6

1455 Words
“Mas mau ke kamar mandi sebentar, kamu bisa menggendong Abel?” Aya tak menghiraukan perkataan suaminya, ia terdiam, sudah sejak beberapa lama ketika Anna mengeluarkan kata-kata itu. Jangan pernah sakiti atau meninggalkannya, Kak. Karena kakak udah tahu kan sakitnya ditinggalkan.  “Aya,” panggil Arga menggunakan nama isterinya, ia sudah tidak bisa lagi menahan keinginan untuk membuang air kecil.  “Apa aku harus menyayangi dia, Mas?” tanya Aya tiba-tiba menatap suaminya. “Apa aku harus Mas?” tanyanya lagi dengan ekspresi menahan rasa sakit. “Harus,” kata Arga. “Abel datang saat kita kehilangan Arya tapi itu bukan berarti Abel adalah pengganti Arya. Arya dan Abel berbeda. Tapi, mereka anak kita, Aya.” “Bagaimana dengan Arya? Bagaimana jika kita tak bisa menemukan Arya, Mas?”  “Mas janji akan menemukannya,” janji Arga. Aya mengangguk, kemudian merentangkan tangannya pada sang suami. Pria itu kemudian memberikan Abel dalam gendongannya dengan perlahan. “Terima kasih, Sayang.” Aya sedikit terkekeh saat suaminya itu sedikit berlari menuju kamar mandi. Itu semua karena ia yang terlalu lama membuat Arga menunggu. Perempuan itu perlahan menundukan pandangannya menatap sosok bocah kecil yang tengah terlelap damai dipelukannya. Tangan lentik itu menyusuri wajah Abel yang nampak tirus. Apa anak ini makan dengan baik di Panti Asuhan itu? Hidung yang mancung, bibir merah yang tipis, alis yang lebat, serta dua bola mata yang akan menatapnya bulat dan berbinar saat bocah ini terbangun. Ah, Aya kadang tega membuat bola mata itu merendup karena ucapannya. “Engghh...” Aya langsung mengalihkan pandangannya ke sekitar cafe ketika Abel tiba-tiba terbangun. Bocah itu mengedip-ngedipkan matanya, barulah lima menit mengumpulkan nyawa. Dirinya sadar bahwa kini berada dipelukan Aya. “Cepat bangun.” Ah, Aya menyesali perkataanya barusan, ia harusnya mengatakan “apakah tidurnya nyenyak?” Daripada mengatakan hal barusan. Bukannya segera bangkit, bocah itu malah tersenyum, menampakan gigi-giginya yang rapi. Jika dalam tidurnya tadi ia tahu bahwa kini ia berada dipelukan Aya, Abel memilih untuk tidur selamanya. Ia merasa sangat nyaman berada didekapan ibunya itu. “Sebentar lagi, Bu..” kata Abel berasalan ingin lebih lama. “Hemm.” “Oeh?” Abel mengerukan dahinya saat Aya hanya menjawab dengan deheman, ia sudah siap-siap jika Ibunya itu ingin mendorongnya tapi sekitar dua menit menunggu wanita itu tak melakukan apapun. Bocah sembilan tahun itu menatap wajah Aya, ibunya itu benar-benar cantik. Apalagi jika tersenyum, uh, Abel kadang sedikit takut jika mata itu menatapnya tajam. Intinya Aya itu cantik. Sangat cocok dengan Arga yang memiliki wajah tampan.  Arga kembali dari toilet bertepatan dengan pesanan mereka sampai. Lelaki itu meminta Abel agar segera memakan makanannya. Bocah itu bangun sambil menguap, tubuhnya benar-benar terasa lelah. “Ayo dimakan,” kata Aya ketika Abel hanya menatap makanannya.  “Sabar, Bu...” katanya mulai mengambil sendok. Aya tiba-tiba menyodorkan piring berisi kentang goreng membuat Abel tersenyum lebar, wanita itu tahu bahwa sedari tadi bocah itu terus piring berisi kentang yang berada didekatnya. Namun teralalu takut untuk meminta. Mereka makan dengan diam, Abel berusaha untuk tidak mengeluarkan bunyi ketika makan. Akan tetapi ketika Aya memintanya makan dengan bebas, bocah itu tak menunggu lama untuk menghabiskan makannya dengan lahap. Aya dan Arga bahkan saling pandang, kemudian terkekeh. “Kita mau ke taman hiburan dimana, Mas?” tanya Aya ketika piringnya telah kosong. “Eh? Ibu mau ikut?” tanya Abel cepat. “Iya,” kata Aya membuat Abel menatapnya berbinar. “Yeee! Ibu ikutt,” serunya sambil tersenyum lebar. Ketiganya kemudian menyelesaikan makan dengan cepat, Arga meminta anak dan isterinya menunggu sebentar sebelum mereka pergi. Saat berjalan menuju parkiran, Abel tiba-tiba menggengam tangan Aya dan Arga dengan erat. Bocah itu tersenyum lebar menatap kedua orang tua sambil memamerkan giginya. Aya hanya sekilas menatapnya, kemudian segera memalingkan pandangannya kemana saja. Dirinya tak tega telah mengadopsi bocah itu dengan alasan yang hanya menguntungkannya. Arga membawa anak dan isterinya ke salah satu taman hiburan yang menawarkan permainan air. Namun karena belum ada persiapan sama sekali, hanya Abel dan Arga saja yang bermain. Aya hanya memperhatikan kedua laki-laki berbeda usia itu bermain. Aya membayangkan jika ada Arya disini, pasti anaknya itu amat sangatlah senang karena memiliki teman bermain. Selama mereka di luar negeri, Arga dan Aya memang memiliki waktu yang cukup bersama Arya. Namun di waktu-waktu tertentu mereka tak bisa menemani anaknya itu. Wanita itu teringat tentang ucapan Arya yang meminta seorang adik saat mereka ingin kembali ke Indonesia. Apakah anak laki-lakinya itu akan senang saat mengetahui adik yang ia ingin sudah berada disini? “Ibuuu ayoo main kesini!” Abel yang seluruh tubuhnya sudah basah melambai-lambaikan tangannya ke arah Aya. Senyuman bocah itu sungguh lebar, wajahnya cerah, membuat wanita itu tanpa sadar terkekeh. “Ibu enggak bawa baju, Bel,” kata Arga yang mendampingi Abel. Pria itu sedikit menarik anaknya karena mereka berada cukup dekat dengan saluran akhir perosotan, lelaki itu takut jika nanti ada yang keluar dari sana dan menabrak mereka. “Kan disana ada jualan baju, yah.” Abel menujuk stand yang menujukan baju-baju. “Coba bujuk Ibunya,” kata Arga sambil terkekeh. Ia tersenyum geli ke arah Abel yang ingin sekali bermain air dengan Ibunya.  Bocah itu pun mengangguk semangat, ia kemudian berjalan ke arah Aya. “Ibu, ayo main air,” katanya berada didepan Aya sambil menggigil. “Ibu enggak bawa baju,” jawab Aya, ia juga sebenarnya ingin sekali bermain air. Namun, ia juga tidak mungkin memakai baju basah hingga kembali ke rumah. “Disanakan ada jualan baju,” tunjuk Abel sambil memeluk tubuhnya yang terasa dingin. Tunggu—tunggu, bocah itu baru menyadari Aya tidak lagi memakai “saya” untuk menujukan dirinya. Aya mengikuti arah telunjuk Abel, ia melihat ada stand yang menjual baju-baju dan wanita itu yakin apakah baju itu layak dipakai. Jangan lupakan standart tinggi dari seorang Aya. “Ibu enggak yakin,” kata wanita itu ragu. Abel mengerucutkan bibirnya, kemudian mengangguk paham. Ia kemudian duduk disamping kursi Aya. “Kok enggak main lagi?” tanya Aya melihat bocah itu duduk di kursi disampingnya. Bukannya segera bermain air bersama Arga yang nampak menunggu. Abel menggeleng. “Mau nemenin Ibu aja.” Arga yang melihat Abel tak kembali ke dalam kolam ikut keluar, pria itu memang tidak masalah mengenakan pakaian yang dijual di stand itu. “Udahan mainnya, Bel?” tanya Arga mengambil tempat disamping isterinya. “Mass.. basah,” rengek Aya ketika Arga dengan sengaja memeluk isterinya dengan tubuh atas yang tak mengenakan apapun.  Abel tergelak ketika Aya merenggut melihat ke arah suaminya. Arga malah menampakan wajah yang tak bersalah.  Bocah lelaki itu terdiam memandang kedua orang tua angkatnya, jadi seperti ini rasanya memiliki kedua orang tua. ———- Seorang bocah laki-laki mengerutkan keningnya saat melihat sang Kakak nampak sangat sibuk membersihkan kamar meraka yang nampak seperti kapal pecah sekarang. Tumben sekali si Sulung, Dariel, ingin membersihkan kamar mereka. "Babang bantu dong." Dariel yang melihat Razkana masuk ke dalam kamar meminta bantuan adiknya itu. Razka menggelengkan kepalanya. "Gak ah. Capek." Anak itu malah menidurkan tubuhnya diatas karpet kamar dengan posisi terlentang. Menggesek-gesekan tubuhnya ke karpet seperti merasakan di atas salju. "Lagi pula tumben banget Kak Iyel mau beresin kamar. Biasanya 'kan tunggu Bunda teriak-teriak dulu baru kita bersihin kamar." Razkana terdiam sebentar. "Eh, sama diancam gak boleh jajan ciki juga," lanjutnya membuat Dariel mendengus. "Emang Kak Iyel mau ngapain, sih?" tanyanya Razka melihat kakaknya yang sibuk sendiri itu. "Mau main game!” Ia harus membereskan kamar lebih awal agar Kinara tak memerahinya saat bermain game. Razkana bangkit dari tidurnya sambil menggaruk kepala. Apa tadi Dariel bilang main game? Bukannya Kakaknya itu setiap malam juga sudah bermain game? Malah sekarang di pagi hari liburnya ingin bermain game juga? "Main game terus, sih, Kak! Main sama Babang kapan?” tanya anak delapan tahun itu kesal. Bahkan hingga bangkit dari posisi rebahannya. “Babang kan juga pengen diperhatiin sama Kak Iyel. Emang sekarang adeknya Kak Iyel itu ponsel ya?” tanya anak itu dengan ekspresi sedih. “Eh. Enggak gitu.” Dariel jadi panik saat melihat wajah Razkana memerah. Adiknya sedikit berubah sensitif semenjak kehadiran Raziel. Dariel tidak tahu, apakah Razakana merasa cemburu kepada adik kecilnya itu atau tidak? Namun, Dariel merasakan bahwa adiknya itu sekarang lebih manja padanya. “Kak Iyel, mau main kok sama Babang. Main game barengan, yuk?” Razkana menggelengkan kepalanya menolak usul sang kakak membuat Dariel menghela nafas pasrah. Ia harus menahan untuk bermain game, padahal sedikit lagi sudah mendapatkan item yang sangat ia inginkan. Namun, item atau game bahkan ponselnya tidak ada berarti sama sekali dibandingkan dengan Razkana. Adiknya. “Kakak bobok sini.” Razkana menepuk-nepuk guling kuning disampingnya dan Dariel pun menurutinya. “Kak Iyel cerita dong!” “Cerita apa? Dongeng?” “Bukan,” rengek Razkana. “Cerita yang kayak Kak Iyel sering ceritaiin dulu.” “Ooo..” Dariel membulatkan bibirnya paham. Ia mengerti maksud Razakana. Adiknya itu memintanya untuk menceritakan pengalamannya di kelas terakhir bangku sekolah dasar. Dan, Razkana entah mengapa sangat senang mendengarkannya. Menurutnya, saat Kakaknya itu menceritakan pengalamannya di sekolah tidak pernah membosankan, karena Kakaknya itu selalu menggunakan bahasa yang Ia pahami dan juga menambahkan hal dan lelucon sehingga sangat asyik untuk didengarkan. Mereka berdua tertawa saat Dariel bercerita tentang temannya yang selalu membawa nasi padang sebagai bekal, membuat kakak lelaki Razkana itu tergoda untuk mencicipinya. Tiba-tiba, ingatannya kembali ke beberapa hari yang lalu. Saat tetangga mereka asli Padang itu mengatakan bahwa ia tidak mirip dengan Nara ataupun Adrian. Kata mereka, wajah Razkana sama sekali tidak ada kemiripan dengan wajah orang-orang yang tinggal bersama padanya. Razka hendak bertanya pada Dariel. Bertepatan saat terdengar notif pesan masuk di ponsel Dariel. "Kak, kata Uni sebelah. Dia bilang kalo Babang enggak mirip siapa-siapa. Kalo enggak mirip sama Ayah, sih, emang, tapi emang Babang enggak mirip sama Bunda?” 08127974xxxxx Dariel, mommy kangen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD