Bagian 14 : Arion Aneh

1198 Words
Tika -Ibu Arion- menatap Arion yang baru saja duduk bergabung bersama mereka di meja makan, penampilan anaknya hari ini begitu rapi padahal setahu dia hari ini Arion memiliki jatah libur dari rumah sakit dan jika libur lalu sarapan bersama mereka Arion masih menggunakan pakaian yang di kenakan saat tidur. Tetapi pagi ini begitu berbeda.  Apa mungkin dia salah mengira dan hari ini Arion tetap berangkat ke rumah sakit? “Bukannya kamu dapet libur hari ini?” akhirnya dia memilih untuk bertanya pada Arion dari pada di buat penasaran.  Arion mengangguk singkat. “Mau pergi?” Tika kembali bertanya. “Jemput Ayara, Ma.” “Uhukk...”  Zea yang tengah meminum susuu vanilla tersedak karena mendengar perkataan Kakaknya.  Kemudian gadis berseragam SMA itu menatap Kakaknya dengan senyum jahil yang begitu menyebalkan menurut Arion.  Begitu juga dengan yang lain yang terlihat dengan jelas bahwa tatapan mata mereka mengarah pada Arion. Arion mengernyit heran, “Kenapa?” Tika menggeleng namun tak bisa menahan senyum bahagianya, sementara Ayah mereka -Bryan- kembali menyantap sarapannya.  Berbeda dengan sikap santai yang di tunjukkan kedua orang tua Arion, adik kembarnya masih menatap Arion dengan tatapan yang sama, bahkan Arion bergidik geli saat melihat kedua mata Zea yang mengedip centil. “Apa sih?” tanya Arion. “Ze ...” ucap Zoel pada kembarannya, mengabaikan pertanyaan dari Kakak mereka yang masih menatap ke arah si kembar.  “Apa?” “Kayanya ada yang manis-manis gitu.” “Apaan? Air minum yang di iklan itu? “Bukan, ini lebih manis sampe bikin diabetes.” “Wah gawat tu, emang apa sih Zoel?” tanya Zea pura-pura tak mengerti padahal sedari tadi dia tengah menahan tawa. “Jatuh cinta!!” seru Zoel kemudian kedua adik Arion itu tertawa bersama-sama, sementara Arion yang masih tak mengerti malah menatap si kembar dengan tatapan bertanya-tanya. “Astaga ... Abang nggak sadar.”  Zea menepuk keningnya, dia terlalu gemas dengan kelakuan Kakaknya yang satu ini.  Bagaimana bisa Kakaknya itu masih saja tak menyadari perasaan yang sekarang muncul untuk calon Kakak iparnya.  Padahal jelas-jelas sikap Arion pada Ayara sekarang bisa di bilang mengalami perubahan dan itu berarti Arion mulai membuka hati dan tertarik pada Ayara kan dan berarti Kakaknya sedang jatuh cinta kan atau hanya dia yang salah menduga itu semua?  “Sadar apa?” “Gini ya, Bang. Kalau ada cowok perhatian sama cewek itu artinya si cowok tertarik sama cewek itu. Nah kalau tertarik artinya suka terus kalau suka artinya jatuh cinta,” jelas Zoel pada Arion.  Kedua orang tua mereka hanya memperhatikan si kembar dan juga Arion dalam diam. “Teori dari mana itu?” Zoel dan Zea menepuk kening secara kompak, kemudian saling bertatapan, “Itu teori dari buku kami, Abang Arion!!” kompak mereka dengan suara cukup keras sambil menatap ke arah Arion.  Mereka benar-benar gemas sekali dengan Kakaknya itu. “Ohh ...”  Lihatkan!  Bagaimana mereka tak gemas setelah di kasih tahu Kakak mereka hanya membalas singkat padat dan menusuk.  Ingatkan mereka nanti untuk sedikit saja membenturkan kepala Arion siapa tahu otaknya akan kembali ke jalan yang benar, agar sedikit saja peka akan perasaan yang ada di hatinya.  Sudah jelas Arion jatuh hati pada Ayara, begitulah pikir si kembar ZZ. *** Ayara kembali ke kamarnya untuk mengambil buku yang ketinggalan, padahal dia sudah terlambat untuk kuliah pagi ini memang kecerobohannya ini tak bisa tahu waktu.  Setelah mengambil buku dan menyimpan ke dalam tas segera menuruni tangga sampai di udandakan tangga terakhir suara Ibunya membuat dia menoleh ke arah ruang tengah.  Betapa terkejutnya dia karena di sana sudah ada Arion yang tengah duduk di hadapan Sarah, Ibunya.  Sepagi ini kenapa ia harus melihat wajah calon suaminya itu yang sayangnya tak bisa dia pungkiri kalau Arion begitu tampan. “Nah, yang di tunggu dateng juga,” ucap Sarah saat melihat Ayara yang saat ini sudah berada di hadapan mereka.  Ayara hanya diam menatap dua orang yang tengah duduk di atas sofa ruangan ini. “Ya udah berangkat nanti kamu telat," lanjut Sarah pada anaknya. “Ini juga mau berangkat, Bun. Tinggal pesan taksi.” “Ngapain pesen taksi? Ini Nak Arion mau anterin kamu."  Ucapan Sarah membuat Ayara terkejut kemudian menatap laki-laki yang sedari tadi masih diam dengan wajah tenangnya.  Kalau saja tak ada Sang Ibu mungkin Ayara akan mencakar wajah Arion, kenapa laki-laki itu selalu saja melakukan sesuatu seenaknya.  Sejak kapan juga Arion bisa mengantar dirinya ke kampus?  “Kalau gitu kami berangkat dulu, Tante,” pamit Arion kemudian berdiri dan mencium tangan Sarah.  Hal tersebut akhirnya di ikuti oleh Ayara, di depan Ibunya dia harus terlihat baik-baik saja kan, walaupun sekarang ingin sekali membenturkan kepala Arion. Oke, sabar Yara, batinnya. ***  Ayara mengikuti Arion yang sudah keluar rumah dan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah ini, dengan langkah kaki yang sengaja  di hentakan.  Untung saja Ibunya tidak mengantarkan mereka sampai depan rumah. Bisa di ceramahi habis-habisan kalau sampai Ibunya tahu Ayara yang seolah enggan di antar oleh Arion walau memang itu kebenarannya.  Lagi pula harusnya laki-laki itu di rumah sakit kan, bekerja memeriksa pasiennya kenapa ini malah berada di rumahnya sepagi ini.  Dasar Dokter kurang kerjaan. Sepertinya sudah banyak sekali umpatan yang mengganjal di hatinya jika mengingat apa yang sudah Arion lakukan padanya. “Kebiasaan,” gerutu Ayara saat mereka sudah berada dalam perjalanan menuju kampus.  Arion melirik sekilas ke arah gadis itu kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya. “Apa lagi sekarang?” tanya Arion tanpa menatap lawan bicaranya. “Kakak ngapain sih pagi-pagi udah nongol aja di rumah, bukannya kerja malah keluyuran gak jelas.” “Keluyuran? Aku nggak keluyuran, aku lagi nganterin tunangan aku ke kampus," balas Arion santai tetapi hal itu justru membuat Ayara terdiam.  Dugaannya mungkin benar kalau kepala Arion baru saja terbentur tembok atau sesuatu yang keras membuat sifatnya berubah secara drastis.  Kalau seperti ini bisa bahaya kesehatan jantungnya. “Calon,” tekan Ayara. “Iya aku lagi nganter calon istri aku ke kampus.”  Nah kan, jantungnya kenapa harus berdisko di dalam hanya karena mendengar ucapan Arion.  Astaga dia harus segera memeriksa kesehatan jantungnya. “Ya terserah, yang jelas sejak kapan Kakak bisa anterin aku ke kampus? Dan aku juga sama sekali gak nyuruh Kakak buat anterin aku dan kenapa Kakak nggak bekerja di hari Senin,” cerocos Ayara. “Ay.. Stop. Cerewet banget sih, giliran aku cuek kesel, perhatian malah salah. Emang cowok selalu aja salah di mata ceweknya.” “What? Perhatian? Tunggu.. kayanya aku salah denger deh, coba bilang sekali lagi tadi kuping aku error kayanya.” Arion tertawa mendengar ucapan Ayara, gadis ini benar-benar sangat menghibur dirinya, sementara itu tawa Arion membuat Ayara terpesona melihat tawa Arion untuk pertama kalinya laki-laki itu tertawa di depan dirinya dan ini membuat kadar ketampanannya bertambah berkali lipat.  Ingatkan dia berapa kali memuji Arion hari ini kalau laki-laki itu tahu sudah pasti hidungnya akan terbang. “Aduhh ... perut aku sampe sakit.”  Arion masih menahan tawa sambil memegang perutnya. “Suruh siapa ketawa!” ketus Ayara. Arion melirik gadis itu kemudian tangan kirinya mengelus rambut Ayara dengan lembut, lagi Ayara terpaku dengan apa yang Arion lakukan. “Maaf ya, kamu sih pake bilang kuping error memangnya kuping kamu mesin yang gampang error.” Arion tersenyum kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD