Setelah hari dimana kejadian tak mengenakkan itu terjadi, Dealova memilih untuk berusaha menghindar dari sosok pria yang menyeramkan itu, dirinya masih trauma karena diperlakukan rendah oleh Danial.
Yang tadinya Danial meminta ia untuk datang kembali ke ruangan itu, tapi gadis tersebut tak menurutinya. Dealova saat itu justru menyembunyikan dirinya jauh-jauh dari sekitaran Danial, ia pula bersikeras meminta rekannya untuk menggantikan dirinya selama Danial masih bertugas di kantor itu.
Rekannya sempat menolak mentah-mentah permintaan Dealova, tapi Dealova tidak patah semangat, ia terus membujuk temannya agar mau menggantikan dirinya sebagai pemberi arahan meeting selama beberapa hari ke depan.
Jujur saja, Dealova kali ini akan lebih mementingkan harga diri daripada pekerjaannya. Biarlah ia terkena marah dari sang atasan, Johan, yang terpenting ia selamat dari terkaman sosok Danial Zachari.
Ya, Danial sudah menggunakan nama keluarga 'Zachari' karena Peter dan yang lainnya meminta.
"Lova?" Sebuah suara menginterupsi kegiatan gadis yang tengah mengendap-endap menuju ke bilik kerjanya.
Dealova terperanjat kaget, ia menatap salah satu rekannya dengan mata yang membulat penuh.
Sudah dua hari ini Dealova bermain kucing-kucingan dengan Danial, ia berharap agar tidak bertemu Danial lagi diakhir-akhir acara meeting. Hanya tinggal satu hari saja Danial berada di kantor itu, setelah semua urusan meeting atau pertemuan-pertemuan lainnya selesai, maka Dealova bisa aman karena pastinya Danial akan kembali ke kantor pusat.
"Kamu kenapa?" Tanya sebuah suara lagi, keningnya berkerut-kerut saat melihat tingkah Dealoava yang terlihat ketakutan, berantisipasi dan cemas, mungkin?
Dealova menghela napas lega, ia pikir Danial lah yang mendatanginya. Jujur saja Dealova masih amat sangat takit dengan Danial, bagaimana tidak? Pria itu sangat aneh.
Dealova bisa merasakan bahaya yang besar jika ia berdekatan dengan pria itu. Perkataan Danial yang merendahkannya kemarin pun masih berputar-putar di otak cantiknya, Dealova sangat geram.
"Ah- eh, tidak ada apa-apa, memangnya kenapa?" Dealova merekahkan senyumnya meski dipaksakan, ia tidak mau membuat rekannya berpikir aneh-aneh.
Saat ini suasana masih pagi, jam para karyawan masuk ke kantor. Begitupula dengan Dealova, saat memasuki atau keluar kantor ini, matanya harus jeli, langkah kakinya juga perlu hati-hati agar ia tidak berpapasan dengan Danial.
"Kenapa kamu menyuruh Vrancesa menggantikan pengarahan meeting Tuan Danial?" tanya perempuan seumuran Dealova itu.
Dealova pun menipiskan bibirnya, kenapa harus ada pertanyaan itu? Ia pikir hanya Vrancesa, Danial, para klien dan dirinya saja yang tahu.
"Kamu mengetahui darimana?" tanya Dealova balik.
"Kabar itu sudah menyebar ke seluruh divisi kita, ada apa memangnya? Apakah Tuan Danial benar-benar semengerikan yang diceritakan orang-orang?" Gadis, perempuan itu membisikkan kalimat terakhir dekat ke telingan Dealova agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.
Dealova terdiam untuk beberapa saat, jika ia menceritakan yang sebenarnya sudah pasti Gadis akan membocorkannya pada rekan-rekannya yang lain. Gadis adalah tipe karyawan penggosip, ia dihindari oleh banyak karyawan yang memiliki masalah-masalah berat, mereka hanya tidak mau jika Gadis merusuhi privasinya.
Namun, sebuah kesialan bagi Dealova karena harus bertemu Gadis dipagi-pagi begini. Dealova bahkan sudah ditodongkan pertanyaan yang membuatnya kebingungan harus menjawab apa.
Jujur salah, bohong apalagi?
Danial memang menyeramkan, Dealova bisa melihat didetik-detik terakhir ia menutup pintu, ia bisa melihat tatapan Danial yang berbeda dari sebelumnya. Jika Danial yang sebelumnya melemparkan tatapan m***m dan menggoda, tapi sangat berbeda dengan Danial yang tiba-tiba saja menggeram tertahan.
Akan tetapi, Dealova tidak memiliki hak untuk menyebarkan aib atasannya. Mungkin saja Danial memiliki penyakit atau gangguan-gangguan lain, misalnya.
"Tidak, Tuan Danial baik." balasnya, Dealova ingin menelan kembali perkataannya.
Baik? Hell, no. Mana ada pria baik-baik yang mengajak perempuan polos untuk menghangatkan ranjang.
Gadis memincingkan matanya sembari berkacak pinggang. "Kamu bohong."
Dealova sudah tidak heran lagi dengan sikap Gadis yang seperti itu, semua karyawan di divisi ini sangat mengenal perilakunya.
"Ya sudah kalau tidak percaya, aku pergi." Dealova mengendikkan bahunya tak peduli, selanjutnya kaki-kaki jenjang itu menelusuri lantai marmer guna menuju ke bilik kerjanya.
Setelah sampai di kubikel dimana ia menyelesaikan semua pekerjaannya, Dealova meletakkan tas selempangnya pada meja kerja. Di meja itu ada seperangkat alat komputer lengkap, alat tulis yang penuh, serta beberapa lembar dokumen sisa kemarin yang belum selesai ia kerjakan.
Dealova menghela napas panjang, ia menyenderkan punggungnya pada kursi, jari-jarinya mengetuk dagunya dengan perlahan.
Hidupnya cukup rumit, seringkali masalah serta cobaan mendatanginya bertubi-tubi. Suka duka ia jalani dengan kesendirian di sini.
Dealova Asmaranti namanya. Ia adalah sosok gadis yang kuat dan tangguh, menjalani semua ujian yang Tuhan berikan dengan lapang d**a.
"Lova." Lagi, sebuah suara memanggil namanya. Dealova yang saat itu sedang melamun membayangkan kegetiran hidupnya pun merasa tersentak, ia menoleh ke samping dimana ada Vrancesa yang sedang menatapnya dengan raut wajah ditekuk.
"Ya, Cesa?" jawab Dealova.
Vrancesa meniup poni yang menghadang matanya, tangannya meraih kursi kosong dan menariknya mendekat pada rekannya.
"Asal kamu tahu, selama beberapa hari ini Bos besar selalu bertanya tentangmu." ujar Vrancesa riba-tiba.
Dealova mengerjapkan matanya kebingungan, ia juga menelan ludahnya susah payah.
"Aku? kenapa?"
"Beliau bertanya kenapa aku yang harus menjelaskan arahan meeting, kenapa bukan kamu saja." balas Vrancesa.
Dealova menegapkan badannya, ia menatap fokus Vrancesa.
"Lalu kamu menjawab apa?" Dealova mulai panik, bagaimana jika Danial menginginkan dirinya lagi. Jari-jarinya saling bertaut tidak nyaman, degup jantungnya terasa berlari-lari maraton.
"Kamu punya kesibukan lain." balas Vrancesa dengan memutar bola mata jengah.
".... tapi apakah kamu tahu? Bos tak henti-hentinya bertanya setiap hari berturut-turut, ia juga tampak berbeda setiap saatnya." lanjut Vrancesa, kali ini ia menerawang bagaimana sikap Danial yang berubah-ubah dan tak stabil. Vrancesa takut dengan Danial, sosok pria itu lebih menyeramkan dari si pemilik perusahaan sendiri.
Meskipun Johan juga terkadang bersikap sombong, tapi aura pria itu tak semengerikan milik Danial. Entah kenapa bos besarnya itu bisa mempercayakan pertemuan sepenting ini pada pria tak stabil seperti Danial?
Gotcha! Ini yang Dealova juga rasakan.
"Cesa, ku mohon padamu, hanya dua hari lagi. Setelah semua pertemuan selesai, Tuan Danial pasti akan pergi." ujar Dealova memohon.
Vrancesa menghela napas kasar, ia adalah karyawan terlama di divisi ini, pengalamannya dalam menjinakkan atasan patut diacungi jempol.
"Baik, hanya sampai dua hari ke depan aku membantumu, selebihnya tidak." balas Vrancesa setelahnya.
"Terimakasih, Cesa." Dealova tak henti-hentinya berkata terimakasih, ia sangat terbantu oleh Vrancesa.
Dengan begitu, Dealova berharap agar ia tak bertemu dengan Danial lagi kedepannya.
Namun, nasib-- siapa yang tahu?