“Kakak sayang Bunda!”
Kinara merasakan hatinya menghangat saat mendengar ucapan Dariel. Sederhana namun menurutnya sangat romantis. Walau bocah ini tidak memiliki darah yang sama dengannya, tak pernah ia kandung selama sembilan bulan. Namun, rasa sayangnya begitu besar dan tak mendasar.
Wanita itu kembali menarik Dariel ke pelukannya, lebih dalam dari sebelumnya. “Bunda juga sayang Kakak,” ujarnya tulus sambil menciumi puncak kepala bocah itu.
“Oh, iya, Bun.” Dariel menarik pelukan Bundanya, ia menatap Kinara agak serius sekarang. Bibirnya mencebik, masih kesal jika mengingat kejadian tadi.
“Tadi rumah kita kemasukan orang asing yang mencurigakan!” adunya menceritakan kejadian tadi, tentang sseorang laki-laki asing masuk tanpa izin dan menemui Razkana di taman Bunga tadi. Walau sebenarnya Dariel tak merasakan ada hawa jahat dari pria asing tapi tetap saja, prasangkanya itu bisa salah.
Malah menurutnya lebih mengerikan orang-orang yang bisa menyembunyikan hawa jahatnya, seperti di film. Batin Dariel.
“Orang mencurigakan?” tanya Kinara dengan dahi mengerut. Wajahnya berubah cemas, tidak ada yang lebih mengkhawatirkan dan merashkan hatinya, jika hal itu berhubungan dengan keselamatan anak-anaknya.
Dariel mengangguk semangat. “Jadi tadi itu Babang pergi ke taman sendirian—-“
“Kakak kemana?” tanya Kinara.
Bocah dua belas tahun itu menyengir. “Kakak di kamar, kan ceritanya lagi musuhan. Gimana, sih, Bunda ini,” kata Dariel menggeleng-gelengkan kepalannya. “Tapi, udah baikan kok sekarang!”
Kinara menghela nafasnya, ia mengacak sayang rambut coklat Dariel. Sudah ia tebak bahwa keduanya tak bisa bermusuhan lebih lama. Namun, perasan takut masih menyelimuti wanita ibu dari tiga anak itu. “Terus orang mencurigakannya kemana, Bang?”
“Kakak usir tapi dia ngasih coklat untuk Babang sama Kakak.”
“Mana coklatnya?”
Dariel kembali menyengit lalu menujuk perutnya. “Habis,” ujarnya polos.
“Soalnya enak, Bun,” katanya cepat-cepat saat melihat Kinara melototkan matanya.
“Astaga, Kak! Gimana kalo coklatnya dimasukin apa-apa? Perutnya ada yang sakit enggak? Mual? Terus Babang gimana? Baik-baik aja kan?”
Dariel mengerutkan dahinya, bingung. Dari sekian pertanyaan, harus yang mana dulu ia jawab?
“Coklatnya aman kok, Bun. Masih disegel.” Anak laki-laki itu berusaha menenangkan sang Ibu yang nampak begitu khawatir. Tiba-tiba Dariel membayangkan jika ia menceritakan kejadian ini kepada Natasha juga, apakah Mommynya itu akan sekhawatir Bunda?
“Kalo ada yang enggak enak, langsung bilang sama Bunda. Terus nanti awasin juga Babang.”
“Siapp!” angguknya.
“Bentar lagi makan siang, Bunda mau masak dulu.”
“Ikuttt,” kata Dariel dengan wajah memalas. Anak laki-laki itu kemudian tersenyum ketika Kinara mengangguk. Ia sudah jarang menghabiskan waktu berdua dengan Bundanya.
Kinara tak banyak memasak, pasalnya waktu sebentar lagi akan menujukan jam makan siang. Ia hanya menggoreng ayam yang sudah dibumbu kuning, sayur sop dan tak lupa menggoreng naget untuk Dariel dan Razkana jika keduanya tak ingin makan ayam. Kadang wanita itu heran, kedua anaknya kadang lebih memilih telor ceplok atau nasi dicampur kecap dari pada ayam atau ikan goreng.
Namun, baginya yang terpenting anak-anaknya bisa makan dengan lahap, asal tidak makan batu saja. Tentu ia juga memperhatikan gizi keduanya.
“Panas Kak!” omel Kinara saat Dariel memasukan naget yang baru beberapa detik saja selesai di goreng ke dalam mungilnya.
“Awhhh! Pahh... nahh!” Anak laki-laki itu panik, mengibas-ngibaskan tangannya saat merasakan lidahnya memanas.
Kinara segera mengambil tisu yang berada diatas meja. “Ayo, dilepehin!” suru Kinara agar Dariel untuk mengeluarkan lagi naget itu. Namun, bocah itu menggeleng dan tetap memakannya membuat sang Bunda menghela nafas. “Astaga anak ini!” decaknya.
“Makannya udah siap, Kak. Panggilin Ayah sama Babang gih.” Kinara mematikan kompor setelah melihat sayup sopnya sudah mendidih.
“Lho Dek Raziel enggak?” tanyanya.
“Dek Raziel kan masih minum s**u Bunda kak,” ujar Kirana membuat bibir Dariel membentuk ‘o’ sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Bocah itu kemudian melesat dari dapur untuk memanggil Ayah dan adiknya.
“Dek Azi masih bobok, Bun?” tanya Adrian yang baru saja bangun, pria itu benar-benar kelelahan. Selepas sampai ia langsung membersihkan tubuhnya dan langsung membaringkan badannya yang terasa capek.
“Bentar lagi kayaknya, yah.” Wanita itu meletakan nasi ke masing-masing piring tiga lelaki berbeda didepannya. Bersyukur karena sekarang Adrian sudah kembali dan berkumpul bersama lagi.
“Babang mau makan cepat-cepat!” katanya sambil makan dengan terburu-buru.
“Pelan-palan aja, bang! Nanti keselek,” peringat Nara ketika anaknya itu tidak memberi jeda, terus memasukan suapan-suapan ke dalam mulutnya.
“Oh, iya, Kakak mau bantu Babang enggak?” Anak laki-laki itu tiba-tiba berhenti, menatap Kakaknya yang tengah nikmat melahap makan siangnya. “Mau bantu apa?” tanyanya.
“Jadi model Babang, nanti dilukisin. Mau yah? Mauuu?”
Dariel mengangguk menyetujui, dia tidak memiliki kegiatan lain hari ini. Setelah selesai makan siang, kedua bocah itu langsung naik ke lantai atas. Hingga tersisa Adrian dan Kinara.
“Mas?” panggil Kinara pada Adrian yang tengah menikmati buah anggur sebagai pencuci mulut. Pria itu menatap isterinya yang baru saja keluar dari dapur. “Kenapa sayang?”
“Rumah kita kayaknya enggak aman lagi, tadi Dariel bilang ada orang asing masuk ke rumah kita.” Menurut Kinara, Adrian harus tahu tentang ini. Lagi pula ia tidak tahu harus memberi tahu siapa lagi.
Adrian yang mendengar itu langsung bangkit dari duduknya, menatap isterinya serius. “Ayo ikut ke ruang Mas,” ajaknya pada sang isteri.
“Kenapa, Mas?”
“Mas sudah memasang Cctv sepengetahuan kamu, jadi kita bisa melihat siapa pria itu.” Hal ini yang paling membuat Adrian resah jika meninggalkan isteri anaknya dalam kurun waktu yang lama, ia takut terjadi apa-apa pada isteri dan anak-anaknya.
Saat hendak meninggalkan dapur, tiba-tib a langkah Adrian berhenti. Kinara yang berada dibelakangnya hampir menabrak punggung suaminya. “Tolong bawakan buahnya,” kata Adrian sambil menyengir membuat Kinara mendengus namun tak ayal menurutinya, ia malah senang jika anggota keluarganya menyukai makan buah.
Adrian segera membuka laptopnya yang memang terhubung, ia mencari rekaman yang kira-kira waktunya pagi tadi ketika Kinara menjemputnya di Bandara. “Yang ini, Mas!” ucapnya ketika melihat Razkana duduk di taman seorang diri. Ia juga melihat pagar rumahnya belum dikunci saat ia pergi menjemput Adrian. Astaga, pantas saja itu terjadi!
Kinara masih berupaya untuk mengenali pria itu, awalnya pria asing itu memencet bel dan mungkin tidak ada yang menjawab pria itu akhirnya masuk. Bola mata wanita itu membulat saat mengetahui siapa pria itu.
“Itu....? Pria itu Chandra, Mas!”
“Siapa?” tanyanya dengan nada cemburu.
“Dia Ayah kandung Razkana.”
——-
Dan disinilah Kinara dan Adrian berada sekarang, di salag satu cafe yang penuh dengan para karyawan dari perusahaan yang tak jauh darisini untuk sekedar makan siang. Mereka sekarang sedang menunggu kehadiran dari Chandra, pria yang menjadi ayah biologis dari Razkana.
Malam setelah mereka mengetahui siapa orang asing yang dimaksud Dariel itu, telpon Adrian berbunyi dengan panggilan orang asing. Ternyata itu Chandra yang menelpon. Lelaki itu yang pernah menjadi mantan sahabatnya itu meminta mereka untuk bertemu.
Adrian dan Kinara menyanggupinya, apalagi Adrian. Pria itu merasa dihargai saat tahu Chandra susah payah mencari nomor Adrian, padahal ia bisa meminta nomor Kinara dengan mudah pada teman-teman kuliah mereka dulu.
“Maaf gue telat, tadi ada pekerjaan tambahan dulu.” Seorang laki-laki dengan kemaja marun dan celana jeans duduk dihadapan keduanya. Kinara merasa sengat sulit untuk mengenali pria itu, padahal Chandra termasuk orang cukup penting dalam hidupnya, yah mereka pernah menjalin kasih dulu namun lelaki itu malah meninggalkannya.
Dan, yang membuatnya patah hati adalah pria itu bermain dengan sahabatnya sendiri, Raya. Hingga akhirnya wanita itu hamil dan harus merenggang nyawa saat melahirkan Razkana.
“Sayang,” panggil Adrian membuat Kinara tersentak. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sang suami yang menatapnya khawatir. Wanita itu berusaha tersenyum untuk mengatakan kepada Adrian bahwa dia baik-baik saja.
Kinara memusatkan pandangannya ke arah Chandra. Ia menarik nafasnya panjang, setiap mengingat kilasan penderitaan Raya, selalu meninggalkan rasa sesak yang membuat hatinya sakit dan ingin membuatnya berteriak pada lelaki didepannya ini.
“Bagaimana keadaan kamu sekarang?” tanya Kinara.
“Buruk,” jawab Chandra, namun senyumnya tak mencerminkan ucapannya.
“Gue di D.O dari kampusku, perusahaan orang tuaku bangkrut, tak lama kemudian mereka meninggal. Lalu sekarang gue jadi karyawan biasa, yah cukuplah.”
Bukannya terlihat sedih, Kinara malah nampak biasa-biasa saja. “Bagus, itu sepadan dengan apa yang kamu perbuat.”
Adrian sedikit takut bercampur tercengang melihat isterinya, apa Kinara tidak bisa berbela sungkawa sedikit saja? Luka yang diberikan pria itu ternyata membuat terlalu dalam hingga terlalu sulit untuk dimaafkan hati isterinya.
Chandra mengangguk. “Gue tahu, gue juga enggak seharusnya ngajak kalian ketemuan seperti ini. Tapi, gue punya permintaan sama kalian. Gue tahu, gue bodoh. Tapi, tolong, gue pengen ketemu sama Razkana.”
“Boleh,” angguk Kinara membuat dua lelaki itu terkejut. Adrian merasa heran kenapa dengan mudahnya Isterinya membiarkan Razkana mengenali Chandra. Sedangkan Chandra, pria itu menatap Kinara dengan berbinar membuat Adrian mendengus.
Namun, sedikit, ia tahu perasaan seorang Ayah yang tak bisa bersama anaknya. Dan, itu lebih perih daripada ditolak seorang gadis sewaktu sekolah.
“Kamu boleh mengenalkan ke Razkana bahwa kamu Ayahnya. Asal, kamu juga menceritakan tentang kamu yang ingin menggugurkan dan mengabaikan Razkana saat dia berada dalam kandungan Ibunya.”
“Dia pasti tidak akan menerimanya,” ucap Chandra terbata. Nafasnya tercekat, binar-binar yang tadi Adrian menghilang seperti bintang jatuh yang hanya sekali lewat.
“Gue mohon, Nara, gue pengen dekat dengan anak gue.”
“Kenapa baru sekarang, sih, Chan?” Kinara tak habis pikir, kenapa orang-orang seperti Chandra saat tahu ia salah malah pergi bukannya segera memperbaiki.
Berharap semua masih akan seperti masa lalu, pria itu bercanda.
“Gue mohon, Nara. Gue butuh kesempatan kedua, gue... gue mohon.”
Kinara menghela nafasnya saat melihat ekspresi memohon yang nampak tulus dari Chandra, wanita itu akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah sang suami. Bagaimana pun Adrian selama ini sudah menjadi Ayah terbaik untuk Razkana.
“Beri dia kesempatan, jika dia mengulangi maka Mas yang akan menghajarnya.”
Kinara mengangguk, ia kemudian menatap Chandra. “Jaga Razkana baik-baik, Chan. Sebaik aku ngerawatnya. Jaga dia pake nyawa kamu, seperti Raya yang memperjuangkannya dengan nyawanya.”