Kegiatan hari ini adalah bermain game yang di lakukan oleh Jurusan Seni di mana Ayara dan Joanna masuk di dalamnya.
Ada sekitar 40 orang mahasiswa yang ikut dan di bagi menjadi 8 kelompok dengan laki-laki dan perempuan di gabungkan.
Ayara harus berpisah dengan Joanna karena gadis itu berada di kelompok kedua sementara dirinya berada di kelompok enam bersama dengan Satria sebagai senior pendamping yang entah kenapa bisa kebetulan seperti ini, satu sisi Ayara merasa aman karena ada satu laki-laki yang ia kenal diantara dua laki-laki di kelompoknya tetapi satu sisi lagi Ayara tak bisa bersikap seperti biasa ia mungkin harus berusaha keras untuk tetap seperti dulu seperti saat ia belum mengetahui perasaan Satria kepadanya.
“Yang tenang lo sama si Kak Sat,” bisik Joanna sebelum bergabung dengan anggota kelompoknya.
Ayara pun memilih untuk bergabung dengan yang lain termasuk sudah ada Satria di sana. Setelah masing-masing kelompok di bagi sebuah kertas petunjuk untuk menyusuri wilayah Gunung Puntang dan tugas mereka harus mendapatkan lima bendera.
Satu demi satu kelompok mulai berangkat dengan jeda waktu sekitar sepuluh menit sampai giliran kelompok Ayara yang jalan.
Ayara membawa tas kecil yang berisi P3K yang tadi di bagikan oleh panitia kepada masing-masing kelompok untuk jaga-jaga jika terjadi hal yang tidak di inginkan.
Ketua kelompok yang mengarahkan jalan mereka sementara sebagai senior pendamping Satria berjalan di belakang mereka.
Perjalanan yang cukup melelahkan karena jalanan yang menanjak namun semua seolah hilang kembali di saat mereka melihat suasana di sini yang begitu sejuk.
Di tempat pertama akhirnya mereka menemukan bendera yang bertuliskan huruf S berwarna merah. Satu bendera berhasil mereka dapatkan dan merekapun terus berjalan untuk mendapatkan bendera yang lainnya.
Di tempat ke empat tepatnya sebuah sungai yang airnya cukup jernih mereka beristirahat lebih dulu bendera dengan huruf N juga sudah di dapatkan.
Empat bendera dan jika huruf-hurufnya di rangkai maka akan menjadi sebuah tulisan “Seni” tinggal satu bendera lagi dan sudah pasti bendera itu merupakan lambang dari Jurusan mereka.
Ayara duduk di samping dua mahasiswi lainnya mereka masih mengistirahatkan diri sebelum berlanjut ke tempat berikutnya lalu Satria menghampiri Ayara dan duduk di samping gadis itu membuat Ayara sedikit tak enak meski yang lain sudah tahu bagaimana kedekatan mereka berdua jika di kampus apalagi Satria yang memang begitu terlihat jelas sedang mendekati Ayara si mahasiswa berprestasi di angkatan mereka bahkan Satria dan juga Ayara bisa di katakan pasangan serasi jika mereka bersama karena Satria yang juga merupakan ketua himpunan mahasiswa jurusan seni.
“Minum?” tawar Satria kepada Ayara, gadis itu menggelang.
“Udah Kak, kasih ke yang lain aja,” balas Ayara.
“Ya udah buat nanti aja kalau lo haus.”
“Jarak dari sini ke tempat terakhir jauh gak, Lan?” tanya Satria menoleh ke arah laki-laki yang duduk tak jauh dari mereka.
“Lumayan, Bang,” jawab laki-laki yang bernama Alan. Satria mengangguk kemudian melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.
“Jalan sekarang gimana? Keburu makin sore," ajak Satria yang tentunya di angguki oleh anggota yang lain.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat bendera terakhir lebih baik mereka menyelesaikan kegiatan ini dengan cepat apalagi hari sudah beranjak sore dan mereka juga butuh asupan tenanga karena selama perjalanan ini hanya meminum air yang mereka bawa juga satu roti untuk masing-masing anggota.
Bisa di rasakan bukan bagaimana perut mereka yang mulai kelaparan, begitu juga yang di rasakan oleh Ayara.
***
Arion baru saja sampai di area perkemahan tempat Ayara dan mahasiswa dari kampusnya berkegiatan. Bukan tanpa alasan Arion datang ke sini tetapi ia di minta untuk menjadi Dokter bantuan dalam kegiatan ini hal tersebut karena di rekomendasikan oleh salah satu teman Arion yang menjadi Dosen di kampus ini yang beberapa waktu lalu mereka bertemu dan memang membahas hal tersebut.
Arion awalnya agak keberatan karena tugas ia di rumah sakit juga sudah begitu banyak tetapi karena merasa tak enak kepada teman satu Universita dulu akhirnya ia setuju dan ternyata ia tak sia-sia karena gadisnya mengikuti kegiatan ini, ia bisa menjaga Ayara juga di sini.
Setelah bertemu dengan ketua panitia dan juga temannya Arion di antar ke tenda P3K untuk mengecek obat-obatan di sana, ia juga sudah membawa beberapa obat untuk persediaan.
Suasana perkemahan cukup sepi katanya mahasiswa sedang berkegiatan naik ke atas dan baru beberapa kelompok saja yang sudah kembali ke perkemahan. Arion belum melihat keberadaan Ayara artinya gadis itu masih berada di atas padahal hari sudah menjelang sore membuat Arion sedikit khawatir.
“Kak,” panggil seorang gadis yang ia kenal adalah kekasih dari sahabatnya –Dito. “Cari Ayara?” tanya gadis itu yang tak lain adalah Joanna.
Arion mengangguk, “Masih di atas ya?”
“Iya, kami beda kelompok tadi.” Arion mengangguk paham.
“Ayara satu kelompok sama siapa?” tanya Arion entah kenapa jika itu tentang Ayara kali ini ia selalu ingin mengetahuinya mungkin karena ia merasa sudah menjadi tanggung jawabnya menjaga Ayara mulai sekarang ini.
“Ada Kak Satria.”
“Satria?”
Arion seperti mengingat nama itu dan benar itu laki-laki yang ia temui di pameran kampus yang berdiri di samping Ayara waktu itu dengan tatapan mata yang begitu mengagumi Ayara, ia yakin laki-laki itu menyukai gadisnya.
“Seniorr kita, dia yang jadi seniorr pendamping di kelompok Yara.” Joanna begitu cepat membaca ekspresi Arion dan dalam hati gadis itu tertawa melihat calon suami sahabatnya ini sepertinya mulai memiliki rasa kepada Ayara karena mendengar nama laki-laki lain apalagi nama Satria raut wajah Arion berubah dengan sekejap.
“Kalau gitu gue ke sana lagi," pamit Joanna pada Arion.
“Cemburu tanda cinta,” ucap Joanna setelah menjauh dari Arion, gadis itu tertawa kecil karena ia berhasil membuat Arion di landa gelisah.
Joanna memang sudah berniat untuk membantu Ayara dan membuat Arion luluh pada sahabatnya itu bahkan kalau bisa sampai laki-laki itu menjadi bucin kedua setelah Dito kekasihnya.
***
Kelompok Ayara baru saja sampai di perkemahan setelah mendapatkan lima bendera yang kemudian di serahkan kepada panita.
Sebenarnya kegiatan ini untuk meningkatkan kerja sama antar mahasiswa dan menumbuhkan rasa saling membantu di antara anggotanya dan memang terbukti karena dengan kegiatan ini semuanya bisa saling membantu dan juga berbagi.
Hal tersebut harus tertanam khususnya di antara sesama anggota yang satu Jurusan sama.
Kegiatan kali ini di akhiri dengan makan bersama dengan duduk berkeliling membuat sebuah lingkaran besar. Ayara dan Joanna sudah kembali bersama dan duduk bersebelahan sambil menikmati makanan mereka nasi kotak yang sudah di siapkan oleh panitian acara.
“Ra, Kak Arion di sini,” bisik Joanna membuat gadis di sampingnya menoleh secara cepat.
“Jangan bercanda lo.”
“Yah ... ni anak, gue gak bohong. Tadi gue ketemu malah dia nanyain lo dimana.” ucap Joanna.
“Ngapain ke sini?” tanya Ayara.
“Ya gak tahu tapi tadi dia kaya cek obat di tenda P3K," ucap Joanna "Tu orangnya.” tunjuk Joanna saat melihat Arion yang berdiri bersama dengan Dosen muda di kampus mereka.
Ayara menatap arah yang di tunjukkan Joanna dan benar di sana ada Arion yang saat ini tengah menatapnya.
“Kenapa dia jadi ada di mana mana sih, Jo,” gumamnya yang di dengar dengan jelas oleh Joanna.
“Itu berarti kalian jodoh, tak terpisahkan. Uhuy ...” goda Joanna.
“Apaan sih lo," elak Ayara padahal wajahnya sudah memerah karena merasa malu mendengar apa yang baru saja Joanna katakan.
Mereka kembali menikmati makanannya meski sesekali Ayara melihat ke arah Arion dan laki-laki itu pun masih setia memperhatikannya.
Selesai makan mereka di ijinkan untuk bersih-bersih dan ke tenda mereka masing-masing. Joanna yang paling bersemangat karena gadis itu sudah merasa tubuhnya begitu lengket dan ia tidak menyukainya.
Sementara Ayara memilih untuk duduk di luar tenda mereka berdiam terlebih dulu sambil menunggu antrian mahasiswa lainnya yang sedang bergiliran memakai kamar mandi umum di sini.
“Capek?” suara laki-laki yang ia kenali dan sudah berdiri di hadapannya membuat Ayara mendongakkan kepala menatap Arion yang menjulang tinggi di depannya.
Ayara menggeleng pelan lalu Arion duduk di sampingnya. "Kakak ngapain ke sini?” tanya Ayara.
“Yang pasti bukan sengaja buat lihat kamu,” balas Arion membuat Ayara mengerucutkan bibir mendengar jawaban Arion.
Lagi pula siapa bilang ingin di tengok di perkemahan memangnya dia anak kecil.
“Berapa hari di sini?” tanya Arion kemudian.
“Lusa juga pulang. Kak Arion belum jawab lho ngapai di sini?”
“Ya di undang sama kampus.”
“Kaya orang penting banget,” gumam Ayara membuat Arion terkekeh mengusap rambut gadis itu dengan pelan.
Pemandangan tersebut di lihat oleh Satria yang berdiri tak jauh dari mereka, melihat kedekatan Ayara dengan laki-laki yang waktu itu ada di pameran membuat hatinya sedikit iri.
Joanna yang juga ada di dekat Satria hanya bisa diam menyaksikan Satria yang tampak murung karena belum juga berjuang laki-laki itu harus lebih dulu patah.
“Laki-laki itu siapanya Ayara, Jo?” tanya Satria pada Joanna.
“Lo tanya sendiri deh sama anaknya, gue gak berani buat jawab bukan hak gue juga. Pokoknya mereka deket, itu aja yang gue mau kasih tahu ke lo.”
Bukan tak ingin memberitahu tentang Arion pada Satria tetapi memang itu bukan hak dia untuk menjelaskan kepada Satria jadi lebih baik laki-laki itu tahu secara langsung dari mulut Ayara -si gadis pujaan.
“Lo gak bisa bantuin gue?”
“Bantu apa?”
“Malam ini gue mau nembak Ayara, sebelum keduluan sama yang lain,” ucap Satria masih dengan mata yang menatap dua orang yang kali ini sedang tertawa bersama.
Perkataan Satria sukses membuat Joanna memelotokan matanya menatap ke arah Satria.
“Serius lo?!” perang ketiga kalau kaya gini, lanjutnya dalam hati.
Satria mengangguk mantap.
Keputusannya sudah bulat ia tak ingin lagi mencintai Ayara dalam diam, dia ingin memiliki Ayara dan menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya sebelum orang lain -termasuk laki-laki yang saat ini menjadi ancaman utamanya- lebih dulu memiliki Ayara.