin dibawakan apa-apa. Namun, ketika Johan pulang dan membawakannya mainan, Alesha pun kegirangan. Aleya menyunggingkan senyumnya, terlihat amat kaku dan dipaksakan. "Iya, bagus." Aleya menjawab apa adanya. Johan yang sedang duduk dikelilingi oleh dua anaknya pun mendongakkan kepala, melihat ke arah Aleya yang sedang berdiri dengan tatapan yang sendu. Dari nada Aleya tadi, perempuan itu terdengar tidak semangat sama sekali. Pandangan Aleya dan Johan saling beradu, Aleya berusaha untuk mengalihkan tatapannya. "Al, Ale, kalian main dulu di sini ya, Papa mau bicara sama Mama kalian dulu." Altair dan Alesha mengangguk asal, keduanya masih fokus pada mainan masing-masing. Johan berdiri dari duduknya, ia menghampiri tempat dimana Aleya berdiri. Pria itu menatap wajah Aleya dari dekat, sangat cantik. "Ada apa, Jo?" Aleya menaikkan sebelah alisnya. Johan menghela napas kasar, Aleya memang selalu berubah-ubah. Terkadang ia ceria, murung, sendu dan lainnya. "Kamu tidak suka jika aku membelikan anak-anak mainan?" tanya Johan to the point. Aleya terdiam membisu sejenak, ia merasa bahwa telah menyinggung ego Johan sebagai orangtua dari Altair dan Alesha. "Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Aleya mencoba untuk bertanya terlebih dulu. Johan menjilat bibirnya yang kering. "Apa kamu masih merasa tidak enak hati? Enggan, dan semacamnya?" Lagi-lagi Aleya dibuat terdiam, ia kesulitan untuk menjawab pertanyaan Johan. "Jawab aku, Leya! Kamu masih meragukan kasih sayangku pada mereka? Meskipun mereka lahir dari hubungan yang tidak sehat, tapi aku sangat menyayanginya. Altair dan Alesha adalah darah dagingku, apapun akan ku lakukan untuknya, mereka adalah tanggung jawabku. Bagaimanapun juga, aku Ayah biologisnya, dalam darah mereka ada darahku yang mengalir. Jadi tolong, singkirkan rasa tidak enak hatimu, singkirkan rasa engganmu. Aku melakukan semua ini tulus karena rasa sayang, jangan mempersulit diriku untuk mengasihi anak-anakku sendiri." Johan berujar panjang lebar, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Aleya selalu berpikiran tentang rasa tidak enak hatinya, tapi apakah perempuan itu tidak sadar bahwa karenanya membuat Johan merasa dipersulit? Aleya tidak menjawab, ia sibuk membenarkan ucapan-ucapan Johan yang tidak bisa ia sanggah. "Jawab pertanyaanku, apakah kamu masih membenciku karena kejadian itu?" Johan melontarkan pertanyaannya dengan hati-hati, ia sangat penasaran. Mata Aleya seketika membulat terkejut, kenapa Johan berpikir demikian? Justru Aleya mati-matian mengesampingkan masalah itu, tapi Johan malah mengungkitnya. "Aku bahkan berusaha untuk melupakannya, Jo. Aku sudah mengesampingakan kejadian itu, jangan mengungkitnya lagi." Kejadian p*********n itu memang masih membekas di dalam ingatan Aleya, tapi sebisa mungkin ia tidak egois, ada Altair dan Alesha yang membutuhkan sosok figur Ayah. Sungguh, Aleya sudah memaafkan Johan atas kejadian itu. Ia berusaha meski sulit. Kini gantian Johan yang merasa telak, ia malah mengungkit rasa sakit yang Aleya pendam dalam-dalam. Ekspresi wajah Aleya berubah murung, tiba-tiba saja sekelebat bayangan malam itu menghantui pikirannya. Dadanya terasa nyeri, Aleya memegangi kepalanya yang terasa pusing. Apakah traumanya kambuh? Tidak, jangan. Melihat Aleya yang menunjukkan gelagat aneh pun membuat Johan dilanda panik, ia ingat betul bagaimana trauma Aleya membuat perempuan itu mengamuk, melukai, dan menyerang dirinya tanpa ampun. Johan tidak masalah jika Aleya melukainya. Akan tetapi, di sini ada anak-anaknya, ia tidak mau jika Altair dan Alesha melihat sang ibu dalam kondisi tidak stabil untuk kedua kali. Johan merasa bersalah karena telah menggali ingatan Aleya, ia menyesal. "Leya?" Panggil Johan dengan hati-hati, ia melirik ke arah anak-anaknya yang masih setia duduk bermain dengan mainannya masing-masing. Johan harap Aleya tidak kambuh, ini bahaya. Aleya meluruskan tatapan. "Kenapa, Jo? Takut jika aku kambuh dan menyerangmu lagi?" Aleya berujar dengan nada datar, sangat datar hingga terdengar sinis. "Aku tidak takut bahkan jika kamu melukaiku. Tapi di sini ada Altair dan Alesha, mereka pasti ketakutan melihatmu." jawab Johan. Aleya terkekeh miris. "Aku tidak gila, Jo" "Aku tidak mengatakanmu seperti itu. Maaf, aku telah mengungkit masa lalu, aku bersalah." Johan tidak memungkiri jika kali ini ia bersalah. Seharusnya ia bisa menghormati usaha Aleya untuk melupakan malam kelam itu. Johan menatap Aleya dengan lembut, ada pancaran kasih sayang tulus dari sorot mata itu. Aleya adalah perempuan yang ia tunggu dengan sabar, Johan akan memenangkan hati Aleya suatu hari nanti. Meski sulit, Johan tidak akan menyerah. Boleh saja saat ini Aleya masih menutup hatinya, tapi suatu saat nanti pasti hati itu terbuka untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD