11

1504 Words
k Seorang anak laki-laki menatap damba ke arah kaca yang menjadi pembatas dari halaman taman rumahnya. Kedua tangan mungilnya ia letakan diatas kaca itu, dingin. Ia menempelkan sebelah pipinya menempel pada kaca, membuat pipinya seperti ingin tumpah. Abel mengerucutkan bibirnya, ia pasti tidak akan diizinkan jika mandi hujan. Bocah lelaki itu menjadi ingat ketika ia tinggal di Panti, hampir setiap hujan ia dan Kinta diam-diam bermain hujan di belakang rumah. Mereka akan merasa keren ketika anak-anak Panti yang lain menatap mereka takjub ingin ikut. Namun setelahnya sudah dipastikan Bunda Panti akan memarahi mereka karena tak mengingkuti nasihatnya. “Abel?” Abel menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Ia sedikit memutar kepalanya melihat siapa yang memanggilnya. “Kenapa, yah?” tanyanya masih menempelkan pipinya pada kaca pembatas dengan taman.  Arga mengerutkan dahinya saat melihat tingkah absurd anaknya, tidak aneh lagi memang karena selama disini Abel memang memperlihatkan kebiasaan-kebisaan anehnya. Seperti berdiri didepan pintu lemari kulkas yang terbuka karena ingin merasakan tinggal di kutub yang berakhir bocah itu dimarahi oleh Aya, Abel itu mudah sekali masuk angin. Dan hal-hal lain yang membuat pria itu menjadi terhibur. Abel mengeluarkan wajah memelasnya membuat Arga seketika paham. Bola matanya memandang ke arah taman yang nampak basah karena hujan yang tak terlalu deras atau pun kecil, langit juga tak terlalu gelap membuat banyak anak pasti menginginkan mandi dibawah guyuran air hujan. “Nanti dimarah Ibu,” kata Arga membuat Abel mengerucutkan bibirnya. Bola mata anak itu bergerak ke segela arah, ciri khasnya ketika sedang berpikir. Dan, Arga yakin pasti anak itu akan mengeluarkan ide yang membuatnya tak akan aman. “Diam-diam aja, yah,” ujarnya sambil bergerak ke arah Arga. Sedikit berbisik mengatakannya. “Ibu tadi Abel lihat lagi tidur.” Ia tadi tak sengaja melewati kamar Aya dan Arga ketika ingin turu dan melihat dari pintu yang terbuka. Arga menggaruk kepalanya gatal, bagaimana ia mengatakannya pada Abel? Bahwa Aya itu seperti memiliki mata di setiap sudut rumah. Pria itu teringat ketika dirinya dan Arya ketahuan membeli pizza dan satu ember es krim ketika tengah malam. Aya yang saat itu sudah mereka pastikan tertidur dengan nyenyak karena kelelahan terbangun dan menatap mereka seperti ingin memakan hidup-hidup. “Mau apa?” Arga dan Abel sontak meringis kala mendengar Aya yang sudah berada didekat mereka. Kedua laki-laki itu merasakan jantungnya hampir copot karena kehadiran wanita itu yang tiba-tiba. “Enggak ada apa-apa kok, Bu,” ujar Abel, ia memilih untuk tidak mengatakan keinginannya. Ia tahu Aya dan Arga sudah sangat kelelahan karena urusan pekerjaannya dan Abel tidak ingin membuat mereka kembali kelelahan. Aya yang sempat melihat suami dan anak angkatnya saling berbicara dengan berbisik, apalagi tatapan Abel yang nampak memelas tak yakin. Namun, perkataan yang keluar dari mulut Abel adalah yang ia yakini. Wanita itu mengangguk, langkah kakinya bergerak menuju dapur untuk mengaliri tenggorokannya yang terada kering. Alasan yang membuatnya terbangun dan turun ke lantai bawah. Abel dan Arga yang melihat Aya yang pergi dari hadapan mereka mendengus. Benar-benar tidak peka! Batin keduanya. Saat Aya hendak kembali naik kembali ke lantai atas, ia melihat pemandangan yang membuat langkah kakinya berhenti. Abel tengah menyandarkan tubuhnya disamping Arga. Kedua tengah duduk didepan kaca besar dengan menatap ke arah taman. Wanita itu kembali teringat ketika malam sebelumnya Arga mengatakan sesuatu yang membuat Aya kembali merasa kecewa namun tak bisa berbuat apa-apa. Suaminya itu mengatakan tidak ada satu pun jejak yang membuat mereka tahu dimana keberadaan sang anak. Hari-hari mereka lalui dengan ponsel yang berada tak jauh dari mereka. Arga dan Aya berharap, ada panggilan telepon yang memberi tahu keberadaan anaknya. Atau bahkan jika Arya benar-benar diculik, berapapun tebusan yang diminta penculik itu akan mereka berikan. Asal anaknya kembali ke dalam dekapannya. Andaikan saat itu ia mendengarkan perkataan Arga untuk menemani Arya dan membiarkan sang suami yang mengurusi koper dan barang bawaan mereka. Mungkin sekarang Arya masih berada disini, membaca buku yang menjadi hobi anaknya itu. Ah, Ibu rindu Arya. Aya yang semula ingin kembali ke atas malah melangkahkan kakinya mendekati dua laki-laki berbeda usia itu. Wanita yang mengenakan sweater kebesaran itu menatap keduanya. “Mau main hujan?” tanya Aya membuat keduanya menoleh. Lagi-lagi wanita itu membuat Arga dan Abel terkejut. Abel menggigit bibir bawahnya ragu, lalu perlahan mengangguk. Arga yang disamping anaknya entah mengapa ikut mengangguk membuat Aya terkekeh. Wanita itu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan keduanya. Arga dan Abel saling pandang lalu menghela nafas. Mana mau Aya menurutinya. “Pake ini, kalo tidak mau jangan main hujan.” Sebuah jas hujan bewarna biru diberikan Aya kepada Abel. Kepala bocah itu mendongak, senyuman lebar tiba-tiba terbit di bibirnya. “Beneran, Bu?” tanya Abel girang. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil jas hujan itu. “Hemm. Dua puluh menit saja.” “Yang Mas mana?” tanya Arga membuat Aya mengerutkan dahinya. Apa suaminya itu ingin ikut bermain hujan juga? Hey, usia lelaki itu sudah tidak cocok lagi. “Ibu sama Ayah main hujan juga?! Yeeeee!” Abel berseru riang dengan wajah cerah, berbanding terbalik dengan cuaca sore ini. Ia menatap kedua orang tua angkatnya dengan mata bulat bersinar. Jas yang diberikan Aya sudah terpasang pada tubuhnya. Ukurannya begitu pas. “Kalo kamu takut kedinginan, nanti Mas hangatin setelah kita berhujan.” Arga menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum lebar, setelahnya pria itu meringis ketika sang isteri mencubit perutnya. “Sebentar saja,” kata Aya yang membuat Abel dan Arga bertos ria. Ketiganya pun berakhir dengan hujan-hujanan di taman belakang sekolah. Abel berlari-lari sambil tergelak kencang ketika Arga mengejarnya. “Mas nanti Abelnya jatuh!” seru Aya yang diabaikan keduanya. Wanita itu menggeleng-gelengkan melihat tingkah Arga dan Abel. Terlebih pada suaminya itu yang nampak bahagia. Rasanya sudah lama Aya tak melihat senyum lebar Arga, semenjak dikabarkan menghilang. Arya juga seolah membawa senyum dan tawa dari Arga. Pria itu lebih banyak diam dan merenung. Aya tahu, bahwa sebagai seorang Ayah yang begitu dekat dengan sang anak, Arga pasti merasa kehilangan. Lalu tiba-tiba kehadiran Abel perlahan membuat senyum Arga kembali hadir, walau tak selebar dan secerah dulu. Aya bersyukur dengan kehadiran anak yang awalnya tak ia sukai itu. “Ibuu kenapa?” Aya tersentak dari lamunannya ketika sweater-nya seperti ditarik. Ia menoleh melihat Abel sudah berdiri dihadapannya, tudung jas hujan bocah itu jatuh kebelakang. Wajahnya menjadi basah oleh air hujan. Aya menarik tudung itu agar kembali melindungi kepala Abel. Bola mata bulat itu mengerjap-ngerjap ketika ia melakukannya. Sebuah senyuman timbul dari bibir wanita itu. “Jangan lompat-lompat nanti jatuh.” —— “Dingin....” Abel mengeratkan selimutnya—tidak selimut mereka, Aya dan Arga juga. Kini mereka bertiga berada di sofa ruang keluarga. Tubuh ketiganya saling menempel dengan Abel yang berada ditengah. “Sudah dibilang hanya dua puluh menit, kenapa sampe jadi tiga puluh menit!” omel Aya yang sedari tadi didengar keduanya. Wanita itu terus mengingatkan kesalahan keduanya, membuat Arga dan Abel hanya bisa meminta maaf. “Iyaa, maaf, Bu.” Kompak ayah dan anak itu. “Hatchimmm!” Abel menggosok-gosok hidungnya yang tanpa sadari sudah memerah.  Arga yang melihat dengan kondisi tak baik mengalihkan pandangannya ke arah sang isteri yang kini menatapnya tajam. Seolah mengatakan “INI SEMUA KARENA KAMU MAS!” Dan, Arga hanya bisa tersenyum bersalah. Aya yang kembali mendengar Abel bersin keluar dari selimut yang membungkus tubuhnya, wanita itu berjalan menuju kotak P3K, mengambil minyak kayu putih dan membawanya kembali ke sofa. “Sini Ibu olesin dulu,” titah Aya yang membuat Abel mengangguk. Bocah itu melepas selimut, hawa dingin langsung menyambutnya. Wanita itu melipat baju Abel hingga ke d**a. “Pegang,” katanya membuat bocah itu mengangguk. Aya mengolesi bagian perut Abel dengan minyak kayu putih membuat bocah itu merasa hangat menjalar di perutnya. Ibunya itu juga mengolesi bagian hidung dan pelipisnya. “Main hujan lagi.” “Iyaa, Bu,” angguk Abel tanpa sadar. Aya mendelik dan Arga terkekeh. “Hatchimmm!” “Mas enggak papa kok yang,” ujar Arga berlaga baik-baik saja. Padahal laki-laki itu setengah mati untuk menahan untuk menarik ingusnya agar tak terlihat Aya. “Sini, nanti sakit aku juga yang repot.” Aya memerintahkan Arga untuk duduk disampingnya, sedangkan Abel kembali masuk ke dalam selimut itu dan bergelung dengan keadaan yang lebih baik. “Mangkanya nanti main hujan lagi,” omel Aya sambil mengoleskan minyak angin ke perut sang suami. Arga hanya tersenyum mendengar omelan-omelan Aya yang sebenarnya bermaksud peduli padanya dan Abel. “Kamu makin cantik aja yang,” goda Arga. “Awh! Awh! Ampun yang.” Abel tergelak ketika Aya mencubit perut Arga membuat pria itu mengaduh kesakitan. “Rasaiin!” “Sini kamu juga,” kata Arga mengambil alih minyak kayu putih itu. “Aku enggak papa, Mas.” “No!” tolak Arga. “Tadi kamu bilang kepala kamu pusing,” katanya sambil mengoleskan minyak angin itu dan memberikannya ke pelipis sang isteri. Abel yang melihat itu segera beranjak dari gulungannya. Ia juga mengambil alih untuk memijit lengan Aya. “Ibu itu kerja terus, enggak capek apa??” “Eh?” Aya menoleh ke arah Abel, anak itu seperti mengomelinya. Arga malah menahan tawanya. “Jangan suka ngomel-ngomel juga nanti cepet tua,” tambah anak itu membuat Aya geleng-geleng kepala. Selesai dengan acara pijit dan oleh, Arga memutuskan untuk memesan makanan dari restoran. Walau Aya mengatakan tidak apa-apa dan akan membuat makan malam namun Arga tetap melarangnya dengan alasan ia dan Abel ingin memakan susi. “Ini makannya gimana yah? Bu?” Abel kebingungan ketika melihat susi didepannya. Bocah itu malah langsung mengambil satu potong susi dengan tangannya. “Enak,” katanya membuat Arga terkekeh dan Aya mendengus. “Sini ibu ajarin pake sumpit,” kata Aya mengambil tangan Abel. Bocah itu tersenyum ketika merasakan tangan ibunya, hangat. Setelah makan selesai, Aya meminta Abel untuk segera masuk ke kamar untuk tidur sebab besok masih hari sekolah. Dan, Aya sudah memperingari Arga untuk tidak mengajak Abel bergadang menonton bola ketika hari sekolah. “Ibu, Ayah,” panggil Abel ragu-ragu. “Hem?” tanya Arga menanggapi sedangkan Aya hanya menatap Abel yang nampak ingin mengatakan i. “Abel boleh enggak tidur sama ayah dan Ibu? Sekali ini saja.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD