Lagi Kepingin

1363 Words
Pujian itu membuat Rianti sempat jengah. Dia tidak paham ucapan kedua karena diucap dalam bahasa Korea. Bisa jadi itu bentuk godaan juga. Ia mulanya ingin marah tapi ia sadar bahwa dirinya ada di kota asing dengan budaya asing yang bisa jadi memang adalah hal biasa kalau dirinya dipandangi begitu. Lagipula Rianti tak merasa dirinya seksi luar biasa. Baju renang yang ia pake adalah tipe one-piece alias tertutup. Ia menutup mulai dari sejangkal dari pangkal paha sampai leher, dengan sedikit lengan. Hanya memang ada bagian d**a yang potongannya rendah karena nature sebuah baju renang memang seperti itu. Rianti akhirnya pun abai, cuwek. Lagipula memang siapa yang akan mengenal dirinya di kota yang semuanya orang asing ini? Terakhir, Seoul adalah kota dengan sejuta gadis cantik. Memang secantik apa sih dirinya sampai harus jual mahal?   Nah, dari pemahaman-pemahaman tadi Rianti akhirnya tenang sendiri. Dia tetap meneruskan aktifitasnya berenang kesana-kemari. Dan seiring waktu yang berjalan ia malah mulai menikmati perhatian yang diberikan para Oppa, alias pria-priaa Korea. Mereka juga sepertinya tahu kalau Rianti senang diperhatikan. Mereka mulai mengeluarkan komen-komen sambil tersenyam-senyum nakal melihati dirinya. Rianti berlagak acuh ketika sempat tatapan mata sama salah seorang – yang paling tampan – yang kemudian memberi jempol ke dirinya. Pujian itu hanya ditanggapin dengan senyum kecil oleh Rianti yang masih berada di kolam renang dengan kondisi berendam. Nah, waktu dirinya keluar dari kolam renang, mendadak kedengaran seperti dengung lebah. Mereka serempak ber-waaaaaaw, semacam itu. Rianti terkaget. Salah seorang lagi dari mereka kemudian memberi pujian lagi sambil dua tangannya bergerak-gerak membentuk lekuk bodi gitar sambil nunjuk dirinya. Lagi-lagi itu pujian dan kali ini muka Rianti memerah.   Merasa sudah cukup untuk berenang, ia lantas mengambil tas untuk dibawa ke kamar mandi yang merangkap ruang ganti. Mereka ramai-ramai bersiul waktu ia lewat di depan mereka. Sebuah kata yang bukan dalam bahasa Korea masih tertangkap telinganya. Kata itu adalah: ‘sexy.’ Dan rona pipinya pun memerah. Itu sebuah komplimentari yang ia suka.   Sexy? Ah, begitu suka dia dengan pujian itu. Sexy sepertinya adalah kata yang tak pernah ia dapatkan dari Ucok. Itu adalah kata yang sensasional. Bikin bahagia, bikin semangat, dan bikin dirinya pelan-pelan jadi b*******h. Sampai ia melepas baju renang dan pakaian dalam di baliknya, perasaan bahwa dirinya sexy terasa begitu istimewa. Di bawah shower, dalam guyuran air dan menggosok tubuhya, kata-kata itu terus menguasai.   Sexy, sexy, sexy, sexy……   Tak lama, Rianti heran sendiri karena mendapatkan tangannya ada di selangkangannya sendiri. Buru-buru Rianti menarik tangan – dan tepatnya jarinya. Napasnya tersengal. Dia tak nyangka bahwa bisa jadi seperti itu. Kenapa bisa-bisanya dia jadi terangsang? Dan…. apakah itu yang namanya m********i?   *   Jayat punya ide gila yang ketika disampein ke Yahya dan Yayad langsung bikin mereka ngomelin dan ngebentak dirinya. Wah mereka berdua kompak nge-bully Jayat karena apa yang ada di otaknya bener-bener gak pantas, keterlaluan, nyeleneh, kurang ajar. Mereka nolak karena resikonya gede dan yang gawat ialah bisa bikin mereka semua kehilangan kerjaan.   “Lu itu udah gila. Kan kita udah sepakat.”   “Iya, kita udah sepakat nggak akan lagi perkarain soal senyumnya bu Rianti sama kamu.”   “Itu hanya senyum biasa. Jangan ditanggepin macem-macem.”   “Ini nih akibat keseringan nonton bokep.”   “Lu kalo mau dipecat ya udah, elo aja sendiri. Gue sih gak mau.”   “Sama gue nggak mau jug…”   Omongan Yayad kepotong begitu Jayat nunjukin layar ponselnya. Yayad terkesima. Ngeliat itu Yahya juga ikut ngeliat apa yang ada di layar hape Jayat.   “Gileeee…” cetus Yayad. “Bahenol pisan nih bini boss.”   “Ckckck,” Yahya nelen ludah. “36 DD ini mah.”   *   Jabatan RT biarpun hanya level terendah di pemerintahan, tetap aja marwahnya kudu dijaga baik-baik. Itu diyakini Juned selaku RT. Perjumpaan nggak sengaja antara dirinya dengan Astuti, sang janda muda, yang lagi nongkrong di bawah halte bis membuat ia menawarkan diri untuk mengantar wanita itu ke rumahnya. Sebuah ajakan yang diterima Astuti dengan senang hati karena halte tempat dia berteduh dari hujan emang bocor di sana-sini.   Di dalam mobil, mereka berdua nyeritain hal yang umum aja. Bicara ngalor ngidul mulai dari soal politik, harga barang-barang kebutuhan, sampe gosip seleb seperti artis sinetron Juminten yang ternyata dulunya bernama Jumali. Tapi biar pun banyak topik yang dibicarain, keliatan banget kalo Juned banyak jaim, jaga imej. Padahal dengan status jomblo, di usia Juned yang kepala 4 ini tentu aja dia pun nggak bisa menghindari kenyataan bahwa dirinya tertarik pada wanita itu.   Kejaiman Juned terjaga sampe dia nganterin Astuti ke rumahnya. Hujan belum berkurang derasanya. Juned bajunya jadi basah sebelum akhirnya sampe di depan rumah. Kondisi Astuti lebih parah. Sempat kebasahan waktu tadi di halte sebelum masuk mobil Pak RT dan kini terpapar sepuluhan detik dalam cuaca hujan deras, Astuti tiba di depan rumah dalam kondisi basah kuyup. “Oh ini rumah kamu yang baru?” “Iya. Ayo masuk pak,” undang Astuti sesopan mungkin.   Pak RT sih kepengen banget diajak mampir. Apalagi di depan mukanya sekarang terpampang kaos Astuti yang lepek, basah, dan seolah pamerin lekuk p******a indahnya. Tapi lagi-lagi dia sadar perlu untuk bersikap jaim. Dia udah kehilangan Astuti dengan kepindahannya ke wilayah lain dan dia gak ingin suasana itu dirusak karena dia salah bersikap. Juned yakin sebagai RT ia bisa dinilai Astuti secara negatif kalau berskap atau gak sopan dalam memperlakukan wanita. Dicap seperti itu gak akan membuat Astuti menerima dirinya lagi.   Jadi itulah dirinya saat itu. Jaim, dimana dengan sangat sopan menolak undangan minum kopi. Juned berusaha tampil sebagai Pak RT yang gentleman ketika nurunin barang-barang belanjaan saat hujan udah mulai reda dan tinggal rintik-rintik doang.   Ketua RT. Ah, posisi itu bikin dirinya jadi tokoh masyarakat skala kecil yaitu ya cuma lingkup RT. Tapi di lain pihak dengan posisi itu dia merasa punya posisi tawar yang rada tinggi karena merasa dituakan.   Diem-diem Juned emang tertarik sama Astuti. Itu udah sikap hati yang gak bisa dibohongin lagi. Dirinya naksir udah sejak 2 tahun lalu. Tapi ia sadar bahwa itu gak boleh karena Astuti saat itu statusnya masih bini orang. Sifat dan sikap Astuti memang bikin dirinya simpati. Apalagi dia tahu kejahilan suaminya. Ucok itu bener-bener gak tau diuntung punya isteri semanis Astuti. Sebagai warga lama, Juned tau banget kalo wanita itu udah ngedampingin Ucok dalam hidupnya sampai meraih sukses tapi sering banget diabaikan.   Posisi rumah mereka yang belakang-belakangan ngebuat cukup sering dirinya mendengar pertengkaran mereka. Gak tau apakah sempat terjadi KDRT atau k*******n dalam rumah tangga itu. Tapi yang jelas dia pernah ngeliat ujung mulut Astuti seperti berdarah. Apakah itu karena ditampar lakinya, dia gak yakin. Lagian juga buat apa sih kepo ngurusin rumah tangga orang. Gitu pikirnya.   Nah, yang bikin mulai ada simpati dan malah berubah jadi cinta ketika di suatu malam yang sepi, dia denger sesuatu. Dia lagi ada di sebuah ruangan ketika nguping apa yang terjadi di balik tembok yaitu di rumah Astuti / Ucok.   Sedikit cerita tentang rumah Ucok. Dia itu ngambil dua unit rumah bersebelahan. Seiring meningkatnya ekonomi dan pembangunan di sana, satu unit rumah dia sewain secara murah untuk kakak iparnya buka klinik dokter umum. Karena itu kepunyaan sodara sendiri, dia bisa keluar-masuk ruang klinik kapan pun dia mau yaitu ketika lagi nggak ada praktek. Termasuk di malam kejadian tadi.   Berasa bahwa omongan kedua orang suami-isteri itu kali ini agak beda, ia yang tau kondisi ruang praktek langsung ngambil stetoskop milik sodaranya, terus ditempel di kuping dan ujungnya ditempel di dinding. Wah. Sekarang dia jadi bisa denger jelas komunikasi antara keduanya. Dia kaget banget begitu tau apa yang dia denger.   “Udah lama lho,” kedengeran suara Astuti bicara sambil terisak. “Tapi abang lagi capek.” “Tiap kali Astuti minta abang alasan itu mulu.” “Memang lagi capek, gimana?”   “Tapi Astuti lagi kepengen bang.” Kedengeran suara Astuti merintih. “Nafkah batin, bang. Itu tuntutan yang harus abang penuhi.” Waduh, denger itu deg-degan lah Pak RT.   “Besok-besok lah.” “Udah sebulan lebih kita nggak ML.” Glk, Juned nelen ludah. Baru tau kalo pertengkaran terjadi karena soal bininya yang udah konak dan pengen gituan.   “Tolonglah, dik Astuti. Pahamilah Abang.” “Abang juga pahamin Astuti lah….” “Kamu koq nuntut?” “Bang, Astuti lagi kepengeeeennn…..” Astuti terisak. “Pengen bangett….”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD