4. Kesempatan Kedua

1272 Words
Kedua mata Nathan mengerjab beberapa kali, memastikan bahwa penglihatannya ini sama sekali tidaklah salah, tangan besarnya memegangi kepala yang terasa pusing dan kuping yang berdengung. Nathan memfokuskan penglihatannya saat sebuah tangan melambai-lambai tepat di bola matanya. "Apa kepalamu pusing?" Suara yang lembut masuki indra pendengaranya. Nathan menatap sosok perempuan yang telah dia kecewakan bertahun-tahun lamanya. Lelaki beralis tebal itu mengubah posisinya menjadi duduk dengan perlahan dan di bantu oleh wanita yang dia sia-siakan demi wanita yang bemuka dua seperti Agatha. "Hei, Nath, apa kepalamu masih pusing?" Tatapan lembut juga gurat wajah penuh kekhawatiran itu membuat air mata Nathan perlahan keluar dengan sendirinya. Nathan tidak tahu apa yang terjadi padanya itu adalah sebuah mimpi atau penglihatan masa depan, tapi yang jelas adalah Nathan tidak ingin melihat ekspresi marah dan tatapan benci dari wanita yang berada di hadapannya kini. Itu semua terasa sangat nyata. Bahkan rasa sakit akibat suntikan racun yang di berikan Agatha juga tembakan yang di layangkan Alex ke arah jantungnya masih terasa hingga kini. Apa semua ini nyata? Seharusnya aku sudah mati dan di alam baka sekarang lalu mengapa aku kembali ke kamar ini? Apa ini kesempatan kedua bagiku untuk memperbaiki semuanya? Pikir Nathan yang mengabaikan suara Agatha saat mengusir Clarissa dari kamarnya secara paksa. "Oh yah ampun sayang lihat kepalamu di perban, apa kau masih sakit? Perlu kita ke dokter?" Pertanyaan Agatha menyadarkan Nathan dari pikirannya. Tubuh lelaki itu langsung menejauh dari wanita yang berada di sampingnya. Mata Nathan tak sengaja melihat Clarissa yang berjalan ke luar. "Berhenti!" Hawa di ruangan ini mendadak berubah, tubuh kedua wanita itu menegang secara bersamaan. Suara berat sarat akan ketegasan itu mampu membuat mereka tak berkutik. Nathan memandang tajam ke arah Agatha dan berkata, "Keluar kau dari kamarku sekarang." Agatha mengerutkan keningnya saat mendengar suara penuh penekanan itu juga tatapan tajam yang tidak pernah dia dapat dari pria yang sudah lama menjalin kasih dengannya. "Tapi Nath–" "Keluar!!" Bentak Nathan membuat tubuh Agatha terperanjat kaget secara refleks. "Nathan apa yang kau katakan?" Meski takut Agatha mencoba bersikap biasa saja. Dia berpikir mungkin Nathan hanya banyak masalah dan secara tidak sengaja membentaknya. Nathan menampilkan raut jengah akan sikap wanita di sebelahnya itu, belum lagi tubuh dengan balutan dress ketat tersebut semakin mendekat ke arahnya. "Kau tuli?" Ejek Nathan membuat Agatha kembali terkejut, "Keluar dengan kakimu sendiri atau aku menyuruh bawahanku menyeretmu?" Agatha tersenyum kaku. Ini hal baru yang buruk untuknya. "Baiklah aku akan keluar, jika kau butuh sesuatu panggil aku." Mengalah adalah jalan satu-satunya untuk saat ini. Rahang yang mengeras dengan urat yang tercetak jelas menandakan lelaki itu tengah marah besar yang tidak bisa di ganggu. Agatha ingin mencari aman saja, ia tidak mau menjadi bahan amukkan lelaki itu. Senyum miring di layangkan olehnya saat melewati Clarissa. Agatha dengan sengaja menyenggol bahu wanita itu sangat kencang hingga sang empu mundur kebelakang. "Nikmati hukumanmu nyonya Gracia." Kekehnya sinis lalu melanjutkan langkah yang tertunda. Clarissa cepat-cepat sadar dari lamunannya dan membantu Nathan saat lelaki itu ingin beranjak dari tempat tidur. "Kau ingin kemana? Duduklah dulu dan jangan banyak bergerak." Mendengar itu Nathan menurut, niatnya yang ingin menghampiri Clarissa dibatalkan karena wanita itu sendiri yang membantunya, rasa bersalah itu semakin besar tumbuh di dalam hatinya. Setelah duduk di pinggir ranjang Nathan langsung saja membawa Clarissa dalam pelukannya yang hangat, tangisnya tak lagi di tahan saat aroma mawar tercium di rongga hidungnya. "Maafkan aku, kumohon maafkan aku." Gumam Nathan yang tak dapat di dengar oleh Clarissa dengan jelas. "Kau mengatakan sesuatu?" tanya Clarissa. Nathan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil yang selalu dia siksa itu. "Maafkan aku ... maafkan aku, maaf atas semuanya Cla ...." Tubuh Clarissa mematung mendengar lirihan itu. Dia melepaskan pelukan Nathan dengan susah payah, bola matanya menatap tepat di manik biru yang selalu menatapnya dengan tajam, kini malah terlihat sayu dengan air mata yang membanjiri pipinya. "A–da apa denganmu? Apa benturannya sangat keras?" Clarissa bertanya degan wajah takutnya. Nathan menggeleng pelan. Tidak ada yang sakit sama sekali tidak ada selain hatinya. Nathan memandang penuh penyesalan pada manik coklat tersebut. "Di mana, El?" tanyanya yang membuat Clarissa kembali terkejut untuk kesekian kalinya. Pertama lelaki itu membentak Agatha, kedua menangis sambil memeluknya dengan erat, ketiga berbicara lembut padanya, dan terakhir bertanya tentang El yang selama ini diabaikan? "Ha? Oh El, dia sedang berada di kamarnya." Nathan mengangguk dia menaruh Clarissa di pangkuannya saat merasakan wanita itu ingin menjaga jarak darinya. Nathan menjatuhkan dagunya di pundak sang istri, menghirup aroma mawar yang tak pernah dia sadari dulu. Jika Nathan di berikan kesempatan kedua dan jika benar bahwa kejadian yang dialami benar-benar nyata maka Nathan tidak akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya. Otaknya mulai mengingat tanggal berapa sekarang, bulan dan tahun berapa sekarang. "Nathan, ini–" "Biarkan dulu seperti ini," ptong Nathan cepat, "Clarissa," panggilnya. Nathan menghembuskan napas perlahan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Tolong jangan pernah benci padaku dan jangan pergi menjauh, tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, kumohon padamu." Ujar Nathan dengan tulus. Hal yang pertama harus dia lakukan adalah mendapatkan maaf dari Clarissa dan El sang anak. Dua manusia yang selalu ada di sisinya dengan tulus, Natgan tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya. Clarissa tidak menjawab ucapan Nathan, matanya terus menatap lurus kearah Nathan, ini terlalu tiba-tiba untuk orang sekejam Nathan yang meminta maaf padanya juga menatap dia dengan rasa bersalah. "Nathan seharusnya aku yang meminta maaf karena lalai mendidik El akibatnya kau jadi terjatuh dari tangga karena beberapa mainan El yang berserakan kemana-mana, seharusnya aku memberi tahu El bahwa dia tidak boleh main di sebarang tempat. Maaf atas kecerobohan yang kulakukan itu," Kata Clarissa menjelaskan kronologi mengapa kepala lelaki yang berstatus suaminya itu di perban seperti ini. Nathan menatap atap kamarnya. Ah, jatuh dari tangga yah? Aku ingat sekarang, ini kejadian lima tahun lalu, saat aku pertama kalinya memukul El karena menyalahkan anak itu atas kecelakaan yang menimpaku, padahal tidak sepenuhnya salah El, aku yang salah karena tak melihat jalan dengan fokus dan para maid yang lambat dalam bekerja. Nathan menggelengkan kepalanya, mengerutuki kelakuan bodohnya dulu. "Aku ingin bertemu, El," Pinta Nathan membuat Clarissa merasa was-was. "Jika kau ingin menghukumnya, hukum saja aku, sudah aku bilang aku yang salah karena ceroboh, bukan El." Kata Clarissa dengan cepat. Dia tidak mau anaknya mendapatkan lebih dari cacian yang biasa lelaki ini ucapankan. Cukup dengan keadaan psikis anaknya bukan di tambah menjadi fisiknya. "Siapa yang ingin menghukumnya? Aku hanya ingin bertemu dengannya." Ujar Nathan lalu berdiri sambil menggendong Clarissa ala koala. Clarissa berteriak secara tidak sengaja atas tindakan Nathan yang tiba-tiba, dia bergerak untuk lepas dari gendongan pria ini. "Diamlah Cla atau kau akan jatuh," peringat Nathan yang diabaikan Clarissa. "Turunkan aku, turunkan aku sekarang, kenapa kau seperti ini?" tanya Clarissa sedangkan Nathan yang mendapatkan pertanyaan itu menghembuskan napasnya. Nathan hanya ingin lebih dekat dengan wanitanya, belajar untuk mencintai sosok yang telah melahirkan serta merawat buah hati mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. Karena dulu Dia tak pernah sekalipun mencintai Clarissa, enggan untuk belajar mencintai perempuan itu karena ambisnya yang ingin mengambil seluruh kekayaan keluarga Gracia. "Kau bilang ingin di hukum bukan?" Nathan bertanya balik saat ide brilian muncul di otak liciknya. Clarissa mengangguk dengan kaku, perasaannya mulai tidak enak. Mendapati hal itu Nathan tersenyum penuh kemenangan. "Ini adalah hukuman pertamamu, jadi terima saja tanpa protes atau kau akan mendapatkan lebih dari ini." Melihat Clarissa diam seperti itu membuat Nathan bersyukur dalam hati. Bersyukur akan sifat Clarissa yang begitu penurut baik di kehidupan pertamanya maupun sekarang. Kakinya mulai bergerak menuju pintu kamar, melangkah keluar menuju kamar lain tanpa memperdulikan tatapan aneh dari beberapa maid yang bekerja juga seseorang yang menatap mereka dengan benci dan amarah di dalamnya dengan tangan mengepal di ujung tangga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD