Rambut Mayang Rontok

1650 Words
##Bab 10 Rambut Mayang Rontok “Mas, kamu ngapain?” tanya Mayang seketika membuatku terkejut. Kertas yang sedang k****a pun terpaksa dimasukkan kembali ke dalam tasnya. “Kamu sudah bangun? Tadi ada telepon masuk dari nomer tak dikenal, mau diangkat sudah mati,” jawabku dengan alasan. Ia pun sontak meraih tas yang sedari tadi kupegang. Masih ada rasa penasaran di dalam d**a ini. Namun, untuk sementara aku biarkan Mayang mengambil tasnya itu dari tanganku. Mumpung Mayang sudah bangun, aku mengajaknya untuk jalan-jalan ke taman. Siapa tahu ia masih ingin bercerita padaku. “Kita ke taman, mau nggak?” tanyaku. Mayang menggelengkan kepalanya. Ia menolak ajakanku. “Masih pusing?” tanyaku sambil merapikan rambutnya. Namun, alangkah terkejutnya aku, ketika merapikan rambut yang berantakan tiba-tiba rambut panjangnya banyak yang kebawa. “Mayang, rambutmu rontok banyak banget, kamu serius baik-baik saja?” tanyaku sembari menatap netranya yang sayup. “Mas, aku tuh lagi nggak cocok shampoo, makanya kalau belanja istri tuh diajak,” ejek Mayang. Aku membelai rambutnya lagi, tapi ia menepisnya. “Oh ya, aku minta maaf atas segala kesalahan yang dilakukan Ibuku,” ucapku. Mayang pun tersenyum. Masih teringat ucapan ibu ketika bersama Rika. Namun, aku tidak tega untuk membuat Mayang sedih. Apalagi ia sedang tidak fit. Mayang menurunkan kedua kakinya, lalu ia memakai sandal yang ada di bawah ranjang. “Kamu mau ke mana?” tanyaku sambil menggenggam tangannya. Barangkali ia ingin dituntun. “Aku ingin melihat Arya di kamarnya,” jawab Mayang sembari bangkit. Kemudian, aku berusaha untuk menuntunnya, tapi ia tidak mau. “Mas, nggak usah, aku sehat kok,” tolaknya sambil menyingkirkan tangan ini. Aku pun tetap mendampingi Mayang, khawatir ia jatuh lagi. Kulihat dari belakang, di bagian betis kakinya ada memar terlihat. Apa mungkin ini efek dari jatuhnya Mayang tadi di dekat rumah Rika? “Mayang, aku tuntun ya! Betismu memar, biru kulihat,” ucapku sembari menggandengnya. Akhirnya Mayang mau didampingi ke kamar Arya. Kami menuju kamar dengan pelan sekali. “Kamu mau nyusuin Arya?” tanyaku. “Nggak, Mas. Aku sudah memutuskan, malam ini Arya disapih,” sahut Mayang. Aku pun tersenyum tipis ke arahnya. “Nggak jadi nunggu 5 September?” ejekku membuat bidadari di hadapanku tersenyum. “Nggak jadi, Mas. Kan aku sudah bicara jujur padamu,” sahut Mayang. Kemudian, setelah sampai di kamar Arya, terlihat anak pertama kami sedang bermain dengan Mbok Ani. Arya pun menghampiri kami berdua dengan langkah kaki yang belum lancar berjalan. “Mama ... Papa ....” ucapnya sambil beranjak ke pangkuanku. “Sayang, kamu sudah besar, mulai hari ini s**u botol terus ya,” ucap Mayang pada Arya. Ia pun mencium pipi mamanya. Padahal aku yang sedang memangkunya. “Papa nggak dicium?” tanyaku sambil menunjuk ke arah pipi. “Ndak, Mama aja, acian Mama anyis iyus,” celetuk Arya dengan bahasa cadelnya yang berarti kasihan pada mamanya nangis terus. Aku menoleh ke arah Mayang, ini yang lupa aku tanyakan kenapa ia selalu menangis ketika melihat Arya. “Mayang, kamu dengar tadi Arya bicara apa?” tanyaku dengan sengaja. Ini caraku memancing ia agar mau bicara. “Ya, Mas. Maaf ya. Aku sudah membuat Arya kasihan pada mamanya,” sahut Mayang. “Nggak begitu, maksudnya, Mayang,” pelukku. “Sudahlah, Mas. Namanya juga anak-anak, pasti kasihan pada ibunya,” sambung Mayang lagi. Tetap saja ia tidak mau bicara, masih saja menyembunyikan rahasia yang ia simpan sendirian. Lebih baik aku ancam jika ia tidak bicara, maka aku akan bicarakan ini pada mamanya. Aku turunkan Arya dari pangkuanku. Kemudian, Mbok tahu kode tatapan mataku ini. “Ayo Arya, kita mandi, biar wangi,” ajak Mbok Ani. Kemudian, ia pun membawanya pergi. “Mayang, sekarang kamu jujur mengenai kenapa kamu nangis tiap kali memandang Arya, kadang kamu menciumnya dengan histeris,” selidikku pada wanita yang pandai menyimpan rahasia. Ia mengecap bibirnya, kemudian mendesah kesal. “Mas, bisa nggak sih percaya pada istri!” sentaknya kesal. Aku hanya memandang dengan mata menyipit. “Aku sangat mencintaimu, ini caraku untuk tahu bahwa kamu dalam keadaan baik-baik saja. Bagaimana aku tidak cemas? Sedangkan tahu bagaimana Ibu kandungku memperlakukan menantu seperti ATM berjalan,” jawabku dengan nada sedikit meninggi. “Mas, aku baik-baik saja, batinku sudah terbiasa mendapatkan hal seperti ini, sejak Arya lahir, itu seperti makananku sehari-hari,” isaknya membuatku menghela napas. Ya Tuhan, istriku tersiksa batinnya setiap hari. “Baiklah, kita ke rumah Mama sekarang, Mama harus tahu perlakuan Ibuku. Ini semua agar orang tuamu dapat memberikan solusi untukku,” usulku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana bicara dengan wanita yang benar-benar kusayangi. Ia menunduk. Kemudian mendongakkan dagunya kembali. Darah itu kembali menetes, itu alasan Mayang mendongak. “Mayang, kamu mimisan lagi,” ucapku sembari membantunya mengambilkan tisyu. Kemudian, aku sapu darah yang menetes dari lubang hidungnya. “Sudahlah, tidak perlu cemas, ini hal biasa,” jawab Mayang sembari meraih tisyu yang aku pegang. Kemudian, aku tatap kembali wajahnya. Ia tersenyum tipis di hadapanku, tapi setelah itu, air mata mulai membasahi pipinya. “Mayang, sebenarnya apa yang telah terjadi?” Aku menanyakan tepat di hadapan wanita yang kupersunting dengan mas kawin hanya sepasang anting kecil yang masih melekat di telinganya. Tangannya mencoba meraih jari jemariku. Kemudian, ia mengecupnya dengan mesra. “Mas, aku baik-baik saja,” ucapnya sambil menitihkan air mata. “Kamu sudah tidak bisa berbohong, ini pasti ada apa-apanya,” sahutku sambil menggelengkan kepala. Tiba-tiba ketukan pintu terdengar dari arah luar. Sepertinya ada tamu yang datang. “Mayang, aku lihat ke depan, sepertinya ada tamu,” tutupku. Kami belum selesai bicara, tapi sudah terjeda lagi dengan kedatangan tamu. “Aku tunggu di sini, Mas,” jawabnya pelan. Kemudian aku melangkah dengan cepat, dan membuka pintunya. Ternyata ibuku dengan Sita yang datang ke rumah. “Ardan,” sapa ibu. “Mau apa kalian ke sini?” “Mas, kami mau bicara sebentar,” ucap Sita. Sebaiknya aku persilahkan saja, mereka mau membela diri pun aku sudah tidak percaya. “Cepat katakan apa yang kalian ingin bicarakan!” celetukku. Rasanya sudah enggan berbicara dengannya. Meskipun ia adalah ibu yang telah melahirkanku. “Ibu mau minta maaf, Ardan. Maafkan Ibu,” ucapnya lirih. Entahlah ini penyesalan atau pencintraan. “Bu, jika Ibu minta maaf pada Mayang, barulah aku bisa menerima penjelasan Ibu,” jawabku memberikan persyaratan. “Iya, Ibu akan minta maaf pada Mayang, asalkan kamu jangan marah lagi pada ibu,” tuturnya akhirnya menyerah. ??? POV Ibu Diah Flashback “Rika, nanti kamu aku tugaskan untuk menagih utang pada menantuku, Mayang,” bisikku pada Rika, teman sebaya Mayang. “Untuk apa sih?” jawabnya malah balik bertanya. “Pokoknya tugasmu untuk nagih ke sana, jangan membantah!” tekanku. Semenjak aku mengetahui bahwa menantu pertamaku adalah anak orang kaya, sejak itulah aku ingin menguasai harta anakku. Namun, ternyata hidup anakku, Ardan sama saja seperti orang layaknya. Tidak terbilang berkecukupan, padahal istrinya memiliki harta yang tujuh turunan takkan pernah habis. Kemudian, ia melahirkan cucuku, yang ternyata dengan proses Caesar. Tambah dongkol d**a ini ketika anakku Ardan datang ke rumah. “Bu, aku pinjam uang 20 juta, nanti aku ganti nyicil,” rayu Ardan. “Ibu tidak punya uang,” celetukku. “Bu, tolong perhiasan Ibu dijual dulu,” suruhnya. d**a ini rasa bergemuruh, teringat bahwa orang tua Mayang itu mampu untuk membiayai anaknya. Namun, Ardan bersikeras untuk bertanggungjawab atas operasi yang akan berlangsung besok. Aku menggerutu di dalam hati. Kenapa ia tidak melahirkan normal saja? Kenapa harus operasi? Menghabiskan uang saja. “Sebentar, Ibu ada simpanan 20 juta. Tapi janji ganti, ini untuk beli sawah di kampung!” tekanku kesal. “Tuh kan, Ibu punya. Tenang Bu, pasti akan kuganti.” Ia pun pergi membawa pulang uang yang kukumpulkan sebelum Ardan menikah. Ada rasa kesal karena sejatinya wanita itu memang seharusnya melahirkan normal. Jika memutuskan untuk operasi, itu artinya ia tidak berusaha untuk menjadi wanita yang sesungguhnya. Aku masih bolak balik mengirimkan lauk pada Mayang. Sampai di suatu ketika, ada selembar kertas kulihat di lacinya. Sebuah diagnosis dari dokter untuk Mayang Kartika. Aku baca dengan teliti, ternyata ia mengidap leukimia stadium awal. Aku mengelus d**a, orang kaya memang penyakitnya aneh-aneh, tapi ini suatu keajaiban untukku. Dengan begitu Ardan nanti cepat menduda. Setiap hari, aku sengaja memberikan tekanan mental pada Mayang. Ini agar kanker yang ia derita lebih cepat menyerangnya. Terkadang ia jarang berada di rumah, ketika aku datang dengan membawakan lauk pauk untuknya. Memang wanita yang terbiasa hidup mewah itu, tidak betah di rumah. Terlebih tidak pernah mengerjakan apapun pekerjaan rumah. Memang wanita seperti itu, sudah sepantasnya diperas. Agar tidak seenaknya uncang-uncang kaki meminta jatah dari suami. Setelah dua tahun lamanya memeras Mayang, akhirnya terbongkar juga oleh Ardan. Aku bisa apa? Hanya mampu menangis memohon belas kasih Ardan. Ini semua dikarenakan aku tidak ingin kehilangan jatah bulanan. “Sita, Ibu bingung, Ardan marah besar,” ujarku pada Sita, istri dari Rayyan. Ia berbeda dengan Mayang. Mungkin karena kami satu desa, jadi nyambung ketika diajak bicara. “Ayo, Bu, kita ke rumahnya! Jangan sampai Mas Ardan masih marah ketika Mbak Mayang mati!” ajak Sita. Benar juga ucapannya. Akhirnya, kuberanikan diri untuk kembali ke sana. Sita membantuku bicara, hingga akhirnya aku diminta untuk meminta maaf pada Mayang. Akhirnya kami pun menyetujuinya. Dengan langkah kaki berbarengan ke kamar, yang ternyata Mayang sedang berada di kamar Arya. “Mayang ....” panggil Ardan. Aku dan Sita mengiringi langkahnya. “Mbok, Mayang ke mana?” tanya Ardan ketika melihat wanita yang ia puja tidak berada di kamar yang kami kunjungi. Kami semua sudah melihat dari sudut ke sudut, tapi tidak ada Mayang di kamar ini. “Mbok! Mayang!” teriak Ardan lagi. “Iya, Pak.” Tiba-tiba Mbok nongol bersama Arya. “Loh, Mayang ke mana, ya Mbok?” tanya Ardan. Mbok pun menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba Ardan panik, ia mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Kemudian, Ardan lompat dan segera mengecek ke kamar mandi tersebut. “Mayang!” teriak Ardan sangat kencang sekali. Mayang kah itu di kamar mandi? Kami pun menyusul ke tempat Ardan berada. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD