BAB 10

1484 Words
Awal bertemu dengan mas Roy ketika aku ketinggalan bus karena heels sepatuku nyangkut di lubang trotoar. Astaga! Momen yang ingin aku hapus selama-lamanya karena itu memalukan. Tapi, tidak bisa aku hapus karena ada kaitannya dengan hatiku. Terus, aku harus gimana? Saat itu mas Roy mendekat padaku setelah memarkirkan sepeda motor di pinggir jalan. "Can i help you?" tanyanya. Asli, pertama kali dengan suaranya aku langsung jatuh cinta karena ya gimana yah menjelaskannya. Pokoknya dari suaranya aja kita bisa nilai dia pria berkharisma. "Aku bisa sendiri, tidak apa-apa. Thanks," jawabku menolak dengan halus. Tapi, itu cuma pura-pura gaes. Dalam hati aku bersorak gembira karena ada penolongku dari situasi memalukan ini. Gimana tidak malu. Mau lepas sepatu, nggak mungkin. Mau nunduk lebih nggak mungkin karena rok kerjaku yang pendek. Aku mengumpati pilihan busanaku waktu itu. Sial bangat. Karena ingin tampil modis kayak cici cici Medan, aku memilih mini skirt light brown di padukan dengan atasan putih turtleneck berpita. Cantik, apalagi dengan heels lima senti warna coklat. Alamakjang, jangan di tanya, aku cantiknya kayak apa. Penampilanku bisa menutupi asal usulku yang dari keluarga sederhana. Alhasil satu hari itu aku kayak pamer pamer gitu sama teman satu kantor. Aku kayak haus pujian. Nggak senang rasanya kalau hanya dua tiga orang yang bilang aku cantik. Tapi, ungakapan 'karma is real' adalah benar sekali. Sore saat pulang kantor, aku berjalan ke halte dekat kantor dan kejadian memalukan itu menimpaku. Jangan bilang kamu orang indonesi kalau dalam kemalanganmu tidak ada 'untung'. Sama kayak aku, 'untung' saja ada pria ganteng, wangi, bersih dan baik hati yang mau menolong aku dari kemaluan ini ups dari rasa malu ini maksudku. "Tidak apa - apa. Helping someone yang lagi butuh itu wajib loh. Nggak jadi penonton kayak banyak orang disini," ujarnya seraya mengikatkan jaketnya ke pinggangku. Oh my god! Apa kami pelukan? Hatiku langsung bergetar saat itu dan entah kenapa aku langsung jatuh cinta padahal namanya saja aku tidak tahu. "Done," ucapnya sambil menepuk tangannya saling bergantian. Tanpa aku minta, dia mengiring aku ke halte yang sudah sepi. Kami duduk disana sebentar. "Wait for a moment!" Aku belum sempat jawab, dia sudah berlari dan aku tersenyum melihat kemana dia pergi. "Minum dulu. Kamu pasti haus!" Melting nggak? . . "Anyway, aku Roy. Roy David." Dia mengulurkan tangannya yang tentu saja langsung kusambut dengan penuh sukacita. "Uli," "What?" "Romauli, panggil saja Uli," jawabku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku sedikit kesal pada mamaku karena memberikan nama Romauli dan di panggil Uli. Nggak ada estetiknya sedikit pun. Padahal selama ini aku oke-oke aja dengan nama itu dan aku senang karena arti namaku itu sangat bagus. Uli artinya bagus, cantik, hal-hal baik. Roma artinya datanglah, mendatangkan. Kalian gabungkan sendiri lah ya artinya. Karena kalau aku tanya mamaku pasti di jawabnya "Sai Roma akka na Uli jala denggan " Bagus kan artinya? Tapi, di depan pria ini kok aku merasa namaku itu nggak up to date bangat. Zaman milenial sekarang ini kan nama orang udah kebarat-baratan sampe susah di sebutin. "Namamu Unik, cantik, persis kayak orangnya." Cie elah bang, kok to the point bangat sih? Sore itu, akhirnya aku di antar pulang ke kosan dan aku jadi tahu kalau dia sedang bekerja di sebuah perusahaan start - up temannya yang sangat lari jalur dari jurusannya, arsitek! Cinta datang selalu tidak terduga. Aku yang selama bekerja tidak begitu minat dengan yang namanya pacaran bahkan pura-pura tidak tahu kalau ada yang terang-terangan menyukaiku , tapi setelah berkenalan dengan Roy dan bertemu sesekali, i feel some butterfly was in my stomach. Aku sering tersipu sendirian di kamar kos kalau lagi teringat dia. Aku sering sebut nama dia dan aku jadi berharap di jemput every day. Pokoknya, aku berbunga-bunga dan mulai oleng dari sebuah janji pada diri sendiri. Aku memperkenalkan Roy pada teman-temanku dan mereka memuji Roy kecuali Lizzy. "Aku punya firasat buruk tentangnya. Kayaknya He's not a good man." Aku berdecak setiap kali dia mengatakan penilaian buruknya pada Roy apalagi ketika tahu Roy itu bekerja tidak jelas. "Arsitek tapi kerja begitu. Pasti dia malas cari kerja atau mungkin dia arsitek ijazah doang?" Karena itu, aku jadi sibuk di kosan mencari lowongan kerja buat Roy agar dia tidak punya nilai minus di depan teman-temanku terutama Lizzy yang tidak bisa mengerem mulutnya. Lain dengan temanku yang lain, dia sering memuji Roy dan selalu mendamba suatu hari nanti bisa di cintai oleh seorang pria seperti Roy. "You are so lucky. Di cintai sama pria pria ganteng," ujar temanku Nafa waktu itu. Dia tidak pernah julid pada Roy bahkan sering memujinya. "Kamu bisa aja," jawabku sambil tersipu. . . Time flies so fast. Tiga bulan setelah berkenalan, kami pacaran setelah masing-masing kami mengutarakan cinta. Dan aku tidak malu waktu itu aku yang duluan jujur. Me: "Le, ada loker di tempat kamu nggak buat arsitek? Aku punya teman yang lagi nyari loker," Karena tidak mau mendengar Lizzy selalu sebut Roy mokondo, aku beranikan diri kirim pesan ke Leon. Aku mengabaikan kondisi pertemanan kami yang tidak hangat lagi demi pacarku. Leon: "Sure. Kebetulan lagi butuh. Tapi kalo dia nggak bisa kerja. Jangan sakit hati kalau aku berhentikan segera yah!" Aku lngsung infoin ke Roy dan suruh dia cepat cepat antar cv ke kantor Leon. Setahun setelah dia kerja di perusahaan Leon, dia melamar aku untuk yang ketiga kalinya. Dua kali sebelumnya aku tolak karena dia masih baru bekerja dan masih belum punya apa-apa. Capek anjir kalo everything after marriage di mulai dari nol. Pertama kali di lamar waktu dia lulus training. Aku bilang no dan kasih dia syarat harus punya sesuatu yang bisa di banggakan ke orang tua aku untuk meyakinkan mamaku bahwa anak bontotnya ini menikah dengn orang yang benar-benar layak dan mampu memenuhi kebutuhanku. Setelah itu, karena kami punya komitmen yang sama, akhirnya bersama-sama ajukan kredit rumah. Aku semakin cinta dan yakin dia akan membahagiakan aku kala dia bekerja tidak henti demi bisa kredit rumah dan kumpulin modal nikah. Dia kalau malam ngojek dan sesekali dia terima proyek kecil dari temannya di luar kerjaan kantor. Sepuluh bulan setelah bekerja, dia melamar aku lagi dan aku masih bilang no. Alasanku, karena kami harus menikmati masa muda agar tidak ada penyesalan nanti. Aku masih dua empat waktu itu dan bilang ke dia tunggu tiga tahun lagi. Anyway, dia usianya dua tahun di atasku. Empat bulan berikutnya, malah aku yang lamar dia karena suatu hal. Dan kami menikah benar benar memulai dari nol kecuali rumah yang sudah berjalan sepuluh bulan dengan tenor sepuluh tahun. Aku juga membujuknya menjual motor lalu kami kredit mobil supaya terlihat sedikit lebih keren. Cicilan rumah tanggung jawabnya dan mobil tanggung jawabku. Dua tahun setelah pernikahan, aku memilih resign dan buka toko buku dari hasil menulisku selama ini. Fyi, aku menulis sejak SMA dan waktu itu masih cerpen dn cerbung di sebuah majalah. Lalu muncul platform dan aku langsung terjun kesana. Hasil menulisku aku simpan semua kecuali ada yang sangat urgent. Makanya aku bisa buka toko buku dengan modalku sendiri. And now, rumah tangga kami sudah berjalan tiga tahun lebih dan sedang di uji kesetiaan suamiku. Awalnya aku berpikir dan setuju bahwa rumah tangga akan di uji di lima tahun pertama untuk mengokohkan pondasi rumah tangga yang di cita-citakan seumur hidup. Tapi please deh, Tolong jangan perselingkuhan dong apalagi sudah sampai tahap suck creamy pvssy seseorang. Kalau misalnya masalah ekonomi atau kekeluargaan bisa lah di tolerin. Dan akhir akhir ini, aku baru menemukan satu quote, 'jangan temani pria dari nol karena hadiahmu adalah perselingkuhan.' Dan benar, itu masuk ke rumah tanggaku. Hadiahku sudah mulai terlihat hilalnya. Astaga! Betapa malangnya nasibku. Mobil sudah aku lunaskan dari hasil menulisku dan toko buku padahal yang pakai tiap hari dia. Tapi, apa yang aku lakukan seperti tidak di sadari oleh pria itu makanya dia masih berani selingkuh di belakangku. Sekarang aku berpikir, mungkin pelakor itu juga sudah sering duduk di tempat yang seharusnya hanya milikku itu. Lihat saja, sekali aku speak up, maka dia akan hancur. Aku bisa saja menelepon Leon untuk memintanya memecat Roy tapi aku malu. Aku dulu sangat membanggakan Roy padanya. Aku memuji Roy sampai ke langit waktu itu. Drrrt drtt drrrt Getaran ponselku membuyarkan ingatan pada masa laluku yang masih baru. Aku melihat panggilan tidak terjawab dari Mas Roy. Saat aku hendak menelpon balik, pesannya masuk. Lovely Husband: Sayang, kami ada proyek baru di Surabaya. Tolong prepare pakaianku dan lain lain, ntar malam kami berangkat. Kemungkinan dua atau tiga hari ya, Yang. Aku tidak peduli lagi itu benar atau dia lagi berbohong. Aku tidak mengkonfirmasi info ini ke teman kerjanya atau bahkan ke Leon. Aku segera mengemas pakaiannya sesuai yang dia mau, dua atau tiga hari katanya. Setelahnya, sambil menunggu dia pulang, aku mencari cara bagaimana caranya menyadap ponsel pasangan. "Pas dia mandi nanti, aku akan menyadap wawa nya," gumamku setelah menemukan caranya. Aku akan mengintai dia nanti melalui pesan di aplikasi hijau miliknya. Dengan begitu, aku bisa mengumpulkan bukti dan labrak dia suatu hari nanti. "Roy David, tidak akan lama lagi, loe gue end!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD