5-SINDIRAN

1141 Words
Acara ulang tahun Dewo kian meriah kala salah satu penyanyi ternama menyumbangkan lagunya. Sebagian tamu undangan seketika berdiri dan ikut bernyanyi sambil merekam dari kamera ponsel. Sebagian tamu yang lain memilih duduk dan menyantap makanan. Amor dan Evas yang tidak begitu update penyanyi ibu kota memilih memakan makanannya. Amor memilih memotong risol dan memakannya dengan garpu. Sambil sesekali menatap orang-orang yang bernyanyi. "Kamu nggak ikut nyanyi?" bisik Evas. "Mana aku tahu." "Banyak kok orang yang nggak tahu, tapi coba nikmatin." Amor menatap suaminya yang memperhatikan orang-orang yang bernyanyi itu. "Emang boleh kalau aku joget-joget gitu?" Evas sontak menatap Amor. "Jangan, deh. Nanti mereka tahu pesonamu," jawabnya sambil mengusap dagu Amor. "Kamu boleh lakuin itu kalau di rumah." "Dasar!" Amor mendengus lalu menghabiskan makanannya. "Bentar lagi balik, ya. Tapi, pamit Dewo dulu." "Oke!" Musik perlahan berubah menjadi tempo lambat. Lampu yang sebelumnya menyala terang, kini berubah menjadi agak redup. Amor dan Evas menoleh ke bagian depan, masih terlihat penyanyi wanita itu di sana. "Eh, itu Dewo," ujar Evas saat melihat Dewo menempati tempat duduk paling depan. "Ayo, Sayang!" Amor mengambil tisu dan mengusapkan tangannya. Setelah itu dia berdiri dan mengikuti sang suami. "Gue pamit dulu!" Evas menyalami Dewo. "Kok buru-buru?" "Gantian sama yang lain," jawab Evas karena tamu terus berdatangan. "Happy birthday," lanjutnya kemudian melepas genggaman. Amor ikut menyalami Dewo. "Selamat ulang tahun," ujarnya sopan. "Makasih, ya!" "Duluan!" Evas melambaikan tangan lalu menggandeng Amor keluar. Kemudian ada seseorang yang menghadang dan menyerahkan bingkisan. "Terima kasih," jawabnya lalu menyerahkan ke Amor. Amor menerima kantung kecil yang dia tebak isinya parfum. "Kita langsung pulang?" Evas menoleh. "Mau ke mana lagi?" "Kali aja sekalian nginep di hotel." "Kita nggak bawa baju." "Emang perlu baju?" "Hei!" Evas memperingati Amor yang tersenyum samar itu. "Lain kali kita nginep sini. Sekarang pulang aja." "Ya udah!" Amor mengeratkan genggaman dan mengikuti suaminya. Begitu sampai luar, kondisinya masih sangat ramai. Ada beberapa mobil yang berbelok hendak masuk. Ada juga yang antre untuk keluar hotel. Belum lagi, beberapa orang yang sepertinya tamu undangan masih berdiri di dekat pilar. "Saya sudah di luar, ya!" Evas menghubungi sopirnya. Amor melihat Evas yang memasukkan ponsel lalu menatap depan. Dia lalu mengedarkan pandang, melihat beberapa wanita yang juga mengobrol di luar. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya mereka bukan orang sembarangan. Mereka juga terlihat pintar. Perhatian Amor lalu tertuju ke beberapa orang yang berkumpul di sebelah kiri dan tengah merokok. Hingga, dia melihat postur seorang lelaki bertubuh tinggi dengan bahu lebar. Rambut lelaki itu agak panjang melebihi krah, tapi sepertinya lelaki itu tampan. Entah, lelaki itu merasa sedang diperhatikan atau apa, tiba-tiba dia menoleh. Amor tersentak kaget, melihat lelaki yang tadi memberinya kursi. Tidak tahu harus berbuat apa, dia segera membuang muka. "Kenapa?" Evas menoleh, merasa ada pergerakan aneh dari Amor. Amor menatap suaminya lalu menggeleng. "Bukan apa-apa kok." Evas menoleh ke sebelah kiri dan tidak melihat ada keanehan. Dia lalu menatap ke arah jalan keluar. Tetapi, belum melihat mobilnya keluar basement. "Lama banget!" keluhnya. "Kita samperin ajalah." "Oke!" Amor mengikuti sang suami. Tetapi, setelah beberapa langkah, dia menoleh ke belakang dan melihat lelaki tadi masih memperhatikannya. Bahkan semakin terang-terangan memperhatikan. Amor segera menghadap depan dengan perasaan penuh tanya. Amor sangat yakin tidak pernah bertemu dengan lelaki itu. Tetapi, gelagat lelaki itu seolah telah mengenalinya. Atau sebenarnya lelaki itu berniat menggoda? Amor menggeleng tegas, mengenyahkan pikiran itu. "Gue harus setia." "Apanya?" Evas menoleh mendengar gumaman Amor. "Hehe. Enggak, Sayang!" jawab Amor lalu tersenyum samar. *** 08133xxxxxxx: Aku udah sampai. Lelaki yang berdiri bersandar di lift membaca pesan yang dikirim tiga puluh menit yang lalu. Dia menekan tombol power lalu memasukkan ponsel ke saku celana. Bertepatan dengan itu, pintu lift terbuka. Dia melangkah keluar, lalu mendapati seorang wanita yang telah menunggu di depan pintu. "Lama banget?" "Lama apanya, sih, Rin?" Wanita yang dipanggil Rin itu berlari mendekat dan memeluk lelaki itu. "Emang lama," keluhnya. "Bapak Evas yang terhormat ini lama banget!" Evas membalas pelukan. "Kamu aja yang nggak sabaran." "Dari dulu seorang Norin nggak pernah sabaran." Norin mengurai pelukan lalu mengedipkan mata. "Ayo! Aku udah siapin makan malam." Dua orang itu lantas berjalan beriringan menuju apartemen. Tak lupa Norin menutup pintu lalu bergegas ke ruang makan. "Kamu pasti capek habis kerja langsung ke sini." "Iya," jawab Evas sambil melepas jasnya. Dia melemparnya ke sofa lalu mengikuti Norin. "Hari ini kamu libur?" "Kamu ini gimana? Kan, teater udah selesai," jawab Norin sambil menyiapkan makanan. "Aku nggak ada kesibukan lain. Ada lowongan di kantor?" "Nggak ada!" Evas menjawab cepat. Norin menahan tawa. "Takut kamu nggak fokus kerja?" "Menurutmu?" "Gitu, ya?" Norin meletakkan piring yang dipegang lalu mendekati Evas. Evas mendongak saat Norin menatap sambil tersenyum miring. Wanita itu lalu memegang pundaknya dan mengusapnya pelan. "Aku harus bersih-bersih dulu." Norin membungkuk. "Mau ditemenin?" tanyanya. "Kamu tahu, kan, service-ku kayak gimana?" Tangan Evas melingkar ke pinggang Norin lalu mengangguk. "Oke!" Norin dengan cepat menarik tangan lelaki itu hingga berdiri. Dia berjinjit lalu mencium bibir yang sejak tadi ingin dia kecup. Tangannya, mulai melepas kancing kemeja yang masih terpasang rapi. Sementara Evas memperdalam ciuman sambil setengah mendorong Norin. Hingga mereka perlahan masuk ke kamar. *** Duk.... Wanita yang duduk di kursi makan dengan kepala yang hampir terantuk itu seketika mengerjab. Dia kembali menyangga dagu dengan tangan kiri dan berusaha menghilangkan kantuknya. Setelah itu dia mengambil ponsel, mendapati angka sebelas yang muncul. "Evas lama banget, sih?" keluh Arma sambil meletakkan ponsel. Sekarang hari Jumat, besok libur. Evas selalu pulang lebih larut dengan alasan menyelesaikan pekerjaan. "Dia lupa apa sama pesan gue tadi?" Amor mengambil ponsel lagi dan membaca pesan terakhirnya untuk Evas. Ibu jarinya lalu bergerak ke atas, melihat pesan-pesan sebelumnya yang lebih banyak darinya. Evas memang bukan tipe orang yang nyaman berkomunikasi lewat pesan. Katanya lebih mudah lewat telepon. Tetapi, menelepon lelaki itu juga cukup susah. "Awas aja kalau nggak diangkat!" gumam Amor lalu memilih menghubungi. Tut.... Amor beranjak, sepertinya tidak bisa menunggu di ruang makan dengan risiko kepalanya terantuk. Sepertinya dia juga harus tidur. Nanti juga akan terbangun saat suaminya datang. Dap... Dap... Dap.... Kemudian terdengar suara langkah kaki. Seketika Amor menurunkan ponsel dan menatap ke pintu samping. Perlahan pintu terbuka dan seorang lelaki yang mengenakan kemeja putih berjalan masuk. "Lama banget! Kan, aku pengen makan malam sama kamu!" Perhatian Evas tertuju ke Amor yang berdiri di dekat anak tangga. "Emang iya?" "Tahu, deh! Pasti nggak dibaca." "Sorry...." Evas seketika mendekat dan memeluk Amor. "Agak riweh tadi." Amor mengendus aroma sabun Evas yang masih menguar. Dia mendekap lelaki itu dan semakin tercium aroma parfum dan sabun yang bercampur menjadi satu. "Kamu habis mandi, ya?" tanyanya sambil mengurai pelukan. Evas mengangguk. "Iya! Gerah banget soalnya." "Mandi di kantor sempet, masa buka chat istrinya nggak sempet?" keluh Amor. "Tahulah. Capek aku ke kamu." "Jangan ngambek!" Evas membungkuk dan menarik Amor ke dalam gendongan. "Maaf, deh. Maunya apa? Bakal aku turuti." Dia tersenyum dan merasa wanita itu tidak mencurigainya sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD