Ayara saat ini sedang berada di kelas, setelah jam perkuliahan selesai ia masih enggan untuk keluar dari ruang kelas tersebut.
Hari ini mood nya benar-benar tak bisa di jelaskan. Ia kecewa dengan apa yang terjadi pada hidupnya, ia pikir semua ini hanya mimpi yang kemudian saat terbangun semua akan kembali normal tetapi ternyata semua ini tampak nyata, bukan sekedar mimpi belaka.
Renata yang saat ini tengah berdiri di ambang pintu kelas menatap sahabatnya itu dengan tatapan bingung, Ayara tampak begitu lesu seolah tak ada semangat untuk menjalani hidup, sama sekali bukan seorang Ayara yang ia kenal.
Perlahan ia berjalan mendekati Ayara yang saat ini tengah menelungkupkan kepalanya di atas kedua tangan yang berada di atas meja. Renata mengelus pelan bahu sahabatnya itu membuat sang empu tersentak padahal Renata pikir sentuhannya tadi begitu pelan tapi kenapa responnya begitu berlebihan.
“Lo kenapa sih? Perasaan gue gak bikin kaget, tapi respon lo gitu banget,” ucap Renata yang sekarang sudah duduk di samping Ayara.
Tak ada jawaban dari sahabatnya itu membuat ia kembali menggoyangkan bahu Ayara, kali ini cukup kencang.
“Yara..!!” sentak Renata .
“Ih.. kaget dodol..!! Apaan sih?” protes Ayara membuat
Renata melongo. Jadi sedari tadi Ayara tak mendengar ucapan dirinya? Ck.. dasar!
“Lo ngelamun? Gue ngomong enggak di denger.”
Ayara menggeleng, “Enggak,” balasnya singkat.
“Kenapa sih? Aneh tahu gak?”
“Gue baik-baik aja, Ren.”
“Lo bohong kan? Udah jangan so nutupin kalau lo gak bisa, lagian sama sahabat sendiri kalau ada apa-apa cerita biar bebannya gak di tanggung sendiri. Kita kenal dari kapan sih, masih aja ada rahasia.”
“Nanti gue cerita, sekarang kita cari makan aja. Joan masih kelas kan?”
“Iya, paling bentar lagi bubar. Gue kabarin dia dulu deh biar nyusul kita.”
***
“Apa?? Lo di jodohin?!”
Teriak Joanna dengan ekspresi terkejut yang di mata Ayara begitu lebay. Sekarang ini mereka sedang berada di sebuah restoran dan sudah selesai makan.
Ayara sengaja bercerita tentang perjodohannya saat ia dan kedua sahabatnya itu memang sudah selesai makan, karena ia pikir jika mereka masih dalam suasana makan siang, konsentrasi mereka agak terbagi antara makanan dan mendengarkan cerintanya itu.
“Lo gak usah lebay gitu deh, Jo,” sahut Renata.
“Yeu..., gue kan kaget gitu masa lo enggak kaget sih denger Yara di jodohin kaya gini.”
“Kaget tapi enggak selebay lo,” cibir Renata membuat Joanna mendengus.
“Jadi atas dasar apa lo sampe di jodohin sama nyokap lo, Ra?” tanya Renata.
“Nyokap gue sama temennya itu udah kenal lama, terus emang udah niat mereka jodohin anak-anaknya gitu dan gue yang kena, soalnya anak temen nyokap gue cowok, yakali nikah sama Kak Bima,” jelas Ayara membuat kedua sahabatnya itu mengangguk paham.
“Cowoknya gimana? Ganteng?” tanya Joanna semangat.
Gadis itu memang selalu antusias jika masalah cowok padahal dia sudah memiliki kekasih tapi memang sinyal cogan dalam pikirannya tak pernah mati.
“Ck.! Lo giliran cowok aja langsung semangat, heran!”
“Jelas dong, gue kan pecinta cogan alias cowok ganteng.”
“Inget si Dito woy.”
“Ya kalau Dito sih selalu di hati.”
Balasan Joanna tersebut membuat Ayara dan Renata menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu. Tetapi meskipun begitu Joanna memang memiliki hubungan cukup lama dengan kekasihnya –Dito meskipun sikapnya agak centil menurut Ayara dan Renata pastinya.
“Jadi gimana ganteng gak? Lo belum jawab, Ra,” tanya Joanna lagi.
“Gue enggak tahu, belum ketemu sama cowoknya.”
“Berdoa aja semoga cowok itu ganteng, biar lo enggak merasa rugi karena di jodohin,” celetuk Renata.
“Gue enggak masalah sih, ganteng atau enggaknya itu cowok, yang penting dia gak badboy atau dingin gitu kaya cowok di novel novel.”
“Justru yang tipe gitu menantang, Ra,” ucap Joanna.
“Lo pikir ini lomba ada tantangan segala.”
“Ya terrserah deh, tapi cogan dingin itu bikin kita greget tahu.”
“Iya iya, gimana lo aja Jo.”
“Jo Jo, Anna kek kalau manggil biar manis gitu,” protesnya.
“Lah udah biasa gitu kenapa baru protes sekarang.”
“Gue baru nyadar.”
“Terima aja, panggilan spesial dari kita. Udah kaya martabak spesial gak tu,” Renata terkekeh. Sementara Ayara hanya tersenyum kecil kemudian pandangannya tak sengaja melihat dua orang laki-laki yang sedang berjalan ke arah meja mereka sekarang.
“Itu bukannya Dokter Dito ya, Jo,” ucap Ayara membuat Joanna melihat ke arah pandangan sahabatnya itu.
“Oh iya, sengaja gue suruh ke sini tadi.”
“Yang sebelahnya siapa tu?” tanya Renata.
“Temen kerja dia.”
Kedua orang laki-laki itu sudah ada di meja mereka, “Sorry kita gabung ni,” ucap Dito setelah mencium dahi kekasihnya yang membuat Renata dan Ayara merasa iri karena memang mereka berdua jomblo.
“Enggak apa-apa, santai aja Pak Dokter,” balas Renata mewakili.
“Kerja kamu udah selesai?” tanya Joanna pada Dito.
“Belum, sempetin aja ke sini biar bisa makan bareng.”
“Aku udah makan duluan kan.”
“Gapapa, kamu liatin aku makan aja.”
“Idih..”
“Ekhm..” dehaman laki-laki yang bersama Dito tadi membuat pasangan kekasih itu seolah tersadar kalau sejak tadi mereka sudah menjadi bahan tontonan teman-temannya.
“Eh, sorry bro sampe lupa,” ucap Dito.
“Kenalin, temen gue namanya Arion,” lanjut Dito memperkenalkan laki-laki yang tadi datang bersamanya pada Joanna, Ayara dan juga Renata. Kemudian satu per satu dari mereka pun berkenalan, sampai yang terakhir adalah Ayara.
“Arion,” ucap Arion menjabat tangan Ayara, gadis di hadapannya ini tersenyum manis membuat dirinya terdiam seketika melihat senyum Ayara.
“Ayara.” Suara gadis itu membuat dia kembali tersadar.
Cantik, -batinnya.
***
Selama Arion dan Dito makan, ketiga gadis yang bersama dengan mereka tengah asik mengobrol yang sama sekali tak di pahami oleh Arion maupun Dito karena yang mereka bahas seputar artis korea maupun dramanya. Tetapi yang menjadi perhatian Arion saat ini adalah gadis dengan senyum manisnya yang tak lain adalah Ayara, adik dari seniornya –Bima.
Ya, Arion memang sudah mengetahui wajah dari calon istri sekaligus adik dari Bima itu, karena beberapa kali saat Ibunya menyuruh dia untuk di antarkan ke rumah tante Sarah yang tak lain adalah Ibu dari Bima, Arion sering melihat Ayara yang saat itu tengah serius membaca novel di balkon kamarnya.
Ia memang sudah menebaknya bahwa gadis yang selalu ia lihat itu adalah adik Bima, karena memang tak ada lagi yang tinggal di rumah Bima kecuali Ibu dan juga adiknya, mungkin di tambah dengan satpam juga Mbok Jum dan setahu Arion, asisten rumah tangganya itu tak memiliki anak gadis.
Mata Arion masih terfokus pada gadis di hadapannya, membuat Dito menyadari hal tersebut dan tersenyum jahil. “Enggak usah di lihatin mulu, ntar mata lo copot,” ujar Dito membuat Arion melirik tajam ke arah temannya itu.
“Apa’an, enggak.”
“Enggak salah maksudnya,” bisik Dito membuat Arion tersedak dengan makanannya sendiri.
Hal itu membuat perhatian gadis di hadapan mereka teralihkan, termasuk dengan Ayara yang entah sejak kapan sudah memberikan satu gelas air pada Arion yang berada di hadapannya. Semua itu tak luput dari perhatian yang lain, membuat senyum mereka muncul, lebih tepatnya senyum jahil.
“Cie.. Yara perhatian,” celetuk Joanna membuat Ayara seolah tersadar dengan apa yang ia lakukan.
Wajah Ayara bersemu merah menahan malu, gara-gara sahabatnya itu mau di taruh dimana muka dia sekarang.
“Gue cuma nolongin aja, kan sesama manusia harus saling tolong menolong,” ucap Ayara, dalam hati ia merutuki apa yang tengah ia lakukan tadi, kenapa bisa serefleks itu ia menyodorkan gelas pada Arion.
Sementara Arion yang memang terlalu cuek menganggap hal tersebut biasa saja meski di dalam hatinya ia tersenyum karena perlakuan gadis yang berada di hadapannya ini.