Bagian 15 : Fakta Satria

1556 Words
“Nanti kasih tahu kalau udah selesai," ucap Arion sebelum Ayara keluar dari mobil, mereka sudah berada di parkiran kampus. “Mau apa?” tanya Ayara menatap Arion heran. “Jemput.” “Sumpah ya Kakak aneh tahu gak.” “Aneh? Kenapa?” “Ya aneh menurut aku, jadi perhatian kaya gini. Anterin ke kampus terus mau jemput juga. Biasanya kan nggak kaya gini.” Arion membalikkan tubuh berhadapan dengan Ayara kemudian menarik pelan kedua tangannya. Arion menatap Ayara dengan tatapan yang begitu lembut. “Aku mau kita menjalani perjodohan ini tanpa paksaan, menikah satu kali dan itu sama kamu. Aku mencoba buat terbiasa sama kamu karena kelak kita akan hidup bersama, di satu atap sama.”  Baru pertama kalinya Ayara mendengar perkataan Arion sepanjang ini, biasanya laki-laki itu hanya bicara sedikit saja. “Kita jalani semua kaya pasangan di luar sana, pergi jalan, antar kamu ke kampus kaya gini, makan malam bareng, nonton film, kita pacaran,” lanjut Arion.  “Pacaran? Kita kan udah mau tunangan terus nikah.” “Ya gapapa, biar kita tahu satu sama lain dan gak ada hal yang di tutupi lagi. Kamu mau kan?” Ayara masih tak percaya dengan apa yang di katakan oleh laki-laki di hadapannya ini, meski sejauh ini ia juga sempat berpikir ingin menjalani hubungan bersama dengan Arion tanpa harus terikat dengan alasan perjodohan.  Ayara ingin semua berjalan dengan sendirinya, mengenal Arion lebih dalam dan saling mengerti satu dengan yang lainnya. Tanpa ia sangka Arion juga memiliki pemikiran yang sama namun entah kenapa hatinya masih sedikit ragu, ada hal yang masih mengganjal dalam hatinya terutama tentang dirinya sendiri apakah ia bisa menjadi pendamping laki-laki di hadapannya ini?  Sentuhan lembut di pipinya membuat Ayara tersadar lalu melihat Arion yang tersenyum kecil. “Kalau kamu masih ragu gapapa. Pelan-pelan.” “Kakak yakin menjadikan aku sebagai pendamping hidup nanti," ucap Ayara dengan suara pelan, tanpa rasa ragu Arion mengangguk. “Yakin, mungkin kamu adalah jawaban dari do’a aku.” Mendengar perkataan Arion membuat Ayara terharu bahkan kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca, Arion yang melihatnya langsung menarik tubuh Ayara ke dalam dekapannya.  Ini pertama kalinya mereka berpelukan bahkan ia merasa hatinya menghangat, memeluk gadis ini membuat ia seolah utuh, separuh jiwanya lengkap. “Udah sana, nanti telat," ucap Arion setelah melepas pelukan mereka. "Jelekk.” Arion terkekeh mengusap pipi Ayara yang basah. “Emang tetep aja gak ada manis-manisnya,” gerutu Ayara. “Nanti diabetes kalau terlalu manis.” “Bodo!” “Ambekan.” “Terserah.” Cup. Satu kecupan di kening Ayara membuat gadis itu terdiam.  Arion lah pelakunya, sedari tadi ia menahan untuk tak melakukan hal-hal aneh tapi akhirnya tak bisa menahan lagi ia terlalu gemas pada calon istrinya.  Lagi  pula ini bukan hal aneh kan. *** Ayara baru saja keluar dari kelas pertamanya, selama mengikuti perkuliahan tadi ia benar-benar tak bisa konsentrasi bagaimana bisa konsentrasi kalau bayangan Arion yang mengecup keningnya terus saja menghantui pikirannya.  Dasar Dokter robot!  Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan tadi meski hubungan mereka kian membaik tapi rasanya masih begitu aneh jika melakukan hal romantis walau ia sering sekali membayangkan adegan romantis seperti di dalam novel yang ia baca tapi mengalami secara langsung membuat kesehatan jantungnya terganggu. “.... Jadi gitu, Ra. Lo mau kan bantuin gue?” Joanna yang berjalan di samping Ayara merasa ada yang aneh dari sahabatnya ini.  Sedari tadi ia sedang bercerita dan meminta bantuan kepada Ayara agar memilihkan hadiah untuk di berikan kepada Dito -kekasihnya. “Ra..!!” Joanna menepuk bahu Ayara mambuat gadis itu tersentak. “Astaga ...Yara ... gue sampe berbusa ngomong sama lo dan ternyata gak di dengerin, Tuhan ... ampuni diri ini kenapa Kau kirimkan sahabat seperti dia di hidupku yang indah ini,” ucap Joanna terlalu mendramatisir. “Drama lo!!” ejek Ayara membuat Joanna menatap gadis itu tajam. “Heh! Gimana gak sakit hati gue, dari tadi ngomong panjang lebar tapi gak di dengerin sama lo. Gue orang bukan radio.” Ayara terkekeh, "Ya maaf, emang lo ngomong apa? Coba ulang.”  Ayara seolah tak merasa bersalah, untung saja mereka sudah begitu lama bersahabat jadi hal ini memang sering terjadi meski kerap kali kesal tapi masing-masing dari mereka tak terlalu memasukkannya ke dalam hati.  Kalau pun memang kesal dengan salah satunya mereka akan berbicara serius dan mengeluarkan kekesalan mereka namun setelah itu semua kembali normal seolah yang sudah mereka bicarakan tak pernah terjadi. “Intinya gue minta bantuan sama lo, kasih gue ide hadiah apa yang cocok buat Dito. Gue udah pusing banget ini.” “Hadiah? Emangnya dia ulang tahun?” “Iya, dua hari lagi.” “Hmm ... kalau lo kasih dia masakan bikinan lo sendiri gimana? Kan selama ini mana pernah lo masak buat dia terus gak harus kasih barang juga kan terlalu biasa.” “Lo ngeledek gue? Lo tahu sendiri gue gak bisa masak.” “Ya belajar Jo. Usaha dikit lah, gue yakin si Dokter Dito bakal seneng banget di masakin sama lo. Gue pernah denger kalau dia pengen coba masakan dari tangan lo sebagai pacarnya.” “Serius? Kapan lo denger itu?” “Udah lama, gue gak sengaja aja waktu Dito ada di ruangan Kak Bima.” “Oke deh, lo ajarin gue ya dari kita bertiga kan lo yang paling jago soal masak memasak. Apalagi bentar lagi lo jadi istri.” “Gak ada hubungannya, mau sebentar lagi atau masih lama. Cewek itu harus belajar masak, gak harus juga sih cuma agak gimana gitu kalau belum bisa masak minimal satu menu makanan.” “Iya baiklah, chef Ayara. Besok lo ajarin gue oke?” “Kalau gue gak sibuk.” “Ah laga lo so sibuk, paling lo ngedrakor.” “Nah itu salah satu kesibukan gue.” “Skip sekali aja bisa kali, Ra. Demi sahabat lo yang cantik jelita ini.” “Idih narsis.” “Pokoknya besok gue ke rumah beres kelas.” “Iya iya.” Mereka berjalan menuju kantin seperti biasa tiga sahabat itu akan bertemu di kantin yang berada di tengah-tengah fakultas mereka mengingat mereka mengambil jurusan yang berbeda terutama dengan Renata.  Alhasil waktu yang tepat untuk mereka berkumpul di saat sama-sama memiliki jam kosong dan untungnya selama satu minggu ada tiga jam kosong di hari yang berbeda jadi mereka bisa bertemu. “Lo gak pernah bawa mobil lagi, Ra?” tanya Joanna, kali ini mereka sudah duduk di kursi kantin menunggu kedatangan Renata. “Tadinya hari ini, eh di jemput.” “Siapa? Pak Dokter?” Ayara mengangguk. “Ciee ... udah mulai baik ni hubungan kalian. Kalau kaya gini jadi dong nikah.” Joanna menatap Ayara dengan alis yang di naik turunkan. “Perasaan baik gak baik tetep aja nikah.” “Ya seenggaknya gak ada lagi tu alesan perjodohan tapi lo sama Kak Arion jalani hubungan ini dengan semestinya. Kaya pasangan lain dan ini bagus dong buat kalian berdua.” Jelas Joanna. “Ya semoga aja, gue sama dia juga mau jalanin ini kaya pasangan lain yang gak terikat karena perjodohan doang. Kita mau hapus alasan dari adanya hubungan ini.” “Serius amat lo pada.”  Suara Renata membuat kedua gadis yang sedang mengobrol tadi menatapnya secara bersama-sama. “Bahas apa sih?” tanya Renata kemudian duduk di samping Ayara. “Biasa soal perjodohan yang berakhir harus nikah tu," tunjuk Joanna pada Ayara yang duduk di hadapannya. Renata menoleh ke arah kiri., “Ada yang gue lewati ya? Pernikahan lo batal?” “Enak aja lo!” semprot Ayara membuat Renata tertawa pelan. “Bercanda Zheyeng. Ada apa sih? Gue kepo akut sumpah dah.” “Intinya hubungan Yara sama si Dokter mulai berjalan baik, mulus kaya jalan tol.” “Wah ... bagus dong, perkembangan yang cukup membuat gue ikut seneng tapi juga galau gara-gara dua sahabat gue punya pasangan eh gue masih aja kaya gini.” “Sabar, gue jodohin sama si Keset mau?” tawar Joanna sudah seperti agen biro jodoh. “Ohh ... tentu tidak, terima kasih Jojo. Emangnya lo gak tahu kalau dia suka sama Ayara?” “Hah?! Gue? Kata siapa lo?” pekik Ayara. “Emang ini anak satu kagak peka, gini ya Ra. Gue yang jarang ketemu sama Kak Satria aja udah bisa tebak kalau dia suka sama lo. Ya lo aja yang kurang peka sama sekitar lo terutama sama cowok. Dilihat dari tatapannya ke lo aja beuhh ... udah fix dia suka!” cerocos Renata. Ayara terdiam,. Apa benar Seniorr yang selama ini sudah ia anggap seperti Kakaknya sendiri memiliki perasaan lebih padanya?  Kenapa dia tak pernah bisa peka dengan sekitarnya, mendengar apa yang di jelaskan Renata membuat ia berpikir apa selama ini perhatian dan sikap baik Satria padanya karena laki-laki itu menyukainya? “Lo gak lagi bercanda kan, Ren?” tanya Ayara pada gadis di sampingnya.  Renata menggeleng kemudian Ayara menatap ke arah Joanna seolah mencari jawaban yang lain tetapi gadis itu juga hanya mengangkat bahunya kalau dia sendiri tak tahu dengan fakta itu. “Ah .. gue jadi gak enak," gumam Ayara. “Cukup tahu aja, Ra. Jangan sampe lo jaga jarak karena tahu ini.” “Bener, bersikap kaya biasa aja," timpal Joanna dan Ayara mengangguk singkat mendengar ucapan dari kedua sahabatnya itu. Meski ia sendiri belum tahu apa yang nanti dia lakukan jika bertemu dengan Satria di saat ia sudah tahu perasaan Satria padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD