Pertemuan kedua keluarga yang tengah diatur oleh Sarah dan Kartika malam ini membuat Ayara di buat kesal, bagaimana tidak Ibunya itu sama sekali tak memberitahu dia tentang ini.
Tadi setelah ia baru saja sampai di rumah, Ibunya langsung mengatakan padanya untuk segera memakai pakaian yang sudah beliau pilihkan dan sudah di simpan di atas tempat tidur, membuat Ayara bertanya-tanya kenapa Ibunya sampai menyiapkan pakaian untuk dirinya dan ia pun mendengar penjelasan bahwa malam ini keluarga calon suaminya akan datang ke rumah dan mereka akan melakukan makan malam bersama.
Di sinilah Ayara sekarang, di dalam kamar sambil menatap dress putih yang tergeletak di atas tempat tidur miliknya.
Ayara mengambil dress itu kemudian menelitinya. Dress pilihan Ibunya memang begitu cantik, ia kemudian berjalan ke arah cermin dan melihat bayangannya di sana dengan dress yang ia pegang. Sepertinya akan terlihat pas di tubuh Ayara, tetapi otakknya kembali tersadar saat mengingat alasan di balik dia yang di suruh untuk memakai dress tersebut.
Ayara mendengkus kesal, ia kira Ibunya sudah melupakan tentang perjodohan itu meski sebelumnya ia menerima semua ini tetap saja ada rasa yang mengganjal di hatinya terutama bertanya siapa calon suami yang sudah Ibunya pilih, dan setengah hatinya memang menginginkan kalau perjodohan ini tak terjadi tetaapi nyatanya semua hanya bayangannya saja dan perjodohan itu memang akan terjadi.
Dengan langkah gontai, Ayara pun berjalan ke arah kamar mandi untuk mendinginkan pikirannya meski ia tahu kalau pikirannya akan tetap sama, panas karena mengingat perjodohan dengan laki-laki yang sama sekali tak ia kenali.
Tiga puluh menit kemudian..
Ayara sudah tampil begitu cantik menggunakan dress tadi dan juga makeup yang natural, rambutnya terurai indah. Ayara masih di depan cermin meneliti penampilannya, meski ia masih ragu dengan perjodohan ini, tetapi ia tak boleh mengecewakan Ibunya jadi ia juga berdandan dengan sungguh-sungguh.
***
Arion baru saja merebahkan tubuhnya di sofa ruangan tengah, sambil menonton tayangan televisi di hadapannya. Sejak satu jam tadi dia memang sedang bersantai sambil menunggu makan malam bersama dengan keluarganya.
Suasana rumahnya tampak sepi, bahkan ia baru menyadari itu. Adik kembarnya tak terlihat satu pun, sementara Ibunya sudah pasti berada di atas tepatnya di kamar menemani sang Ayah karena Ayahnya baru saja datang dari perjalanan bisnis.
“Lho Abang, kok belum siapa?” tanya Zoel yang baru saja turun dengan setelan kemeja yang sangat rapi, membuat Arion menatap adiknya dengan pandangan bertanya.
“Kamu mau kemana?” Arion lebih memilih bertanya balik.
“Lah, bukannya kita semua mau makan malam bareng calon istri Abang, masa lupa.”
“Hah? Kapan?” Arion terkejut kembali menatap Zoel.
“Ya sekarang lah, ini gimana sih masa Abang yang calon suaminya lupa,” gerutu Zoel melihat Kakaknya yang masih terlihat santai bahkan sama sekali belum bersiap-siap.
“Abang beneran enggak tahu.”
“Ada apa? Lho Abang kenapa belum siap-siap?”
Kartika dan juga suaminya –Bryan menghampiri anak-anak mereka di ruang tengah, diikuti oleh Zea di belakang orang tuanya.
“Emang mau kemana, Ma?” tanya Arion.
“Abang enggak baca pesan Mama. Kita mau ke rumah Tante Sarah, makan malam di sana. Abang gimana sih, sana siap-siap,” ucap Kartika agak kesal karena anaknya yang akan menjadi orang penting dalam makan malam dua keluarga ini malah belum siap sementara mereka sudah begitu siap dan tinggal berangkat menuju rumah calon besannya.
“Handphone Abang tadi mati terus enggak cek ada pesan atau enggak.”
“Pokoknya sekarang kamu siap-siap, Rion,” ucap sang ayah tegas.
Arion mengangguk dan berjalan ke arah kamarnya.
“Itu anak kamu terlalu cuek, sampe lupa sama calon istrinya sendiri.”
“Anak kamu juga, Ma.”
“Abang kan emang kaya gitu, Ma, Pa,” ucap Zea yang di angguki oleh Zoel, kembarannya.
***
Keluarga Arion baru saja tiba di kediaman Keluarga Sarah. Kedatangan mereka di sambut oleh Sarah dan juga Bima, sementara Ayara masih berada di lantai atas di dalam kamarnya. Sarah mengajak keluarga Arion untuk segera masuk ke dalam rumah dan mereka pun duduk di ruang tamu. Kemudian ia pamit untuk memanggil anak gadisnya.
Arion yang duduk di samping Zea tampak gugup, ia merutuki dirinya sendiri karena tak melihat pesan yang di kirim Ibunya tentang malam ini yang akan makan malam bersama dengan keluarga calon istrinya. Dirinya seperti orang bodoh sedari tadi hanya mengiyakan saja apa yang kedua orang tuanya katakan. Bahkan di sepanjang perjalanan Arion hanya diam dan sibuk dengan pikirannya.
Ia kira saat dirinya berbicara dengan orang tua nya waktu itu tentang pertunangan dirinya dan sang calon istri, orang tuanya tak akan mengambil keputusan secepat ini untuk kedua keluarga mereka bertemu tapi Arion salah dan seharusnya dia menyadari akan hal itu kalau orang tuanya selalu melakukan sesuatu yang begitu mendadak dan mengambil keputusan dengan waktu yang singkat.
Malam ini Arion tahu kedua keluarga mereka bertemu bukan hanya untuk makan malam bersama saja, tetapi juga akan ada setidaknya sedikit pembahasan mengenai perjodohan atau mungkin pertunangan dia dan adik dari Bima. Bahkan tadi sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam rumah ini, adiknya –Zea berbisik kalau malam ini akan ada obrolan mengenai pertunangan Arion dan calon istrinya.
Sudah dapat di tebak bukan, bahkan sebelum Zea berbicara begitu Arion sudah bisa tahu.
Larut dalam pikirannya sendiri, Arion kembali tersadar saat Zea menyenggol lengannya lalu ia menatap ke samping di mana adik perempuannya itu duduk.
Zea hanya memberikan kode dengan matanya membuat Arion juga mengalihkan tatapan pada apa yang di lihat sang adik.
Mata nya bertemu dengan sorot mata lembut milik gadis yang baru saja bergabung bersama mereka, bahkan Arion secara tak sadar terus memandangi gadis yang terlihat begitu cantik dengan dress berwarna putih dan wajah dengan make-up tipis yang membuat Arion terkagum-kagum.
Di sana di hadapan Arion, calon istrinya tampak cantik bahkan jika di perhatikan lebih lama lagi gadis itu lebih cantik dari pada mantannya.
Suara dehaman membuat Arion lagi-lagi tersadar, Bima sang pelaku menatap rekan kerjanya sekaligus calon adik iparnya itu dengan tatapan jahilnya. Bima tahu bahwa Arion begitu terpesona dengan adiknya.
***
Ayara sedang di landa gelisah, tadi Mbok Jum bilang keluarga dari calon suaminya sudah datang dan berada di bawah membuat dia sedari tadi mondar mandir di dalam kamar.
Ayara memang menunggu di dalam kamar dan Ibu juga Kakaknya yang menyambut keluarga calon suaminya di bawah. Karena tadi dia sedang ke kamar mandi, entah kenapa ingin buang air kecil berkali-kali.
Apakah ini karena terlalu gugup? Begitu pikirnya.
Sampai pintu kamarnya di buka dari luar membuat Ayara tersentak dan berjalan ke arah pintu yang sudah terbuka dan Ibunya yang tersenyum lembut menyuruh dia untuk segera turun menemui tamu mereka malam ini.
“Berapa orang, Bun?” tanya Ayara saat melangkah keluar kamar.
“Ya keluarga inti aja, lima orang.”
“Nunggu di mana?”
“Ada di ruang tamu sama Kak Bima.”
“Aduh.. Yara pengen pipis lagi ni, Bun.”
“Ih.. kamu ada ada aja, itu udah pada nungguin.”
“Gak jadi deh.”
“Kamu gugup banget jadi kaya gitu. Santai, lagian gak nikah malam ini juga. Kita makan malam doang, Dek.”
Ayara berdecak sebal namun setelah itu mengangguk dan mengikuti Ibunya menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, jantung Ayara semakin berdebar seolah tersadar kalau malam ini ia akan bertemu dengan calon suaminya untuk pertama kali.
Dalam hati ia berdoa semoga laki-laki itu bukan sosok yang urakan, badboy atau apapun yang selama ini sering ia baca di novel koleksinya.
Dia berjalan menunduk saat tiba di ruang tamu sampai tangan Sarah –Ibunya mengelus bahu Ayara pelan, lalu gadis itu menatap sang Ibu yang kemudian di balas dengan senyum lembut. Akhirnya Ayara memandang ke depan dan matanya bertemu dengan mata hitam itu.
Jantungnya berdebar kembali saat menyadari laki-laki yang berada di hadapannya, laki-laki yang pernah ia temui beberapa waktu lalu, Arion, ya laki-laki itu yang sekarang menatap ke arahnya.
Arion yang sama yang ia temui saat di restoran beberapa waktu lalu bersama dengan kedua sahabatnya. Arion yang tak lain adalah teman dari Dito, kekasih Joanna.
“Aduh.., calon mantu cantik banget.”
Suara Kartika yang memuji Ayara seolah menyadarkan kedua orang yang tengah saling berpandangan.
Ayara mengalihkan perhatiannya pada wanita yang memang sudah ia kenal sejak lama, begitu juga dengan Arion yang sudah mengalihkan perhatiannya pada yang lain.
Ayara tesenyum lembut dan meraih tangan Kartika dan juga Bryan dengan penuh kesopanan. Kartika yang paling bersemangat dan begitu senang dengan makan malam kali ini.
“Apa kabar Om, Tante?” tanya Ayara pada kedua orang tua Arion.
“Baik, aduh kamu makin cantik aja,” puji Tika lagi membuat Ayara tersenyum malu.
“Kamu gimana sehat?” tanya Bryan pada Ayara.
“Sehat, Om,” balas Ayara.
Setelah itu mereka pun berbicang hangat tetapi sepertinya hanya orang tua mereka saja karena Ayara dan Arion duduk diam, jika di tanya baru mereka mengeluarkan suaranya.
Makan malam antar kedua keluarga ini berjalan lancar, mereka juga membahas tentang perjodohan anak-anak mereka, hal yang sudah bisa di tebak baik oleh Ayara maupun Arion.
Keduanya tampak setuju saja dengan apa yang di katakan orang tua mereka, menolak pun rasanya percuma apalagi mereka sudah berbicara pada orang tua masing-masing bahwa menerima perjodohan ini.
Hanya saja bagi Ayara, ini masih begitu mendadak membuat terkadang perasaannya di liputi keraguan kembali. Namun ia selalu berdoa semoga ini yang terbaik untuk dirinya karena semua pilihan sang Ibu. Begitu juga dengan Arion yang berharap apa yang menjadi pilihan orang tuanya adalah yang terbaik bagi dirinya karena ia sadar pilihannya yang lalu pun salah maka kali ini ia akan menuruti kedua orang tuanya.