8

1351 Words
Dua orang anak laki-laki dengan seragam merah putih yang masih melekat ditubuh mereka nampak asik duduk diatas sebuah sofa lapuk yang berada di sebuah rooftop rumah kosong yang selalu menjadi tempat kedua anak itu berkumpul, tidak berkumpul sebanarnya karena hanya ada dua orang saja disana. Si anak bule dan si anak pribumi. "Belum mau pulang, Yel?" Bocah bule itu menggeleng. "Nanti aja, Bel," ujarnya pada si anak pribumi yang kini mengangguk-anggukan kepalanya. Terdengar helaan yang panjang dari Dariel, posisi awalnya yang mengadah keatas langit itu turunkan, lalu anak itu menghempaskan kepalanya diatas sofa. Pukul 4 sore. Itu yang bisa Dariel lihat dari jam tangan spidermen miliknya.  Ingatannya yang belum terlalu seberapa kembali mengingat kilasan saat ia bertemu dengan seorang wanita yang kini membuat d**a Dariel sesak. "Bagaimana kabar Daddy Adrian?" Dariel mendongak, menatap wajah Natasha yang kini seolah tak merasa bersalah dengan pertanyaan yang ia ajukan, pertanyaan yang rasanya tak ada kaitannya dengan wanita itu. "Baik," ketusnya.  Dariel meremas tali tasnya, sebelum menarik tasnya bersamaan tubuhnya yang ikut bangkit membuat Natasha mau tak mau ikut menaikan pandangannya untuk melihat Dariel. "Kalo Tante gunaiin aku sebagai alat untuk mendapatkan perhatian Ayah, maaf aku adalah orang pertama yang akan menghalangi itu!" kata Dariel. Sakit. Itu yang Dariel rasakan. Rasanya lebih sakit saat melihat air mata Nara jatuh. Dariel memejamkan matanya, jika bisa ia ingin pergi dari sini dengan keadaan terpejam namun matanya malah berkhianat. Hingga tatapan Dariel bertemu dengan mata coklat Ibunya yang meredup. "Hah..." Dariel menghela nafasnya lagi. Tangan mungilnya ia usapkan ke ke wajahnya membuat Abel yang sedari tadi mengunyah kacang mengerutkan keningnya. "Bel, kok rasanya di hati Iyel ada yang sakit. Cenat-cenut gitu, gak enak pokoknya. Mau napas susah." "Uhuk.. Uhukk!!" Abel tersedak kulit kacang yang ikut masuk bersama isinya. Setelah ia rasa kulit itu hancur, anak laki-laki itu segera mengambil botol minum yang ada di samping tasnya. Cepat-cepat ia meneguk air yang didalam botolnya hingga tandas. Jika Aya melihatnya, sudah pasti wanita itu akan menegurnya. "Tau gak, Yel? Temen Abel, ada yang begitu, dadanya sesak katanya. Terus... Terus besoknya...." Abel mengelap bibir mungilnya dengan ujung lengan bajunya. Lagi-lagi, jika Aya melihatnya. Sudah dipastikan Abel akan mendapat siraman rohani. "Temen... Temen Abel itu..." Dariel meneguk ludahnya kasar. Tiba-tiba ia merasa bulu kuduknya merinding. "Temen Abel itu cuman batuk. Ternyata." "Ishhhh,” kesal Dariel. Abel tertawa, bibir anak laki-laki itu melengkung tanda ia benar-benar tertawa. Bahagia. Lalu saat ia melihat wajah Dariel yang kembali gelap seperti Panti saat mati lampu terjadi. Abel menghembuskan nafasnya. "Yel, jangan bohongin diri kamu. Kalo kamu senang, kamu harus tunjukan. Kalo kamu sedih ya harus dikatakan. Yang tau kita ya cuman kita. Orang dewasa enggak akan paham.” Dariel menghela nafasnya lega saat melihat tidak ada Nara yang biasanya mondar-mandir di teras rumah, bocah itu menyudahi kegiatan mengintipnya dari balik pagar yang berlubang. Biasanya, wanita itu akan menunggui ia ataupun Razkana yang pulang terlambat. Tidak seperti sekarang, hal itu cukup membuat Dariel aneh.  Pelan-pelan Dariel itu membuka pagar rumahnya lalu menutupnya, berjalan tanpa suara hingga berada di teras rumah. Setelah meletakan sepatunya di rak sepatu, Dariel menjijitkan langkahnya menuju kamarnya dan Razka. Suasana sepi dan sunyi membuat anak itu mengerutkan keningnya. Mungkin saat ini Nara tengah menemani Raziel tidur dan Razka yang mungkin sedang membaca di kamar mereka. Dariel yang melihat pintu kamar berwarna putih dengan sebuah tulisan 'Kakak dan Babang Area' sedikit terbuka segera saja mempercepat langkahnya menuju kamar itu. Namun, sebuah suara yang begitu ia kenali dan berasal dari kamar itu menghentikan langkahnya. "Maafin Bunda dong, Bang. Bunda tadi marahin Babang karena khawatir Babang sakit. Bunda kan udah bilang jangan minum es lagi." Terdengar sang Ibu sedang membujuk adiknya. Anak laki-laki yang tengah menguping sambil meneteng tasnya itu mengangguk-angguk mengerti. Sudah dipastikan bahwa Razkana tertangkap basah meninum es dan tentu saja Nara memarahi adiknya itu. Dan, ya, seperti kebiasaan Razkana, bocah itu akan ngambek. Dariel menghendikan bahunya, berharap dirinya tidak di seret-seret dalam kasus ini. Baru saja ia hendak mendorong pintu putih itu agar terbuka, suara Razkana kembali menghentikan langkah Dariel. "Tapi Bunda baju Babang kotor karena Kakak yang numpahin es-nya. Kakak nutup pintu mobilnya kencang banget buat Babang terkejut terus tumpah, deh." "Iya, nanti Bunda bilang sama Kakak untuk lebih hati-hati lagi.” Lalu hening kembali. "Bunda? "Apa, Bang? Katanya mau bobok siang?" Dari sela pintu yang terbuka Dariel bisa melihat Nara yang tengah menyandarkan tubuhnya di kepala kasur sambil mengelus rambut Razkana yang berada di dekatnya. "Kalo suatu saat Babang dan Kakak jatuh ke jurang dan Bunda hanya bisa menyelamatkan satu orang diantar kami, Bunda pilih siapa?" "Babang,” kata Kinara. Deg. Dariel membeku didepan pintu, tangannya yang sedari tadi sudah gatal ingin mendorong pintu kamarnya terhenti. Dadanya yang awalnya sudah sesak bertambah perih saat mendengar ucapan Nara. Jawaban yang begitu cepat tanpa ada sela waktu antara pertanyaan dan jawaban. Apakah Dariel memang tak pantas diselamatkan? Iya, iya! Dia tahu itu hanya khayalan seorang anak berusia tujuh tahun. Tapi, jika itu semua terjadi akankah ucapan Nara menjadi jawaban? Ia yang berharap tidak ikut dalam malasah ini, kini harus mendengar sesuatu yang pahit dari mataharinya, hidupnya, orang yang ingin ia jaga seumur hidupnya. Dariel mundur beberapa langkah, tangannya yang sudah bergetar ia tarik menjauh, niatnya yang ingin kabur bila perlu menghilang dari sini ternyata gagal. Karena saat ia hendak berbalik, botol minum yang berada di samping tasnya terjatuh. Tukkk! Dariel berniat mengambil botol minumnya yang terjatuh dan meninggalkan tempat ini, hatinya sudah perih, benar-benar luka dan membuatnya ingin menangis sekarang.  Ingin rasanya ia menangis meraung-raung didekapan seseorang yang benar-benar menyanyanginya. Nara sudah ada Dariel dan Adrian sudah sangat menyangngi Raziel. Dan, dirinya harus memeluk siapa? "Kakak."  Pintu kamar mereka terbuka sempurna, Nara keluar dengan ekspresi terkejut. "Kakak dari kapan sampainya? Bunda gak denger." Dariel mendongakan wajahnya, menghalau bening-bening kristal berjatuhan di pipinya. "Oh, barusan kok. Iya, Kakak barusan sampai." Desahan lega terdengar dari mulut Nara, Dariel yang melihat itu dari bola matanya saat Nara nampak tenang ketika ia mengatakan bahwa dirinya baru sampai. Apakah Bundanya itu takut ia mendengarnya? Oh, bahkan Dariel mendengar jelas itu semua. "Kakak mau makan dulu? Bund---" "Gak laper. Ngantuk." Dariel berjalan melewati Nara yang terbengong di ambang pintu. Wanita itu merasakan sesuatu yang aneh dari Dariel. Tidak biasanya anak itu menolak ia ajak makan, bahkan biasanya tanpa disuruh Dariel meminta makanan padanya. "Kalo Kakak lapar, panggil Bunda di kamar Dedek Azi ya." Dariel mengangguk tanpa menolehkan pandangannya ke arah Nara. Dan, saat mendengar pintu ditutup. Cepat-cepat anak itu menjatuhkan tasnya, lalu memasuki kamar mandi. Razkana yang sedang membaca buku bahkan ia hiraukan. Saat sudah sampai di kamar mandi, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Anak itu sebenarnya tahu cara agar mengentikan tangisnya, namun air mata itu nampaknya tak bisa diajak kompromi dengan Dariel. Terus terun, membasahi pipinya. Hilang sudah sesak yang Dariel rasakan. Bocah lelaki itu menangis tanpa mengeluar suara. Setelah melihat air matanya yang sudah mengering di pipinya. Dariel dengan ceketan mengganti seragamnya dengan baju rumahan. Begitu selesai, Dariel membuka pintu kamar mandi dan segera menuju kasurnya dan Razkana. Bocah bule itu mengambil ponselnya yang berada didalam tasnya. Perlahan ia membaringkan tubuhnya di sebelah Dariel namun dengan posisi membelakangi. Ponselnya ia hidupkan, tujuan awalnya ingin bertanya pada Abel, apakah temannya itu sudah sampai atau belum di rumahnya? Sebab mereka pulang sudah begitu sore dan tidak mengabari siapapun. Tak ada jawaban dari Abel. Dariel mengubah letak posisi ponselnya menjadi landscape, ia ingin bermain game untuk menghilang rasa pedih di hatinya. "Kak, Kakak!" Dariel yang tengah asik bermain game terganggu karena panggilan Razakana yang sungguh berisik. Bocah itu menarik-narik tangannya, membuat Dariel cukup kesal. Niatnya yang ingin menghibur hatinya sendiri dari rasa sakit, malah kini ia harus bertatap muka dengan si pemberi rasa sakit. "Apa, Bang?" tanya Dariel pelan. Tak ingin terpancing dengan rasa kesalnya. Bisa-bisa ia menyesal nanti. "Bantu, Babang ajarin ini."  Bocah itu mengangkat buku tematiknya. Dariel mengangguk, lalu dengan perlahan membantu Razkana mengerjakan soal pembagian jalan ke bawah. "Udah, kerjain, Bang." "Gak mau, ah! Kakak aja, Iyel mau baca buku cerita. Kayak biasa." "Kerjain dulu. Baru nanti baca,” kata Dariel mulau kesal. "Gak mau!" tolak Razkana. Dariel menghendikan bahunya. "Terserah." Lalu kembali memainkan ponselnya. Razka yang melihat itu menjadi kesal, padahal biasanya Dariel akan mengerjakan tugasnya jika ia sedang ingin membaca. Namun, saat melihat Kakaknya itu fokus dengan ponselnya kembali, membuat Razkana kesal. "Kak, kerjain, dong," rayu Razkana. "Hmm." "Bilang sama Bunda nanti kalo Kakak main ponsel terus." Dariel menghembuskan nafasnya ketika permainannya berakhir dengan kalah, kepalanya mendongak. Menatap Razkana datar. "Itu tugas siapa emangnya? Kenapa kakak yang ngerjain." "Babang bilangin sama Bunda biar Kakak dihukum!" "Aduin aja sana.”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD