Hari ini merupakan hari libur, yang mana bagi sebagian orang merupakan waktu yang tepat digunakan untuk liburan.
Seperti halnya saat ini, Altair dan Alesha yang sudah terjadwal mengunjungi kakek dan neneknya dari sang ayah pun sedang duduk tenang menikmati perjalanan.
Anak-anak itu mengamati jalanan melalui jendela, kali ini jalanan cukup ramai, kendaraan berlalu lalang.
"Kakek sama nenek kangen banget sama kalian." ujar sebuah suara.
Altair menatap ke arah depan, dimana sang ayah sedang mengendarai mobil yang ia tumpangi.
"Iya, Al juga kangen sama mereka. Al kangen dibuatin es krim dan puding, rasanya enak." Altair membalas ucapan sang ayah.
Tak mau kalah dengan saudara kembarnya, Alesha pun menganggukkan kepala menyetujui.
Sudah sejak Johan pergi menuju perusahaan cabangnya sampai sekarang ini, Altair dan Alesha belum dibawa ke rumah Peter dan Davika, dua orang tua itu sangat merindukan cucu-cucu mereka.
Aleya juga berada di sana, perempuan itu duduk tepat di sebelah Johan, sedangkan anak-anaknya ada di belakang.
"Jangan buat kakek dan nenek kalian lelah ya, kasihan mereka." Aleya menasehati Altair dan Alesha, pasalnya kebiasaan mereka berdua adalah bermain tak tahu waktu.
Saat Altair bertemu Peter, pasti ia akan selalu mengajak kakeknya untuk bermain bola di halaman rumah, Aleya kasihan dengan Peter yang memang sudah uzur tapi tetap memaksakan diri untuk berlari-lari demi cucunya. Tak jarang pria baya itu terbatuk-batuk akibat kelelahan.
Altair meringis mendengar ucapan sang ibu, dalam hati ia memang mengiyakan. Altair tidak tega melihat kakeknya kelelahan ketika menemaninya bermain.
"Iya, Mama. Al janji tidak akan membuat Kakek capek." Altair mengangkat jari kelingkingnya.
"Bagus, anak pintar."
Johan memperhatikan interaksi keduanya, hatinya menghangat, ia suka dengan cara Aleya mendidik anak-anaknya. Johan merasa malu, ia bahkan tidak sebaik Aleya dalam hal mengajarkan tata krama pada Altair dan Alesha.
"Oh ya, apa kamu sudah memikirkan tentang perkuliahanmu?" Johan bertanya pada Aleya, ia ingin agar Aleya melanjutkan studinya yang sempat terputus.
Aleya sudah memikirkan hal ini matang-matang kemarin, sejujurnya ia ingin melanjutkan kuliah, tapi sebelum itu terjadi Aleya harus mengatakannya pada Altair dan Alesha terlebih dulu, bagaimana pun juga kedua anak-anak itu masih butuh perhatiannya.
"Aku sudah memikirkannya, Jo. Aku mau, tapi sebelumnya aku harus membicarakan hal ini pada anak-anak, setidaknya agar mereka mengerti bahwa aku membagi waktu antara merawat mereka dan juga menuntut ilmu." jawab Aleya.
Johan menganggukkan kepala, apa yang Aleya katakan memang benar.
"Aku akan membantumu untuk memberikan pengertian pada Duo Al, bagaimana pun juga Mama mereka harus mewujudkan impiannya." Johan berujar dengan mantap dan lugas.
"Nanti kita akan memberitahu mereka bersama." ujar Aleya.
Mendengar hal itu mau tak mau membuat Johan tersenyum senang, ia selalu bahagia saat Aleya melibatkan dirinya dengan anak-anak, meski hal terkecil sekalipun.
"Masih ingin kuliah di kampus lamamu atau pindah saja?" Johan bertanya lagi.
"Kampus lama saja, aku akan melanjutkan semesterku yang sempat tertunda, dengan begitu aku tak perlu mengulang semuanya dari awal, sehingga lulus pun lebih cepat."
"Apapun itu, aku mendukungmu. Dan soal biaya kuliahmu, aku yang akan menanggungnya, kamu hanya perlu belajar dengan giat dan lulus dengan cepat." tambah Johan.
"Tidak perlu, Jo. Aku bisa membiayai kuliahku nanti, jika kamu lupa, aku masih memiliki usaha toko bunga yang dikelola Mbak Renata. Yah, meskipun kecil-kecilan tapi bisa membantu biaya perkuliahanku nanti."
Aleya merasa tidak enak hati jika harus memanfaatkan Johan untuk kepentingannya, ini adalah pribadinya, bukan tentang keperluan Altair dan Alesha.
Johan menghela napas panjang. "Baiklah-baiklah, tapi biarkan anak buahku yang mengurus kelanjutan semestermu, aku memiliki koneksi di kampus itu."
Aleya mau tak mau pun mengangguk, ia tidak bisa menolak keinginan Johan lagi.
"Oke, aku setuju!" ujar Aleya final.
*****
Setelah menghabiskan beberapa menit di dalam kendaraan, akhirnya keempat orang itu pun telah sampai ditempat tujuan. Sebenarnya jarak antara rumah Peter dan Hratono tidaklah jauh, masih satu kota dan hanya perlu lima belas atau duapuluh menit untuk sampai.
"Sudah sampai, Kids. Ayo turun." Setelah keluar dari kendaraan, pria itu membuka pintu belakang untuk membantu anak-anaknya turun.
"Yay, aku mau ketemu sama Nenek dulu." Altair langsung berlari menuju dalam rumah.
Aleya yang melihatnya hanya bisa menghela napas kasar, sedangkan Alesha yang masih terluka akibat jatuh kemarin pun tidak bisa berlarian seperti saudara kembarnya, ia menatap Altair dengan iri.
"Sudah, Alesha jalan pelan-pelan aja sama Mama, ya?" Aleya memapah anak perempuannya, ia berjalan dengan pelan-pelan penuh kesabaran.
Johan yang melihat itu pun segera berinisiatif. "Biar aku yang menggendong Alesha."
Aleya mengangguk pelan. "Ale mau digendong Papa?"
Alesha mengangguk dengan semangat. "Mau, Pa."
Dengan senang hati Johan meraih tubuh kecil putrinya dan menggendongnya, pria berbadan kekar itu tampak menyayangi anaknya dengan teramat. Sepanjang perjalanan menuju ke dalam rumah, Aleya memperhatikan bagaimana Johan menghadapi sifat manja putrinya, Aleya merasa kagum dengan pria itu.
Seharusnya ia tidak meragukan kasih sayang serta ketulusan yang Johan berikan.
Sesampainya di ruang tamu, di sana sudah ada Peter, Davika dan Altair yang sudah duduk dengan menjadi pusat perhatian.
"Lho, Al kok sudah di sini." Johan berujar, ia juga meletakkan Alesha di samping Altair.
"Iya dong, Al kan kangen sama Kakek dan Nenek, makanya mau cepet-cepet ketemu." balas anak itu dengan pintarnya.
Davika dan Peter pun tersenyum senang, mereka menciumi pipi Altair dengan gemas.
"Aleya, duduk sini." Davika mempersilahkan Aleya untuk duduk di sofa.
"Ya, Tante." Aleya mendaratkan bokongnya pada sofa double, yang mana ia juga duduk disebelah Johan.
"Eh, ini kok diperban, Alesha kenapa?" Davika memperhatikan kasa yang membalut siku cucunya, belum lagi bekas luka kering yang ada didagu anak itu.
Aleya dan Johan saling berpandangan refleks, keduanya pun melempar kode untuk menjawab pertanyaan Davika. Keluarga Zachari ini memang sangat menyayangi Altair dan Alesha, mereka akan cemas bila terjadi sesuatu dengan keduanya.
Davika masih menunggu jawaban dari Johan dan Aleya, lihat saja ekspresi khawatirnya yang begitu amat kentara.
"Jo, ada apa?" tanya Davika lagi, kali ini terdnegar menuntut.
"Seperti masalah anak-anak lain, jatuh dan terluka. Beberapa hari yang lalu Alesha jatuh disekolahnya." Aleya mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Davika.
"Apa? Bagaimana bisa?" Davika semakin cemas saja.
Aleya mengggigit bibir bawahnya sambil meringis pelan, katakanlah reaksi Davika terlalu berlebihan. Namun, Aleya bisa mengerti bagaimana Davika bisa bersikap demikian, karena Alesha ada cucu perempuan satu-satunya.
Johan mendesah kasar, ia sebenarnya juga secemas ibunya saat melihat Alesha terluka, tapi semakin ke sini ia semakin sadar, anak-anak sewajarnya terluka.
"Maklum Ma, namanya juga anak-anak, aku juga sering terluka kalau main lari-lari." Johan berujar.
"Masih sakit, Sayang?" Dengan lembut Davika menanyakan keadaan cucunya.
Alesha menggelengkan kepala pelan. "Sudah baikkan, Alesha sembuh."
Kasa yang membalut dagu dan daun telinganya sudah Aleya lepas, sedangkan yang ada di siku belum karena masih basah.
"Syukurlah kalau begitu, lain kali jangan lari-lari ya." ujar Davika dengan lembut, ia mengelus pipi mulus cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Nenek."
Aleya senang dengan jawaban yang anaknya lontarkan, Altair dan Alesha sudah ia beritahu mengenai betapa sayangnya Peter dan Davika kepada mereka, sehingga mereka tak mau membuat neneknya khawatir lagi.
"Bagaimana kabar kamu, Aleya?" Kini Davika sudah mengalihkan fokus, ia menatap ke arah Aleya yang duduk berseberangan dengan dirinya.
"Syukur baik, Tante. Anda dan Om Peter sendiri, apa kabar?" Aleya bertanya balik.
"Sama baiknya juga. Lelah dan kegelisahan kita langsung hilang seketika melihat kedatangan kalian."
Aleya terkekeh pelan.
"Oh ya, Danial tidak ada di rumah?" Aleya masih ingat dengan benar ketika Danial juga turut membantu menyelamatkan dirinya dulu, pria itu meski menyeramkan, tapi hatinya baik.
Dagu Davika bergerak mengarah pada Johan, sang empunya pun hanya menyengir kuda.
"Johan menyuruh Danial menggantikan meeting yang tersisa beberapa hari." Kali ini Peter yang bersuara.
Mulut Aleya terbuka, ia menganga tidak percaya sambil menatap Johan.
"Jadi, kamu pulang dengan mengorbankan Danial 'hm?" Aleya tidak habis pikir dengan pemikiran Johan.
Johan hanya bisa tersenyum kaku. "Iya, itu ku lakukan karena tidak bisa menahan rindu dengan Altair dan Alesha."
"Alasan!" Sahut Aleya cepat.
"Benar, aku tidak berbohong." Johan menjawab dengan cepat.
"Aku yakin, Danial pasti menggerutu kesal saat kamu menyuruhnya dengan seenak jidat." Aleya sedikit banyak mulai tahu tentang keluarga ini, termasuk Danial-- orang yang baru-baru ini diangkat menjadi anak oleh pasangan Zachari.
Danial memang selalu ramah padanya dan anak-anaknya, tapi aura pria itu cukup gelap, seringkali Alesha merasa tidak nyaman jika terus-terusan berada di sekitar pria itu.
Mengenai sisi gelap Danial, baru Johan dan Peter saja yang mengetahuinya, bahkan Davika pun tidak.
Johan mengangguk membenarkan dugaan Aleya, sejak fajar tadi ia sudah menerima pesan sumpah serapah dari Danial. Johan tahu betul bagaimana muaknya Danial jika berurusan dengan dokumen-dokumen yang menggunung, bukan tipe Danial mengerjakan pekerjaan kantor.
Namun, karena otak cerdas pria itu bisa melakukan semuanya, meski dengan terpaksa sekalipun. Sosok Danial adalah pria multi talenta, meski jarang diasah kemampuannya.
"Kamu benar, aku sudah mendapat u*****n dari Danial. Yah, bagaimana lagi, hanya dia yang bisa diandalkan untuk menjadi wakilku."
Aleya hanya bisa menghela napas kasar.
Davika dan Peter menikmati pertengkaran kecil yang terlihat lucu dimata mereka. Sebagai sesama perempuan, Davika menyukai karakter Aleya yang penyayang, ramah dan juga perhatian. Ia berharap agar suatu hari nanti anaknya bisa meluluhkan perempuan itu, Davika ingin agar Aleya menjadi menantunya.
"Ahh, sampai lupa menawarkan kalian minum." Davika sudah menyiapkan minuman dingin dan juga beberapa camilan di meja ruang tamu.
"Ini Aleya, silahkan diminum."
"Iya, terimakasih Tante."
"Altair dan Alesha mau minum s**u?"
"Mau, Kakek." Peter tahu betul kegemaran cucu-cucunya, mereka menyukai s**u kotak yang menjadi persediaan Davika selama keduanya berkunjung.
"Ayo, ikut kakek, nenek kalian sudah menyiapkan banyak s**u kotak dengan bermacam-macam rasa." Peter yang dulunya berlaku tegas dan agak kaku pun sekarang sudah menjadi pribadi ceria, kehadiran Altair dan Alesha membawa dampak dan perubahan yang baik.
Bukan hanya Peter saja, Davika dan Johan pun sama.
Altair dan Alesha bangkit dari duduknya, mereka ingin mengikuti kemana arah Peter berjalan.
Dengan senang hati Altair akan berlari menuju ke dapur, biasanya Davika meletakkan s**u kotak di kulkas. Namun, berbeda dengan Alesha yang masih kesulitan untuk berjalan, kakinya memang tidak terluka, tapi badannya masih terasa sakit-sakitan akibat menghantam tanah.
Peter meraih tangan Altair, tapi saat dilihatnya tidak ada Alesha, pria baya itu mengerutkan keningnya sambil menoleh ke belakang.
"Aleshanya ketinggalan, Pa." Johan berceletuk.
Peter terkekeh pelan, ia lupa jika cucunya itu sedang sakit.
"Sini kakek gendong ya, ugh tambah berat sekarang, Alesha makannya banyak pasti." Peter bergumam.
Sosok Peter memang berubah menjadi lebih penyayang dan terbuka, Johan bisa merasakan perbedaannya. Johan senang karena Peter tidak menerapkan hidup tegas ala-ala militernya pada Altair dan Alesha, tentu saja karena tidak enak hati pada Aleya.
Kini tinggal lah Davika, Johan dan Aleya di ruang tamu itu.
"Kamu di sini sampai agak lama ya, Leya. Tante akan membuat masakan untuk kita makan siang bersama, Altair juga sempat minta dibuatkan puding tadi, sudah lama aku tidak membuatkan masakan untuk mereka." ujar Davika.
"Altair meminta pada Anda, anak itu benar-benar." Aleya berdecak pelan.
"Tidak apa-apa, Leya. Tante senang membuatkan mereka masakan, sudah beberapa minggu kalian tidak ke sini."
"Sebenarnya saya dan Ayah sibuk mengurus pembukaan cabang baru, maka dari itu akhir-akhir ini saya jarang membawa anak-anak ke mari, maaf jika membuat Tante sampai menahan rindu pada mereka."
"Tidak apa-apa. Wah, usaha Hartono semakin berjaya."
"Syukurlah begitu, terkadang saya kasihan melihat Ayah yang sudah uzur tapi tetap bekerja, yah bagaimana lagi, beliau memang mentelateni usahanya ini."
Sudah seringkali Aleya mengatakan pada Hartono agar pensiun dari dunia kerjanya, tapi Hartono yang masih giat itu menolak. Ia masih ingin melebarkan sayap untuk mendirikan toko-toko bangunan lainnya dan mengharuskannya untuk mengurus ini dan itu.
Hanya pada saat Hartono benar-benar kelelahan saja lah ia akan menyuruh Okto untuk menggantikannya sementara. Selain menjadi pengacara pribadi, Okto juga merangkap sebagai orang kepercayaan Hartono mulai saat ini.
Davika mengangguk-anggukkan kepala paham, ia masih ingat betapa semangatnya Hartono saat merintis usahanya dulu, bersama dengan Munangsih-- sang mendiang istri tercinta.
Davika yakin, Hartono masih menekuni usahanya karena merasa bersalah dengan perempuan yang ia cintai itu. Seharusnya Hartono tidak menyia-nyiakan Aleya, seharusnya Hartono setia dan menjadikan Munangsih satu-satunya perempuan yang ada dihatinya.
Ya, Hartono masih bekerja keras demi untuk mengingat kembali masa-masa perjuangannya bersama sang istri. Hartono pernah berjanji jika suatu saat nanti ia akan terus melanjutkan usaha toko bangunan sampai akhir hayatnya, karena dari sanalah sumber kebahagiaannya dengan mendiang istri tercinta.
"Ada cerita dibalik kisah toko bangunan yang ia rintis itu, semuanya mengenai ibumu, Munangsih. Dari sanalah Hartono bisa mengetahui apa arti perjuangan hidup, apa saja kenangan yang pernah ibu dan ayahmu torehkan. Jangan menyuruhnya untuk berhenti, Leya. Itu adalah caranya untuk menepati janji pada mendiang ibumu." Mata Davika seolah menerawang jauh, ia sedang mengingat-ingat kembali kisah pertemanan antara dirinya, Hartono dan juga Munangsih.
Meski pada awalnya Davika tidak menyukai Munangsih karena perempuan itu terlalu pendiam dan kaku, tapi pada akhirnya Davika telah sadar, Munangsih adalah perempuan yang tepat bagi temannya satu itu.
Aleya membenarkan ucapan Davika. Ayahnya masih bekerja keras sampai saat ini bukan karena mengejar harta, melainkan untuk mengenang kembali kisah perjuangannya bersama sang istri dulu.