17

1711 Words
"Nghh...." Abel mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan mata bulatnya dengan cahaya ruangan serba putih ini. Tanpa perlu menebak-nebak lagi, Abel tahu bahwa kini ia berada di rumah sakit. Bau obat yang menusuk membuatnya mendengus. Bocah itu mengalihkan pandangannya ke sekitar ruangannya, sepi. Tidak ada orang disini, hanya bunyi detak jam yang menemaninya. Ngomong-ngomong tentang jam, Abel yakin kini semuanya tengah melaksanakan sholat subuh sebab jam masih menujukan pukul empat pagi. "Duh, haus,” suaranya terdengar begitu serak. Sudah berapa lama ia tertidur? Abel ingin menegakan tubuhnya dengan bertumpu dengan tangan kanan, namun rasa sakit yang tiba-tiba menyengat tangan kanannya membuatnya meringgis.   Tubuhnya kembali terjatuh, bocah itu mendesah. Padahal tenggorokannya sudah terasa begitu haus untuk mengambil air yang berada diatas meja sana. "Ini pasti karena guling-guling di tangga kemaren," guman Abel sambil mengarahkan tangan kirinya ke atas kepala. Merasakan ada kain tebal yang melilit di kepalanya. Tinggal tunggu saja Aya atau Arga menanyakan penyebab ia terjatuh? Abel sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan jatuh dan kehilangan keseimbangan. Lalu berguling-guling diatas tangga sebingga membuatnya tak sadarkan diri. Haruskah Abel menjelaskan seperti itu? Tidak. Maksudnya, tidak salah lagi. Bunyi deritan pintu membuat Abel langsung memejamkan matanya. Ia takut itu Aya atau Arga, lalu kedua orang tua angkatnya itu akan bertanya-tanya padanya. Kenapa bisa jatuh? Apa yang sakit? Ini, itu dan lain-lainnya.  Tapi, tak bisa dipungkiri, Abel merasa hatinya menghangat, ia seperti diperhatikan. Bunyi sepasang langkah kaki membuat Abel bingung, itu Aya atau Arga? Dalam hati anak itu berdoa bahwa pemilik langka sepatu itu adalah Arga. Setidaknya ayahnya itu tak secerewat ibunya. Abel merasakan orang itu berdiri didepannya. Tapi, ia belum bisa menebak siapa orang itu karena orang itu sama sekali tak mengeluarkan suara. Namun, ketika sebuah tangan mengelus pipi Abel membuat jantung Abel tiba-tiba berdegub cepat.  Ia merasakan tubuhnya merinding. Entah kenapa pikiran anak itu langsung tertuju pada mahluk halus yang mungkin menunggu kamar Abel ini atau orang yang pernah di rawat di kamar ini namun tak selamat dan menjadi arwah gentayangan. Baru saja Abel hendak membuka matanya dan berteriak. Sebuah suara membuatnya menghentikan niatnya. "Satu lagi, satu lagi. Aku akan melenyapkannya.” Kali ini Abel tak lagi merasakan tubuhnya merinding, sudah dipastikan bahwa sosok itu memang manusia. Namun, kata-kata dari pria itu membuat Abel menjadi takut setengah mati. Apa kata-kata itu ditujukan untuknya? Tidak salah lagi. Tidak ada siapapun disini. Tubuhnya menengang, entah orang itu mencurigainya atah tidak. Abel berharap sosok itu tak menyadarinya. Tapi, tunggu, sepertinya Abel mengenali suara itu. Tidak salah lagi, itu adalah suara Om Bara.  Kenapa Om Barra ada disini? Kenapa perkataannya seperti ingin melenyapkannya? Pertanyaan-pertanyaan yang kini muncul di kepala bocah itu membuatnya menjadi pusing dan tanpa sadar meringgis. “Ssshh...” Astaga, semoga pria itu tidak menyadarinya. Abel perlahan membuka matanya, ia kira laki-laki itu sudah meninggalkan kamar inapnya namun saat melihat punggung Bara yang membelakanginya membuat Abel meneguk ludahnya halus. Rasanya ia tidak perlu minum karena ludahnya bisa ia teguk beberapa kali.  Pria itu hendak melangkahkan kakinya meningglkan Abel, namun dering ponsel membuat Bara merogoh saku celananya mengambil ponselnya. "Hallo." "........" "Jaga bocah itu! Ia belum boleh mati sekarang! Abel mengerutkan keningnya, memang siapa bocah itu? Kenapa harus mati? Abel semakin menjadi penasaran, ia mengira-ngira apa semua arti dari perkataan Bara? Bocah yang ingin dilenyapkan? Siapa? Kenapa ia ingin dilenyapkan juga? Apa hubungannya dengan bocah yang dimaksud Bara itu? Abel langsung memejamkan matanya ketika Bara tiba-tiba membalikan tubuhnya. Astaga, jantung anak laki-laki itu berdetak lebih kencang. Apa jangan-jangan Bara melihatnya?  Tidak ada cara lain, Bara akan curiga jika seperti ini. “Nghhh...” Abel membuka kelopak matanya perlahan, mengerjap-ngerjapkan seperti baru saja membuka kedua matanya. Bocah lelaki itu bisa merasakan tatapan menyelidiki dari Bara.  Bertepatan dengan itu, pintu kamar inap Abel tiba-tiba terbuka. Aya dan Arga masuk dengan wajah khawatir, namun saat melihat Abel sudah bangun, mereka langsung berlari ke sisi ranjang bocah itu. “Abel sudah sadar? Bilang sama Ibu mana yang sakit? Gimana kamu bisa jatuh?” “Shhhh.... ka-kalian siapa?” "Abel? Shh... Siapa itu Abel?" Abel bisa melihat Arga dan Aya saling pandang dengan dahi mengerut. Dan, ia bisa melihat Bara nampak menghela nafasnya tenang, apa Bara sudah menganggap dirinya tidak mendengar pembicaraan lelaki itu? "Adek, jangan banyak bergerak." Abel mengerucutkan bibirnya. "Geraknya cuman satu aja kok, yah." Arga menghela nafasnya, tangan berototnya ia arahkan ke p****t Abel yang kini sudah hampir melorot di gendongannya. Jangan sampai anak itu terjatuh, bisa-bisa ia di omeli Aya karena anaknya itu kesakitan. Pria dewasa itu masih tidak habis pikir dengan isi otak isterinya. Ingatannya kembali ke beberapa jam yang lalu, sebelum Abel meminta di gendong ke taman Rumah Sakit. "Abel? Shh... Siapa itu Abel?" Aya dan Arga saling pandang. Abel tidak mengingat dirinya sendiri? Jangan-jangan, benturan itu membuatnya lupa ingatan? "Ah, Abel itu bukan siapa-siapa. Nama anak Ibu ini, Arya. Arya Dirgantara." Sontak saja Arga yang mendengarkan itu membulatkan matanya, setelah Abel kembali istirahat. Ia langsung menarik isterinya keluar dari kamar anak mereka.  Bukannya wanita itu sendiri yang mengatakan bahwa ia tak akan menggunakan Abel sebagai Arya? Dan sekarang apa-apaan itu?! “Sekarang jelasin sama Mas, apa maksud kamu tadi?” “Aku mau Abel melupakan masa lalunya, Mas.” “Untuk apa, Aya?” Arga berusaha untuk menahan emosinya. Ia sudah berjanji tak untuk tak lagi mudah terpancing, membuatnya akan menyesal nanti. Aya menghela nafasnya panjang. “Kamu tahu kan Mas, Abel itu punya masa lalu yang buruk. Anak itu korban k*******n dari orang yang enggak punya otak!” entah mengapa jika mengingat hal ini, Aya selalu ingin memaki. Beruntung, sekarang orang-orang yang dimaksud Aya itu sudah mendapat tempat yang layak. “Mungkin ini sudah menjadi takdir, Mas. Abel tidak perlu bersusah-susah untuk melupakan kenangan buruknya.” Arga sendiri setelah mendengar penjelasan Aya menjadi bimbang. Ia ingin yang terbaik untuk Abel. Namun, bukan ini caranya. Abel yang melihat Arga menghela nafasnya, memajukan kepalanya yang sehingga bisa melihat wajah Arga yang nampak melamun. "Ayah kenapa? Kayak punya masalah? Punya utang? Adek enggak papa kok miskin.” Arga tergelak dengan mendengar ucapan Abel. Pria itu merasakan tidak ada yang berubah dari Abel. Terlepas dari anak itu yang tidak bisa mengingat identitasnya, Arga tetap merasakan Abel berada di dekatnya. "Yah, turun. Sakit nih tangan." Buru-buru Arga menurunkan Abel dan menundukannya di kursi taman. Padahal sudah tahu tangannya sedang sakit tapi masih saja keukeh minta di gendong. "Adek bener-bener gak ingat?" Arga memastikan sekali lagi. Abel menggeleng, namun di kepalanya sekarang anak itu tengah memuji dirinya sendiri yang luar biasa memainkan drama ini. Walau ada rasa sedikit kecewa saat Aya merahasiakan identitas aslinya. Sebegitunya kah Aya rindu pada Arya? Abel memutar bola matanya. Jelas saja semua ibu kandung mecintai anak kandungnya. Itu sudah seperti hukum alam bagi dunia dan seisinya. Dan, kali ini anak itu ingin merasakan bagian dari hukum itu. Walaupun hanya sementara. "Ayah?!" Abel dan Arga sama-sama terlonjak mendengar teriakan Aya. Ayah dan anak itu memutar kepala mereka perlahan dan berdoa dalam hati masing-masing agar Aya tidak mengomeli mereka. "Ayah sama Adek kenapa bisa sampai disini? Ibu bilangkan di kamar aja!" Aya kini berdiri didepan Abel dan Arga yang sekarang tengah tertunduk. Wanita itu menghela nafasnya pelan, dipijatnya kepalanya yang kini tengah berdenyut-denyut. Rasanya jantung Aya hampir saja berhenti saat melihat ranjang Abel kosong karena ia tinggali untuk menemui dokter yang menangani anaknya. "Ibu, maaf." Kepala Abel mendongak, anak itu merasa bersalah sekarang. Ditatapnya lagi wajah Aya yang memucat dengan perasaan menyesal, seharusnya ia menunggu sebentar Aya yang sedang pergi. "Jangan diulangin." Aya bergerak untuk duduk disamping Abel, memeluk anak itu dengan sedikit erat. "Sebentar saja, Ibu capek." Abel yang mulanya ingin melayangkan protesnya karena merasa sesak terhenti, malahan anak itu membalas pelukan Aya. Arga yang melihat Aya dan Abel berpelukan beringsut mendekat ke arah anak dan isterinya itu. Batinnya tak terima saat melihat dua orang yang ia cintai berpelukan tanpa dirinya. Sedangkan Abel yang kini tengah didekap Aya dan Arga berharap kedua orang ini selalu dilimpahkan kebahagain, entah dengannya atau tanpanya. "Αya Arga!"  Merasa dipanggil, Aya dan Arga sontak melepaskan pelukannya. Sedangkan orang yang memanggil mereka bergerak mendekat ke arah keluarga kecil itu. Lain lagi dengan Abel yang kini tercengang melihat seorang wanita yang sedang membawa dua anak, satu berada dalam gendongan dan satu tengah digenggam. "Omg! Kalian udah pulang ke Indo? Kenapa enggak ngabarin gue sama yang lain?” Raisa, wanita itu adalah teman semasa SMA hingga kuliah Arya dan Arga.  Aya yang mendengarnya memutar bola mata, siapa memangnya dia perlu diberi tahu? “Oh, gue sama Aya baru pulang kok,” jawab Arga membuat Aya mendengus kecil, kesal. Jika wanita itu bukan mantan kekasih Arga di waktu SMA mungkin ia akan baik-baik saja, tapi kenapa malah suaminya menjawab dengan akrab seperti ini? Bukannya setelah menjadi mantan harusnya bermusuhan. "Oke, deh. Eh, anak pertama gue mau periksa gigi jadi gue titip anak bungsu gue ya, namanya Ralin. Thanks Ga!” Abel tecengang saat wanita itu memberikan anak yang didalam gendongannya kepada Arga dan langsung bergeges membawa anak yang didalam peganggannya, Rain. "Dikira penitipan anak kali ya," celetuk Abel. "Hussh, adek jangan ngomong gitu. Namanya saling tolong menolong." Arga membenarkan letak duduk Ralin yang tengah memakan biskuit bayi yang di berikan Raisa tadi. "Lagi pula Ralin anteng kok." Abel mengalihkan pandangannya dari punggung kecil Rain yang telah hilang dibalik kerumunan Rumah sakit ke arah seorang bayi yang nampak anteng memakan sebuah biskuit. Tangan Abel terulur mengelus pipi gembil bayi itu. Lembut dan sangat halus. "Lucu gak, dek?" tanya Arga yang tengah memperhatikan tangan Abel yang kini tengah digenggam Ralin. "Lucu....” Abel menatap Ralin dengan pandangam berbinar lalu menatap Aya dan Arga bergantian. “Lho Ibu kenapa cemberut?” tanya Abel ketika Aya hanya diam. “Kamu masih cemburu yang?” Aya langsung mendelik ketika mendengar pertanyaan suaminya. Apa-apaan itu cemburu? “Mas cuman ngejaga pertemanan kita. Siapa tahu nanti kita yang membutuhkan bantuannya?” Arga berusaha memberi pengertian pada sang isteri, ia tidak bermaksud menggurui, namun mengingat sesama. "Iyaa, bu. Ralin lucu banget,” ujar Abel menggerakan tangannya yang digenggam Ralin ke atas dan ke bawah. Tak tahan dengan pipi Ralin yang seolah melambai-lambai meminta di kecup. "Wangiii." "Bawa pulang ya, Bu?" tanya Abel polos membuat Arga tergelak. Tatapan pria itu beralih ke arah isterinya, Aya yang melihatnya ikut terkekeh. Apa anak itu ingin membuat Ayah dan Ibunya masuk penjara karena membawa anak orang? “Sini, Mas, aku mau gendong juga.” Ralin benar-benar membuat orang yang melihatnya ingin menggendong. Bayi itu sangat manis dan baik hati. “Kamu enggak papa yang?” tanya Arga ketika menyerahkan Ralin, ia baru sadar bahwa wajah isterinya pucat. “Aku enggak papa, kok, Mas.” “Yah, mau yang kayak Ralin,” kata Abel sambil memasang wajah memelas. Arga tersenyum, lalu tatapannya beralih ke arah anaknya. "Kalo adek mau punya yang kayak Ralin, minta sama ibu sana.” Abel manggut-manggut. "Bu, mau yang kayak Ralin. Satu aja.” Baru saja Aya hendak menanggapi ucapan Arga dan Abel, tiba-tiba saja rasa mual mengantam wanita itu. "Mas, tolong pegangin Ralin sebentar. Mual," ujar Aya memberikan Ralin pada Arga. "Ibu kenapa, yah?" tanya Abel khawatir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD