Bagi Ucok dan Rianti, Ha-Jun memang luar biasa perhatiannya.
Dalam keadaan begitu, kata Ha-Jun, yang penting sebagai suami-isteri mereka tetap sama-sama. Toh fasilitas di apartemen lumayan bagus. Di sana ada gym, kolam renang, squash, buat penyuka olahraga. Kalau pun benar-benar tak mau keluar kamar, fasilitas wifi hi speed dan channel TV kualitas digital bisa jadi pilihan. Dengan arti kata lain, Ucok dan Rianti masih bisa terhibur. Usaha Ha-Jun menghibur mereka berdua benar-benar diapresiasi Ucok. Tapi lama-lama dia pun berpikir juga bahwa mereka ke negeri itu tujuannya untuk liburan ke luar ruangan. Bukannya di dalam ruang tertutup. Ini artinya mereka harus keluar jalan-jalan berhirup udara terbuka di luar sana dan mendapat pengalaman baru.
Begitu Ha-Jun udah pulang, Ucok makin bertekad untuk cepat sembuh. Tapi apa mau dikata, kondisi badan yang lemah tak bisa dibohongi. Waktu secara diam-diam dia bangun dan coba melangkah dia jatuh terjerembab. Rianti melihatnya dan jadi panik. Ia pun setengah mati menaikan lagi suaminya ke ranjang. Rianti juga mengomeli suaminya dengan keras karena sebelumnya sudah disepakati bahwa fokusnya adalah pada kesembuhan Ucok. Mendengar hal itu Ucok maklum walau hatinya sebetulnya menjerit. Ia sering melihat isterinya memandang ke luar ruangan yang artinya Rianti sangat ingin mereka keluar jalan-jalan.
Ucok lantas menyarankan Rianti keluar jalan-jalan sendiri.
“Nggak mau.”
“Kenapa?”
“Maunya dengan abang.”
“Abang juga maunya gitu. Tapi kan lagi kurang fit.”
“Rianti udah pernah nyasar ke luar sana.”
“Ya udah, kamu muter-muter di apartemen aja. Ha-Jun kan bilang di lantai puncak ada gym, ada kolam renang. Pilih apa aja yang kamu mau. Yang penting kartu kreditnya kamu jangan lupa dibawa, Sayang. Dan o iya, kamu juga jangan lupa minum obat dari Ha-Jun.”
Aduh, Rianti jadi terharu dan dengan mata basah karena mau menangis lantas mencium kening suaminya. Sekali, dua kali, tiga kali, disusul kecupan di bibir yang dalem dan lama. Dalam keadaan biasa, itu biasanya jadi intro sebelum mereka b******a dengan sangat hot. Tapi kali itu, Ucok tak bisa bikin apa-apa. Obat s****n itu benar-benar sukses bikin dirinya setengah lumpuh dan parahnya ‘adik kecil’ Ucok pun ikut-ikutan lemas. Rianti udah pernah coba lakuin stimulasi tangan tapi tak berpengaruh sama sekali. Padahal itu adalah stimulasi tangan yang bener-bener wow – seenggaknya sampai sejauh ini mereka bersama. Itu adalah sebuah stimulasi yang biasanya sukses bikin Ucok klepak-klepek dan terkapar lemas tak berdaya. Jemarinya mungkin kecil dan lentik. Tapi itu selalu sukses membuat kejantanan Ucok jadi perkosa.
Tapi sekarang udah tidak lagi.
*
Mendadak ada suara klakson mobil.
Dari bawah halte, Astuti nggak langsung noleh karena itu dekat pasar dan dimana-mana klakson mobil dan motor pada bunyi. Tapi karena klakson mobil gak berhenti, dia noleh juga dan kaget begitu ngenalin siapa yang ada di dalam mobil.
. RT di rumah sebelumnya.
“Eh pak erte…”
“Hayo masuk, bentar lagi hujan.”
Astuti ngelambaikan tangan, nolak. ngajak lagi karena dipikirnya mungkin Astuti nggak denger suaranya. Tapi Astuti tetap nolak. Ngeliat itu, seorang cowok yang juga lagi nunggu di halte sambil jualan permen ngomentarin.
“Bu, kalo itu temannya kenapa nggak masuk aja? Bentar lagi hujan lho.”
Ctarrr!!!!
Petir nyambar dan geluduk membahana. Cuaca makin gelap, sebentar lagi hujan.
“Udah bu, masuk aja. Kesian saya liat ibu sama barang-barang belanjaan. Angkot juga sebelum sampe sini pasti udah penuh duluan.”
Ucapan si tukang permen terasa masuk akal. Saat itu hujan mulai turun dan gak ada tanda angkot yang dia mau naikin akan muncul segera. Dengan kondisi halte yang atapnya pada bocor, dia sadar kalo bukan pilihan bijaksana kalo nolak kebaikan orang itu. nge-klakson lagi.
Dengan malu-malu Astuti nganggukin kepala dan keluar dari halte. ngebantu dengan ngebuka pintu kanan depan. Tanpa perlu keluar dari posisi duduknya, dia juga turun tangan ngebantu Astuti yang masukin barang-barang ke kursi belakang. Hujan saat itu makin keras. Astuti bekerja makin cepat masukin barang. Begitu udah selesai dia masuk lewat pintu depan dan duduk di samping .
Mata melotot ngeliat Astuti yang dia tau udah jadi janda muda. Gimana nggak melotot, Astuti pake kaos t-shirt putih yang gara-gara kehujanan ngebuat bodinya ngejeplak seolah mempertontonkan lebuk tubuhnya yang aduhai.
“Aduh, gimana nih?” Astuti mengeluh. Dia kesulitan nutup kaca jendela depan mobil yang memang produk yang selamat dari kebakaran sebuah showroom mobil waktu kerusuhan Mei 1998.
“Pak erteee, aku basah!”
“Oh kamu basah?”
“Iya basah banget, tolong pak erte!”
turun tangan lagi. Membantu naikin jendela kaca yang karena udah tua emang harus dibantu manual dengan narik kesana narik kesini. Ini bikin Astuti deg-degan. Tangan beberapa kali nyentuh dadanya.
“Aduh susah banget sih,” berlagak kesulitan padahal sengaja supaya bisa nyentuh daging montok kepunyaan Astuti. “Maaf ya bu Astuti jadi makin lepek bajunya.”
“Gapapa tolong atasin aja.”
lantas narik engkol dengan kencang sampai kemudian tangannya lepas dari pegangan karena licin. Akibatnya sikutnya telak kena t***t Astuti.
“Maaf, maaf.”
Astuti jelas kesakitan. Dan biar pun minta maaf, dia masih ngelus-ngelus toketnya.
“Aduh sakit. Pasti biru nih.”
“Coba periksa.”
Dasar IQ jongkok. Dengan enaknya dia ngikutin saran itu. Blusnya dinaikin sampe ke leher dan abis itu dia turunin ** ke bawah. Waktu Astuti meriksa, terang aja melotot karena t***t si janda muda itu masih super montok. Spontan dia ngambil beberapa lembar tisyu dari box yang ada di dashboard dan ngusap-ngusap bagian d**a yang dibilang Astuti sedang sakit.
*
Sadar bahwa memang belum akan ada respon dari suaminya, Rianti lantas mengikuti anjuran Ucok. Ia meminum obat yang tadi dianjurkan sebelum naik lift ke atas dengan membawa perlengkapan mandi sebagai persiapan berenang. Begitu sampai lantai teratas, ia kaget karena ternyata sudah sampai di rooftop. Dari situ pemandangan Seoul yang aduhai terpampang dengan indah di depan mata, di bawah sana. Di sudut-sudut tertentu kolam renang, saat difoto, kesannya akan terlihat orang itu berada di pinggir hotel yang berbatasan langit, dengan latar belakang lekuk sungai Geumho. Sensasional.
Angin bertiup semilir. Dengan angin seperti itu sengatan matahari siang itu pasti tak akan terlalu menyakiti. Kolam renang itu ukurannya tak terlalu gede. Standar hotel umumnya. Tidaak banyak orang yang berenang di sana. Hanya ada dua anak kecil dan satu orang dewasa, seorang ibu-ibu. Saat menyemplung ke kedalaman kolam Rianti merasa segar sekali. Sebagaian persoalan seolah sirna seketika. Ia berenang kesana-kemari, menyelam.
Dia tak tahu berenang berapa lama sampai kemudian sadar di kolam itu ada dua orang lagi di dalamnya. Plus ada dua orang lagi menyusul kemudian. Empat orang itu pria semua. Sepertinya tiga orang seumuran dirinya dan satu orang lagi sudah agak tua. Muka-muka Korea itu ada yang jelas-jelas menonton dirinya dan ada juga yang mencuri pandang.
“Nice boobs.”
“bk kdf dfjd kd fdlf.”
"Ya, ya, ya... Hahaha..."