Aku membuka pintu kamar Pak Bara, dengan masih menggunakan seragam, aku masuk dan melepas sepatu ditempatkan didepan pintu kamarnya. Ia sedang merebahkan punggungnya pada kepala ranjang, tatapan matanya fokus pada I-pad yang berada digenggamannya, kakinya panjangnya menyelonjor diatas kasur. Aku duduk di tepi ranjang. “Pak, ada yang mau saya omongin.” Aku menatapnya ragu-ragu. Pak Bara memgangkat wajahnya sebentar lalu fokus kembali. “Bilang saja, telinga saya masih berfungsi dengan baik.” Jemarinya menggeser-geser layar, sesekali alisnya mengerut dan bibirnya bergerak seakan membaca. “Ihh, gimana bisa fokus, fokusnya itu harus disini.” Aku mengarahkan rahangnya pada wajahku. Akhirnya tatapan matanya terputus dari I-pad lebih memilih menatapku. Aku jadi salah tingkah melihat mata t

