15

1457 Words
Abel tahu, ada yang berbeda semenjak malam ketika mereka tidur bersama saat itu. Tepatnya ketika Aya dan Arga menceritakan bahwa putra kandung mereka hilang saat di Bandara. Dan hingga saat ini belum ada informasi mengenai hal itu. Aya dan Arga memang tetap seperti biasanya, namun anak laki-laki sembilan tahun itu dapat merasakan bahwa kedua orang tua angkatnya nampak sedih. Entah karena kembali mengingat hal menyakitkan itu atau karena belum ada informasi lebih lanjut mengenai Arya. “Abel mau pergi ke sekolah siapa?” tanya Arga sambil membawa piring-piring bekas sarapan mereka. Aya harus kembali ke kamar untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. “Sama Ibu aja, yah,” ujar Abel sambil menarik s**u coklatnya. Pergi ke sekolah bersama Arga bukanlah hal yang baik di lakukan di senin pagi, sebab kantor pria itu berbeda arah dengan sekolahnya. Ditambah macetnya akan menghabiskan waktu. Arga mengangguk. “Nanti Ayah yang jemput, oke?”  “Okee!” Angguk Abel. Hati bocah itu tiba-tiba menghangat, ia tahu pria itu sedang bersedih namun tetap melakukan semuanya seperti biasa. Ah, seorang Ayah memang paling pandai menyembunyikan suasana hatinya. Aya kembali dari lantai atas, wanita itu  ternyata mengambil tasnya yang tertinggal di kamar. “Kenapa, Bel?” tanya wanita itu saat melihat anaknya terus menatapnya. “Eh?” Abel kikuk karena tertangkap basah memperhatikan Aya. “Ibu cantik,” katanya membuat Aya tergelak. Arga yang baru keluar dari dapur ikut terkekeh. “Wah, Ayah sekarang ada saingannya.” “Ya udah, ayo kita berangkat nanti telat!” Ajak Aya pada kedua anak dan suaminya. Saat Aya hendak membuka pintu mobilnya, suara ponsel dari dalam tasnya membuat wanita itu membatalkan niatnya. Keningnya berkerut saat melihat id caller yang tertera di panggilan itu. “Mas Mama kamu nelpon!” pekik Aya sedikit panik sebab kedua orang tua mereka belum ada yang tahu bahwa mereka sudah kembali. Apa jangan-jangan adiknya yang memberi tahu?! Arga ikut menelan ludahnya susah payah. “Angkat aja, yang.” “Halo, Ma?” Abel yang berada diantara keduanya ikut mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Aya dan Mama dari Arga. “Mama minta kamu dan Arga ke rumah ya, jangan lupa ajak Arya. Mama udah kangen banget sama cucu Mama satu itu!” Abel bisa melihat wajah kedua orang tua angkatnya yang nampak memucat, ia tahu ini akan menjadi bom yang tinggal menunggu waktu untuk Aya dan Arga, pasalnya mereka sama sekali tak memberi tahu tentang kehilangan Arya. “Mas gimana?” Untuk pertama kalinya, Abel mendengar nada putus asa dari Aya yang biasanya selalu berapi-api. “Biar nanti Mas yang jelasin,” ujar Arga sambil menatap isterinya tenang. “Enggak, Mas!” Aya menolak. “Kamu bakal dicerca habis-habisan sama kedua orang tua kita kalo mereka tahu. Aku juga bakal jelasin ke mereka!” “Ibuu Ayah,” panggil Abel pada keduanya.  Aya dan Arga sontak menampakan wajah bersalah mereka karena sedikit berdebat didepan Abel. “Abel mau kok jadi pengganti Arya untuk sementara.” Deg! “M-maksud Abel?” tanya Aya gelagapan. “Abel tahu alasan sebenarnya Ayah dan Ibu ngadopsi Abel,” ujar anak itu dengan tersenyum kecil. “Dan, Abel mau ngelakuin itu untuk membantu kalian.” ———- "Bu, takut!" Abel menahan tangannya pada sabuk pengaman mobil Arga. Kepalanya menggeleng beberapa kali sambil terus berguman seperti itu. Anak itu tidak menyangka akan segugup dan sepanik itu ketika mobil Arga sudah berhenti di parkiran rumah. Bukan, bukan, itu sudah seperti istana bagi Abel. "Ibu udah bilangkan kalo Abel enggak mau, kita enggak perlu melakukan ini,” ujar Aya. Dari awalnya sebenarnya hal ini yang dinginkan Aya, mengadopsi Abel sebagai ganti Arya untuk semantara waktu. Namun, lambat laun perasaan sayang pada bocah yang ia adopsi itu tubuh membuatnya tak akan setega itu. Tapi, Abel sendiri yang memaksa. Bocah itu juga mengatakan sesuatu yang membuat hatinya sungguh tersentuh. “Ibu sama Ayah harus mau! Kan cuman sebentar, Abel yakin Arya pasti bakal balik lagi kok soalnya kentang goreng buatan ibu enak!” Abel menggigit bibirnya, kebiasaan ketika ia gugup. Tapi sama sekali tak membantunya. Namun, keteguhan hatinya sudah membuat ia yakin dengan keputusannya. Arga dan Arya sudah begitu baik untuk tidak menggusur Panti, bahkan mereka memberikan tanah itu untuk Panti Asuhan. Dan, Abel ingin membalasnya. “Mas kami bantuin juga!” Pria itu beberapa kali berdehem untuk menetralkan suaranya yang serak akibat terlalu banyak tertawa karena melihat Abel yang nampak ketakutan terlihat begitu lucu. Tatapanya beralih ke arah Abel yang masih memegang erat sabuk pengaman dan menggigit bibirnya. "Bel, jangan gigit bibir terus. Nanti kayak kemaren, berdarah." Arga memperingati anak itu ketika bocah itu pernah menggigit bibirnya tanpa sadar hingga berdarah. "Abel jangan seperti kaum sengsara dong, Ayah kasih makan terus 'kan?" tanya Arga sambil berdecak beberapa kali. "Ganti gigit Ayah?" tanya Abel tanpa bersalah. Arga hampir saja kembali tergelak jika tidak melihat tatapan tajam isterinya. Arga akhirnya membuka pintu mobil penumpang, melepaskan sabuk pengaman Abel dan merubah posisi anak itu supaya menghadapnya yang tengah berjongkok. "Abel kenapa?" tanya Arga akhirnya. "Abel takut," cicit anak itu. Arga mengerutkan keningnya. "Takut kenapa? Opa sama Oma baik, gak akan gigit kok. Ayah tadi cuman bercanda." Pria itu menggengam tangan mungil Abel, memberi kayakinan bahwa anak itu akan baik-baik saja atau malah akan diterima sangat baik oleh orang tua dan keluarganya. "Abel tenang aja, ada Ayah sama Ibu didalam. Jangan takut, oke?" Arga menatap Abel dengan senyum lebarnya membuat sebelas sisi hati Abel yang tadi merasa ketakutan kini lenyap tak tersisa. "Lagi pula nanti Abel 'kan jadi Arya." Deg Abel menghentikan langkahnya yang hendak turun dari mobil. Tubuhnya tiba-tiba membeku seperti es. Sedangkan Arga sudah berbalik badan tak menyadari perubahan ekspresi wajah Abel yang meredup. Jadi arya, jadi arya, jadi arya. Kata-kata itu terus berputar di kepala Abel. Seolah kata itu tengah menaiki komedi putar. Abel menggigit bibir bawahnya, ia tidak tahu menjadi pengganti ini bisa semenyakitkan ini. Ayolah, umurnya baru sepuluh walau sudah duduk diakhir masa putih merah. Namun, Abel merasa dirinya kini berubah menjadi anak TK yang cengeng. Air mata sudah mengenang di pelupuk matanya. Jika menjadi pengganti semenyakitkan kan ini? Abel memilih berteriak lantang untuk menolak. Tapi, sekarang Abel tak bisa berbuat apa-apa lagi. Abel menutup matanya, menyebut sebuah mantra yang selalu menjadi pengguatnya. Ini untuk Panti Abel, untuk Ibu Panti, untuk teman-temanmu, untuk Kinta. "Bel?" "Hm." Abel sengaja berdehem, tak mau suara seraknya terdengar dan membuat Arga curiga. "Ayo kita masuk yah!" seru Abel dengan senyuman lebar lalu langsung berbalik badan. Dan, berlari memasuki rumah atau istana itu---atau hanya untuk menyembunyikan air matanyanya yang tiba-tiba jatuh. Abel mengusap air matanya ketika menaiki tangga untuk sampai ke depan pintu. Langkahnya tiba-tiba tehenti saat melihat seorang wanita paruh baya yang tengah mendekap mulutnya sambil menatap Abel. Semakin cepat, wanita itu mendekatinya. Dan, tanpa persiapan apapun Abel merasa dirinya dipeluk sangat erat. "Ya allah! Cucuku sudah besar sekali!" seru wanita itu dengan suara bergetar, tangannya terulur mengusap rambut Abel dengan lembut. Ditariknya tubuh Abel hingga berada berhadapan dengannya. "Mirip sekali dengan Arga kecil," sendu wanita itu yang sudah basah dengan air mata. "Oma." "Oma pengen peluk Arya lagi." *** Abel menghela nafasnya sambil mengelus perutnya yang membuncit. Ia merasa dirinya mirip sekali dengan anak yang kekurangan gizi, tubuh kurus namun perut nampak buncit. Jangan salahkan Abel, salahkan saja semua makanan yang tersaji di meja itu. "Kenyang." Abel menyenderkan kepalanya dan merasakan seseorang tengah mengusap rambutnya. Abel mendongak, seorang pria paruh baya yang masih nampak tampan walau sudah ada keriput disana-sini menatapnya hangat. "Ngantuk Opa."  "Eh, jangan bobo dulu. Kita belum makan malam lho." Oma Sarah dengan cepat berujar membuat Abel yang sudah ingin menutup matanya terbuka lagi. Makan malam? Mau diletakan dimana lagi itu. Abel saja rasanya sudah susah ingin berjalan. Lalu tatapannya menjelajahi ruang keluarga yang mewah itu. Sudah ramai dengan keluarga dari Ayahnya itu. Walau baru beberapa menit disini, Abel sudah hapal nama-nama orang tersebut. Ada Tante Shilla--- kakak Arga--- dan suaminya berserta tiga orang anaknya. Si kembar Al dan El yang seumuran dengannya. Lalu si kecil Alai yang berumur 4 tahun. Lalu ada Om Bara yang tak lain dan tak bukan adalah sepupu Arga. Datang berserta isterinya dan Katya. Anak perempuan yang pernah membantunya saat di sekolah. "Arya kita main, yuk?" Tiba-tiba El datang menghampiri, Abel yang masih harus mencerna panggilan El pun mengerutkan keningnya. "Kita main diatas. Ada banyak mainan lho." "Arya main dulu sama yang lain. Nanti Ayah panggil kalo makan malamnya udah siap." Abel mengangguk tanpa menoleh ke arah Arga, hatinya masih sakit. Dan, reaksi itu ternyata diperhatikan oleh Aya dan Arga yang kini saling memandang bingung. "Ga, bagaimana dengan perusahaan?" Abel melangkahkan kakinya susah payah, tidak peduli dengan ucapan orang dewasa yang tengah sibuk menbahas pekerjaan. Lalu saat hendak mengejar Al, El dan Katya yang sudah berjalan lebih dulu menuju ruangan tamu--bersebelahan dengan ruangan keluarga, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariik Abel dan hampir saja membuatnya menjerit takut. "Ini Om Bara." Abel lega, ia kira itu penjahat yang merampok rumah Oma dan Opanya. Namun, ia sedikit bingung dengan tingkah Bara saat ini. Tak ingin berbasa-basi, Abel hanya tersenyum sebagai jawaban. Lalu ia meminta izin untuk menyusul yang lain. Bara mengangguk dengan senyun tipisnya yang tampak aneh, menurut Abel. Dengan cepat kaki mungil Abel menaiki tangga yang dinaiki Al, El dan Katya tadi. Pikirannya masih membingungkan tingkah aneh Bara. Hingga Abel tak sadar saat dipertengahan anak tangga, kakinya tergelincir menyebabkan tubuhnya menjadi tak seimbang. Dan hal itu membuat Abel harus bergelinding di anak tangga hingga akhirnya hilang kesadaran saat sudah tergelatak diatas lantai dengan darah yang membasahi kepalanya. "ABELLLL!!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD