7

1515 Words
08127974xxxxx Hari ini Mommy bisa bertemu Dariel 'kan? Mommy kangen. Dariel menghela nafasnya ketika membaca pesan dari Mommy-nya, lagi. Entah sudah yang ke berapa kali pesan itu masuk dengan menanyakan hal yang sama 'bisa betertemu' dan 'kangen'. Sebenarnya, ia cukup jengah namun ia tidak ingin menjadi anak durhaka karena sudah mengabaikan ibu kandungnya. Tapi, alasan bertemu dengan dalih kangen tak bisa Dariel tolerir. Ibu kandungnya itu rindu ketika sudah menelantarkannya begitu lama. Dan disaat ia sudah memiliki keluarga yang utuh, malah kembali mendatanginya. Klasik, huh? Batin Dariel. "Kakak, Mang Tejo udah jemput." Razkana muncul dengan Es dawet ditangannya. Anak itu nampaknya tidak jerah akan nasihat Nara yang melarang mereka untuk membeli minuman es. "Ketahuan Bunda, Babang bisa kena marah lho," ujar Dariel sedikit menakuti. "Yah, jangan sampe ketahuan." Anak itu melenggang pergi seperti tak bersalah melewati Dariel. Tapi ucapan Razka juga ada benarnya. Jangan sampe ketahuan. Begitu pula dengannya, ia bisa bertemu dengan Natasha dan jangan sampe ketahuan. Baik Adrian maupun Kinara, belum ada yang mengetahui bahwa kini Natasha selalu mengirimkan pesan untuk bertemu. Tapi, apakah ia harus pergi? "Bang!" panggil Dariel ketika melihat adiknya itu ingin masuk kedalam mobil. "Babang pulang deluan aja, Kakak ada tugas tambahan," ujar Dariel menahan pintu mobil yang sudah ingin tertutup. Razkana yang sedang meminum Es dawet hanya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Dariel. Karena biasanya jika ada tugas tambahan, pasti Dariel akan mengajak teman-temannya ke Rumah sebab Adrian tak mengizinkan Dariel pergi tanpa pengawasannya. "Kasian nanti Dedek Azi kalo rumah rame, gak bisa bobok." Seolah paham dengan kerutan di wajah adiknya Dariel menyebutkan alasannya. "Oke, tapi—-“ Blammm! "Take care, Bang!" Razkana tersentak kaget saat pintu mobil ditutup kuat oleh Dariel. Bocah itu mengelus-elus dadanya karena detak jantungnya belum kembali normal. Baru saja Razka hendak menyedot kembali Es Dawetnya, kening bocah itu mengerut saat melihat minumannya tinggal setengah. Perasaannya, Dariel tidak meminta Es dawetnya, kenapa tinggal setengah lagi? Barulah bocah itu menyedari kemana setengah Es Dawetnya ketika merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh dadanya. Dan, benar saja, ketika Razkana melihat baju bagian dadanya, tumpahan Es Dawet sudah membasahinya. Kalo sudah begini, bagaimana caranya ia agar tidak ketahuan? "KAKAK IYEL! Arghhh!" Sedangkan Dariel, bocah itu kini tengah melompat-lompat gembira kerena bisa bertemu dengan Natasha, Mommynya. Tapi, sedetik kemudian anak itu menghentikan langkahnya dan memasang wajah datar. "Kenapa Iyel seneng?" tanyanya ketus. Walaupun begitu, Dariel tetap tak bisa menutupi letupan-letupan kebahagian karena akan bertemu dengan Ibu kandungnya. Setelah sekian lama tidak berjumpa. Ia berharap bahwa Natasha kembali dengan sosok yang lebih baik, walau saat ini ia sudah begitu bahagia dengan kehadiran Kinara yang menjadi ibu sambungnya, namun di dalam hati kecilnya Dariel masih berharap pada sang Ibu. "Tadi ketawa-ketiwi sekarang datar-dataran." Dariel menolehkan kepalanya, matanya menangkap sang sahabat berjalan sambil membawa tiga buku tebal didalam gendongannya. "Rajin banget, Bel!" goda Dariel pada Abel yang kini memasang wajah lelah. "Capek," keluh anak itu ketika berada disamping Dariel. Sedangkan Dariel, tersenyum sambil mengelus dadanya. Untung saja, Sang Bunda tidak menuntutnya terlalu berlebihan tentang pelajaran. Lihat bagaimana tampang menyedihkan sahabatnya itu. "Kamu hari ini les apa aja?” tanya Dariel. "Enggak tahu, Abel lupa," ketus temannya itu membangkitkan tawa j*****m Dariel. Tidak memperdulikan wajah sengsara Abel.  Tepat satu bulan kini Abel tinggal bersama Aya dan Arga. Keduanya benar-benar memperhatikan Abel dengan baik. Termasuk dengan pendidikannya. Dua minggu yang lalu, Aya memberikannya beberapa lembar kertas berisikan daftar nama-nama les. Ada total tiga belas kalo Abel tak salah. Dan, ia harus memilih lima diantarannya. Abel ingin menangis saja rasanya. Ia memang bisa bilang tidak terlalu pintar.  Semester kemaren ia hanya bisa tertawa ketika mendapat rangking dua puluh satu. Namun, kini nampaknya Aya dan Arga mengharapkan Abel menjadi lebih baik. "Bel, Bel. Kok melamun? Entar kesambet Iyel lari lho, gak mau bantuin." "Temen durhaka!" sahut Abel. Sebagai sahabat, Abel tentu tahu bahwa Dariel mau mendengerkan ceritanya. Tempat berbagi keluh kesah, suka dan duka. Tapi, rasanya itu bukan sesuatu yang patut diceritakan menurut Abel. Ia tak ingin Aya dan Arga dicap sebagai orang tua yang banyak kehendak. Yah, walaupun Abel merasa semakin kesini, kebebasannya semakin menipis. Ia seolah tak bisa mengatakan apa yang ia mau. Namun Abel yakin dibalik itu semua demi kebaikannya. Walau dia belum bisa memastikan apa tujuan kedua orang tuanya itu untuk mengadopsinya, ia berharap hal baik tentang itu. “Kamu ngalamun apa lagi, sih, Bel?” tanya Dariel. “Ngelamunin kenapa aku ganteng banget,” ujar Abel sambil tersenyum lebar. Dariel menatap aneh ke arah Abel. Anak itu malah terkekeh. “Enggak, cuman ngantuk aja.” Abel tak berbohong, ia bisa tidur dengan tenang ketika telah melewati tengah malam. “Ngapain? Belajar atau main game?” “Main game,” kekeh Abel berbohong. Ia tidak mungkinkan mengatakan bahwa Arga menemaninya belajar hingga larut malam dan Abel tak berani mengatakan bahwa ia mengantuk. “Temenin aku. Mau enggak, Bel?” Dariel bertanya ragu. “Kemana?” tanya Abel sambil memasukan bukunya ke dalam tas. Ia tidak ingin dicap anak sok pintar karena membawa buku digenggamannya. “Ketemu sama Mommy aku,” cicit anak lelaki bertampang bule itu. Sedangkan, Abel tahu bahwa Kinara bukanlah Ibu kandung Dariel hanya Adrian saja yang Ayah kandungnya. “Ayo!” angguk anak itu semangat. “Kamu enggak Les?” “Libur dulu, deh.” Walaupun Aya dan Arga meminta Abel untuk belajar dengan rajin, kedua orang tuanya itu juga mengatakan bahwa Abel boleh tidak mengikuti les jika lelah ataupun bosan. Dariel mengetuk-ngetuk meja kaca sebuah restoran yang menjadi tempat yang dijanjikan Natasha akan datang. Ia sudah memesan Cheese Burger tanpa salada dan segelas moccafloat untuknya dan Steak dengan kematangan rare dan segalas soda untuk Natasha. Iya, itu adalah makanan kesukaan Dariel dan Natasha jika berkunjung ke salah satu restoran cepat saji. Walaupun dulu mereka hanya dekat dalam waktu yang terlampau singkat namun makanan kesukaan Natasha masih melekat di ingatannya. Dariel menggoyang-goyangkan kakinya, gugup. Siapa yang tidak gugup saat bertemu seseorang yang harusnya selalu ia jumpai setiap waktu, setiap ia membuka mata, setiap ia ke dapur, setiap... Ah setiap saat seharusnya. Namun harus berpisah dengan waktu yang cukup lama. Anak laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke arah meja yang berada di ujung. Abel tengah menikmati kentang gorengnya dengan nikmat. Pandangan mereka bertemu, Dariel beruntung bisa memiliki sahabat sedewasa Abel. Lalu saat Abel mengangkat jempolnya memberi semangat, Dariel tersenyum lebar. Bocah penyuka kentang itu mengetahui bahwa ia sedang gugup sekarang, lihatlah anak itu menyuruh Dariel untuk menarik nafas perlahan dan membuangnya. Dariel memang benar beruntung memilikinya. Tapi, hingga tiga puluh menit berlalu. Natasha belum juga menampakan batang hidungnya, membuat Dariel jengah. Ia kesal. Ibunya itu belum juga berubah ternyata.  Dariel bangkit dari duduknya, baru saja hendak menarik tasnya. Suara seorang wanita yang begitu ia rindukan mengalun lembut di telinganya. "Dariel!" Dariel memfokuskan pandangan pada seorang perempuan yang nampak baru saja menyelesaikan lomba lari maraton 5km. Nampak terengah-engah dan lelah. Bahkan saat wanita itu sudah duduk pun, nafasnya masih belum stabil. Bocah itu menyerahkan botol minumnya yang tinggal setengah, sebaik-baiknya air adalah air putih, bukan? Wanita itu mengulas senyumnya lalu mengambil botol minum Dariel dan meneguknya. Tatapan Dariel masih terfokus pada tubuh Nata. Di tubuh itu sekarang tidak ada lagi pakaian kurang bahan ataupun mewah. Hanya sebuah stelan kantor sederhana namun nampak sangat pas di tubuh Natasha. "Makasih, sayang." Natasha memberikan botol minum Dariel yang sudah kosong yang langsung disimpan bocah itu. Soalnya akan gawat jika botol minim tuperware itu hilang, bisa-bisa Bundanya Nara akan mengomel panjang lebar. Dariel menatap Natasha lekat. Ah, bahkan saat berada di dekat Ibu kandungnya, ia selalu memikirkan Kinara. "Udah lama nunggu?" tanya Natasha saat melihat sebuah hidangan kesukaannya berada diatas meja. "Dariel masih ingat makanan kesukaan Mommy?" tanya wanita itu dengan bola mata yang berbinar. Dariel tersentak. Lalu dengan cepat menggeleng. "Dariel pilih menunya asal." Bocah itu melihat itu, melihat bagaimana bola mata coklat itu meredup. Natasha mengangguk sambil tersenyum paksa, mau apa dia memangnya? Mau sang anak mengingat makanan kesukaan dirinya? Apa haknya? Toh, selama ini ia sudah mengabaikan sang anak. Dariel rasanya tak tega melihat itu, namun rasanya rasa sakit saat diabaikan itu masih tersimpan rapi di hatinya. Tak tersentuh dan tak bisa digapai. Namun, ia ingin bisa mudah memaafkan seperti Bunda Nara. Lagipula ia hanya maafkan kan? Tidak harus tinggal dengan Natasha. Walau Dariel juga penasaran seperti apa rasanya ditemani tidur oleh Ibu Kandung. “Gimana? Sekolah Dariel lancar? Udah mau tamat ya kan?” tanya Natasha sambil tersenyum cerah. Wanita itu sangat bahagia. Setelah beberapa lama ia menyianyiakan karunia Tuhan, kini akhirnya ia tersadar bahwa Dariel adalah hartanya yang berharga. Anak laki-laki itu menatap Natasha tanpa berkedip. Entah mengapa, hanya melihat senyum Ibu kandungnya itu hatinya ikut berbahagia. Apakah sedasyat ini? Apakah sehebat ini senyum Natasha? “Lancar kok,” ujar anak itu sedikit ragu. “Iyel ada masalah? Mommy bakal bantu.” Natasha memetong steaknya menjadi beberapa bagian, lalu menyuapkan potongan steak itu ke arah Dariel. Awalnya, anak itu menolak dengan menggelengkan kepalanya namun karena kegigihan Natasha, wanita itu kembali dapat meraskan kebahagian menyuapkan anaknya. “Iyel susah dapat izin keluar main dari Bunda,” kata bocah dua belas tahun itu sambil mengunyah makannya. “Iyel juga enggak tahu alasannya,” sambung anak itu melihat tatapan bertanya. “Hm.” Natasha berdehem. Tidak, ia tidak akan menyalahkan Kinara karena telah melarang Dariel. Punya hak apa dia? Walaupun ia ibu kandung Dariel, tapi selama ini yang mengurusnya adalah Adrian dan Nara. “Mungkin Bunda khawatir kalo Iyel pergi-pergi. Apalagi sekarang kan banyak banget kasus penculikan anak, ih, mommy jadi ngeri.” Dariel mengangguk, benar. Mungkin Bundanya itu takut jika ia berpergian keluar seorang diri. Semuanya berjalan mengasyikan, Dariel menceritakan kegiatannya di sekolah juga di rumah. Tapi, tiba-tiba sesuatu di dirinya memanas saat mendengar pertanyaan dari Natasha. Sebuah pertanyaan yang entah mengapa membuatnya berpikir akan mengancam keluarga bahagianya. "Bagaimana kabar Daddy Adrian?" Untuk apa Mommynya itu menanyakan mantan suaminya?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD