5

1645 Words
“Abel kenapa harus diperiksa sih, Bu, Yah?” tanya anak laki-laki itu ketika mereka sudah berada di tengah perjalanan yang cukup jauh. Aya dan Arga sengaja untuk memilih Rumah Sakit yang jauh dari daerah mereka tinggal. Takut jika keluarga besar atau kenalan mereka melihat. “Ayah sama Ibu pengen tahu apakah Abel baik-baik saja atau tidak,” kata Arga ketika melirik isterinya yang nampak tak ingin menjawab. Wanita itu menatap jalan dengan pandangan melamun. “Abel baik-baik aja kok,” katanya. Anak laki-laki itu merasakan tubuhnya baik-baik saja, ia bisa berlari sesuka hatinya dan tidak ada yang sakit. “Tidak semua rasa sakit itu bisa dirasakan,” celetuk Aya yang membuat keningnya Abel berkerut. Anak laki-laki itu menghendikan bahunya, tidak tahu. Ia bingung dengan perkataan Aya yang harus ditelaah dulu baru dapat dimengerti. Apalagi saat ini Abel tak ingin berpikir sekarang. “Setelah dari Rumah sakit bagaimana kita  ke taman hiburan?” tanya Arga. Ia masih memeliki waktu senggang sabelum benar-benar menjadi pemimpin di perusahaannya. “Mauuu!” “Tidak!” “Eumm, bukanya kamu senggang sayang?” tanya Arga. Isterinya juga belum sepenuhnya bertugas dan pekerjaannya di kantornya pun libur. “Aku sedang tidak ingin,” kata Aya tak mempedulikan ada sosok yang bola matanya meredup saat mendengar alasan Aya. Arga menghela nafasnya, perlahan ia menggerakan bola matanya melihat ke arah Abel di belakang. “Abel...” “Abel enggak papa kok, yah.” “Kalo kita berdua aja gimana?” tanya Arga tiba-tiba membuat Aya menolehkan pandangannya ke arah sang suami. “Kalo kita pergi ke taman hiburannya cuman sama Ayah dan Abel saja tidak apa-apa?” Perjelasan pria dewasa yang berada di dalam mobil itu.  “Wahhh mau, yah! Mauu!” Abel berseru senang, bola matanya kembali bersinar. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang lebar. Dan, Arga tak akan mungkin tega untuk menghilangkan cahaya itu di mata anaknya. Aya ingin menyela namun kembali ia urungkan. Ia kira Arga akan membatalkan acara jalan-jalan itu jika dirinya tak ingin ikut. Apa ia akan ditinggalkan nanti? Mobil yang dikendarai keluarga itu akan akhirnya sampai di salah satu Rumah sakit swasta yang ada di kota mereka. Ketiganya keluar dari mobil, Aya sudah mendaftar secara online jadi ia hanya tinggal menunggu giliran mereka. Ketika tiba giliran mereka, Arga mengajak isteri dan anaknya menemui dokter spesialis anak yang akan membantu mereka untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada Abel. Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu merasa detak jantungnya berdetak lebih cepat kala sudah memasuki ruang dokter anak itu. Tidak ada dinding putih, malah dindingnya diberi wallpaper dengan tema kartun hewan-hewan yang ada di gurun. “Apa Abel siap?” tanya dokter itu sambil tersenyum lembut ke arahnya.  Abel menganggukan kepalanya, toh ini juga demi kesehatannya. “Sebelum kita melalukan pemeriksaan kesehatannya, saya menjelaskan sedikit apa saja yang nanti akan dijalani Abel.” “Pertama pemeriksaan fisik,  seperti tumbuh kembang Abel, saya yang akan memeriksanya. Kemudian dilanjukan dengan dokter spesialis mata untuk memeriksa kelainan mata dan skrining penyakit mata, lalu nanti dilanjutkan ke dokter gigi untuk pemeriksaan gigi.” “Lalu pemeriksaan khusus, seperti tes mantoux untuk mendeteksi penyakit tuberkolis atau tes lainnya, apa Abel punya riwayat penyakit?” tanya dokter itu pada Arga dan Aya yang terdiam lalu saling pandang. “Oke, nanti saya tanyakan lagi. Ketiga pemeriksaan laboratorium, mencakup pemeriksaan hematologi, fungsi hati, fungsi ginjal, panel diabetes, profil lemak, serta urine dan feses lengkap.” Abel tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika Arga mengajaknya untuk mengganti pakaiannya dengan pakain rumah sakit, ia benar-benar tidak mengerti dengan perkataan dokter itu namun rasanya ia akan melakukan hal yang melelahkan. Ditatapnya Aya yang sedang berbicara berdua saja dengan dokter itu, pasti mereka membicarakan tentang luka yang ada punggungnya. “Bel, Abel,” panggil Arga. “Oh, iya, yah?” Abel tersentak. “Abel baik-baik aja? Mau dibatalkan saja tesnya?” tanya Arga melihat raut wajah pucat anaknya. Abel menggeleng. Ia kemudian sedikit tersenyum agar tidak membuat Arga panik. “Abel baik-baik aja, cuman... cuman tesnya banyak sekali,” keluhnya mengecurutkan bibir.  Arga terkekeh, ia menggusak rambut tebal anak itu. Ia tahu bahwa bocah itu takut namun sengaja menutupinya. “Abel pasti kuat oke?”  “Okee!” Abel kemudian menjalankan tes kesehatannya yang tidak bisa membuat Aya dan Arga ikut. Keduanya kemudian hanya duduk di kursi panjang yang ada di Rumah Sakit itu. Arga menarik isterinya agar lebih dekar ke arahnya. “Mas jadi ingat kita selalu membawa Arya untuk medial check-up tiap enam bulan sekali.” Aya terdiam, ia juga merasakan hal yang tentang anak kandungnya. Namun, tidak ada yang biasa mereka lakukan untuk hal itu. “Maaf Mas masih belum bisa menemukannya,” ujar Arga dengan menyesal. Ternyata kekuasaan dan uang yang ia punya tidak bisa untuk membuat pencarian anaknya yang hilang cepat ditemukan. “Apa boleh aku berharap Arya masih bernafas disana, Mas?” tanya sang isteri membuat degub jantung Arga berdetak lebih kuat. Ketakukan itu memang selalu menghantui mereka. Ketakutan jika gambar-gambar yang mereka lihat dari kiriman amplop berisi foto itu benar-benar terjadi.  “Arya masih hidup sayang, Mas janji itu.” Arga meyakinkan isterinya. “Kita akan melihat Arya bermain bersama Abel, Mas akan pastikan itu.” Butuh beberapa jam untuk menunggu Abel selesai melakukan pemeriksaan. Bocah itu keluar dengan tubuh yang nampak lemas, nampaknya begitu kelelahan dengan apa saja yang baru ia kerjakan. Arga yang melihat anaknya nampak lemas, segera menggedong bocah itu. Abel langsung meletakan kepalanya menyandar di bahu sang Ayah. Aya yang melihatnya ikut kasihan. Saat mereka ingin keluar dari Rumah Sakit, tiba-tiba saja panggilan dari seseorang yang amat Aya kenal menghentikan langkahnya. “Kak Aya!” “Anna?” Aya terkejut ketika melihat adik bungsunya berada disini, mengenakan jas putih. Ia tahu, Anna sering bercerita tentang kehidupannya, termasuk kini ia sedang melakukan koas, namun Aya tak menyangka adiknya itu menjalakan koasnya disini. “Kak Aya sama Kak Arga udah balik?” tanya Anna sambil melihat kakak dan kakak iparnya yang nampak terkejut. Perhatian gadis itu teralih ke arah sosok bocah yang berada dipelukan sang kakak ipar.  Matanya nampak menyipit, berusaha mengenali bocah yang tengah terlelap dalam pelukan Arga. “Aku tahu anak ini bukan Arya, Kak,” kata Anna membuat kedua orang itu terdiam. Tidak seperti kedua orang tuanya dan kedua orang tua kakak iparnya, Anna cukup sering mengunjunggi kakaknya di luar negeri sehingga ia tahu dan kenal dengan keponakannya. “Aku juga tahu sekarang Arya hilang.” “Anna, kakak sedang ada urusa—“ “Jelaskan sama aku—Atau Papa dan Mama tahu, Kak.” ———- “Kakak akan memecat Rey sekarang juga,” putus Aya membuat Anna kelabakan. “Ish. Kakak kan sudah berjanji untuk tidak melakukan apapun, lagi pula untung Rey memberi tahuku. Apa Kakak benar-benar ingin menyembunyikan hal ini? Selamanya?” tanya Anna menatap Aya yang menghela nafasnya. Arga yang berada disamping Aya hanya diam, ia mengelus kepala Abel yang tertidur didalam pelukannya. “Kamu ada hubungan apa sama Rey?” selidik Aya pada adiknya itu, ia tidak mengira orang kepercayaan itu memiliki hubungan pada adiknya. “Cuman temen kok,” kata Anna jujur. “Jangan alihin pembicaraan deh, sekarang aku mau tanya sama Kakak. Ceritain semuanya sama aku sekarang, semuanya,” tuntut Anna sedikit mengeraskan suaranya. “Ssstt...” Arga meminta adik iparnya itu sedikit mengecilkan suaranya, Anna yang baru teringat tentang bocah yang tertidur digendongan Kakaknya itu cengengesan dan meminta maaf. Hati wanita itu berkecamuk saat mengetahui bahwa adiknya tahu mengenai hal ini. Jika sekarang adiknya, apa nanti semua keluarga akan tahu? Aya memperhatikan wajah tenang Abel yang entah mengapa membuatnya merasa tenang, bocah itu seperti punya kekuatan untuk menghisap kegelisahan yang Aya alami sekarang.  “Arya hilang saat di bandara.” Baru memulai saja, Aya sudah merasakan dadanya sesak. Bagaimana ia tidak sakit, jika anak yang dikandungnya selama sembilan bulan dan ia rawat selama sepuluh tahun menghilang dari dekapannya. “Kakak dan Kak Arga saat itu tengah menunggu koper dan Arya meminta lebih dulu ke mobil yang menjemput kami, namun....” Anna langsung mengelus tangan kakaknya yang berada diatas meja.  Ia sebenarnya sudah tahu ini semua dari Rey, orang kepercayaan Aya. Seharusnya ia tak meminta Kakaknya bercerita karena pasti akan ada air mata yang membasahi pipi kakaknya itu. “Enggak usah dilanjutin Kak, aku udah tahu kok semuanya dari Rey.” “Lalu kenapa kamu meminta kakak bercerita lagi, Anna?” tanya Aya kesal. Karena ia tidak yakin untuk bisa menahan tangisnya ketika menceritakan Arya. Anna meringis, kemudian tatapannya beralih ke arah bocah yang berada digendongan Arga. “Anak siapa itu, Kak?” “Kakak dan Kak Arga mengadopsinya di Panti Asuhan.” “Tungu, tunggu. Aku paham jalan ceritanya, jangan bilang karena anak laki-laki ini memiliki wajah yang mirip dengan Arya, kalian menggunakannya sebagai pengganti Arya?!” “Kak, lo gila sumpah!” Anna menggelengkan kepalanya saat melihat Aya yang terdiam. “Terus kenapa Kak Arga enggak cegah Kak Aya?”  tanya Anna menatap kakak iparnya. “Kakak ikut setuju dengan rencana ini,” kata Arga membuat Anna memelotokan matanya. “Fiks. Kalian berdua gila!” Seterah Anna dicap tidak sopan. Namun ia ingin mengomeli kedua kakaknya ini sekarnag. “Kalian berdua enggak mikiri perasaan bocah itu, Kak? Gimana kalo dia tahu Ayah dan Ibu yang dia sayangi ternyata mengadopsinya hanya untuk menjadi pengganti?” “Lalu kalo Arya kembali apa kalian akan mengambalikannya?” tanyanya lagi. “Kalian tahukan bocah ini pernah mengalami k*******n sebelumnya?” Anna terus mencerca kedua kakaknya berharap satu saja perkataannya yang masuk ke dalam otak dua orang jenius yang ia kenal namun untuk kali ini Anna mengakui kedua kakaknya itu menjadi orang bodoh sekarang. “Awalnya Anna, awalnya Kakak setuju dengan Kak Aya seperti itu. Tapi, setelah beberapa hari—tidak, saat Kakak pertama kali bertemu dengan Abel, kakak sudah menyayanginya.” Arga menatap adik iparnya itu dengan pandangan yang berusaha untuk meyakinkan.  “Abel tidak akan kemana-mana, dia akan tetap menjadi keponakan kamu.” “Kalo Kak Arga aku yakin, tapi gimana sama Kak Aya yang punya hati macam batu?” sindir Anna tentang sikap Aya yang memang tidak mudah dekat dengan orang asing. “Terus masalah Mama sama Papa gimana? Orang tua Kak Arga juga pengen banget ketemu sama Arya kan?” Arya, bisa dibilang cucu yang paling disayangi oleh orang tua keduanya dan kedua orang tua kakak iparnya itu, sebab Aya dan Arga memiliki banyak andil dalam perusahaan keluarga. “Abel akan menjadi Arya untuk sementara, selama pencarian belum membuahkan hasil.” “Aishhh, Kak Aya benar-benar gila.” Anna menggepalkan tangannya, saking geramnya ia tak tahan memukul kepala kakaknya pelan. “Anna!” kesal Aya sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja menerima pukulan pelan dari adiknya.  “Biar otaknya benar lagi,” alibinya. Gadis yang sudah melepas snelinya itu menghela nafas, ia kemudian menatap bocah yang tertidur tenang di gendongan Arga. “Bentar lagi jam istirahat aku habis,” kata Anna sambil melirik jamnya. “Yasudah pulang sana,” kata Aya enteng. “Aku cuman mau bilang sama Kak Aya, seterah Kak Aya anggap aku sok tahu atau apapun itu.” Anna menjeda ucapannya, menatap Aya yang membalas tatapnnya. Anna sebenarnya sedikit gentar saat melihat tatapan Kakaknya itu, namun harus ada yang memberi tahu ini sebelum Aya kehilangannya. “Jangan pernah sakiti atau meninggalkannya, Kak. Karena kakak udah tahu kan sakitnya ditinggalkan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD