“Kamu kenapa?” tanya Arion.
“Gapapa,” balas Ayara.
Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil menuju rumah Ayara, seperti janji Arion tadi pagi ia akan menjemput Ayara jika gadis itu sudah selesai dengan kelasnya.
Ayara masih kepikiran dan benar-benar di buat bingung karena cerita Renata di kantin tadi tentang Satria yang memiliki perasaan padanya meski Renata dan Joanna bilang untuk bersikap biasa saja tetapi Ayara tak yakin dengan hal itu.
Pasti akan ada perasaan tak enak hati apalagi ia satu jurusan dengan Satria bahkan di organisasi pun mereka memiliki peluang untuk saling bertemu.
Arion yang melihat Ayara kembali melamun hanya mendiamkan gadis itu, mungkin ia sedang memikirkan tugas kampusnya yang membuat pusing atau hal lain?
Meski Arion penasaran namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, hubungan mereka sudah mulai membaik jadi Arion tak ingin malah membuat keadaan seperti semula.
Mereka berdua dalam mobil yang sama dan hanya di temani keheningan juga suara suara klakson yang saling bersahutan di jalanan Kota Bandung.
Mobil Arion sudah terparkir di depan rumah Ayara, mereka pun keluar secara bersama-sama dari dalam mobil kemudian berjalan menuju rumah Ayara.
Rumah tampak sepi mungkin Ibunya tengah tidur siang dan beristirahat di kamar sementara Bima memang masih di rumah sakit.
Ayara mengajak Arion ke ruangan tengah kemudian ia pergi ke kamar untuk berganti baju dan Arion memilih untuk menonton televisi, benar-benar seperti rumahnya sendiri.
Tak berselang lama, Ayara menuruni tangga kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang tadi memang Ayara bilang untuk makan di rumah saja karena ia akan memasak saat Arion bertanya ingin makan siang di mana.
Ayara membuka kulkas melihat ada bahan apa untuk di masak olehnya hanya tahu, sosis, bakso goreng dan sayuran lalu ia membuka lemari lain dan melihat ada persediaan kerupuk mentah sampai ide muncul ia akan membuat seblak salah satu makanan asli Bandung yang bahan utamanya adalah kerupuk.
Ayara pun mulai sibuk dengan bahan masakannya, pertama ia menyiapkan bumbu terlebih dahulu bawang putih, cabai, kencur, gula dan garam ia ulek sampai halus setelah itu menyiapkan minyak untuk menumis bumbu yang sudah di haluskan, mencampur dengan air dengan takaran sedang setelah itu memasukan kerupuk secukupnya di tambah dengan potongan tahu, sosis, bakso dan terakhir sayuran.
Seblak yang ia buat sudah matang, ia sengaja menambahkan air agar seblak itu berkuah sebenarnya seblak asli itu di sajikan dengan benar-benar tanpa kuah namun karena banyak yang memodifikasi akhirnya sekarang ini lebih banyak di jumpai seblak yang berkuah namun tak merubah cita rasa dari seblak tersebut justru semakin laris di pasaran dengan harga yang beragam.
Ayara menyimpan mangkuk yang berisi seblak di atas meja makan kemudian ia berjalan ke ruang tengah untuk mengajak Arion makan siang.
Saat di ruang tengah ia melihat Arion yang meyandarkan tubuhnya di sofa dan ternyata mata laki-laki itu terpejam, ia melihat raut wajah yang begitu tenang melihat Arion yang tertidur membuat Ayara ragu untuk membangunkannya tapi laki-laki itu juga belum makan siang.
“Kak ...” tangannya terulur menyentuh bahu Arion.
“Ih malah tidur,” gumamnya.
“Kak Arion.”
“Hmm ...” Arion bergumam namun masih memejamkan matanya membuat
Ayara gemas kenapa laki-laki ini susah sekali di bangunkan. Apa dia harus mencipratkan air di wajah Arion?
“Kakak!!” suaranya mulai kencang membuat kedua mata Arion akhirnya terbuka manatap Ayara yang sudah berada di hadapannya.
“Ngantuk,” gumam Arion hendak memejamkan matanya kembali namun Ayara mencegahnya.
“Jangan tidur lagi, makan dulu. Aku udah masak.”
“Masak apa?”
“Masak air.”
“Serius Ay,” geram Arion mendengar jawaban asal dari mulut Ayara.
Gadis itu terkekeh, “Pokoknya spesial buatan aku, buruan ah laper ni.”
Ayara memilih untuk lebih dulu berjalan kembali ke ruang makan, sementara Arion baru saja mengikuti gadisnya dari belakang perutnya juga sudah lapar dan ia penasaran apa yang Ayara masak untuk makan siang mereka.
Berada di ruangan makan Arion sudah duduk di hadapan Ayara, kemudian tatapan matanya terarah pada satu mangkuk besar di atas meja, sudah lama di Bandung tentunya ia sudah tahu dengan makanan yang di masak oleh Ayara.
“Seblak,” ucap Arion yang di angguki Ayara.
“Gak suka?” tanya Ayara.
“Suka.”
“Ya udah, jangan protes.”
“Siapa yang protes, aku memastikan aja.”
“Nasi nya segimana, aku masih gak tahu porsi Kakak.”
“Udah segitu cukup, jadi sekarang udah biasa layanin aku.”
Arion terkekeh, rasanya menyenangkan ada yang melayani dia seperti ini meski mereka belum resmi menjadi pasangan suami istri tetapi gadis itu selalu saja menyiapkan piring dan nasi saat mereka makan bersama di rumah.
Mungkin karena ia ingat perkataan Ibunya Arion yang harus membiasakan diri jadi seolah sudah nalurinya sendiri Ayara melakukan hal tersebut tanpa harus di suruh lagi baik oleh Ibunya atau juga orang tua Arion.
“Diem gak usah komen, serba salah,” timpal Ayara.
Arion malah tertawa melihat raut wajah gadisnya yang mulai kesal entah kenapa ia selalu ingin melihat raut wajah itu, terlalu menggemaskan sampai Arion menyukainya.
***
Malam ini Arion mengajak Ayara untuk pergi menonton, entah kenapa laki-laki itu belum juga mau pulang padahal Ayara kira Arion akan pulang setelah ia makan siang di rumah tetapi perkiraan Ayara salah justru laki-laki itu malah terlihat santai menonton televisi kembali seolah rumah Ayara adalah rumah sendiri.
Ayara benar-benar heran apa yang sebenarnya terjadi kepada Arion apakah benar laki-laki terbentur sesuatu meski Arion bilang ia ingin memperbaiki hubungan mereka dan menjalani seperti pasangan di luaran sana.
Tetapi itu semua malah terlihat asing di mata Ayara apalagi dengan sikap Arion yang berubah drastis namun hati kecilnya juga merasa bahagia jika memang ada kemauan dalam diri Arion untuk berubah kalau seperti itu maka dirinya juga akan berusaha dengan baik untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan menjadi pasangan pada umumnya dan terlepas dari penikahan karena sebuah perjodohan.
Ayara berjalan di samping Arion dengan tangan laki-laki itu yang menggandeng tangannya sedari tadi, mereka baru saja masuk ke dalam bioskop seperti ajakan Arion kalau mereka malam ini akan menonton.
Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB dan setengah jam lagi film mereka akan tayang, di jalan tadi Ayara memang memesan tiket secara online agar tak perlu mengantri dan menghemat waktu mereka.
Setelah membeli minum dan juga popcorn mereka pun masuk ke dalam studio satu. Arion dan Ayara duduk di barisan A dengan nomor 9 dan juga 10 karena dua kursi itu yang masih tersisa di barisan A saat Ayara membeli tiket tadi, akhinya gadis itu memilihnya karena jika harus di barisan yang lain rasanya tak nyaman ia biasa duduk di barisan A dan B namun di barisan B saat itu semua terisi penuh untung masih ada dua kursi di barisan A.
Tak berselang lama film pun di putar mereka menonton dengan begitu serius terutama Ayara yang memang menginginkan menonton film ini, tadinya ia akan menonton bersama kedua sahabatnya tetapi masih belum memiliki waktu.
Jika kalian menebak film yang Ayara inginkan adalah bergendre romance itu salah karena pilihan dia pada horor sebuah film yang di angkat dari salah satu novel karya penulis asal Bandung yaitu Risa yang berjudul Maddah.
Ia memang menyukai karya Risa dan selalu menantikan filmnya. Sementara Arion hanya perlu menyetujuinya saja bahkan ia tak menyangka gadis itu ternyata memilih genre horor di bandingkan dengan romance seperti kebanyakan perempuan lain di luar sana, sudah ia katakan kan kalau Ayara memang berbeda.
Sepanjang penayangan film tersebut, Ayara yang awalnya merasa berani untuk menonton film ini ternyata ciut bahkan setiap kali adegan menegangkan tubuhnya dengan otomatis merapat ke samping di mana Arion duduk lalu menutup kedua matanya.
Berbeda dengan gadis tersebut, Arion menonton dengan begitu tenang meski kerap kali menoleh ke arah gadisnya yang wajahnya begitu menggelikan saat melihat adegan yang menegangkan. Arion tertawa dalam hati saat melihat Ayara yang ketakutan padahal gadi itu yang memilih film ini.
***
Satu jam lebih Ayara berada dalam situasi menegangkan mnenurutnya akhirnya ia merasa kembali bernafas saat keluar dari studio bersama dengan Arion.
“Salah ni nonton horor malem malem.” gerutunya saat mereka keluar dari Bioskop.
“Kamu kan yang pilih.” ucap Arion.
“Iya kirain gak akan serem.”
“Mana ada film horor yang lucu, Ay.”
“Ya kali aja.”
“Aneh kamu. Makan atau langsung pulang?” tawar Arion pada Ayara.
“Makan, aku laper.”