"Mommy?"
"Iya." Dariel melonggarkan pelukannya pada tubuh Nara. Menatap wajah ibunya yang nampak sedang berpikir dengan apa yang barusan ia ucapkan. Dariel menunggu jawaban Nara dengan harap-harap cemas, pasalnya ia telah menyetujui permintaan Mommynya untuk menginap disana.
"Yang Kakak maksud itu bukan Mommy Natasha kan?" tanya Kinara. Memangnya siapa lagi?
Dariel diam. Ia sudah menangkap nada ketidaksukaan dari pertanyaan Nara. "Eng-- Mommy Natasha ngajak Kakak buat nginap di rumahnya,” jawab bocah itu akhirnya.
"Enggak." Nara bergerak dari tidurnya. "Bunda enggak bolehin." Wanita itu memposisikan tubuhnya menghadap sang anak yang masih dalam posisi tertidur. Dariel yang tak nyaman pun ikut memposisikan tubuhya seperti Nara.
"Kenapa?" Bocah itu heran.
Nara menghela nafasnya sejenak. Memandang ekspresi penasaran Dariel yang begitu polos dan tak menampik adanya ekspresi kecewa dari wajah anak itu. "Bunda enggak mau terjadi apa-apa sama Kakak, jadi Bunda mohon tolak aja permintaan dari Mommy Natasha."
"Tapi, Mommy udah baik." Dariel yang sudah beberapa kali menemui Natasha cukup merasakan perubahan sikap ibunya itu menjadi lebih baik. Walau ia tak yakin apakah Natasha benar-benar sudah berubah.
"Kakak mau dengerin permintaan Bunda kan?" Nara tak ingin mendengar apapun tentang wanita itu, rasanya sangat sulit bagi Nara untik melupakan perbuatan Natasha yang begitu mudahnya menelantarkan Dariel yang masih kecil begitu saja dahulu.
Dariel mengangguk pelan dan Kinara memberikan pelukan cukup erat untuk membuat anaknya itu mengerti. "Bunda sayang Kakak, Bunda gak mau terjadi sesuatu sama Kakak."
"Bunda mau jemput Ayah di Bandara dulu sama Dedek Azi. Jadi, kalian berdua di rumah. Jangan berantem, pulang nanti Bunda bawain hadiah,” pesan Kinara sambil sekali lagi mengecek s**u Raziel. Takut-takut bayi yang tengah tertidur itu terbangun dan kehausan.
Dariel yang sedang menikmati sarapannya langsung melirik sinis ke arah Razkana yang berada disampingnya. "Tumbeng enggak ikut," sahut Dariel membuat Razka mendongak dari roti selai coklatnya.
Anak laki-laki itu menatap Kakaknya dengan sendu, pagi tadi ia sudah meminta maaf pada Dariel namun ternyata Kakaknya itu tidak mau memaafkannya dan melewatinya begitu saja. Bahkan saat Nara menyuruh Dariel menerima permintaan maafnya, Kakaknya itu masih memandanginya dengan tajam.
"Kakak jangan gitu ah. Bunda titip Babang ya. Kayaknya Bunda bakal lama, soalnya hari libur pasti macet." Kinara menatap gemas ke arah anak-anaknya yang belum juga berbaikan. Biasanya jika kedua bocah itu terlihat perselisihan, tak sampai satu hari, Dariel dan Razkana sudah berbaikan dan membuatnya pusing dengan ulah kompak mereka.
"Hm." Dariel hanya membalasa dengan bergumam. Kinara mendekati kedua anaknya, menciumi pipi Dariel dan Razka bergantian sebelum pergi bersama Raziel untuk menjemput Adrian yang baru sampai pagi ini setelah beberapa hari berada di luar negeri.
Dariel dan Razka masih menikmati sarapan mereka ketika Nara sudah pergi untuk memjemput Adrian. Tidak ada suara ataupun celotehan dari kedua kakak beradik itu, sunyi sekali. Dan, itu sangat jarang terjadi jika salah satu dari keduanya sedang sakit.
"Kakak mau tambah selai coklat?" Razka mencoba mengajak kakaknya berbicara, mengangkat sebotol Nutella. Dariel menoleh lalu dengan kasar ia mendorong piringnya sebelum beranjak dari bangku duduknya. "Udah selesai.”
Razkana tidak diam saja, ia mengejar Dariel dan memegang tangan kakaknya itu. "Apa, sih, pegang-pegang!" Dariel menyentak tangan Razkana dari tangannya. Bibir Razkana langsung melengkung sedih manakala ekspresi kesal masih meliputi wajah Kakaknya.
"Kak, Babang minta maaf."
"Gak mau!"
"Babang janji bikin Pr sendiri, gak minta buatin sama Kakak lagi."
"Janji terus!"
Razkana dengan cepat menggeleng. "Kali ini janjinya serius, Kak." Bocah itu menampakan ekspresi sungguh-sungguh dari wajahnya. Polos namun terlihat lucu.
"Jadi yang kemaren-kamaren janji bikin Pr sendiri itu, janji apa?" tanya Dariel sambil melipat kedua kedua tangannya di depan d**a.
Sebenarnya, Dariel sangat tak tega melihat wajah Razkana yang seperti ingin menangis. Namun, kali ini ia harus tega. Ini semua demi kebaikan adiknya, Dariel ingin Razkana menjadi orang yang tidak mudah untuk bergantung kepada orang lain.
Razkana terdiam medengar pertanyaan dari Dariel. Ia tidak mempunyai kelimat pembelaan lagi. Keterdiaman Razka membuat Dariel langsung meninggalkan bocah itu.
Sedangkan Razkana sendiri tak lagi mampu membendung air matanya lagi. Air matanya berlomba untuk turun membasahi pipinya, ia menggigit bibirnya bawahnya untuk meredam isakannya. Ia tidak menjadi adik yang cengeng untuk Dariel.
Razkana mengusap air mata berserta ingusnya dengan ujung bajunya. Lalu berlari pelan menuju keluar rumahnya. Duduk disebuah taman yang berada didekat gerbang tinggi rumah mereka. Taman yang biasa menjadi tempat bermain mereka bersama. Ya, bersama Dariel.
Razkana menghela nafasnya pelan. "Pergi ke taman ingat Kakak, nonton tv pasti ingat Kakak, apalagi pergi ke kamar pasti ingat Kakak."
Rasanya tidak ada sudut rumah yang terlewatkan oleh mereka berdua. Pasti ada saja ceritanya. Contohnya teras rumah, tempat yang biasa mereka jadikan seluncuran ketika hujan turun karena dengan deras membuat lantai menjadi licin. Merosot dengan dengkul terlebih dahulu layaknya selebrasi pemain bola.
Ah, jadi ingat Kakak lagi kan.
"Haloo?” seseorang pria dewasa tiba-tiba menyapa Razkana yang sedang duduk diatas ayunan. Razkana mendongak, menatap wajah itu tersenyum ke arahnya dengan seksama. "Siapa?" tanyanya membuat pria dewasa itu terkekeh.
“Kevin. Razka boleh panggil Om Kevin.”
"Oh." Razka membalas dengan tak tertarik. Membuat pria itu mengngerutkan keningnya, biasanya anak kecil yang banyak ia temui akan lebih penasaran dan banyak bertanya pada orang baru.
"Ada masalah? Ingin berbagi?" Pria dewasa itu memilih mengisi kekosongan ayunan yang berada disamping bocah itu tanpa meminta izin. Duduk memperhatikan wajah anak itu sambil tersenyum lega dan bahagia. Akhirnya.
"Babang lagi ada masalah serius." Bocah itu mengerucutkan bibirnya. "Kakak babang lagi marah karena Babang terus-terusan minta dibuatin Pr. Padahalkan Babang cuman pengen ajak Kakak main, biar gak sama ponselnya terus. Babang takut mata Kakak rusak nanti kalo main ponsel terus."
Razkana mengerutkan dahinya dan merasa ada yang salah dengannya, tak biasannya ia bercerita begitu panjang dengan orang asing. Dan yang membuat anak itu semakin heran adalah tak biasanya ia menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'Babang' padahal ia tidak mengenal orang itu, walau wajahnya sedikit familiar di ingatan Razkana.
"Sebenarnya, kalo tujuan Babang minta Kakak bikinin Pr supaya tidak membuatnya main ponsel lagi itu baik. Tapi, masih ada cara lain. Dengan bicara pelan-pelan, contohnya."
"Tapi, Babang malu."
Pria itu tergelak. "Kenapa malu?" Lalu seseorang tak dikenal itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua batang coklat dari kantongnya. "Ini Om punya hadiah untuk Babang."
"Untuk Babang?" tanya Razkana berbinar.
"Yap. Ini untuk Babang dan ini untuk Kakak."
Razkana mengucapkan terima kasih dengan gembira dan tak sabar mengambil coklat itu untuk pria asing itu. Namun, baru saja Razkana hendak mengambil coklat itu tiba-tiba saja muncul seorang anak laki-laki yang menepis dua batang coklat itu hingga terjatuh ke rumput-rumput.
"Kakak!"
"Babang sini! Pindah ke belakang Kakak! Sinii, buruan!" Dengan tak sabaran Dariel menarik tangan Razka hingga berada dibelakang tubuhnya.
"Dasar modus lama!" sahut Dariel kepada pria didepannya itu yang menimbulkan kerutan kebingungan untuk si pria.
"Kamu mau cukik adik saya kan!?" sergah Dariel. "Cuman iming-iming dua batang coklat? Helooow! Ayah kita berdua bisa beli pabrik sama perkebunan coklatnya." Dariel mendungus sombong, tangannya terlipat didepan d**a.
"Culik? Siapa yang mau diculik?" tanya Razkana.
"Oom itu mau culik Babang. Kalo Babang makan coklat itu entar pingsan terus diculik deh."
Wajah Razkana berubah menjadi khawatir. "Seriusan?!" tanyanya yang kini mulai sepenuhnya berlindung di tubuh belakang Dariel.
"Serius. Pasti Om ini pake mobil jeep yang kayak penculik di tv-tv itu!"
Pria yang berada dihadapan dua kakak beradik itu tak mampu menyembunyikam tawanya. "Saya bukan penculik." Lalu ia membungkuk untuk mengambil dua batang coklat yang terjatuh itu. "Dan coklat ini gak ada ditambahin apapun. Lihat? Masih tersegel kan?" Pria itu mengancakan dua batang coklat itu yang masih tersegel. “Dan saya naik motor beat bukan jeep,” tunjuknya pada gerbang yang sedikit terbuka, sebuah motor matic nampak terpakir didepannya.
"Maling mana ada yang mau ngaku.” Dariel masih belum yakin orang didepannya ini adalah orang baik.
“Lagi pula kenapa masuk sembarangan rumah orang?!” serunya lagi.
Pria yang mengaku bernama Kevin itu menggaruk kepalanya tak gatal, memang salahnya yang main masuk ke rumah orang. Namun, tadi ia sudah beberapa kali memencet bel namun tidak yang keluar. Kebetulan pintu pagar tak terkunci sehingga Kevin itu masuk ke dalam pagar.
Pria dewasa itu masih tersenyum, melihat tingkah Dariel yang seperti Kakak yang hebat untuk melindungi adiknya. "Oke, oke. Baiklah. Saya akan pergi. Tapi, saya tidak bisa mengambil barang yang sudah saya berikan. Saya letak di sini, oke?" Pria dewasa itu melatakan coklat itu diatas ayunan.
"Sana pergii!"
"Sampai jumpa lagi Babang!"
"Babang aja yang dipamitin, dasar penculik!" sunggut Dariel ketika pria dewasa itu menghilang dari hadapan kakak beradik itu. Razkana diam-diam tersenyum lebar saat melihat Dariel mengomel tak jelas.
"Apaan?" sinis Dariel sambil melipat kedua tangannya sambil melihat Razkana yang tersenyum.
Razkana menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. Sedangkan Dariel mendengus lalu mengambil dua batang coklat yang berada diatas ayunan. "Nih, Bang!" Dariel menyerahkan white chocolate kepada Razkana. Sedangkan ia memilih dark chocolate.
"Katanya nanti kita bakal pingsan kalo makan ini, Kak?" tanya Razkana polos.
"Mau aja ditipuin tuh, Oom."
"Kita beliin Kakak sama Babang apa, Dek?" tanya Nara pada Raziel yang edang bermain kedua tangannya. Tangan bayi kecil kini sudah penuh dengan air liuarnya.
"Dedek sama Ayah aja, Bun. Kami tunggu di mobil, oke?" Adrian yang baru pulang dari perjalanan bisnisnya langsung menemani isteri dan anaknya berbelanja.
"Bilang aja bosan temenin Bunda belanja," ujar Nara saat Adrian mengambil Raziel dalam gendongannya. Pria itu terkekeh lalu dengan gerakan cepat mengecup pipi isterinya dan langsung kabur begitu saja.
Nara mendengus tapi tak khayal merasakan bahagia, karena akhir-akhir ini Adrian sangat sibuk dengan bisnisnya dan sekarang memiliki waktu bersamanya. Lelaki itu juga berjanji akan libur beberapa hari untuk membayar waktu yang sudah ia lewati. Nara kembali berfokus pada belanjaannya, kini ia tengah mampir di salah satu toko alat tulis untuk membelikan sesuatu untuk Dariel dan Razka.
Wanita itu sudah mendapatkan satu set alat lukis untuk Razkana yang kini mulai menyukai kegiatan tersebut. Lalu perhatian Nara tertuju pada cat krayon dengan ukuran yang cukup besar, ia mengingat bahwa persedian cat krayon Dariel sudah hampir menipis.
Baru saja Nara hendak mengambil cat krayon itu, sebuah tangan lebih dulu mengambil apa yang Nara inginkan untuk anaknya.
"Kinara?"