##Bab 11 Kanker
POV Ardan
Mayang, istriku tergeletak di lantai kamar mandi. Entah apa yang ingin ia lakukan hingga harus ke kamar mandi sendirian tanpa bantuan orang lain.
Aku membopongnya dengan tergopoh-gopoh, kemudian segera membawanya ke rumah sakit.
"Mbok, kamu ikut saya," suruhku. "Bu, Sita, jaga Arya!" perintahku dengan sengaja. Aku melakukan hal ini karena ada yang ingin kutanyakan pada Mbok Ani.
"Terbalik, Ardan. Ibu yang ikut, Mbok di rumah jaga Arya!" aturnya. Padahal, ini rumahku, dan Mayang adalah istriku. Seharusnya, memang terserah aku saja.
"Jangan bantah, Bu. Kan Mayang sedang dalam keadaan sakit," sahutku. Di balik ingin bicara pada Mbok Ani, aku pun masih merasakan hal yang aneh pada diri ibu. Ia seakan-akan tidak tulus ingin meminta maaf pada Mayang.
Tanpa basa-basi lagi, Mbok Ani turut masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang bersama Mayang.
Dengan perasaan cemas dan gemetar, aku menyalakan mesin mobil dan menginjak gas dengan sekencang-kencangnya.
Kekhawatiran terhadap kesehatan Mayang yang sudah terlihat ada sesuatu hal yang aneh, membuatku semakin tambah penasaran dengan kejadian tadi.
"Jangan tutupi lagi, Mbok!" ancamku sambil melihat wajah keriput yang duduk di bangku belakang. Mbok Ani tersadar akan sindiran dariku. Ia membalas tatapanku melalui kaca spion mobil.
"Maaf, Pak. Mbok hanya nurut pada Bu Mayang," jawabnya pelan. Tangannya yang selalu memberikan Arya kasih sayang, kini berada di pelipis wanita yang berada di pangkuannya.
Tiba-tiba air mata Mbok Ani pun jatuh satu persatu. Kulihat tetesannya mengenai tepat di wajah istriku.
"Kenapa nangis? Nyesel lihat kondisi Bu Mayang? Seandainya Mbok bilang sejujurnya dari awal, pasti tidak begini," celetukku pada wanita yang sudah kuanggap sebagai orang tua.
Ia pun tambah sesegukan, tidak dapat mengungkapkan sepatah kata lagi.
Aku menghela napas, mungkin bukan saatnya menyalahkan orang lain. Terlebih-lebih, Mbok Ani hanya menjaga rahasianya Mayang.
"Sekarang udah bersedia menjawab pertanyaanku, Mbok?" tanyaku sambil menginjak gas. Meskipun mengendarai mobil, aku terus berbicara pada Mbok Ani.
"Pak, rumah sakitnya sudah dekat, lebih baik saya ceritakan nanti di rumah sakit," cetusnya membuatku tersadar bahwa bukan di jalan seperti ini menanyakannya.
Ada benarnya juga, aku terlalu bernafsu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bukan fokus pada rumah sakit yang sudah terlihat dari arah kami berpijak.
Hari ini benar-benar melelahkan, kejadian demi kejadian kulewati dengan penuh tantangan. Terutama berurusan dengan rumah sakit. Sehari ini Mayang sudah dua kali masuk ke rumah sakit. Namun, kali ini aku bawa ke Rumah Sakit Maya Bakti.
Setibanya di rumah sakit, Mayang pun belum juga sadar dari pingsan. Entahlah ia kepeleset atau mungkin ia kehilangan kesadaran karena anemianya.
Kemudian, Mayang dibawa ke dalam ruangan tindakan, aku dan Mbok Ani menunggu di depan.
Jam dinding rumah sakit sudah menunjukkan pukul delapan malam, tidak terasa seharian ini aku seperti orang yang kelimpungan.
Mbok Ani yang duduk di sebelahku juga tampak khawatir, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya seraya berdoa.
"Mbok, sebenarnya Mbok itu mengetahui apa lagi?" tanyaku mengejutkan Mbok Ani. Wajahnya yang keriput tampak tersentak ketika ia mendengarku bertanya.
Kemudian, posisi tubuhnya mengarah ke tubuh ini, dan menggenggam tanganku layaknya ibu dan anak.
"Mbok tahu semuanya, Bu Mayang itu sakit, Pak!" teriak Mbok Ani sambil terisak-isak. Aku terkejut ia meneriakiku dengan penuh emosional.
"Mbok, apa Mbok kesal pada saya? Hingga marah seperti ini?" tanyaku menenangkan.
"Jelas, Pak Ardan itu suaminya, tapi nggak tahu kalau istrinya sakit lahir dan batin! Kesal Mbok, Pak!" tekannya. Air mata terus menerus tumpah membasahi pipinya yang sudah keriput.
Aku sapu air mata Mbok Ani yang bercucuran, kemudian kusandarkan tubuhnya di pundak ini.
"Mbok, Mayang sakit apa?" tanyaku dengan mata yang mengembun.
"Leukimia, Pak. Sudah lama Mbok mengetahui hal ini. Tapi baru kali ini melihat hingga parah seperti ini," jawab Mbok seketika membuat hatiku hancur. Astaga, suami macam apa aku ini? Istri menderita kanker aku tidak mengetahuinya.
"Mbok, aku memang bodoh," cetusku menyalahkan diri sendiri.
Dunia seakan berhenti berputar saat aku mengetahui penyakit yang Mayang derita adalah penyakit yang serius.
Aku terus menerus menampar pipi sendiri, untuk memberikan pelajaran pada diri ini yang tidak memperhatikan istri yang ternyata sedang sakit.
"Pak, Bu Mayang bukan sakit fisik saja, secara batin ia pun sakit, apalagi dengan Bu Diah yang setiap harinya jika ke rumah memarahi Bu Mayang," ungkit Mbok Ani. Aku paham betul masalah ini, untuk itu akan kujauhi ibu dengan Mayang.
Lalu bagaimana dengan orang tua Mayang? Pastinya mereka akan sakit hati jika tidak diberi tahu soal ini. Anaknya terbaring di rumah sakit, dan itu semua karena kesalahanku.
"Mbok, bukankah penyakit yang diderita Mayang itu anemia? Aku baru tahu Mbok soal ini," sambungku lagi.
"Pak, waktu Mbok tahu di awal, Bu Mayang bilang stadium 1, mungkin bisa disembuhkan, Pak," ucap Mbok Ani memberikan harapan.
Kanker darah, apa mungkin bisa disembuhkan? Sepertinya aku membutuhkan Pak Wijaya lagi untuk recommended pengobatan terbaik.
Aku raih ponsel yang berada di saku, dan coba menghubungi Pak Wijaya.
"Halo, Pak. Maaf ganggu," ucapku memulai pembicaraan.
"Nggak, bagaimana Mayang?" Pak Wijaya sontak masih memikirkan Mayang.
"Mayang ... Mayang ...."
"Kenapa Mayang?"
"Mayang mengidap kanker, Pak," sahutku sambil mengeluarkan air mata.
"Astaga, kamu suaminya baru mengetahui ini?" sentak Pak Wijaya.
"Iya, Pak. Makanya, saya mau tanya ke Pak Wijaya, siapa tahu paham dengan pengobatan terbaik," ucapku lemas.
"Saya akan bantu carikan, nanti saya tanya pada Tiara. Sepertinya saya pernah dengar temannya ada yang sembuh, tapi temannya Tiara masih stadium 1 waktu itu," jawabnya.
"Semoga saja Mayang juga bisa sembuh, Pak. Aku belum tahu sudah separah apa penyakitnya, Dokter belum keluar, sekarang masih di ruangan tindakan," ujarku lirih.
"Ardan, ini kesalahanmu, tidak memahami kondisi istri, hingga sudah seperti ini baru sadar," cetus Pak Wijaya membuatku merenung. Pantas saja ia sering nangis ketika melihat Arya, mungkin pikirannya sudah mengarah dekat dengan kematian. Astaga, laki-laki macam apa aku ini? Benar-benar memalukan!
Telepon pun aku matikan tanpa berpamitan lagi. Pukulan-pukulan itu datang menampar hati dan perasaan. Jangankan sakit fisik yang Mayang derita, sakit batin pun aku baru saja mengetahuinya.
Dokter yang menangani Mayang sudah ke luar. Ia langsung menemuiku.
"Dokter, bagaimana keadaan Mayang?" tanyaku pada dokter jaga di ruang UGD.
"Mayang diopname dulu, ya Pak. Kondisinya lemah, ia punya anemia juga, kan?" tanya dokter.
"Iya, Dok. Ia anemia, dan saya juga baru tahu jika istri saya menderita leukemia," tuturku dengan nada datar.
Alis dokter tiba-tiba menyipit, dan ia menepuk pundakku ini.
"Kamu aneh, sudah sering istrimu ke sini, tapi baru mengetahui penyakitnya," celetuk dokter. Aku terkejut ketika ia bilang Mayang sering ke sini. Itu artinya ia sering keluar masuk ruangan UGD?
"Dok, istri saya sering masuk ke ruang UGD?" tanyaku menyecarnya.
"Iya, sering, tapi yang membawanya ke rumah sakit ini tukang ojek," jawabnya membuatku sakit, dan semakin merasa bersalah.
"Terima kasih, Dok. Tolong berikan istri saya kamar VVIP, Dok," seruku. Dokter pun mengangguk sambil berlalu dariku.
Kemudian, sebelum masuk ke ruangan rawat inap, aku dan Mbok Ani menghampiri Mayang yang masih terbaring lemah.
Ketika melangkah menemui bidadariku, ada perasaan marah dan bersalah pada diri sendiri, melihat istriku, ibu dari anakku pucat pasi.
"Sayang, kamu sudah sadar?" tanyaku.
"Mas, ada apa denganku?" tanya Mayang setelah membuka matanya.
"Kamu tadi jatuh di kamar mandi," jawabku.
"Mbok, kenapa Mbok ikut? Arya bagaimana?" tanya Mayang.
"Mayang dengan Ibu, Dek," jawabku. Mata Mayang seketika membulat. Ia berusaha bangkit dari tidurnya, kemudian duduk dan menghela napas sepertinya ia mengkhawatirkan Arya.
"Mas, maaf. Boleh aku minta tolong?"
"Ya, apa?"
"Tolong banget, Ibu jangan dikasih pegang Arya. Khawatir ia menyakitinya," ucapnya. Kemudian, Mayang mendekapku, lalu menangis tersedu-sedu.
"Mayang, aku tahu kamu tertekan dengan Ibu, tapi kayaknya ia takkan menyakiti Arya," jawabku menenangkannya.
"Mas, aku mohon, jangan biarkan Ibu mengurus Arya. Aku pinjam ponsel, ya. Biar mamaku saja yang mengurusnya," sambung Mayang lagi. Kemudian aku memeluknya erat-erat dan menjerit, teringat ia menyimpan rasa ini dua tahun lamanya.
"Argghh ...."
"Mas, kamu kenapa?"
"Mayang, aku sudah tahu semuanya, inikah yang mau kamu ceritakan di tanggal 5 September nanti?" tanyaku dengan isakkan yang belum juga berhenti.
Mayang terdiam, kemudian melepaskan pelukan ini dengan cepat.
"Mas, aku baik-baik saja," jawab Mayang sambil tersenyum.
"Mayang, aku akan menjagamu, dan berusaha memberikan pengobatan terbaik untukmu," tuturku padanya.
Tidak lama kemudian, petugas medis datang dan memindahkan Mayang ke ruang rawat inap. Kami pun bergegas menuju kamar tempat bermalamnya Mayang.
Aku pun menghubungi mama mertuaku dan memintanya untuk menjaga Arya sesuai permintaan dari Mayang.
Untuk saat ini, aku hanya ingin menebus kesalahanku yang terdahulu. Apapun yang Mayang pinta akan kuberikan dan kulakukan dengan sepenuh hati.
Sakit yang Mayang derita ini murni kesalahanku, akibat sakit batin yang ia miliki. Kini, aku sampai tidak mengetahui yang terjadi dengan kondisi fisiknya.
***
Pagi ini, kami berada di rumah sakit. Hiruk-pikuk lingkungan rumah tidak terdengar saat ini di telinga. Hanya terdengar suara rintihan orang kesakitan, suara suster berjalan memberikan obat ke setiap pasien, hanya itu yang kami dengar.
Mbok Ani sudah pulang subuh-subuh tadi. Ia aku suruh merapikan rumah dan menyusul Arya di rumah mama mertuaku. Sejak Mayang meminta Arya dipegang mama saja, aku pun memintanya untuk datang ke rumah dan mengambil Arya.
Kabar sakit yang diderita Mayang belum mereka dengar. Aku tidak tahu bagaimana jika orang tuanya mengetahui penyakit itu. Pastinya mereka berdua lebih terpukul dariku.
"Mas, aku mau cuci muka," ucap Mayang. Kemudian, aku mengantarkan istriku ke kamar mandi. Ia pun berkaca dan tersenyum di depan kaca padaku.
"Kamu jelek, Mas, kalau panik begitu," canda Mayang. Aku pun mengecup rambutnya yang sudah agak tipis. Jadi teringat untuk menemui dokter yang menangani Mayang sejak awal. Namun, sepertinya ia tidak perlu mengetahui hal ini.
"Aku mau cari sarapan dulu, ya. Kamu di sini sendiri nggak apa-apa, kan?" tanyaku padanya sambil merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur. Wajahnya yang basah membuat ia terlihat lebih segar dari semalam.
"Iya, Mas. Kamu ini terlalu khawatir, aku baik-baik saja, Mas," celetuk Mayang. Kemudian, ketika ingin melangkah. Aku dikejutkan kedatangan orang tuanya Mayang.
"Assalamualaikum," ucapnya berbarengan.
"Waalaikumsalam, loh. Arya sama siapa, Mah?" tanya Mayang ketika melihat orang tuanya datang tidak bersama Arya.
"Arya sudah sama Mbok Ani. Ada Reina juga di rumah," jawab mama. Reina adalah adik Mayang yang baru saja lulus kuliah dan baru tiba di Jakarta. Ia tinggal di Jogja bersama Bude dan Pakde.
"Oh, Reina sudah datang, aku pikir nanti tanggal 5 September, Mah," jawab Mayang.
Aku terkejut mendengar Mayang menyebutkan tanggal tersebut, karena tanggal itu sering ia sebutkan untuk mengatakan sesuatu padaku.
Mayang tersenyum tipis melihat netraku. Saat ini, jantungku sedang berdetak kencang, mengkhawatirkan jika kedua orang tuanya Mayang menanyakan perihal penyakitnya.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya mama.
"Baik, Mah, Pah," jawabnya.
"Mayang sakit apa, Ardan?" tanya mereka secara bersamaan. Astaga, mata keduanya menyorotku. Semua menginginkan aku yang bicara perihal apa yang dirasakan Mayang saat ini.
"Itu, Pah, Mah, Mayang sakit ...." Aku menahannya, bibir ini tak kuasa menguak kenyataan pahit ini.
Bersambung