Mata sayu itu menatap terkejut pada genangan air berwarna merah dengan air matanya yang menerobos keluar kembali membasahi pipi, langkahnya dipercepat dan kemudian memeluk raga yang tak berjiwa itu.
"Tidak! Tidak! El bangun, bangun, Nak!" Lirihnya dengan tangan yang menepuk pelan pipi sang buah hati. Mata biru yang biasanya menatap dia dengan berbinar itu kini tertutup rapat. Napas yang selalu dia rasakan kini tak ada lagi, juga hangat tubuh yang selalu berada dalam pelukannya ikut menghilang.
Kepalanya menggeleng kecil dengan isakan yang kian terdengar. "No! No! Open your eyes please." Racaunya. Clarissa mendekap El dengan erat, tidak peduli akan bercak darah yang mengenai pakaiannya.
Dia merasakan tubuhnya ditarik paksa dari sang anak. Menatap kosong ke arah jasad anaknya.
"Apa kau gila?! Kau membunuh anakmu sendiri clarissa!" Teriakan itu sama sekali tidak mengganggu sukmanya yang tengah menangisi kepergian sang anak. Clarisa terus memberontak ingin di lepaskan, dia ingin memeluk tubuh mungil itu meski rohnya sudah tak ada.
Nathan mencengkeram erat pundak Clarissa, memaksa wanita itu agar menatap ke arahnya. "Apa yang ada dalam pikiranmu hingga kau membunuh anakmu sendiri?" tanyanya yang berhasil mendapatkan gelengan dari Clarissa juga tatapan kosong wanita itu.
"Tidak tidak bukan aku yang membunuhnya, orang itu ... mereka, mereka yang membunuh El!" Ujar Clarissa dengan terbata-bata. Dia melihat anaknya dibunuh dengan sadis, namun tak bisa berbuat apapun. Mereka begitu gesit hingga Clarissa tak bisa berbuat banyak.
Sebelum menyahut Nathan tersenyum culas. "Dengan darah yang berada di tubuhmu dan senjata tajam yang berada di dekatmu bukankah sudah menjadi bukti bahwa kau adalah pelakunya?"
Seketika otak Clarissa blank, ia terlalu fokus pada El hingga tak menyadari sekelilingnya. Kamar dengan nuansa putih ini seketika menjadi hening, Clarissa menatap Nathan dengan pandangan memohon.
"Nath, untuk kali ini saja kau percaya padaku, aku, tidak membunuh El, aku tidak membunuh anakku, apa saat keluar kau tidak melihat segerombolan orang?" Dalam hati Clarissa mengutuk dirinya yang tak bisa bergerak cepat untuk menyelamatkan anaknya. Dia tidak menaruh curiga sedikitpun pada orang-orang yang menyamar menjadi pekerja rumahnya.
Awalnya Clarissa pikir itu adalah segerombolan pekerja yang biasanya mengurusi kamar El dan keperluan sang putra tapi, siapa sangka bahwa mereka hanyalah pembunuh yang menyamar menjadi pekerja.
Mata Clarissa menahan saat melihat seseorang yang baru saja tiba, belum lagi perempuan yang berada tak jauh di samping Nathan. "Dia! Dia pasti yang membunuh El dan merencanakan ini semua, dia dan selingkuhanmu itu bekerja sama untuk melakukan ini!!!" Amarah itu tak lagi terbendung, Clarissa menatap dua orang yang dia curigai dengan mata menyorot tajam.
Nathan diam di tempat. Pikiran dan hatinya sedang bergelut, ada rasa dimana dia mempercayai ucapan Clarissa mengingat perempuan itu begitu sabar menghadapi tingkah El yang aktif juga begitu keras melindungi bocah itu dari amukannya. Usapan di lengannya menyadarkan Nathan dari acara debat hati dan pikiran, matanya memandang lembut perempuan yang dia cintai itu.
"Sayang, apa yang kau pikirkan? Apa semua bukti ini tidak cukup? Kau tahu mungkin saja Clarissa melakukan itu tanpa di sengaja, dia sedang depresi dan butuh pelampiasan." Ucapan yang dilontarkan Agatha bagai bensin di tengah bara api.
"Sialan! Apa yang kau ucapkan ha?!" Kesal, sedih, marah dan kecewa menjadi satu dalam dirinya. Clarissa bersumpah dalam hati jika Nathan tidak mempercayainya lagi maka di kesempatan lain dia juga tidak akan mempercayai lelaki itu.
Nathan menghela napasnya. "Pak, Polisis kalian bisa membawa wanita pembunuh ini keluar dari rumah saya dan hukumlah sesuai pasal yang ada."
Clarissa langsung tertawa mendengar itu dengan air mata yang mengiringinya. "Sebelas tahun kita menikah, kau memukulku, mencaciku, mengkhianati pernikahan ini dan tidak mempercayaiku, demi tuhan Nathan aku menyesal mencintaimu selama pernikahan ini. Menyesal pernah berharap bahwa sikap lembut dalam dirimu kembali seperti saat kita baru pertama kali berkenalan, menyesal pernah berdoa pada Tuhan bahwa suatu hari nanti kau akan menjadi ayah dan suami yang baik."
Tubuh kurus itu tak lagi memberontak, Clarissa mengikuti kemana petugas polisi itu membawanya dan untuk terakhir kalinya dia berteriak, "aku membencimu, sangat membencimu hingga akar terdalam hidupku, Lionel Nathanio Schumacher kau adalah pria b******k, kaparat, ayah sialan yang akan kubenci sampai kapanpun itu!!!"
Tubuh Nathan menegang mendengar makian yang keluar dari sosok yang biasanya bersuara lembut, tatapan benci yang begitu jelas membuat sudut terdalam di hati Nathan merasakan sakit. Wanita yang biasanya memandang dia dengan penuh cinta, menunggunya saat pulang kerja, kini berubah dalam hitungan jam.
***
Dua hari setelah pemakaman sang anak Nathan kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Agatha sudah tinggal bersamanya saat ini dan sebentar lagi mereka akan menikah, pernikahan yang selama ini ia mimpikan.
Tapi, bukannya merasa senang Nathan malah merasa biasa saja. "Ada apa denganku? Seharusnya aku senang bukan? Wanita pembunuh itu kini dihukum dan anak bisu itu mati, penghalang terbesarku kini sudah tidak ada." Gumam Nathan setelah melamun beberapa saat lalu.
Harta, tahta dan segala yang dimiliki oleh Clarissa sudah jatuh ke tangannya. Semua tanpa sisa sedikitpun itu. Yah, Nathan sudah pastikan bahwa wanita pembunuh tersebut tidak mempunyai uang sepeserpun untuk dia pegang.
Bahkan dia tak mengurusi lebih lanjut tentang kasus pembunuhan anaknya itu. Nathan mempercayai semuanya pada Alexander Lemos sang kepala keamanan.
Suara pintu terbuka membuat atensi Nathan teralihkan. Agatha berjalan dengan anggun mendekati Nathan lalu duduk di pangkuan pria itu seperti biasa, meletakkan satu map berwarna merah di meja kerja lelaki itu lalu mencium tengkuknya.
"Ada berkas yang harus kau tandatangani secepatnya," kata Agatha sambil menyerahkan napas yang dia bawa, "ini tanda tangan langsung."
Nathan membolak balikkan beberapa kertas yang berada dalam map tersebut, baru saja dia akan membaca Agatha malah bergerak secara tak beraturan diatas pangkuannya membuat Nathan tidak fokus dan menaruh berkas itu kembali.
"Ada apa? Jangan banyak bergerak dan turunlah agar aku bisa membaca map ini lalu menandatanganinya secara cepat." Ucap Nathan sambil menatap manik abu-abu tersebut.
"Maafkan aku tapi, punggungku terasa gatal sekali secara tiba-tiba bisakah kau menggaruknya sekaligus menandatangani map tersebut? Aku berjanji akan duduk dengan tenang." Pinta Agatha dengan tatapan memohon itu membuat Nathan menghela napas lalu menuruti apa yang diminta oleh Agatha. Nathan memang secinta itu dengan wanita berdarah Italia tersebut hingga tidak masalah jika dirinya kesusahan membaca berkas yang berada di map tersebut untuk memahami isinya.
"Ah, Lio sebaiknya kau langsung saja menandatanganinya aku sudah membacanya jadi kau bisa langsung tanda tangan." Jelas Agatha yang membuat Nathan mengerutkan dahinya samar.
"Tapi–"
"Ayolah Lio, jangan membuang waktu karena sepuluh menit akan diadakan rapat membahas perkembangan apartemen yang kau bangun itu." Potong Agatha secara cepat dan kemudian Nathan melakukan apa yang diminta Agatha tanpa rasa curiga sedikitpun.
Selesai menandatangani map tersebut Agatha menyuntikan sesuatu ke arah lehernya. Perempuan itu berdiri dengan dagu yang terangkat membuat Nathan terkejut bukan main. Nyeri di lehernya begitu terasa, kebingungan Nathan semakin menjadi saat Alex sang kepala keamanan datang dan mencium mesra sang kekasih.
"Ap–apa yang terjadi?" Nathan berucap dengan lirih, entah mengapa nafasnya sesak, badannya lemas, kepalanya terasa pusing.
"Sudah selesai?" tanya Alex yang masih dapat didengar oleh Nathan.
"Sudah, kau bisa langsung membunuhnya jika menunggu efek racun maka pria itu masih akan koma dan itu akan menghambat prosesnya." Jelas Agatha yang membuat tubuh Nathan seketika kaku.
Ada apa ini? Mengapa bisa ini terjadi? pikir Nathan dengan rasa sakit yang kian menjadi.
Alex memandang sosok yang sudah lama ingin dia habisi. Orang yang merenggut kebahagiaanya demi dirinya sendiri, orang egois yang tidak akan pernah mau menerima kekalahan.
"Ada kata-kata terakhir, Tuan?" tanya Alex dengan nada mengejek.
Nathan menggelengkan kepalanya pelan demi menghalau rasa pusing, dia mencoba bangkit dari duduknya dan berdiri untuk berjalan ke arah Agatha.
"Agatha–ini?"
Mendengar suara tak berdaya itu Agatha tersenyum penuh kemenangan belum lagi saat lelaki itu terjatuh tepat di hadapannya.
"Ini hanya sebuah rencana yang sudah aku susun bersama Alex untuk menghancurkanmu. Seperti kau yang mengambil semuanya dari Clarissa maka kami mengambil semuanya darimu, atas kebodohanmu kau memperlancar semuanya. Terima kasih karena tidak mempercayainya." Setelah itu Nathan merasakan panas sekaligus perih di dadanya.
Dia menunduk dan melihat darah menghiasi kemeja putihnya. Nathan tersenyum miris. Dalam hati dia berkata, apa maksudnya semua ini? kenapa aku mati di tangan orang-orang yang aku sayangi dan aku percaya, apa maksud dari mereka semua?
"Berkali-kali Clarissa tidak menyukai kehadiranku, wanita itu terus memberi tahu-mu tentangku tapi kau tak mempercayainya, malam itu saat Clarissa menandatangani berkas pemindahan hak kepemilikan kau pun tidak mempercayainya bahwa Alex dan aku bekerja sama untuk menghancurkanmu." Lanjut Agatha dengan tawa jahat di akhir kalimatnya.
Nathan memandang kosong lantai marmer hitam itu. Dia masih tidak percaya apa yang baru saja terjadi.
Ya tuhan Clarissa, El. Lirih Nathan menyebutkan dua nama yang telah ia sakiti selama bertahun-tahun, dua nama yang telah ia sia-siakan demi seorang penghianat seperti mereka.
Di sisa napas terakhir Nathan, pria itu memejamkan matanya dengan pipi yang basah, menangisi kebodohan yang selama ini dia lakukan. Kejadian-kejadian saat dirinya menyiksa Clarissa, membentak El, dan terakhir makian serta tatapan benci dari Clarissa berputar bagai video klip yang terekam jelas di memori otaknya menemani dia menjemput kegelapan yang menghampiri