Lampu kristal besar menggantung megah di langit-langit ruang pesta hotel bintang lima itu. Alunan musik piano terdengar lembut, bercampur dengan dentingan gelas dan obrolan para hadirin yang mengenakan pakaian mewah serta senyum yang menyimpan banyak kepentingan. Acara tahunan Indonesia Business Innovation Awards selalu dipenuhi oleh orang-orang berpengaruh—investor, direktur, dan pemimpin perusahaan besar yang percaya bahwa uang dapat membeli segalanya.
Di antara keramaian itu, seorang wanita melangkah masuk dengan tenang. Ia mengenakan gaun hitam yang anggun, rambut panjangnya ditata sederhana dengan riasan tipis namun rapi. Penampilannya tidak terlalu mencolok, namun cukup membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Wanita itu berjalan dengan langkah mantap sambil menggenggam tas kecilnya, pandangannya lurus ke depan penuh keyakinan.
Namanya Sella Adinata—CEO sekaligus pendiri merek fesyen mewah Maison Belle, perusahaan yang ia bangun dari nol, bukan warisan keluarga, bukan pemberian orang tua, dan bukan karena nama besar. Ia memulai semuanya dari sebuah kamar kos sempit dan sebuah komputer bekas. Kini, mereknya mulai dilirik oleh pasar internasional. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah: orang-orang tetap suka meremehkannya.
“Itu dia CEO muda yang sering dibicarakan itu ya?”
“Yang menjual tas dan pakaian mahal itu?”
“Masih sangat muda sekali…”
“Sepertinya hanya mengandalkan ketampanan saja.”
Sella mendengar setiap ucapan itu, namun wajahnya tetap tenang. Ia sudah terbiasa—bahkan terlalu terbiasa. Dulu mungkin ia akan merasa sakit hati, namun sekarang ia hanya merasa malas untuk menanggapi. Baginya, orang yang suka meremehkan biasanya akan segera terdiam ketika mereka kalah.
“Sella!”
Sebuah suara memanggil membuat Sella menoleh. Seorang wanita berambut pendek berjalan cepat menghampirinya. Itu adalah Livia, sahabat sekaligus direktur kreatif di Maison Belle.
“Kamu terlambat,” bisik Livia.
Sella menghela napas pelan. “Macet di jalan.”
“Macet katamu. Aku kira kamu sengaja kabur.”
Sella terkekeh pelan. “Belum sampai sebegitu miskinnya sampai harus kabur dari acara pertemuan bisnis.”
Livia menahan tawa, lalu menunjuk ke arah sekelompok pria yang sedang berdiri tidak jauh dari sana. “Lihat itu. Mereka sedang membicarakanmu.”
“Biarkan saja.”
“Apa kamu tidak merasa kesal?”
Sella mengambil segelas jus dari nampan pelayan yang lewat. “Kalau aku marah setiap kali diremehkan, mungkin aku sudah terkena darah tinggi sejak usia dua puluh dua tahun.”
Livia tertawa kecil. “Tapi serius, Sell. Banyak orang di sini yang meragukan kemampuanmu.”
Sella menyesap minumannya perlahan. “Baguslah.”
“Bagus?”
“Semakin mereka menganggap aku lemah dan tidak berbahaya…” senyum tipis terukir di bibirnya, “…semakin besar rasa puas yang akan aku rasakan ketika mereka akhirnya kalah nanti.”
Livia langsung tersenyum lebar. “Nah, ini dia CEO kesukaanku.”
Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, suara pembawa acara mulai terdengar.
“Selamat malam para tamu undangan. Sebentar lagi kita akan memasuki sesi presentasi bisnis unggulan tahun ini.”
Suasana ruangan perlahan menjadi lebih hening. Livia menepuk-nepuk tangan kecilnya. “Kamu merasa gugup tidak?”
“Tidak.”
“Berbohong.”
Sella tersenyum tipis. “Sedikit saja.”
Hari ini adalah hari yang sangat penting. Maison Belle mendapatkan kesempatan emas untuk mempresentasikan rencana bisnisnya di hadapan para investor besar. Jika berhasil, perusahaannya dapat berkembang jauh lebih pesat. Namun jika gagal… ia akan mencoba lagi. Menyerah bukanlah bagian dari prinsip hidupnya.
Satu jam kemudian, nama beberapa perusahaan besar dipanggil satu per satu di atas panggung disambut tepuk tangan meriah. Hingga akhirnya, suara pembawa acara terdengar lagi.
“Selanjutnya, mari kita sambut CEO muda dari Maison Belle, Nona Sella Adinata.”
Sorot lampu bergerak menuju arahnya. Beberapa orang langsung berbisik-bisik.
“Itu dia dia?”
“Masih sangat muda sekali.”
“Apakah dia benar-benar seorang CEO?”
Sella berdiri dan melangkah mantap menuju panggung, gaunnya bergerak halus mengikuti langkahnya. Ia berdiri tegak di depan layar besar, pandangannya tetap tenang meski puluhan pasang mata sedang memperhatikannya.
“Selamat malam semuanya,” sapanya dengan suara yang stabil, tenang, dan profesional. “Malam ini saya akan memperkenalkan visi baru Maison Belle dalam industri fesyen mewah yang berkelanjutan.”
Presentasi pun dimulai. Di awal, beberapa hadirin terlihat kurang tertarik, namun seiring berjalannya waktu, suasana ruangan perlahan menjadi hening. Wanita muda itu ternyata berbicara dengan sangat meyakinkan, menyajikan data yang jelas, strategi yang matang, dan visi bisnis yang kuat. Bahkan para investor mulai memperhatikan dengan saksama. Livia yang berada di bawah panggung pun tersenyum bangga.
Namun, di meja tamu kehormatan, seorang pria hanya bersandar santai sambil memperhatikan dengan wajah tanpa ekspresi. Ia mengenakan setelan jas hitam yang mahal, dengan tatapan yang tajam dan rahang yang tegas. Aura dingin yang terpancar darinya membuat orang lain enggan mendekat. Semua orang tahu siapa dia—Steven Wijaya, CEO muda dari Skyline Group, perusahaan properti dan induk usaha terbesar di negeri ini. Ia dikenal sebagai salah satu pebisnis paling ditakuti, bersikap dingin, sangat perfeksionis, dan terkenal tegas dalam mengambil keputusan. Banyak orang menyebutnya sebagai mesin pencetak uang yang tidak memiliki perasaan.
Steven melirik sekilas ke arah layar presentasi, lalu mengetuk meja dengan jari telunjuknya dua kali. Tatapannya tajam, seolah sedang mencari celah atau kesalahan. Dan ia menemukannya. Ketika sesi tanya jawab dibuka, Steven mengangkat tangannya.
Suasana ruangan seketika berubah menjadi hening. Beberapa orang saling bertukar pandang. Bila Steven angkat bicara, biasanya ada orang yang akan merasa tertekan.
Pembawa acara tersenyum kaku. “Silakan, Tuan Steven.”
Pria itu berdiri perlahan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dan menatap lurus ke arah Sella. “Presentasi yang cukup bagus.”
Sella mengangguk sopan. “Terima kasih.”
“Namun saya memiliki sebuah pertanyaan.”
“Silakan saja.”
Steven melirik layar besar. “Strategi ekspansi internasional yang Anda paparkan… terkesan terlalu emosional.”
Ruangan kembali sunyi.
Sella mengedipkan matanya sekilas. “Maaf, bagaimana maksud Anda?”
“Bisnis fesyen mewah tidak semata-mata didasari oleh cita-cita,” ujar Steven dengan nada datar. “Ini adalah soal keuntungan. Saya melihat terlalu banyak keputusan yang didasari oleh hasrat pribadi dibandingkan logika bisnis yang matang.”
Beberapa orang mulai berbisik-bisik. Sella tetap mempertahankan senyum profesionalnya. “Bisa dijelaskan bagian mana yang menurut Anda kurang logis?”
Steven berjalan perlahan mendekati panggung, gerakannya santai namun terasa menekan. “Target pasar yang Anda tuju terlalu spesifik, biaya produksi dengan konsep ramah lingkungan terbilang tinggi, dan potensi keuntungannya sangat berisiko.” Ia menatap tepat ke arah Sella. “Jika saya menjadi investor, saya tidak akan mau mengambil risiko sebesar itu.”
Suasana semakin menegangkan. Beberapa orang mulai mengangguk setuju, sementara yang lain terlihat penasaran melihat reaksi Sella. Livia sampai mengepalkan tangannya sendiri. “Sangat lancang sekali orang itu.”
Sella terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum yang menunjukkan ketajaman. “Jika boleh saya katakan dengan jujur, Tuan Steven… saya sudah cukup sering mendengar kritik serupa.”
Steven tetap diam, menunggu penjelasannya.
“Namun anehnya…” Sella menampilkan sebuah grafik penjualan di layar, “…perusahaan kami tetap mampu tumbuh dua ratus persen dalam kurun waktu dua tahun terakhir.”
Suasana menjadi sedikit riuh. Steven menatap angka-angka di layar tanpa mengubah ekspresinya.
“Kadang hal yang terlihat berisiko…” Sella tersenyum tipis, “…belum tentu berarti salah.”
Steven menyipitkan matanya sedikit. “Keberuntungan tidak akan selamanya berpihak pada Anda.”
Ucapan itu terdengar seperti serangan pribadi. Sella mengangkat satu alisnya. “Begitu juga dengan kesombongan, Tuan.”
Beberapa orang langsung menahan napas. Berani sekali wanita itu membalasnya. Livia sampai menutup mulutnya sendiri.
Steven menatap Sella dalam beberapa detik, tatapannya tetap dingin dan tajam seolah sedang menilai sesuatu. “Menarik.” Suaranya terdengar rendah. “Namun dunia bisnis bukanlah tempat untuk membuktikan gengsi semata.”
Sella tertawa kecil. “Saya setuju. Namun dunia bisnis juga bukan tempat untuk meremehkan seseorang hanya karena usianya yang masih muda.”
Seketika itu juga, beberapa tamu saling bertukar pandang. Wajah Steven tetap datar, namun matanya terlihat sedikit lebih tajam. Untuk pertama kalinya, ada orang yang berani menentangnya di depan umum, dan itu adalah wanita muda yang baru dikenalnya selama lima belas menit.
Acara pun ditutup dengan tepuk tangan yang terdengar canggung, namun suasana di dalam ruangan sudah terasa memanas.
Di area istirahat, Livia langsung menghampiri Sella dengan napas terengah-engah. “Kamu benar-benar nekat!”
Sella meminum air putih dengan tenang. “Kenapa memangnya?”
“Kenapa?! Itu kan Steven Wijaya! Dia bisa membuat perusahaan orang lain gulung tikar hanya dengan satu perintah!”
Sella mengangkat bahu. “Kalau begitu, jangan sampai perusahaan kita bangkrut.”
“SELLA!”
Sella tertawa kecil. “Sudahlah, tenang saja.”
Tiba-tiba sebuah suara berat terdengar dari arah belakang. “Berani juga Anda berbicara seperti itu.”
Mereka berdua menoleh. Steven berdiri di sana, dengan postur tubuh yang tinggi dan aura dingin yang khas, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Livia langsung berpura-pura sibuk. “Eh, aku mau ke kamar mandi dulu ya, sampai jumpa!”
Pengkhianat.
Sella menghela napas pelan. “Tuan Steven.”
“Tidak merasa takut?”
“Tergantung apa yang dimaksud dengan rasa takut.”
“Takut kehilangan kesempatan bisnis karena terlalu keras kepala.”
Sella tersenyum tipis. “Jika semua pemimpin perusahaan takut pada Anda…” ia menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, “…rasanya dunia bisnis akan terasa sangat membosankan.”
Steven terdiam sesaat, lalu tertawa kecil—sangat pelan dan hampir tidak terlihat. “Sangat percaya diri.”
“Itu sebuah keharusan.”
“Terkadang terlalu percaya diri justru bisa menjatuhkan seseorang.”
Sella mengangguk pelan. “Begitu juga dengan terlalu besarnya rasa sombong.”
Suasana menjadi hening dan menegangkan. Pandangan mereka saling bertemu, tak ada satu pun yang mau mengalah. Aneh rasanya—baru pertama kali bertemu, namun seolah mereka memang ditakdirkan untuk saling berseteru.
Akhirnya Steven berbicara dengan nada rendah. “Jika ingin bertahan lama di dunia bisnis ini…” tatapannya terasa dingin menusuk, “…jangan biarkan perasaan menguasai keputusan Anda.”
Sella tersenyum tipis, namun tatapannya tetap tajam. “Jika ingin dihormati oleh orang lain…” ia menatap balik tanpa rasa takut, “…jangan bersikap arogan, Tuan Steven.”
Suasana kembali sunyi selama beberapa detik, hingga akhirnya Steven berbalik dan pergi begitu saja tanpa pamit.
Sella mendengus pelan. “Sangat sombong sekali orang itu.”
Di sisi lain, Steven berjalan menuju lift dengan wajah tetap datar. Namun entah mengapa, ucapan wanita itu terus terngiang di kepalanya—sangat mengganggu. Seorang CEO muda yang keras kepala dan terlalu berani. Dan anehnya… justru terasa menarik. Steven menggeleng pelan. “Tidak penting.”
Sementara itu, di dalam ruangan pesta, Sella memutar matanya malas. “Semoga saja aku tidak perlu bertemu lagi dengan manusia sedingin lemari es itu.”
Keduanya sama sekali tidak menyadari bahwa pertemuan hari ini hanyalah awal dari persaingan panjang yang jauh lebih rumit dari yang mereka bayangkan.