Bagian 6 : Keikhlasan

1653 Words
Arion sampai di rumah pukul 09.00 malam, ia baru saja masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hari yang begitu melelahkan dan selalu seperti ini, ia tiba-tiba saja mengingat pertemuan yang tak di sengaja dengan gadis bernama Ayara, yang tak lain adalah calon istrinya. Gadis itu masih muda, ya karena dia memang masih kuliah di jurusan Seni Lukis. Tak banyak yang Arion ketahui dari Ayara kecuali gadis itu yang ternyata sahabat dari kekasih Dito, salah satu temannya. Bahkan ini pertama kalinya mereka kembali bertemu setelah dia yang memang sudah tak pernah mengantar Ibunya ke rumah Tante Sarah setelah ia di sibukkan dengan pekerjaannya sebagai seorang Dokter. Pandangan mata Arion tertuju pada sebuah bingkai foto yang di mana menampilkan kebersamaan dia dan juga sang kekasih, atau lebih tepatnya mantan kekasih yang akan menjadi istrinya. Ia mendengkus kesal, lupa karena masih saja memajang foto kebersamaan mereka di kamar ini. Arion pun beranjak dan segera mengambil bingkai itu kemudian mencopot fotonya dan membuang foto tersebut ke dalam tempat sampah. Dua tahun hubungan yang mereka jalin kandas begitu saja karena sebuah penghianatan, Arion kira wanita itu akan menjadi pendamping hidupnya tetapi ternyata tidak. Bahkan dua bulan sebelum rencana pernikahan mereka berdua, ia harus menelan pil pahit atas kegagalan pernikahan impiannya. Namun Arion juga merasa lega karena mengetahui lebih awal tentang perselingkuhan yang bahkan sudah menhadirkan nyawa lain,  janin yang ada di dalam kandungan Vena, perselingkuhan antara mantan calon istrinya dengan laki-laki lain. Kalau saja perselingkuhan ini tak terbongkar, Arion akan merutuki dirinya sendiri karena sudah salah memilih pasangan. Tok.. tok.. tok.. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanya, kemudian pintu terbuka dan adik perempuannya –Zea- tengah tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. “Kenapa?” tanya Arion pada Zea. “Abang di panggil sama Papa ke ruangan kerja.” “Iya, Abang ganti baju dulu.” Tanpa mendengar lagi jawaban dari Zea. Ia segera berjalan ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar ini. Zea yang melihat Arion malah pergi ke kamar mandi berdecak kesal, padahal ia belum selesai bicara tapi Kakaknya itu sudah berlalu begitu saja. Akhirnya Zea menutup pintu kamar Arion dan kembali ke kamarnya sendiri. Tak berselang lama, Arion sudah berganti pakaian kemudian ia segera menemui Ayahnya di ruang kerja yang letaknya berdekatan dengan kamar kedua orang tua Arion. Sambil berjalan Arion bertanya-tanya apa yang akan di bicarakan oleh sang Ayah, apa mungkin tentang perjodohan dirinya dengan Ayara atau malah tentang wanita yang sudah menjadi mantannya. Arion tahu hubungannya dengan Vena itu salah karena ia belum mengenalkan wanita itu kepada kedua orang tuanya, tetapi saat ia ingin mengenalkan mereka selalu saja ada hal yang menjadi penghalang, terutama pada Vena sendiri yang sering kali beralasan setiap kali Arion mengajak wanita itu untuk bertemu dengan orang tua nya. Arion mulai menarik kesimpulan dari semua yang selama ini terjadi, apa alasan Vena yang tak mau bertemu dengan keluarganya itu ada sangkut pautnya dengan dia yang berselingkuh, apa karena orang tua Arion terutama sang Ayah akan mudah mencari tahu informasi tentang seseorang. Ya mungkin saja begitu, pikirnya. Arion sudah berada di depan pintu ruangan sang Ayah, kemudian ia pun masuk ke dalam. Sudah ada kedua orang tuanya yang duduk di atas sofa yang berada di dalam ruangan ini. Arion pun langusung bergabung dengan mereka di sofa setelah Ayahnya menyuruh dia untuk mendekat. Suasana tampak tegang itulah yang di rasakan oleh Arion sendiri, meski kedua orang tuanya terlihat biasa saja tapi perasaan Arion tak menentu. Ia masih terus bertanya-tanya apa yang akan mereka bicarakan pada dirinya sampai harus berkumpul di ruangan sang Ayah. Biasanya hal itu pasti begitu penting. “Mama bilang kamu punya calon istri.” Suara bass sang Ayah memecahkan keheningan malam ini. Arion melirik Ibunya sebentar, kemudia ia mengangguk singkat. “Tapi sekarang udah putus,” ucapnya.   “Selama ini kenapa kamu enggak pernah kenalin dia sama Papa dan Mama?” Lagi. Sepertinya malam ini akan banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya khususnya sang Ayah yang harus Arion jawab. Arion mengembuskan napas pelan, “Pekerjaan dia model, jadi sama-sama sibuk, Pa,” jawab Arion pelan. “Meski sibuk kalau memang dia berniat buat kenal sama keluarga kekasihnya. Dia pasti meluangkan waktu walau sebentar.” Arion hanya bisa diam mendengar perkataan sang Ayah. Ya benar apa yang Ayahnya katakan seharunya wanita itu memberikan waktu sebentar untuk bertemu keluarganya. Tetapi nyatanya dia selalu saja beralasan sibuk dan sedang menjalani pemotretan di luar kota. Mungkin Arion terlalu di butakan akan cinta yang kemudian membuat dirinya percaya saja dengan apa yang kekasihnya katakan saat itu. “Terus kata Mama, dia selingkuh?” “Iya.” “Sudah, kamu lupakan saja. Wanita seperti itu tak cocok untuk masuk ke dalam keluarga kita. Sekarang Papa ingin membicarakan tentang perjodohan kamu dengan Yara, anak dari sahabat Mama. Kamu menerimanya kan?” “Iya, Pa. Arion terima keputusan Papa dan Mama. Lagipula Arion tahu kalau pilihan orang tua pasti yang terbaik untuk anak-anaknya.” “Bagus kalau begitu, Papa tahu ini begitu mendadak. Terutama bagi Yara yang masih sibuk dengan kuliahnya. Karena itu Papa ingin kalian dekat lebih dulu sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan. Dan lagi ini bukan sekedar permintaa Ibunya tetapi juga mendiang Ayah Ayara.” “Iya, Pa. Arion juga ingin seperti itu, karena Arion harus mengenal dulu Ayara lebih dekat. Mungkin kalau memang Papa ingin melihat keseriusan Arion pada perjodohan ini Arion akan lebih dulu bertunangan dengan Ayara sebagai pengikat hubungan kami.” “Iya, Mama juga mau kalian bertunangan lebih dahulu dan bisa menjadi dekat sebelum akhirnya berumah tangga.” Arion mengangguk. Setelah itu Arion ijin untuk keluar dari ruangan karena pembicaaan mereka sudah selesai. Keputusan sudah ia ambil dan itu juga yang selama ini ia pikirkan. Arion tahu bagaimana sulitnya Ayara jika mereka menikah dalam waktu dekat. Bahkan mungkin saja gadis itu belum menerima perjodohan ini karena itu Arion memilih untuk bertunangan dan mencoba dekat dengan calon istrinya lebih dulu, mungkin dengan begitu mereka akan saling menerima perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tua mereka. Arion menuruni tangga dan menghampiri Zoel duduk di sofa dan tengah menonton televisi, sementara Zea yang tiduran di atas karpet tebal di bawah Zoel juga sedang asyik dengan handphone di tangannya. “Main handphone mulu,” tegur Arion pada Zea membuat gadis itu mendongakkan kepala melihat sang kakak. “Baru sebentar, Abang...” balasnya kemudian kembali asyik entah sedang bermain game apa. Karena yang Arion lihat layar handphone milik adiknya itu seperti menampilkan game yang sekarang sedang trend di kalangan anak seumuran Zoel dan Zea. “Tadi bahas apa, Bang?” tanya Zoel dengan pandangan yang masih fokus pada layar di hadapannya. “Kepo,” jawab Arion membuat Zoel menatap sang kakak protes. “Kan penasaran. Biasanya kalau udah di ruangan kerja Papa pasti pembicaraannya berat dan penting banget. Apa tentang perjodohan itu ya, Bang?” Zoel masih dengan rasa penasarannya. Meski sebenarnya ia tahu bahwa Kakaknya ini akan di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan anak dari sahabat Ibu mereka. Tetapi Zoel ingin memastikan saja dan mendengar secara langsung dari mulut Kakaknya. “Hmm.. itu kamu tahu. Stop..!! Enggak usah tanya lagi,” sela Arion sebelum Zoel kembali bertanya hal lainnya.  Kemudian mereka pun fokus menonton bersama dengan Zea yang sekarang juga sudah ikut larut dalam film yang tayang di televisi. *** Sementara di lain tempat. Ayara baru saja selesai mengerjakan tugasnya saat suara pintu kamar yang di ketuk di susul dengan suara sang kakak yang memanggil dirinya dari luar kamar. Ayara bergegas berjalan ke arah pintu untuk membuka kuncinya, saat mengerjakan tugas Ayara memang tak bisa di ganggu jadi dia pun mengunci pintu kamarnya sampai ia selesai mengerjakan tugas kuliahnya. “Ada apa, Kak?” tanya Ayara setelah pintu di buka. “Cuma mau ngobrol sebentar.” “Tentang?” “Masuk aja dulu, masa di depan pintu kaya gini.” Akhirnya mereka masuk ke dalam kamar Ayara dan duduk di lantai beralaskan karpet berbulu. “Bicara apa kak?” tanya Ayara penasaran. “Perjodohan kamu sama anaknya sahabat Bunda.” Ayara diam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bima. Bima yang tahu kalau adiknya tak ingin berkomentar apapun akhirnya memilih untuk bicara lebih dulu, “Kalau kamu merasa keberatan sama perjodohan ini. Kamu bisa menolak, biar Kakak yang bicara sama Bunda nanti,” ucap Bima lembut mengelus rambut panjang adik perempuannya itu. Bima begitu menyayangi Ayara, wanita kedua setelah Ibunya yang harus ia jaga. Apalagi setelah kepergian Ayah mereka Bima merasa memiliki tanggung jawab yang begitu besar kepada Ibu dan adik perempuannya ini dan jika adiknya merasa sedih atau di sakiti oleh siapapun maka dia yang lebih dulu maju untuk melindungi Ayara. “Aku terima kak, cuma aku masih ragu,” ucap Ayara pelan, terdengar begitu lirih di telinga Bima. Sekali lagi laki-laki itu mengelus pundak adiknya mencoba menenangkan. “Ragu pada pilihan Bunda?” tanya Bima. “Bukan, Kak. Aku tahu Bunda enggak akan pernah salah memilih apalagi untuk anaknya. Aku ragu sama diri sendiri, apa nanti Ayara bisa menjadi seorang istri yang baik dalam mengurus suami Ayara.” “Bukan enggak bisa, tapi belum karena kamu juga belum pernah di posisi itu. Kakak yakin kamu bisa menjadi istri yang baik, semua juga butuh proses. Jangan lebih dulu men-cap kalau kamu enggak bisa menjadi istri yang mengurus suamimu nanti. Setiap wanita bisa karena itu kodrat mereka, mengurus suami dan menjadi teman di saat senang dan susah begitu juga sebaliknya.” “Jadi kamu terima perjodohan ini?” tanya Bima sekali lagi. “Iya, Kak. Ayara udah sholat malam dan minta petunjuk Allah.” “Tenang kalau pun nanti dia menyakiti kamu, ada Kakak yang akan melindungi kamu. Sampai kapan pun kamu masih tanggung jawab Kakak jadi kamu gak perlu takut.” “Makasih, Kak,” ucap Ayara, matanya mulai berkaca-kaca. Ia begitu terharu mendengar perkataan Kakaknya. Selama ini Bima memang begitu melindungi dirinya, menyayangi dirinya dan selalu ada di saat ia sedang mengalami kesusahan. Apalagi setelah sang Ayah tiada, Bima seolah menjadi sebuah tameng pelindung dirinya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD