“Lia, bangun... Buatkan anak-anak sarapan.” Sebuah tepukan halus hinggap dilenganku, membuatku tertarik dari alam mimpi. Setelah salat subuh, aku berencana tidur untuk beberapa menit tapi sayang kebablasan hingga jam tujuh pagi. Aku menguap, merentangkan kedua tanganku untuk merenggangkan otot-ototku, lalu merapikan jilbab instan yang semwrawut dibawa tidur. “Kamu tidak mandi dulu?” tanya Pak Bara sambil menyodorkan handuk kepadaku. Kepalaku menggeleng. “Nggak, bapak dulu, terus saya, saya kan buatin anak-anak sarapan.” Ucapku sambil memunggunginya karena sedang melipat dan merapikan kasur. Pak Bara mengangguk, mulai mengalungkan handuk tersebut di lehernya dan masuk kedalam kamar mandi. Aku juga menyiapkan setelan kerja Pak Bara yang berupa kemeja, dasi, celana panjang, dan jas. Se

