“Siang, Bu. Cari siapa, ya?” tanyaku dengan sopan. Namun, pandangan wanita itu terus menatap ibuku. Mereka berdua saling beradu pandangan, kulihat keduanya seperti saling mengenal.
“Bu, Ibu kenal tamu yang datang?” tanyaku penasaran. Akan tetapi, ibu tidak mendengar.
“Bu, Mas Ardan tanya ke Ibu,” celetuk Sita sambil mengagetkan ibuku dengan tepukan ke pundaknya. Mereka berdua pun seketika salah tingkah. Kulihat keduanya saling mengalihkan pandangannya.
“Maaf, ada Mayang?” tanya wanita yang masih berdiri di hadapanku.
“Mayang? Ibu kenal dengan Mayang? Lalu tadi ibuku menyebutkan nama Anika, apa kalian saling kenal?” tanyaku menyelidik.
“Ya, saya kenal Mayang, dan kenal Ibumu itu,” ucapnya sambil menunjuk dengan bibirnya. Alisnya terangkat kemudian tersenyum tipis pada ibu.
“Maaf, kenal Mayang di mana?” tanyaku keheranan. Masa iya istriku berteman dengan sepantaran ibuku.
“Boleh masuk dan duduk terlebih dulu?” pintanya membuatku malu. Rasa penasaran ini membuatku lupa akan sopan santun menerima tamu.
Akhirnya kupersilahkan masuk dan duduk wanita yang bernama Anika itu. Kemudian, ia duduk, disusul ibuku yang turut duduk di hadapannya.
“Sita, tolong ambilkan minum!” perintahku. Ia pun mengangguk dan ke belakang untuk menyuguhkan minuman.
Tidak seperti biasanya, ibuku kali ini diam membisu, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Aku yang tak biasa melihatnya seperti itu pun menegurnya.
“Bu, apa yang Ibu pikirkan? Apakah kalian saling kenal sebelumnya?” tanyaku lagi. Kemudian, kulihat wajah ibu yang tampak gelisah ketika aku menanyakan hal yang menurutku biasa.
“Nggak kok, Ibu tidak mengenalnya,” celetuknya. Tampaknya ia lupa, bukankah ibu sudah menyebutkan nama wanita asing ini? Aku pun tertawa kecil mendengar ucapan ibu.
“Bu, jelas-jelas tadi sudah kudengar dari mulut Ibu, namanya Anika, iya kan Bu Anika?” sindirku. Kemudian tamu itu pun tersenyum.
“Iya, saya Anika, pernah dekat dan kenal dengan Bu Diah,” ucapnya mengejutkanku. Kenapa ibu tidak mau mengakui temannya ini? Apalagi yang ia sembunyikan!
“Bu, jangan main rahasia-rahasiaan lagi denganku!” tekanku padanya. Bola mata ibu tetap melirik Bu Anika hingga tak berkedip.
“Ya, Ibu kenal wanita ini,” ucapnya seperti terpaksa.
Tidak lama kemudian, Sita pun datang membawa minuman dan menyuguhkannya pada Bu Anika.
“Ini minumnya, silahkan!” ucap Sita.
“Terima kasih,” sahutnya.
“Jadi ibu kenal dengan istri saya di mana?” tanyaku menyecarnya. Kemudian, ia melirik dan menyorot netranya pada ibu.
“Saya mengenal Mayang sejak beberapa bulan yang lalu, ketika ia jadi tukang ojek,” pungkasnya sambil menyorot ke arah ibuku.
Aku menghela napas, jika teringat kata-kata ojek, hatiku perih, seperti teriris. Namun, seketika itu juga Bu Anika tidak melepaskan pandangannya pada ibuku.
“Mayang diopname, Bu. Ia mengidap kanker,” jawabku lemas. Seketika wajah wanita itu berputar ke arahku. Kemudian, kulihat ada embun di kelopak matanya.
Bu Anika terdiam, tidak lama kemudian ia menyeka sedikit air matanya yang ternyata menetes tanpa sengaja. Astaga, itu hanya sebagai penumpang saja ia sedihnya sampai seperti itu. Kenapa ibuku yang seorang mertua tidak ada perasaan sedih dan iba pada Mayang?
Aku terheran hingga menautkan kedua alis ini. Kutatap matanya yang kini semakin deras air mata yang tumpah.
“Bu, apakah Ibu kenal dekat dengan Mayang?” tanyaku penasaran. Kenapa ia sampai sederas itu air matanya.
“Ya, dalam waktu dekat ini, Mayang ingin memberikan suaminya surprise, tapi ia malah sakit,” isaknya membuatku terenyuh. Astaga, surprise untukku? Tanggal 5 September yang ia sebutkan kemarin kah?
“Surprise apa itu, Bu?” ucapku kini beruraian air mata. Tak kuat rasanya mendengar ucapannya.
“Ibu juga tidak tahu, tapi ia sangat menginginkan saya hadir saat itu,” ucapnya tersenyum tipis sambil memiringkan bibirnya. Kulihat wajah ibuku kini seperti emosi yang terbelah.
“Kalau begitu, saya minta alamat rumah sakitnya, biar ketemu Mayang di rumah sakit saja,” ucapnya membuatku ingin kembali ke rumah sakit. Namun, kedua orang tuanya Mayang tidak menginginkan itu.
“Apa bareng denganku saja? Aku antar ke rumah sakit, bagaimana?”
“Nggak usah, saya bawa mobil sendiri,” ucap wanita yang ternyata membawa mobil. Berati ia adalah orang berada.
“Oh gitu, Ibu ke rumah sakit Maya Bakti ruang VVIP 3, istri saya di sana,” ucapku padanya.
Kemudian, ia bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan ibuku. Ia turut bangkit, tapi suaranya yang biasanya selalu terdengar, kali ini tidak kedengaran sama sekali. Tiba-tiba ia membisu tanpa alasan.
“Bu Anika, kita ke rumah sakit bersama-sama, ya!” ajakku ketika ia hendak melangkah. Lagi-lagi wajahnya menyorot ibuku.
“Satu mobil gitu?” tanyanya.
“Ya nggak, aku ikut!” sambung ibuku memotong pembicaraan. Akhirnya ia mau mengeluarkan suaranya kembali.
“Ya sudah, saya dan ibu pisah mobil,” sahutku. “Sita, kamu ikut, nggak?” tanyaku basa-basi, sebenarnya enggan sekali mengajaknya.
“Aku di rumah saja, setelah ini pulang, Mas Rayyan nanti nyariin,” tolaknya.
Kemudian, kami bergegas menuju rumah sakit. Rasa lelahku pun sudah hilang, karena tadi sempat istirahat beberapa jam. Sekarang aku ke sana ada alasan untuk mengantarkan Bu Anika ke rumah sakit bertemu dengan Mayang. Namun, aku harus bersiap-siap untuk mendengarkan papa memarahiku, karena otomatis mereka tahu bahwa Mayang pernah ngojek.
Tiap perbuatan memang ada konsekuensinya, tiap masalah juga pastinya ada solusinya. Semoga permasalahanku dengan papa mertua segera terselesaikan.
Untuk saat ini, aku hanya mampu menuruti apa yang jadi keinginannya. Sebab, memang salahku yang tidak pandai membaca hati seorang istri. Kubiarkan istriku terus menerus tersiksa oleh ucapan yang telah ibuku lontarkan.
Efek dari ucapannya bukan hanya pada diri Mayang. Akan tetapi, berimbas juga pada anakku, Arya. Sekarang baru kusadari, istriku selalu menangis ketika menyusui, pasti karena ia merasa akan meninggalkan Arya. Ya, penyakit yang ia derita bukanlah penyakit main-main.
Tanganku terus menggenggam gagang setir, tapi pikiranku ini berada di awan-awan. Seakan rasa bersalah terus menerus menghantui. Namun, itu tidak kulihat terpancar dari wajah ibu. Apa mungkin perasaan benci terhadap Mayang hingga mematikan perasaan ibanya?
Kulirik arah wanita yang selalu mengungkit jasanya melahirkan dan membesarkanku. Terlihat tidak ada rasa iba dan merasa bersalah atas apa yang menimpa Mayang. Namun, dari hari yang ia selalu gigit sejak berangkat dari rumah tadi, aku rasa ia sedang memikirkan sesuatu. Entahlah apa yang ia pikirkan.
Setibanya di rumah sakit, aku, ibu, dan Bu Anika, segera ke lantai atas. Ruangan VVIP 3. Jam besuk membuat kami antri menunggu lift yang penuh sesak. Kami tidak bisa menaiki lift dengan cepat, menunggu sampai tubuh kami bertiga cukup untuk masuk.
Di saat kami menunggu lift, kulihat ada Pak Wijaya beserta istri datang dari arah pintu masuk. Mungkinkah beliau hendak ingin membesuk Mayang juga?
Aku tepuk pundak Pak Wijaya, kemudian ia menoleh.
“Eh kamu Ardan, baru saja aku ingin menghubungimu,” sapanya setelah aku kejutkan dari belakang. Bu Tiara pun tersenyum dan menundukkan kepalanya seraya menunjukkan sopan santunnya.
“Bapak mau jenguk Mayang?” tanyaku sambil tersenyum. Kemudian, ia menoleh ke arah istrinya.
“Iya, tadi habis besuk Mayang, kata kamu VVIP 3, tapi tidak ada Mayang di lokasi, makanya ini mau hubungi kamu,” ucapnya membuatku terkejut. Aku kira Pak Wijaya sedang becanda. Ia sering bercanda padaku.
“Pak, jangan becanda!” ledekku.
“Kita cek bersama-sama, ya!” ajaknya. Kali ini wajah Pak Wijaya serius. Berati ucapannya bukan candaan. Namun, aku masih tetap bersikeras mengatakan bahwa ia salah kamar.
“Jangan-jangan Bapak salah masuk kamar!” ejekku lagi. Kemudian, lampu lift sudah menyala dan terbuka. Kami pun kebagian untuk naik ke atas.
Di perjalanan aku terus memikirkan Mayang. Bagaimana jika Mayang benar-benar tidak ada di kamar? Lalu ia ke mana? Apa Papanya sudah sangat marah padaku? Lalu memindahkan Mayang ke rumah sakit lain? Hatiku jadi bertanya-tanya, jika itu benar, lantas aku sudah tidak memiliki harapan menebus kesalahanku pada Mayang.
Lift yang kami naikki sudah terbuka. Kami berlima bergegas ke arah ruangan awal mula Mayang dirawat.
“Tenang, Ardan, tenang,” ucap Bu Anika membuatku menghentikan langkah. Tiba-tiba suaranya membuatku agak sedikit tenang. Kenapa ibuku malah diam saja? Ibu kandung rasa ibu tiri, ia selalu saja egois yang dijunjung tinggi.
Setibanya di kamar, aku membuka pintunya dengan keras. Hingga suara gebrakan pintu terdengar memekik telinga. Sontak suster jaga pun terkejut dan menghampiri kami.
“Pak, kenapa mendobrak pintu seperti itu?” tanya suster heran. Aku tak menghiraukannya, langkah kakiku tertuju ke sudut kamar. Semua ruangan aku periksa dan ternyata memang kosong.
“Sus, di mana istri saya, Mayang!” sentakku pada suster yang tadi menghampiri.
“Ardan, kamu tenang, ya!” cegah Pak Wijaya berusaha menenangkanku.
“Pak, Mayang tidak ada di kamar, istriku sakit keras, aku tidak bisa berbuat apa-apa, kini malah menghilang,” ucapku kini mengeluarkan air mata. Astaga, sejak Mayang terluka hatinya, sejak itu pula aku mudah mengeluarkan air mata.
“Ya, saya tahu itu, tadi saya kan sudah bilang, Mayang tidak ada, tapi kamu tidak percaya,” sahutnya. Aku pun menghela napas, dan memukuli ranjang rumah sakit bekas Mayang tertidur di sini semalaman.
Kemudian, suster yang kutanyakan pun tak menjawab, ia malah melangkahkan kakinya ke luar ruangan.
“Suster! Tunggu!” teriakku. Aku yakin sekali ia mengetahui keberadaan Mayang saat ini.
Langkah kakinya pun terhenti, aku mencoba menghampirinya. Agar ia mengatakan padaku keberadaan Mayang saat ini.
“Suster, kamu punya anak dan suami?” tanyaku. Ia pun mengangguk tanpa memandang wajahku. Ada rasa takut terpancar di matanya.
“Saya tahu, suster mengetahui sesuatu. Anak saya usia 2 tahun tanggal 5 September besok, masa ia merayakan ulang tahunnya tanpa sosok papa. Apa suster tega melihat anak suster pun seperti itu?” tanyaku terkesan memaksa. Namun, ini hanya pancingan untuk membuatnya bicara padaku.
Suster itupun menggelengkan kepalanya.
“Cepat katakan, di mana istri saya dipindahkan? Rumah sakit ini atau rumah sakit lain?” tanyaku masih memaksa.
“Maaf, Pak. Saya tidak tahu, ini bukan ranah saya,” sahutnya masih tidak berani bicara padaku. Kemudian, ia pun melangkah kembali.
“Suster!” panggil Bu Anika. Kini gantian ia yang menghampirinya.
“Bicaralah padaku, suami saya Direktur Rumah Sakit Maya Bakti, Pak Burhan Sofyantoro, katakan saja! Kamu aman,” suruh Bu Anika. Seketika suster itu terperangah. Jangankan suster, aku dan ibu pun turut terbelalak mendengar penuturan yang barusan kudengar dari mulut Bu Anika.
Bersambung