Bagian 18 : Kegiatan Kampus

1638 Words
Tiga hari ke depan Ayara akan mengikuti kegiatan berkemah yang di adakan oleh Kampus ke lokasi yang berada di dataran tinggi. Bukan mendaki gunung sih, hanya berada di sekitarannya saja. Sebuah tempat yang kerap kali di pakai untuk perkemahan. Kegiatan ini memang selalu di adakan pihak kampus tiga kali selama satu tahun dengan Jurusan yang berbeda  dan kegiatan ke tiga ini giliran Jurusan Seni dan Budaya juga Jurusan Hukum yang di mana Renata berada di Jurusan tersebut suatu keberuntunga untuk ketiga sahabat itu karena mereka bisa pergi bersama meski dalam kegiatan nanti lebih sering bersama dengan Jurusan masing-masing yang terpenting bagi mereka di hari terakhir semua akan bergabung dan mereka juga bisa menikmati momen hari terakhir itu bersama-sama. Ayara sedang mempersiapkan keperluannya selama di sana, hanya perlu beberapa barang lagi karena dari kemarin ia sudah mulai mempersiapkan.  Setelah selesai ia menuruni tangga dan bergabung bersama Ibu dan Kakaknya untuk sarapan bersama lalu ia akan segera berangkat ke kampus karena semua mahasiswa harus sudah berkumpul di jam 08.00 pagi dan sekarang sudah jam 07.00 WIB. “Udah siap semuanya? Jangan sampe ada yang ketinggalan terutama obat-obatan,” ucap Sarah saat Ayara sudah duduk bergabung dengan mereka. “Udah, Bun. Bunda tenang aja dari kemarin Yara udah siapin ko.” “Berapa hari?” tanya Bima. “Tiga Hari.” “Hati-hati ya nanti telepon kalau udah sampe sana.” “Iya, Bunda Yara bukan anak kecil lagi jadi tenang aja lagian ada yang lain juga kan,” balas Ayara, Ibunya memang selalu seperti itu tetapi tandanya Ibu begitu khawatir padanya dan tak ingin ia kenapa-kenapa. “Ini pertama kali buat kamu kan ke Gunung.” “Puntang emang buat perkemahan, Bun. Bukan kaya Gurung Bromo yang harus naik Gunung penuh rintangan.” “Iya, ya udah cepet habisin nanti Kak Bima yang anter,” ucap Sarah. Ayara mengangguk dan menghabiskan makanannya, setelah itu mereka berpamitan kepada Sarah untuk segera berangkat.  Hari ini Bima yang mengantarkan Ayara bukan Arion karena laki-laki itu sedang sibuk di rumah sakit dan pagi ini ada salah satu pasien yang harus melakukan operasi dengan jadwal pagi.  Bima membawa tas besar yang akan di bawa oleh Ayara ke dalam mobil sementara Ayara membawa tas yang berukuran kecil yang isinya handphone, dompet, beberapa obat dan juga tissue. *** Mobil Bima sudah berada di parkiran kampus Ayara, banyak mahasiswa yang berlalu lalang dan kumpul di parkiran tersebut termasuk Renata dan juga Joanna yang sudah lebih dulu sampai di kampus.  Ayara keluar dari mobil di ikuti oleh Bima yang kemudian mengambilkan tas yang akan di bawa oleh adiknya. “Kakak gak bisa lama, kamu hati-hati di sana," ucap Bima menyerahkan tas kepada Ayara. “Iya, makasih Kak udah anterin aku.” “Kakak pergi dulu,” pamit Bima kemudian kembali menuju mobilnya. Ayara bergabung bersama yang lain sesuai dengan jurusan mereka, kali ini harus terpisah dengan Renata lebih dulu yang sudah bergabung juga dengan teman-teman satu jurusannya menuju mobil tentara yang akan membawa mereka berangkat ke Puntang.  Ayara bersama Joanna juga sudah berjalan ke arah mobil tersebut dan menempati tempat duduk di bagian tengah setelah mereka membereskan tas yang berukuran besar yang di bawa tiap masing-masing mahasiswa.  Setelah siap akhirnya mobil itu melaju meninggalkan area kampus dan segera berangkat ke tujuan mereka yaitu Puntang. ***  Bandung hari ini cukup cerah sangat mendukung untuk mereka berkegiatan di alam terbuka.  Ini kali pertama Ayara dan juga Joanna mengikuti kegiatan di luar seperti ini yang merupakan kegiatan menjelajah alam berbeda dengan Renata gadis itu memang salah satu anggota himpunan pecinta alam jadi bukan sekali dua kali ia naik Gunung ataupun berkegiatan di alam terbuka seperti ini.  Ketiga sahabat itu memang memiliki kecintaan yang beragam Ayara mungkin lebih kepada membaca novel dan fotografi, Joanna yang sangat mencintai make up dan segala macam kecantikan, sementara Renata si gadis tomboy yang jatuh cinta dengan alam dan juga panjat tebing sangat cocok jika ia memiliki pasangan yang juga mencintai kegiatan yang sama.  Sayangnya meski kedua sahabatnya bilang mencari pasangan yang juga memiliki hobi yang sama, Renata malah tak ingin karena bagi dia perbedaan malah membuat semuanya berwarna seperti halnya persahabat mereka bertiga. *** Perjalanan yang mereka tempuh lumayan memakan waktu, namun semua itu seolah tak seberapa karena lokasi yang mereka tuju merupakan perkemahan yang sudah di kenal oleh khalayak ramai.  Mobil yang membawa rombongan dari kampus Ayara pun tiba di tempat tujuan semua saling bahu membahu menurunkan barang bawaan mereka termasuk dengan peralatan berkemah seperti tenda, alat masak dan juga bahan makanan untuk semua mahasiswa yang akan di bagi sesuai jurusan agar memudahkan panitia.  Ayara dan Joanna mendapat tugas untuk membawa beberapa bahan makanan untuk jurusan mereka berjalan menuju tempat di mana mereka akan mendirikan tenda, mereka menaiki tangga-tangga yang hanya berupa tanah yang jika hujan turun sudah pasti akan begitu licin dan harus hati-hati. Sesampainya di tempat untuk mendirikan tenda, beberapa mahasiswa sudah mulai mendirikan tenda mereka adalah panitia penyelenggara yang sudah datang lebih dulu ke sini.  Beberapa tenda sudah terpasang mungkin ada sekitar delapan tenda yang terpasang dengan ukuran sedang muat empat sampai lima orang mahasiwa.  Sementara tenda yang besar untuk panitia konsumsi dan juga yang lainnya karena barang yang harus di simpan di dalam tenda tersebut juga banyak. Kegiatan di hari pertama ini istirahat lebih dulu sebelum acara pembukaan di mulai sore hari nanti. Ayara dan Joanna masuk ke dalam tenda mereka bersama dengan dua orang lainnya menaruh tas dan membagi tempat posisi tidur mereka.  Barang yang di bawa oleh Ayara yang ia kira begitu banyak nyatanya tak seberapa di bandingkan dengan gadis yang baru saja duduk di sampingnya.  Ya siapa lagi kalau bukan Joanna si gadis populer di jurusan mereka lihat saja bahkan ia membawa dua tas besar dan satu tas kecil yang Ayara yakini berisi dompet dan handphonennya saja.  Ayara sampai menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya ini. “Lo bawa apa aja sih Jo?” tanya Ayara saat Joanna sedang membuka tas pertama dan mengeluarkan alat mandi miliknya. “Ya bawa baju ganti dong, sama kaya lo.” “Perasaan gue cuma satu tas doang deh dan lo dua Jo. Lo bawa semua baju dari lemari di kamar ya. Gue yakin Renata pasti komentar udah kaya kereta apikan, panjang banget.” “Uhh ... Bukan lagi, Ra. Tadi gue kena semprot dia katanya ya ngapain sih bawa barang sampe segunung lo mau kemah atau liburan ke luar negeri, gitu tahu Ra. Lah terserah gue dong, yang bawa siapa coba ya kan Ra.” “Heh.! Jojo yang untungnya di sayang Dito. Wajar kali kalau Renata sampe segitunya lo juga terlalu berlebihan. Gak sekalian aja lo bawa sekeluarga ke sini.” “Hehe.. kan gue gak tahu harus bawa apa aja, Ra. Jadi ya gue bawa aja yang menurut gue penting.” “Terus ini semua penting? Lo bawa catokan ke sini Jo, emang kocak lo.” “Udah deh, itu kalau darurat biar rambut gue tetep oke.” “Terserah lo aja deh, gue keluar tenda dulu lah. Minta minuma sama panitia,” ucap Ayara kemudian beranjak dan keluar dari tenda mereka. “Lah gue salah mulu,” gumam Joanna melihat Ayara yang sudah keluar. Ayara berjalan ke arah tenda panitia yang tak jauh dari tendanya berada, yang lain juga banyak yang berada di luar untuk menikmati suasana di sini apalagi acara masih di bebaskan dan suatu keberuntungan mereka untuk mengabadikan momen di sini tanpa gangguan dari panitia lain yang akan menegur.  Ayara sudah berada di tenda konsumsi beberapa mahasiswa juga ada di sana sedang memasak mie rebus sementara dia hanya akan mengisi botol minumnya saja. “Mau mie?” suara seseorang membuat Ayara menoleh ke arah samping. Ayara tesenyum kecil ternyata itu Satria, “Nggak Kak, makasih.” Satria mengangguk, “Temenin gue mau gak? Sekalian ngobro aja.” “Hah? Oh.. Bo-leh," meski ragu tapi Ayara tetap mengikuti Satria yang sudah lebih dulu keluar dari tenda konsumsi kemudian menuju sebuah tempat duduk sebuah batu besar tak jauh dari tenda tersebut. “Udah pernah kemah?” tanya Satria memulai obrolan. “Ini yang pertama.” “Lo....” suara Satria terjeda saat suara handphone terdengar dan ternyara handphone milik Ayara. “Sorry, Kak. Gue angkat telepon dulu, ternyata masih ada sinyal di sini.” “Oke.” Satria mengangguk kemudian Ayara berjalan dan agak menjauhi Satria untuk mengangkat telepon dari Arion. “Halo..” “Udah sampe mana?” “Udah di lokasi.” “Kenapa gak kasih kabar?” “Udah kasih kabar ke Bunda.” “Sama aku, Ay.” “Harus?” “Ck.. Iyalah, sekarang lagi apa?” “Hah? Apa? Gak jelas kayanya gak ada sinyal ni.” “Ya udah nanti aku--" Tut. “Yah putus, namanya di gunung ya gini,” gumamnya saat panggilan dari Arion terputus padahal laki-laki itu sedang bicara akhirnya Ayarapun kembali ke tempat Satria tadi. *** Arion menatap layar handphonenya panggilan bersama dengan Ayara tadi terputus begitu saja mungkin karena di sana susah sinyal padahal ia masih ingin berbicara kepada Ayara, memastikan kalau gadis itu tak lupa membawa obat dan perlengkapan lainnya karena Ayara berkegiatan di luar ruangan dan di area perkemahan gunung Puntang. Arion sudah paham betul bagaimana situasi di sana apalagi di malam hari mengingat ia merupakan salah satu anggota pecinta alam di kampus dulu.  Saat siang kondisi di Puntang mungkin bisa di katakan teduh karena banyak pepohonan yang mengeliligi area perkemahan namun saat malam hari apalagi masuk ke tengah malam maka udara dingin yang begitu menusuk kulit bahkan ia juga di buat setengah menggigil saat tidur meski memakai beberapa lapis pakaian dan juga jaket tebal.  Belum lagi suasana di sana yang di kenal cukup angker membuat bulu kuduk merinding jika ingin ke kamar mandi di tengah malam di saat suasana begitu sunyi sepi. Karena itulah Arion mengkhawatirkan gadisnya. “Untung besok gue nyusul ke sana,” gumamnya kemudian menyimpan kembali handphonenya di atas meja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD