Pagi itu, suasana kantor Maison Belle sudah terasa sibuk bahkan sebelum jam kerja resmi dimulai. Terdengar suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer, disertai bunyi ketikan papan ketik yang saling bersahutan. Beberapa staf tampak mondar-mandir membawa map berisi dokumen dengan wajah yang tampak tegang.
Di tengah keramaian itu, Sella baru saja melangkah keluar dari lift sambil membawa segelas kopi dingin di tangannya.
“Selamat pagi, Bu.”
“Selamat pagi, Bu Sella.”
Sella hanya mengangguk singkat sambil terus berjalan dengan langkah yang teratur dan tenang, seolah tidak ada beban yang mengganggu pikirannya. Padahal, sejak pagi tadi, satu nama saja yang terus terngiang di kepalanya—Steven Wijaya, pria paling menyebalkan yang pernah ia temui. Baru saja bertemu sekali, namun sudah mampu membuat tekanan darahnya meningkat.
“Bu Sella!”
Livia berlari kecil menghampirinya sambil membawa sebuah perangkat tablet, wajahnya tampak panik.
“Ada apa?” tanya Sella dengan nada santai.
“Perwakilan dari Valora Capital sudah datang.”
Langkah Sella perlahan melambat. “Sekarang juga?”
“Iya.”
“Mereka datang tanpa pemberitahuan sebelumnya?”
“Mereka menyebutkan ada pertemuan yang sangat mendesak.”
Sella sedikit mengernyitkan dahi. Valora Capital bukanlah perusahaan investasi sembarangan. Nama mereka sudah dikenal luas sebagai salah satu perusahaan modal ventura terbesar yang mampu mengangkat perkembangan bisnis berkali-kali lipat. Jika mereka datang secara tiba-tiba, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi.
“Baiklah. Kita gunakan ruang rapat, bersiaplah dalam lima menit.”
Sepuluh menit kemudian, Sella duduk di ruang rapat bersama beberapa petinggi perusahaan. Di hadapannya sudah duduk dua orang perwakilan dari Valora Capital, salah satunya adalah Richard Halim—seorang investor senior yang dikenal memiliki pandangan tajam dan sangat sulit untuk dipuaskan.
“Saya akan langsung menyampaikan maksud kedatangan kami,” ucap Richard membuka percakapan.
Sella mengangguk sebagai tanda siap mendengarkan.
“Kami tertarik dengan perkembangan pesat yang dicapai oleh Maison Belle selama ini.”
“Terima kasih atas apresiasinya.”
“Namun, untuk melangkah lebih jauh menuju pasar internasional…” Richard menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, “…Anda membutuhkan mitra yang jauh lebih besar dan berpengalaman.”
Sella tetap diam dan mendengarkan dengan tenang.
“Oleh karena itu, Valora Capital ingin mengusulkan sebuah proyek kerja sama.”
“Dengan perusahaan mana?” tanya Sella.
Richard tersenyum tipis. “Dengan Skyline Group.”
Seketika itu juga, suasana di dalam ruangan terasa berubah. Livia sampai terbelalak kaget, sedangkan Sella hampir mengira pendengarannya sedang bermasalah.
“Maaf, boleh diulangi?” tanyanya pelan.
“Skyline Group,” ulang Richard dengan nada santai. “Steven Wijaya sendiri telah menyetujui untuk memulai pembicaraan awal.”
Sella perlahan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tidak mungkin. Jangan sampai ini benar-benar terjadi.
Richard mulai membuka beberapa dokumen di hadapannya. “Konsep yang kami tawarkan adalah sebuah kawasan komersial mewah yang menggabungkan dunia fesyen, gaya hidup, properti, dan hiburan dalam satu tempat yang eksklusif.”
Semakin panjang penjelasan yang disampaikan, semakin terasa berdenyut pelipis Sella. Artinya… ia harus bekerja sama dengan pria itu.
“Dan kami yakin,” lanjut Richard, “kolaborasi antara kedua pihak ini akan menjadi sebuah terobosan yang sangat besar.”
Livia melirik ke arah Sella dengan pandangan khawatir. Ia sudah sangat mengenali ekspresi wajah sahabatnya itu. Jika Sella terlihat terlalu tenang dan diam, itu adalah pertanda bahwa sebuah badai besar akan segera meledak.
“Saya menolak.”
Kalimat itu terucap begitu saja, cepat dan tegas.
Ruangan rapat seketika menjadi hening. Richard mengedipkan matanya beberapa kali, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Maaf?”
“Saya tidak tertarik untuk bekerja sama dengan Skyline Group.”
Livia langsung berdeham pelan, berusaha mencairkan suasana yang mulai memanas.
Richard tersenyum tipis, berusaha bersikap tenang. “Mungkin Anda perlu mempertimbangkannya kembali.”
“Saya sudah memikirkannya dengan matang.”
“Sella—”
“Saya berbicara dengan sungguh-sungguh.” Tatapan Sella lurus menatap Richard. “Maison Belle dibangun dengan identitas dan karakter tersendiri. Saya tidak ingin perusahaan yang telah saya bangun ini hanya dianggap sebagai pelengkap dari nama besar milik orang lain.”
Richard menatapnya dalam beberapa detik. “Saya harap keputusan Anda ini tidak dipengaruhi oleh perselisihan kecil yang terjadi semalam.”
“Tentu saja tidak.” Sella tersenyum manis. “Saya memang merasa tidak cocok dengan gaya kerja pemimpin perusahaan mereka.”
Di tempat lain, di lantai paling atas gedung milik Skyline Group, suasana terasa sunyi dan dingin. Interior ruangan yang luas itu didominasi oleh warna hitam dan abu-abu—sangat sederhana, terlihat mahal, namun terasa kaku, persis seperti pemiliknya.
Steven sedang asyik membaca laporan keuangan ketika terdengar suara ketukan di pintu ruangannya.
“Masuk.”
Seorang pria berkacamata masuk sambil membawa perangkat tablet. Itu adalah Reno, tangan kanan sekaligus sahabat dekat Steven sejak masa kuliah.
“Perwakilan dari Valora Capital sudah bertemu dengan Sella.”
Steven tetap fokus membaca dokumen di hadapannya. “Lalu?”
Reno duduk dengan santai di kursi yang tersedia. “Dia menolak tawaran kerja sama itu.”
Tangan Steven yang sedang memegang pena berhenti bergerak. Perlahan ia mengangkat wajahnya. “Menolak?”
“Benar.” Reno berusaha menahan senyum. “Katanya dia tidak ingin bekerja sama denganmu.”
Steven menyandarkan tubuhnya di kursi, ekspresinya tetap datar namun jelas terlihat bahwa ia tidak menyukai kenyataan itu. “Apa alasannya?”
“Sepertinya dia merasa kamu terlalu menyebalkan.”
Steven mendecakkan lidah pelan. “Justru dialah yang terasa terlalu emosional.”
Reno tertawa kecil. “Unik juga ya.”
“Apa yang unik?”
“Biasanya, banyak perusahaan yang berebut bahkan rela berkorban demi bisa bekerja sama dengan Skyline Group.”
Steven terdiam. Benar juga. Hampir tidak ada pihak yang berani menolak tawaran kerja sama dengan perusahaannya, namun wanita itu justru menolaknya dengan tegas. Hal ini terasa aneh, dan sedikit mengganggu harga dirinya.
“Lalu apa keputusan selanjutnya?” tanya Steven.
“Valora Capital tetap ingin melanjutkan proyek ini.”
“Terserah mereka saja.”
“Bagaimana dengan pendapatmu sendiri?”
Steven menutup dokumen itu perlahan. “Saya tidak bisa bekerja sama dengan orang yang terlalu mudah terbawa perasaan.”
Reno langsung tersenyum lebar. “Wah, ternyata kalian berdua memiliki kesamaan.”
Steven menatap tajam ke arah sahabatnya itu. “Maksudmu?”
“Sama-sama keras kepala.”
Dua hari kemudian.
Sella baru saja selesai memimpin sebuah rapat ketika Livia masuk ke ruang kerjanya dengan langkah tergesa-gesa.
“Sell.”
“Ada apa?”
“Mereka sudah datang.”
“Siapa?”
“Perwakilan dari Skyline Group.”
Sella perlahan menutup layar komputernya. “Sekarang juga?”
“Iya.”
“Apa maksud mereka datang lagi? Apakah mereka tidak mengerti arti kata penolakan?”
Belum sempat Sella melanjutkan keluhannya, pintu ruang rapat terbuka lebar. Di sana berdiri Steven bersama beberapa anggota timnya. Suasana seketika menjadi hening. Aura dingin yang terpancar dari pria itu benar-benar terasa mengganggu.
Steven mengenakan jas berwarna abu-abu gelap dengan ekspresi datar yang menjadi ciri khasnya. Pandangan mereka langsung bertemu—tidak ada senyum, tidak ada sapaan ramah, hanya ketegangan yang terasa di udara.
“Selamat siang,” ucap salah satu perwakilan dari Valora Capital berusaha mencairkan suasana.
Sella duduk kembali sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Steven duduk tepat di hadapannya, seolah sengaja memilih posisi itu untuk saling berhadapan.
Richard membuka pembicaraan. “Baiklah, mari kita mulai pertemuan ini.”
Dua puluh menit pertama berjalan cukup lancar, masih dalam batas profesional dan terkendali. Namun, semuanya berubah ketika Steven membuka mulutnya.
“Konsep desain untuk area utama ini terkesan terlalu feminin.”
Ucapan itu terlontar begitu saja saat Steven melihat isi dokumen usulan, nada bicaranya datar namun terasa menusuk.
Sella langsung menoleh ke arahnya. “Maaf, bagaimana maksud Anda?”
“Tren pasar dunia fesyen mewah saat ini lebih mengutamakan kesederhanaan dan ketegasan.” Steven meletakkan dokumen itu di atas meja. “Desain yang Anda usulkan terkesan terlalu dipenuhi perasaan dan selera pribadi.”
Sudah dimulai lagi.
Sella tersenyum tipis. “Karena inti dari merek saya adalah dunia fesyen dan seni.”
“Namun proyek ini bukan sekadar pameran busana semata.”
“Baiklah,” Sella mengangguk pelan. “Lalu apa yang diharapkan oleh Tuan Steven?”
Steven membuka layar presentasi miliknya. “Konsep yang saya usulkan adalah kesederhanaan modern yang mewah.”
Tampilan yang terlihat sangat sederhana, elegan, namun terasa dingin—persis seperti kepribadiannya.
Sella melihatnya selama beberapa detik, lalu tertawa kecil. “Ini lebih mirip desain gedung perkantoran atau malah tempat pemakaman?”
Beberapa staf yang hadir langsung menahan napas, sedangkan Reno sampai menunduk berusaha menyembunyikan senyumnya.
Steven menatap Sella tanpa mengubah ekspresinya. “Setidaknya desain saya terlihat bernilai tinggi dan mahal.”
“Dengar baik-baik,” Sella sedikit mencondongkan tubuh ke depan. “Tidak semua hal harus terlihat dingin dan kaku agar dianggap eksklusif.”
“Dan tidak semua hal yang terlihat ramai dan penuh warna terlihat berkelas.”
Sella tertawa kecil tak percaya. “Baiklah, saya mengerti maksud Anda.”
Richard segera menyela pembicaraan. “Mungkin kita bisa mencari jalan tengah yang dapat diterima oleh kedua belah pihak—”
“Saya tidak dapat bekerja sama dengan orang yang terlalu mudah terbawa emosi,” potong Steven dengan nada dingin.
Sella segera menyandarkan tubuhnya kembali. “Dan saya tidak dapat bekerja sama dengan orang yang merasa dirinya paling benar dan hebat.”
Ruangan kembali menjadi sunyi senyap. Salah satu staf bahkan berpura-pura sibuk dengan komputernya padahal layarnya dalam keadaan mati. Reno hampir tertawa lepas—ini adalah pertama kalinya ia melihat seseorang berani berbicara setegas itu kepada Steven, dan yang lebih mengejutkan lagi, Steven tidak langsung marah besar.
Steven menatap Sella dalam waktu yang cukup lama. “Jika setiap kritik dianggap sebagai serangan pribadi, maka proyek ini tidak akan pernah berjalan lancar.”
Sella tersenyum miring. “Jika setiap pendapat yang berbeda dianggap sebagai kesalahan, maka sudah pasti tidak akan ada kesepakatan yang tercapai.”
“Setidaknya saya mendasari setiap keputusan dengan logika dan perhitungan yang matang.”
“Apakah itu berarti orang lain tidak berpikir dengan logika?”
“Saya tidak bermaksud mengatakan demikian.”
“Namun nada bicara Anda menyiratkan hal itu.”
“Saya hanya menyampaikan fakta yang ada.”
“Saya juga demikian.”
Pandangan mereka kembali bertabrakan, penuh ketegangan dan persaingan. Hingga akhirnya Richard menghela napas panjang.
“Cukup.”
Semua orang langsung terdiam. Sang investor senior itu melepas kacamatanya perlahan. “Saya mengerti bahwa kalian berdua memiliki prinsip dan harga diri yang tinggi.”
Livia bergumam dalam hati: Bahkan terlalu tinggi.
“Namun, keputusan untuk melaksanakan proyek ini sudah disetujui.”
Sella langsung menoleh. “Apa maksudnya?”
Steven juga mengernyitkan dahi.
Richard melanjutkan dengan tenang. “Perjanjian kerja sama sudah disahkan sejak kemarin malam.”
Sella tertegun kaku. “Tanpa persetujuan akhir dari saya?”
“Secara peraturan, Valora Capital memegang kendali utama atas pendanaan proyek ini.”
Sella tertawa kecil karena merasa kesal. “Ini sungguh tidak masuk akal.”
Steven juga terlihat tidak senang. “Saya belum menandatangani persetujuan resmi apa pun.”
“Seluruh dokumen hukum sudah diproses,” jawab Richard dengan nada santai. “Tugas kalian berdua hanyalah melaksanakan proyek ini dengan sebaik-baiknya.”
“Ini adalah keputusan yang diambil secara sepihak,” ucap Steven dengan nada dingin.
Richard tersenyum tipis. “Namun ini adalah keputusan bisnis yang terbaik untuk masa depan kedua perusahaan.”
Suasana kembali hening. Sella mengusap wajahnya pelan, merasa pusing memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Steven menatap meja di hadapannya selama beberapa detik, lalu bertanya dengan nada datar. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek ini?”
“Satu tahun.”
Sella hampir tersedak mendengar jawabannya. “Satu tahun?!”
Richard mengangguk santai. “Dan mulai minggu depan, kalian diwajibkan untuk mengadakan pertemuan rutin.”
“Seberapa sering?” tanya Sella dengan curiga.
Richard membuka lembaran jadwal. “Hampir setiap hari.”
Sella secara refleks menoleh ke arah Steven, dan pria itu juga sedang menatapnya. Untuk pertama kalinya, keduanya menunjukkan ekspresi yang sama—ketidaksukaan.
Livia berusaha menahan tawa yang ingin meledak. Ya Tuhan, ini akan menjadi persaingan yang terjadi setiap hari.
Richard berdiri sambil merapikan pakaiannya. “Kalau begitu, saya anggap pertemuan ini sudah selesai.”
“Belum selesai,” ucap Sella dengan cepat.
“Proyek ini tetap akan dilaksanakan.”
Steven mendecakkan lidah pelan, jelas merasa kesal, namun bahkan ia pun tidak dapat membatalkan keputusan yang telah diambil oleh pemegang saham utama.
Setelah semua orang keluar meninggalkan ruangan, hanya tersisa Sella, Steven, Livia, dan Reno. Suasana menjadi canggung dan hening. Livia berpura-pura sibuk memeriksa ponselnya, sedangkan Reno terus meminum kopinya sambil berusaha menahan rasa ingin tertawa.
Sella berdiri lebih dulu. “Dengar baik-baik, Tuan Steven.”
Steven mengangkat wajahnya menatapnya.
“Saya akan tetap bersikap profesional selama bekerja.”
“Bagus.”
“Namun, itu tidak berarti saya akan menuruti setiap keinginan Anda.”
Steven berdiri perlahan, tubuhnya yang tinggi membuat Sella harus sedikit mendongak untuk menatapnya.
“Tenang saja.” Suara Steven terdengar rendah. “Saya juga tidak tertarik untuk mengatur cara kerja Anda.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Namun ada satu hal yang perlu disepakati.”
“Apa?”
Steven menatapnya dengan tajam. “Jangan biarkan perasaan pribadi mengganggu jalannya proyek ini.”
Sella langsung tersenyum sinis. “Nasihat itu lebih cocok untuk Anda sendiri.”
Mereka kembali saling menatap dalam waktu yang cukup lama, penuh ketegangan. Hingga akhirnya Reno berbisik pelan ke arah Livia.
“Sepertinya jika mereka dipaksa untuk menikah, pernikahan mereka akan berakhir di hari pertama.”
Livia tanpa sadar mengangguk setuju. “Bahkan sebelum menikah saja mereka sudah terlihat ingin saling memusuhi.”
Tanpa mereka sadari, hari esok akan menjadi awal dari serangkaian pertemuan yang terasa seperti neraka, yang perlahan-lahan akan mengubah jalan hidup mereka berdua.