9

1603 Words
Seorang bocah laki-laki mengerutkan dahinya saat melihat mobil yang sering digunakan Ayahnya terpakir di depan rumah.  Abel ingat, saat meninggalkan Dariel, jam spidermen bocah itu menujukan pukul empat sore dan perjalanan pulang mungkin menghabiskan setengah jam. Itu artinya sekarang masih pukul setengah lima sore. Namun kenapa mobilnya sudah ada disini? Biasanya Arga akan pulang ketika pukul tujuh malam atau yang paling lama setelah isya. Tapi, kali ini sang Ayah pulang lebih awal. Aya dan Arga sudah memberi tahu Abel bahwa keduanya memiliki waktu yang cukup padat untuk pekerjaannya namun keduanya juga mengatakan untuk tidak sungkan jika Abel merasa kesepian. “Ayah pulang cepat?” Abel tersenyum girang ketika melihat Arga duduk di ruang tamu dengan kepala menunduk. Dia jadi memiliki teman dan tak sendirian lagi. “Ayah,” panggil Abel ketika Ayahnya itu tak merespon panggilannya. “Dari mana?” Dingin. Abel mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali saat mendengar pertanyaan dari Arga yang membuatnya menghentikan langkah mendekati sang Ayah. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat Abel cukup ketakutan. Wajahnya seperti menahan amarah. Bahkan Bocah itu bisa melihat kepalan tangan Arga yang begitu kuat, tercetak jelas urat-urat pria itu pada tangannya yang berada diatas meja. “A—abel....” “Dari mana?!” teriak Arga membuat tubuh Abel bergetar. Kakinya perlahan bergerak mundur ketika Arga mendekatinya. Jantung Abel berdetak lebih kuat, alarm waspada pada dirinya berbunyi. Jangan lagi. Jangan lagi. Batin Abel. Ingatannya berbalik ketika ia tinggal di sebuah keluarga yang membuatnya begitu trauma. Awalnya keduanya nampak baik, namun lama-kelamaan berubah menjadi sesosok monster yang selalu memberikan kesakitan dan air mata terhadap tubuhnya. “Abel, jawab dari mana?” Arga menarik tangan Abel ketika bocah itu hendak berlari. Anak laki-laki sembilan tahun itu meringgis ketika genggaman sang Ayah begitu kuat pada tangannya hingga rasa sakit itu muncul. “Sakit, Ayah...” Deg. Genggaman tangan Arga pada Abel perlahan memudar. Pria itu terdiam menatap anaknya yang sudah mengeluarkan air mata. Lagi. Ia melakukan hal yang sama.  Arga kemudian membalikan tubuhnya menuju meja ruang tamu, mengambil sebuah vas kaca lalu membantingnya kuat. Pranggg! Abel semakin ketakutan ketika melihat Arga mengambil serpihan kaca itu. Namun, ketika melihat sang Ayah malah menggengam serpihan kaca itu Abel menjadi lebih takut. Takut terjadi sesuatu pada sang Ayah. Tetesan darah perlahan jatuh dari tangan Arga, pria itu tak merubah ekspresi wajahnya yang datar. Abel menggigit bibir bawahnya, ia semakin panik saat tetesan itu sudah seperti hujan gerimis. Ayahnya akan kehabisan darah jika seperti ini. “Mas Arga!”  Aya yang baru pulang dari tugasnya terkejut ketika mendapati sang suami dengan tangan yang berdarah. Diliriknya Abel yang nampak menangis berada di dekat tangga. “Abel, nak. Ganti baju sekarang ya,” titah Aya. “Biar ibu yang ngobatin Ayah,” ujar wanita itu ketika melihat wajah khawatir Abel yang tertuju pada Ayahnya. Aya langsung bergegas mengambil kotak P3K dan kembali menuju ruang tamu. “Lepasin kacanya, Mas!” serunya saat Arga masih mengenggam itu. “Tidak,” kata Arga menolak. “Mas sudah menyakiti Abel.” “Dan, Mas ingin menyakit diri Mas sendiri?” Aya tak habis pikir dengan jalan pikir sang suami. “Ini setimpal dengan yang Mas lakukan.” Setidaknya, bagi Arga dengan ini ia bisa juga merasakan sakitnya. Aya menghembuskan nafasnya jengah. Ia benci jika Arga kembali menjadi orang bodoh seperti ini. Tetapi, ia tidak bisa menghilangkan konsekuensi yang Arga buat untuk dirinya sendiri. Plak! Arga terdiam ketika merasakan panas pada pipinya, Aya mengambil kesempatan itu untuk membuka lengan Arga. Tidak ada cara lain, mungkin tamparan bisa membuat suaminya itu sadar. Dengan cepat ia mengobati luka pada tangan sang suami sebelum pria itu kehabisan darahnya. Arga sama sekali tak meringgis atau pun berteriak sakit, bahkan ketika Aya sengaja menyiramkan alkohol pada lukanya wajahnya masih sama. “Kanapa kamu bisa sebodoh ini, sih, Mas?” tanya Aya sambil menutup kotak P3K. “Mas melukai Abel,” jawab Arga. “Melukai bagaimana?” Wanita itu sempat memeriksa tubuh Abel dari pandangannya, ia tak melihat ada luka atau bekas pukulan. “Mas meneriaki dan menggengam tangannya dengan kuat.” “Karena?” tanya Aya heran. “Abel pulang terlalu lama dan tidak mengabari kita. Mas takut terjadi apa-apa padanya, Mas takut jika Abel bernasib sama dengan Arya.” Terjawab sudah. Arga ternyata sama sekali tak menghilang sikap posesifnya terhadap sang anak, bahkan Abel mendapat perilaku yang sama. Aya mengelus punggung suaminya, ia tahu bahwa Arga sangat menyayangi anak-anaknya. Aya bahkan tahu jika setiap malam, Arga selalu memikiri tentang Arya. Pria itu merasa sangat bersalah padanya, menganggap jika semua yang terjadi ini karenanya. Padahal nyatanya kehilangan Arya kesalahan mereka berdua. “Mas lelah, Mas benci jika tidak bisa menahan tangan ini.” Wajah pria menunukan wajah begitu sengsara, menatap kedua tangannya pasrah. Aya sempat berpacaran beberapa tahun sebelum menikah dengan Arga. Pria itu menceritakan banyak tentang hidupnya, tentang kehebatannya yang mendapat kepercayaan menjadi petinggi salah satu cabang perusahaan Ayahnya saat masih berusia sembilan belas tahun. Namun, Arga juga tak menutupi tentang kekurangnya, bahwa lelaki itu kadang tak bisa menahan tangannya untuk melukai. Termasuk jika lelaki itu khawatir. Arga mengatakan bahwa itu terbawa padanya karena mendapat perilaku serupa dari Ayahnya. Tapi, Sang suami ingin memutus rantai itu. Ia tidak ingin berlaku kasar pada anaknya sehingga terbawa pada mereka. Arga hanya manusia biasa, kadang hal itu tak bisa dicegahnya. Dan, pria itu juga berjanji jika ia melakukan hal buruk pada anak-anaknya, ia harus menerima balasan berpuluh-puluh kali lipat. “Mas berhenti menyakiti diri sendiri.” Aya menghela nafasnya. “Aku capek mengobati luka, Mas. Aku juga enggak suka punya suami yang memiliki banyak bekas luka,” omel Aya sambil melepas blazer kerjanya lalu dilempar ke ujung sofa, Arga terkekeh mendengarnya. “Aku seriusan lho, Mas. Masih banyak tuh yang deketin aku.” “Besoknya kamu enggak akan ketemu orang itu lagi,” kata Arga langsung berwajah serius. “Aku bercanda, Mas,” ujar Aya. Mana mungkin ia bisa meninggalkan Arga, lelaki yang sudah ia cintai setengah mati itu. Wanita itu merebahkan kepalanya di bahu sang suami. “Abel tadi ketakutan lihat Mas,” ucapnya mengingat sang anak. “Mas nanti temuin Abel, bicara sama dia,” kata Aya.  “Aku lelah banget, Mas,” ujarnya dengan memejam mata. Arga yang melihat isterinya nampak begitu kelelahan menarik tubuh isterinya untuk lebih dekat, pria itu memposisikan kepala sang isteri berada di dadanya. “Tidur, nanti Mas buang ke kolam,” kata Arga. “Bercanda,” lanjutnya sambil terkekeh. “Bercanda Mas mengerikan,” ujar Aya sambil bangkit. Ia mengambil blazernya dan berjalan menaiki tangga. “Aku mau tidur, Mas yang masak ya. Oh, jangan lupa nanti bicara sama Abel.” “Hemm,” angguk Arga. Lelaki itu kemudian menghela nafasnya, ia menimbang-nimbang untuk menemui Abel sekarang atau tidak. Tapi, ia juga cemas dengan keadaan sang anak. Jadi Arga memutuskan untuk masuk ke kamar Abel, sebelumnya ia sudah mengetuk pintu sang anak. “Abel,” panggil Arga pelan. Bocah itu ternyata baru saja mengganti pakaiannya, tatapan Abel langsung teralih ke tangan sang Ayah. Teringat tentang darah yang mengalir dari tangan itu. Ia bernafas lega ketika melihat tangan Arga sudah diperban.  “Ayah boleh duduk disini?” tanyanya mendekati Abel yang duduk diatas kasurnya. Bocah itu mengangguk pelan. Tangan Arga hendak memeluk Abel namun bocah itu langsung menatap lelaki itu awas. Pria itu tersenyum canggung, menarik tangannya kembali. “Maafin Ayah ya.” Pria itu sama sekali tak sungkan untuk meminta maaf pada sang anak jika ia salah. Arga juga sekaligus mengajari Abel untuk meminta maaf jika berbuat salah. “Ayah saat itu takut karena Abel pulang dan tidak mengabari ibu atau Ayah.” “Abel mengirim pesan sama Ibu,” kata Abel mengerucutkan bibirnya. “Ibu tak memberi tahu apa-apa pada Ayah,” kata Arga sedikit kesal pada isterinya . “Tangan Abel masih sakit?” tanya Arga mengingat ia terlalu kuat mengnggengam tangan anaknya. “Tangan Abel baik-baik aja,” katanyanya. Abel merasakan hatinya menghangat ketika mengetahui alasan dibalik Arga bertindak itu padanya. Ia tak menyangka bahwa sang Ayah begitu mengkhawatirknya. “Tangan Ayah bagaimana?” tanya Abel. Bocah itu masih mengingat cucuran darah yang keluar dari sana. Tanpa Arga minta, anak laki-laki itu bergerak mendekat ke arah sang Ayah. “Tidak apa-apa,” kata Arga. Abel tak terima, apanya yang tidak apa-apa, tangan Ayahnya itu terluka karena pecahan kaca. “Sini Abel lihat.” Arga memberikan saja tangannya, Tiba-tiba bocah itu memberikan kecupan kecil pada luka yang sudah diperban itu.  “Biar cepat sembuh,” katanya sambil terkikik geli. “Eh, sama satu lagi.” Bocah itu bangkit dari kasur lalu mengambil spidol warna di meja belajarnya. CEPAT SEMBUH AYAH :) Arga malah terkekeh geli sekarang, tulisan itu diberi warna-warni membuatnya nampak lucu. “Abel mau bantuin Ayah masak tidak?” “Mauuu!” Keduanya kemudian berjalan menuju dapur, tanpa perlu mengganti kemaja kerjanya Arga membawa Abel menuju dapur. Bocah itu juga meminta maaf pada sang Ayah tentang ia yang tak mengabari kepulangannya yang terlambat.  “Abel mau makan apa?” tanya Arga didepan kulkasnya. “Abel mau makan sop Ayamnya, tapi kentangnya banyakin heheh,” bocah itu menyengir. Arga mengangguk, ia kemudian mengambil bahan-bahan lainnya. Ia hanya akan membuat ayam rica-rica, sayur sop dan kentang balado untuk makan malam. Lelaki itu takut jika masakan belum selesai ketika makan malam tiba. “Ayah kenapa yang masak? Kok bukan ibu?” tanya Abel sambil memainkan kentang yang belum dikupas. “Lho emangnya kenapa? Ayah enggak boleh masak?” tanya Arga sambil mengupas wartel. “Boleh dong, malahan bagus karena bisa bantu Ibu,” jawabnya. “Tapi, kenapa Ayah mau? Temen Abel ada yang ayah dan ibunya kerja, tapi kata temen Abel itu tetap ibunya yang mengerjakan semuanya, pasti capek banget.” Arga terkekeh melihat wajah Abel, ia menatap anaknya. “Tuh Abel udah tau jawabannya. Ibu pasti capek banget, jadi kalo Ayah masih ada tenaga. Kenapa enggak Ayah kan?” “Lagi pula masakan ibu itu sering banget keasinan,” ujar Arga dengan suara memelan. Abel malah tergelak ketika mendengar ucapan Arga dengan suara berbisik. Mereka kemudian melanjutkan acara memasak, ketika hendak baru saja hendak membersihkan ayam. Suara ponsel dari saku celana Arga berbunyi.  Pria itu mengerutkan dahinya saat melihat nama yang tertera dalam panggilan itu. Arga mematikan wastefel yang sempat hidup kemudian berjalan ke arah kulkas mengambil s**u kotak rasa strawberry untuk Abel. “Ayah angkat telpon dulu,” katanya berjalan agak jauh. “Halo?”  “Anak buah gue udah cari bukti cctv di bandara, hasilnya nihil. Trus gue minta mereka mencari tahu apa bukti cctv itu di ambil lebih dulu, tapi hasilnya tetap nol, Ga. Rekaman cctv-nya lengkap. Gue rasa anak lo diculik di sisi buta cctv.” Arga mengusap wajahnya kasar, pencarian selama dua minggu ini ternyata tak membuahkan hasil apapun. Bahkan petunjuk tentang dimana anaknya diculik pun tidak ada. “Gue minta tolong sama lo untuk terus cari anak gue. Gue bakal bayar berapapun.” “Tenang aja, gue bakal usaha semaksimal mungkin.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD