10

1518 Words
"Akhirnya dua pengeran kecil udah K.O juga." Desahan keletihan keluar dari mulut Nara. Wanita itu harus mengorbankan tenaga lebih untuk bermain bersama Raziel dan Razkana, yang kedua-duanya nampak aktif dan bersemangat malam ini. Hingga jarum panjang menunjukan pukul sepuluh malam, akhirnya Razkana tertidur menyusul Raziel yang sudah lebih dulu nyenyak dalam mimpi. Nara menarik selimut kecil Raziel yang terlelap didalam box tempat tidurnya. Wanita itu sempat terkekeh saat melihat posisi tidur bayinya yang cukup berantakan.  Dielusnya pelan kepala lembut itu dengan sayang. Nara tak menyangka bahwa dirinya bisa dianugrahi malaikat kecil yang dulu bersemayam dalam rahimnya. Hidup dan mati ia pertaruhkan agar sang anak dalam melihat indahnya dunia. Sempat ragu karena bagi Nara hidup di dunia tak seindah surga. Namun, ia percaya bahwa dirinya, Adrian, Dariel dan Razka bisa menjaga bocah lucu itu. Ngomong-ngomong tentang Dariel, Nara belum melihat anak itu selepas Razkana memberi tahukan bahwa Dariel tidak ingin mengerjakan PR-nya. Lagi-lagi si Babang membuat Nara pusing. Tapi, ia rasa itu bukanlah penyebab sebenarnya bocah itu menangis saat datang kepadanya. "Bundaa...."  Nara yang saat itu tengah memangku Raziel sambil mengajak bayinya itu bicara terkejut mendapati anaknya menangis masuk kedalam kamarnya. Nara menyuruh Razka untuk duduk dihadapannya. "Ada apa, Bang?" Razka mengelap air matanya dan masih terus menangis. "Kakak," ujarnya dengan bibir mengerucut. "Kakak gak mau bikinin PR Babang, Bun."  Nara menghela nafasnya. Tangannya yang bebas terulur membersihkan air mata yang membasahi pipi Razka. "Babang, sekarang Bunda tanya? Itu PR-nya siapa?" tanya Nara pelan. "Babang." "Terus? Kenapa Kakak yang ngerjain?" tanya Nara lagi sambil mengelus bocah itu. Razka mengerucutkan bibirnya, lalu berujar. "Babang gak tahu." "Kakak pasti ajarin 'kan?" Razkana mengangguk. Lalu menghela nafasnya. "Iya, nanti Babang bikin sendiri."  Kinara tersenyum ketika wajah bocah itu masih nampak sedih. “Kenapa? Ada yang mau diceritaiin sama Bunda?” “Babang sedih banget sekarang, kenapa Kakak lebih suka main ponselnya daripada main sama Babang? Apa Babang enggak lucu dan imut lagi ya nda?” Alasan  Razkana meminta Dariel yang mengerjakan pr-nya sebab ia tak ingin sang kakak selalu memegang ponsel. Ayah Adrian pernah mengatakan bahwa mata bisa rusak jika terlalu sering bermain ponsel. Dan, ia tidak mau hal itu terjadi pada sang kakak. Kinara tergelak, ia menciumi pipi bakpau Razkana hingga bocah itu ikut tertawa. “Enggaklah, Bang. Kak Iyel itu pasti sayang sama babang. Mungkin Kakak lagi ada masalah,” ujarnya memberi pengertian. “Babang mau bantu kalo Kak Iyel ada masalah.” Saat melihat wajah Razkana, ia selalu teringat dengan wajah sahabat terbaiknya yang meninggal setelah melahirkan Razka, membuatnya sekaligus sedih karena nasib sang sahabat harus berakhir tragis karena cintanya. Razkana mengalihkan perhatiannya ke arah Raziel yang nampak sedang menggigit sebuah mainan. Padahal adiknya itu belum mempunyai gigi tapi masih saja bersikeras menggigit mainan tersebut. Namun sedetik kemudian mata bulat Razkana membola. Tangannya bergerak cepat mengambil sebuah mainan berbentuk mobil yang berada di tangan Raziel namun sudah tertutupi dengan air liur sang adik. "Bunda... Kenapa mainan Babang yang ini dikeluarin?" tanya anak tak terima menghiraukan tatapan protes dari sang adik karena kegiatan bermainnya diganggu. Untuk saja dengan cepat Nara memberikan mainan yang bisa digigit dan memancing pertumbuhan gigi, jika tidak sudah dipastikan tangisan Raziel menggema. "Bunda kira Babang udah gak mau maininnya lagi, jadi Bunda kasih sama Dedek Azi. Lagi pula kenapa emangnya?" Razkana mendongak, menghentikan kegiatannya yang tengah membersihkan mainan itu dengan ujung kaosnya. "Mobilan itu mainan pertama yang Kakak pinjamin sama Babang. Mainan pertama yang buat kami dekat. Sampe sekarang." Jujur saja Nara cukup terkejut dengan penuturan Razka. Anak itu ternyata masih menyimpan dan menjaga mainan yang pertama kali Dariel berikan. Mungkin mainan itu diberikan saat Nara pertama kali menitipkan Razka pada Adrian dan Dariel selepas mengajak kedua anak itu makan siang dengan menu ketoprak. Ah, mengingatnya membuat hati Nara menjadi haru seketika.  Perempuan itu kemudian melirik Razka yang terlelap di kasurnya. Tidak ada Adrian disana, kerena suaminya itu kini tengah melakukan perlajanan bisnis ke luar negeri. Padahal rencananya Nara ingin mengajak Dariel dan Razka tidur bersamannya, namun mengingat pertengkaran antara keduanya membuat Nara mengurutkan niatnya. Nara menutup pintu kamarnya setelah melihat kedua anaknya terlelap menuju mimpi. Kini saatnya Nara melihat keadaan si Sulung yang sedari tadi tak keluar kamar juga. Wanita itu berjalan sedikit cepat saat  melihat keadaan rumahnya yang nampak gelap, walau sudah menjadi ibu dari tiga anak, ketakutan terhadap gelap masih melekat dalam tubuh Nara. Lagipula salah ia sendiri yang menetapkan peraturan bahwa ketika jam sembilan malam semua lampu harus padam. Ditatapnya pintu kamar Dariel dan Razka, nampak sunyi dari dalam. Mungkin saja anak itu sudah tertidur. Mengingat bahwa Dariel bukanlah anak yang suka tidur larut malam. Namun, entah mengapa Nara masih tetap ingin melihat kamar itu. Perlahan wanita itu membuka pintu kamar anaknya, tidak menimbulkan suara. Karena bisa saja Dariel masih terjaga sampai sekarang. Namun, ternyata itu hanya pemikirannya. Gundukan selimut yang membungkusi tubuh anak sulungnya itu membuktikan bahwa Dariel telah menyusul saudara-saudaranya ke alam mimpi. "Ckk, sinyal pada kemana, sih?! Minta pasang wi-fi ini sama Ayah." Nara membulatkan matanya mendengar decakan itu. Tidak mungkinkan itu suara mahluk halus yang menunggu kamar anak-anaknya ini? Tapi, tunggu, hantu mana yang ingin memasang wi-fi? Dengan langkah cepat Nara mendekati ranjang Dariel. Digenggamnya erat-erat ujung selimut itu dan ditariknya dengan kuat. Srekkkkk! "AAAAAAAA!" Dariel berteriak kencang saat selimut yang membungkus tubuhnya ditarik kuat oleh seseorang. Bola matanya membulat saat melihat sesosok mahluk... Bukan-bukan itu ibunya, Nara.  Pantas saja ia tidak mengenali Nara. Cepol rambut wanita itu yang sudah awut-awutan belum lagi muka lelah Bundanya, membuat Dariel hampir tidak mengenali. "Kakak?!" "Apa?" tanya Dariel polos sambil mengerjapkan bola matanya. "Kenapa belum tidur?" tanya Nara sambil berkacak pinggang. "Enggak ngantuk," jawab Dariel pendek. Bocah itu kemudian bergerak keujung kasurnya untuk meletakan ponselnya diatas nakas. Sedangkan Nara bergerak naik ke atas ranjang anaknya. Menghela nafasnya mengingat kelelahan aktivitasnya sedari pagi tadi. Dimulai dari menyiapkan keperluan Adrian untuk berangkat berpergian dan mengurus anak-anaknya. "Kak?" panggil Nara.  "Hmm," jawab Dariel. Matanya memandang ke atas langit-langit kamarnya yang berhias bintang-bintang. Sama halnya dengan Nara yang memandangi langit kamar anaknya. Kening wanita itu berkerut saat melihat bintang-bintang itu memiliki nama di tengah-tengahnya, semuanya berisi anggota keluarga mereka namun tidak ada nama Raziel disana. Satu buah bintang yang besar, Nara. Satu buah bintang sedang, Adrian. Dan, dua bintang kecil, Dariel dan Razka. "Kenapa bintang besar itu namanya Bunda?" tanya Nara menunjuk bintang itu. "Bukan karena badan Bunda bertambah besarkan?" tanya wanita itu sambil pura-pura melotot ke arah Dariel. Bocah itu tertawa kecil. "Coba Bunda lihat, disana ada nama Raziel gak?" tanya anak itu. Nara melirik sekali lagi ke seluruh langit-langit, namun tidak juga ia temukan. "Karena Dedek Azi masih di perut Bunda. Jadi bintangnya paling besar, deh." Dariel menarik selimutnya hingga ke atas d**a. "Oh, iya mungkin bentuk tubuhnya juga mempengaruhi, Nda. Kakak sama Babang kan masih kecil-kecil gitu." "Kakak!" Dariel tertawa terbahak-bahak. Namun, tiba-tiba senyumnya lenyap. Anak itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Nara. "Good night, Nda." Dariel memberikan senyum tipisnya lalu perlahan menutup matanya. Nara menolehkan pandangannya ke arah Dariel saat mendengar ucapan selamat tidur anak itu. Ditatapnya wajah damai anaknya yang tidak banyak berubah. Terlihat manis saat mereka pertama kali bertemu. "Kakak dengar semuanya 'kan?" Tidak ada jawaban dari Dariel.  "Kakak pasti denger." Masih tidak ada jawaban dari Dariel. Namun, wanita itu tahu anaknya masih belum terlelap. Dan, Nara juga tahu bahwa Dariel mendengar pertanyaan yang diajukan Razka pada siang tadi. Walau saat Nara memergoki anak itu berdiri di depan pintu, Dariel berusaha menyangkal.  "Kenapa Bunda jawab begitu?" Dariel masih memejamkan matanya. Ada sesuatu yang ingin mendesak keluar dari matanya. Lagi-lagi Dariel tak bisa menahan air matanya jika berurusan dengan Nara. "Babang lagi marah sama Bunda, Kak." "Jadi, Kakak gak boleh marah sama Bunda?" tanya Dariel. Pria kecil itu membuka matanya, bersamaan dengan setetes air mata yang jatuh dari matanya. "Jangan nangis, Kak. Bunda sayang semuanya, Kakak, Babang, Dedek. Semuanya sama. Gak ada yang beda." Nara mengusap air mata Dariel, tak terima ada sebening kristal yang membasahi pipi anaknya. "Ngalah. Ngalah. Ngalah lagi. Kakak harus ngalah lagi 'kan?" "Ngalah itu hebat lho, Kak. Artinya Kakak udah bisa jadi panutan untuk adik-adiknya." Nara menarik tubuh Dariel mendekat ke arahnya. Dikecupnya puncak kepala anaknya itu dengan haru. Dariel tak menolak, malahan anak itu melingkarkan tangannya di tubuh Nara. Tak terasa usia Dariel makin bertambah sekarang. Hanya menunggu lima tahun atau lebih, Dariel mungkin sudah bisa membawa pacarnya ke rumah. "Sekarang Bunda tanya sama Kakak. Kalo misalnya Ayah lagi marah dan memberi pertanyaan yang sama kayak pertanyaan Razka gimana?" Dariel mengerutkan keningnya, lalu mendongakan kepalanya. "Hah? Maksudnya, Nda?" "Kalo misalnya Ayah tanya begini. Kakak hanya bisa selamatin satu orang, pilih Ayah atau Bunda?" "Ayah dong!" "Kenapa?" tanya Nara. "Karena nanti Ayah tambah marah. Gak mau beliin kuota Kakak, trus janjinya yang pasang wi-fi gak ja---" Dariel menghentikan ucapannya, tiba-tiba ia kembali teringat pertanyaan Razkana siang tadi. Hampir sama hanya saja pilihannya yang berbeda. Dan, jawaban yang ia keluarkan tidak adil. Karena hanya takut dengan kemarahan Adrian, Dariel tak memikirkan Nara. "Nda. Tapi, itu sama saja seperti berbohong kan?" tanya Dariel pelan. "Berbohong demi kebaikan itu gak papa, Kak." Nara kembali mengelus kepala Dariel. "Lagi pula Bunda gak akan nyuruh kalian main dekat jurang kok. Tenang aja," ujar Nara dengan kekehan di ujung kalimatnya. "Kakak sayang Bunda," ujar Dariel pelan. Amat sangat pelan. "Bunda juga sayang Kakak." Dariel semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Nara. Sudah lama sekali tampaknya ia tidak memeluk Nara dengan erat. "Bobok sama Kakak ya, Nda?" "Kalo Dedek nangis, pindah ke kamar Bunda ya?" Dariel mengangguk. Dariel sudah hendak memejamkan matanya menuju alam mimpi, namun tiba-tiba ia teringat dengan pesan dari seseorang yang tak sempat ia balas karena sinyal tiba-tiba menghilang. "Ndaaaa?" "Hmmm." "Hari minggu nanti. Mommy mau Kakak nginap disana." "Mommy?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD