Bagian 17 : Maju Selangkah

1307 Words
Pertunangan Arion dan juga Ayara akhirnya berlangsung hari ini setelah satu bulan mereka melewati pendekatan hubungan mereka sekarang bisa di bilang jauh dari sebelumnya meski masih belum seperti pasangan lainnya yang terkadang bermesraan mereka selalu saja ada hal yang menjadi perdebatan tetapi karena itu juga mereka tampak semakin dekat. Malam nanti di rumah Ayara akan di adakan acara pertunangan dirinya dan Arion, semua sudah di siapkan dengan sangat matang.  Dua keluarga begitu tak sabar menyambut hari ini karena akhirnya sebentar lagi mereka akan menjadi besan seperti apa yang selama ini mereka inginkan. Ayara berada di dalam kamar bersama dengan Joanna dan juga Renata, sudah dari kemarin mereka berdua menginap di rumahnya karena Ayara sendiri yang ingin di temani apalagi beberapa hari menuju hari pertunangannya bersama dengan si Dokter muda itu membuat Ayara susah tidur alhasil selalu menelepon Joanna atau Renata untuk menemani dirinya yang susah tidur. Dua sahabatnya begitu mengerti dengan apa yang di rasakan Ayara, namun mereka sama sekali tak mengira Ayara akan segugup ini padahal belum ke acara inti yaitu pernikahan, tetapi gadis itu sudah di landa kegelisahan akan acara pertunangannya.  Tak ingin hanya sekedar memberikan ketenangan lewat telepon akhirnya Joanna mengajak Renata untuk menginap di rumah Ayara setidaknya mungkin dengan kehadiran mereka secara langsung untuk menemani Ayara gadis itu akan sedikit tenang. “Gue gugup.”  Ini yang ke lima kalinya Ayara mengatakan hal yang sama membuat Joan dan Renata memutar bola matanya malas. Mereka bosan mendengar perkataan tersebut dari bibir sahabatnya. “Lo udah ngomong itu lima kali, Ra.” “Iya lagian santai aja, kan kita udah bilang sama lo semua bakalan lancar apa lagi yang bikin lo ngerasa gugup.” “Ah ... lo semua gak ngerasain, gue gugup soalnya kalau udah tunangan artinya sebentar lagi gue nikah dong. Abis itu gimana.” Kali ini ucapannya seperti sebuah rengekan anak kecil yang menginginkan sebuah permen. “Ya abis bikin an... aww..” ringis Joanna saat cubitan kecil singgah di lengannya. Pelakunya sudah pasti Renata. “Omongan lo di saring dikit napa, Jo.” “Lah salah gue apa? Benerkan abis nikah ya punya anak.” “Lo tadi gak ngomong gitu,” kesal Ayara. “Apa dong?” Joanna pura-pura lupa dengan apa yang akan dia katakan.  Padahal dalam hati ia ingin sekali menggodaa sahabatnya itu bukan hal yang di larang juga kan kalau mereka membahas hal seperti itu, mereka bukan anak berumur 17 tahun lagi. “Gak tahu, udah lupain aja,” ucap Renata.  Kemudian pintu kamar Ayara terbuka dan Sarah muncul mengajak mereka untuk segera ke bawah karena keluarga Arion sudah datang.  Mendengar hal tersebut jantung Ayara kembali berdebar padahal tadi ia sudah sedikit tenang tetapi sekarang kegugupan itu kembali menyelimuti dirinya. Mereka pun mengikuti Sarah yang sudah lebih dulu keluar dari kamar Ayara, kemudian berjalan bersama-sama menuruni tangga dengan Ayara yang bersebelahan dengan Sarah sementara Joanna di belakang mereka bersama dengan Renata.  Hari ini Ayara tampak begitu cantik dengan rambut yang di sanggul hasil karya Joanna termasuk dengan make up di wajah Ayara semua hasil Joanna. Keluarga Arion berada di ruangan tengah yang sekarang sudah di dekorasi sedemikian rupa menjadi terlihat lebih formal untuk acara pertunangan Ayara dan Arion.  Setibanya Ayara di hadapan keluarga Arion termasuk beberapa teman Arion yang ternyata hadir juga, acara pertunangan mereka pun segera di mulai cincin yang beberapa waktu lalu di beli oleh mereka akhirnya tersemat di jari tangan keduanya, mereka sudah resmi bertunangan dan sebentar lagi melangkah ke jenjang yang lebih serius dan juga lebih sakral yaitu pernikahan. Acara selanjutnya di lanjutkan dengan makan bersama di tambah obrolan yang terjalin di antara mereka bersama.  Ayara bersama dengan kedua sahabatnya sudah duduk bertiga tak bergabung dengan para orang tua begitu juga dengan Arion yang memilih untuk berada di halaman belakang bersama dengan Bima - calon kakak iparnya- Dito dan Josep yang juga hadir di acara mereka. “Gak nyangka gue di langkahin,” ucap Dito terkekeh, pasalnya selama ini dia yang lebih dulu berpacaran tetapi Arion yang lebih dulu bertunangan, hal yang begitu tak terduga. “Mending lo minta uang penglangkah, Dit.” timpal Josep mendukung. “Boleh juga ide lo.” Dito dan Josep tertawa bersama melihat Arion yang berdecak. “Heh! Harusnya gue yang di kasih uang penglangkah, kan lo mau nikah sama adek gue," ucap Bima.  “Lah kan lo udah pernah," balas Dito.  “Gak usah di ungkit.” Ekspresi wajah Bima mulai berubah datar. “Ah sorry, lupa gue,” ringis Dito, apalagi setelah melihat wajah Bima yang mulai berubah tak ramah. “Wess ... dari pada bengong, makan aja makan. Gue baru inget kalau belum makan dan cobain semua makanan di sini,” ucap Josep mencairkan suasana di antara mereka.  Kemudian Dito mengajak Josep untuk mengambil makanan sementara Arion masih bersama dengan Bima di tempatnya. “Gak usah terlalu di pikirin, Bang," ucap Arion saat seperti ini dia memang selalu memakai panggilan ‘Bang’ pada Bima. “Hmm,” gumamnya namun Arion tahu Kakak dari calon istrinya itu sedang memikirkan sesuatu. “Dia udah bahagia,” ucap Arion. “Gue tahu.” “Lo mau ketemu sama Ge?” tanya Arion yang di jawab dengan gelengan oleh Bima. “Buat apa, Yon? Tiap kali gue lihat Ge yang ada gue inget dia. Gue masih belum bisa ketemu.” “No problem, Ge juga baik-baik aja tapi jangan sampe nyesel kalau nanti dia manggil lo berbeda.” “Gapapa, gue tahu itu pasti terjadi.” “Kalau lo mau ketemu, lo bisa bilang sama gue karena lo berhak.” *** Ayara kali ini sudah berada di dalam kamarnya, pertunangan dia dan Arion hari ini berjalan dengan lancar. Mereka tak banyak bicara berdua terlalu asik dengan sahabat mereka sendiri.  Malam ini setelah hari yang begitu panjang ia bisa kembali merebahkan tubuh di atas tempat tidur dengan perasaan yang lega bukan perasaan yang gelisah seperti malam malam yang lalu.  Tetapi meski merasakan kelegaan bukan berarti ia tak memilkirkan apa yang terjadi setelah ini, ia tetap memikirkannya tentang pernikahan dirinya bersama Arion dan kehidupan mereka nanti. Handphone Ayara berbunyi saat gadis itu hendak memejamkan mata, kemudian ia kembali merubah posisinya menjadi duduk di atas tempat tidur setelah mengambil handphone yang sedari tadi tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya. Kak Arion: Belum tidur kan?  Pesan yang di kirim oleh Arion. Ayara pun mengetikan balasan kepada Arion yang langsung di baca oleh laki-laki itu. Ayara : Gak bisa tidur. Kak Arion : Kenapa? Ayara : Gak tahu. Tak ada balasan lagi namun sekarang Arion membuat panggilan video yang bisa ia lihat di layar handphonenya.  Begitu panik dengan apa yang di lakukan oleh Arion ia menyisir rambutnya lebih dulu sebelum mengangkat panggilan video dari laki-laki itu. “Ko lama?” “Ngapain video sih?” tanya Ayara balik. “Karena mau.” jawab Arion. “Lagi apa?” lanjutnya. “Gak ngapa-ngapain,” balas Ayara. “Terus kenapa lama angkat videonya, kan handphone kamu di tangan.” “Yaa ...” “Dandan dulu ya.” “Idih.. pede banget.” “Kali aja.” Mereka pun membahas acara tadi siang, entah kenapa Ayara bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan tadi, kegugupan, ketakutan dan semua perasaan yang bercampur menjadi satu ia ungkapkan kepada Arion saat ini.  Sementara Arion dengan sabar mendengarkan apa yang di katakan calon istrinya lewat video call malam ini. Ia tahu Ayara merasakan perasaan semua itu karena ia juga merasakannya hanya saja ia berhasil menutupi semua itu. Semakin malam mereka masih asik berbicara lebih tepatnya Ayara sampai akhirnya gadis itu mengantuk dan terlelap saat Arion sedang bicara padanya.  Melihat Ayara yang sudah terlelap dengan posisi menyamping Arion tersenyum kecil, panggilan video mereka masih tersambung entah bagaimana gadis itu masih begitu erat memegang handphonenya Arion tak tahu namun ia merasa beruntung bisa melihat gadisnya tertidur seperti ini. “Mimpi indah, Ay,” ucapnya sebelum ia mematikan panggilan tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD