Hari Senin pagi, tepat pukul sembilan, ruang rapat utama di gedung Skyline Group sudah penuh. Suasana terasa kaku sejak pintu terbuka dan Sella masuk diikuti Livia. Di seberang meja panjang, Steven sudah duduk dengan wajah datar, dikelilingi Reno dan tiga orang stafnya. Semua orang langsung menegang. Rasanya seperti ada badai yang siap meledak kapan saja.
Sella meletakkan map tebal di meja dengan suara sedikit keras. “Selamat pagi.”
Steven hanya mengangguk singkat. “Kita mulai saja. Waktu itu mahal.”
Sella tersenyum tipis. “Setidaknya bisa menyapa dengan sopan.”
“Kalau bicara soal sopan, saya lebih suka langsung ke inti.” Steven membuka dokumen yang diserahkan asistennya. “Ini proposal yang Anda kirim kemarin?”
“Iya. Sudah saya sesuaikan dengan permintaan dasar dari Valora.”
Steven membalik halaman demi halaman dengan gerakan cepat. Matanya bergerak tajam, seolah mencari kesalahan sekecil apa pun. Beberapa menit berlalu, lalu dia menutup map itu dengan bunyi yang cukup keras.
“Proposal ini berantakan.”
Sella mengangkat alis. “Maaf?”
“Strukturnya tidak jelas, perhitungan biaya terlalu umum, dan tidak ada detail teknis yang spesifik. Berantakan.” Steven menatapnya lurus. “Kalau begini terus, kapan proyek ini bisa jalan?”
Sella tidak mundur. Dia menyandarkan tubuh sedikit ke depan, suaranya tenang tapi tegas. “Kalau menurut Anda berantakan, tunjukkan bagian mana yang salah. Jangan cuma memberi komentar tanpa penjelasan.”
“Semua bagiannya terlihat seperti dikerjakan tergesa-gesa.”
“Tidak ada yang tergesa-gesa. Saya dan tim saya menghabiskan tiga hari untuk menyusun ini. Kalau mau sempurna, kerjain sendiri.”
Suasana langsung hening. Beberapa staf menunduk, takut ikut terlibat. Livia menahan napas, sementara Reno hanya bisa menggeleng pelan sambil menahan senyum. Ini baru lima menit pertemuan, dan sudah seperti perang.
Steven tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya. “Kalau saya kerjakan sendiri, buat apa kita bekerja sama? Tugas Anda adalah menyusun konsep yang matang, bukan sekadar tulisan kosong.”
“Konsep saya jelas. Masalahnya, Anda terlalu terbiasa dengan cara kerja yang kaku sampai tidak bisa melihat fleksibilitas yang dibutuhkan dalam bisnis fesyen.” Sella membuka map miliknya, lalu menunjuk salah satu halaman. “Lihat di sini. Saya sudah membagi anggaran berdasarkan skala prioritas, mempertimbangkan fluktuasi harga bahan baku, bahkan menyertakan data pertumbuhan pasar selama lima tahun terakhir. Mana yang berantakan?”
Steven melirik data yang ditunjuk, lalu membalik halaman lain. “Angka-angka ini terlalu optimis. Risikonya terlalu tinggi. Anda tidak bisa berasumsi permintaan akan terus naik seperti itu tanpa dasar yang kuat.”
“Ada dasarnya. Lihat riset pasar yang saya lampirkan di bagian belakang. Brand lokal dengan konsep serupa sudah menunjukkan peningkatan penjualan dua digit setiap tahun. Kami hanya mengembangkannya lebih jauh.”
“Tapi proyek ini bukan cuma soal penjualan baju. Ini gabungan properti dan gaya hidup. Perhitungannya harus lebih ketat.”
“Dan saya sudah mempertimbangkan itu juga. Lihat bagian kolaborasi dengan penyedia layanan—kami sudah menandatangani nota kesepahaman awal dengan tiga perusahaan terpercaya. Semua sudah dipikirkan.”
Percakapan berlanjut seperti itu selama hampir satu jam. Saling memotong, saling mempertanyakan, masing-masing mempertahankan pendapatnya. Steven menuntut ketelitian sampai ke hal-hal yang dianggap remeh oleh orang lain—mulai dari jenis bahan yang digunakan untuk interior, sampai waktu penyelesaian setiap tahap. Sementara Sella menolak diatur seenaknya, menekankan bahwa proyek ini harus tetap mempertahankan jiwa seni dan identitas Maison Belle, bukan sekadar gedung mewah yang tidak punya karakter.
“Waktu penyelesaian tahap pertama terlalu lama,” kata Steven. “Dua bulan untuk persiapan saja? Terlalu lambat.”
“Tidak bisa dipercepat. Kami butuh waktu untuk memilih mitra yang tepat dan memastikan kualitas sesuai standar. Kalau dipaksakan cepat, hasilnya jelek.”
“Kalau diatur dengan baik, bisa selesai dalam enam minggu.”
“Bisa secara teori, tapi tidak dalam praktik. Apakah Anda mau mengambil risiko jika ada kesalahan karena tergesa-gesa?”
“Saya tidak mengambil risiko yang tidak perlu. Saya hanya mengatur jadwal secara efisien.”
“Efisien bukan berarti memotong hal-hal penting.”
Semua orang di ruangan itu merasa lelah hanya dengan mendengarkan. Setiap kali satu masalah selesai, muncul masalah lain. Seolah-olah mereka sengaja mencari celah untuk saling menentang. Tapi di tengah perdebatan yang panas itu, ada hal yang mulai terasa berbeda.
Steven yang awalnya hanya melihat Sella sebagai wanita yang keras kepala dan emosional, mulai memperhatikan hal lain. Setiap kali Sella mengemukakan pendapatnya, dia selalu punya data, riset, dan alasan yang jelas. Dia tidak berbicara berdasarkan perasaan semata seperti yang dia duga sebelumnya. Dia tahu persis apa yang dia inginkan, dan dia mampu menjelaskannya dengan logika yang kuat—bahkan terkadang membuat Steven harus berpikir ulang.
Saat Sella menjelaskan strategi pemasaran yang akan ditujukan untuk pasar luar negeri, matanya berbinar. Suaranya menjadi lebih antusias, tapi tetap terkontrol. Dia menyebutkan nama-nama media internasional, tren yang sedang berkembang, dan cara membangun citra merek yang unik. Steven mendengarkan dengan lebih saksama, tanpa menyela seperti biasanya. Dia menyadari bahwa wanita ini tidak hanya mengandalkan keberuntungan atau penampilan seperti yang banyak orang katakan. Dia benar-benar paham bisnisnya.
“Jadi Anda berencana mengadakan pameran kecil di Paris sebelum pembukaan resmi?” tanya Steven tiba-tiba, suaranya tidak setajam sebelumnya.
Sella mengangguk. “Iya. Ini cara yang paling efektif untuk memperkenalkan konsep kami kepada pembeli dan kritikus mode terkemuka. Biayanya memang tidak sedikit, tapi dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan iklan biasa.”
“Tapi apakah itu sebanding dengan pengeluaran? Kita bisa memanfaatkan jaringan yang sudah dimiliki Skyline untuk promosi.”
“Bisa, tapi jaringan Anda lebih berfokus pada properti dan investasi. Target pasar kami berbeda. Lebih baik menggunakan saluran yang tepat agar pesan yang disampaikan sampai dengan benar.”
Steven terdiam sejenak. Dia harus mengakui, itu masuk akal. Selama ini dia terbiasa berpikir dalam skala besar dan umum, tapi Sella memahami detail halus yang membuat bisnisnya berbeda. Dia pintar—sangat pintar. Dan cara dia mempertahankan pendapatnya bukan dengan marah-marah, tapi dengan fakta, justru membuatnya terlihat lebih menarik.
Pertemuan berakhir dengan banyak hal yang belum disepakati, tapi tidak sepanas awalnya. Saat semua orang mulai berkemas, Steven masih duduk di tempatnya, matanya tanpa sadar mengikuti gerakan Sella. Dia melihat cara wanita itu merapikan dokumennya dengan rapi, cara dia berbicara pelan dengan Livia, senyum tipis yang muncul saat sahabatnya berbisik sesuatu. Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa berhenti memperhatikan.
Sella berbalik dan menatapnya. “Ada yang kurang?”
Steven tertegun sebentar, lalu mengangkat kepala dengan ekspresi biasa kembali. “Tidak. Kita lanjutkan rapat berikutnya lusa.”
“Baik. Saya akan siapkan revisi sesuai pembahasan tadi.”
Sella berjalan keluar diikuti timnya. Setelah pintu tertutup, Reno menoleh ke Steven dengan senyum jahil. “Kok tiba-tiba diam saja? Biasanya masih banyak yang mau dikomentari.”
Steven berdiri dan merapikan jasnya. “Dia punya beberapa ide yang tidak buruk.”
“Hanya itu?”
Steven tidak menjawab. Dia masih memegang salah satu halaman proposal yang tertinggal—lembaran yang berisi gambaran desain interior yang dibuat Sella. Tanpa sadar, dia memegangnya lebih erat. Entah kenapa, pertemuan yang seharusnya menyebalkan itu justru membuatnya penasaran. Wanita ini bukan lawan yang mudah. Dan entah kenapa, perasaan itu justru membuatnya tertarik.