14. Ketahuan Bohong.

1220 Words
Sejatinya cinta takkan merubah perasaan, sekalipun sikap mulai berubah. Perubahan itulah yang menjadi alasan bila cinta mengenal kata 'karena'. –My Kayang– ALI kembali dengan baskom baru, tentunya berisi air hangat pula. "Tiduran," pinta Ali begitu sudah duduk di pinggiran ranjang. "Duduk aja, Kak." Ali memeras kain kecil seperti yang dilakukan Prilly tadi. "Gak usah dikompres deh, Kak. Nanti juga merahnya hilang sendiri," tahan Prilly begitu tangan Ali sudah terangkat. "Kenapa? Takut ketahuan sakit?" Prilly lari dari tatapan Ali yang sekarang sedang menatapnya. "Yaa nggak. Kan tangan Kakak juga masih sakit. Lebih baik Kakak istirahat. A-ku ngantuk nih." Prilly menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Gak usah bohong kamu!" Ali tetap melanjutkan niatnya. Ia meletakkan kain kecil tadi tepat di bagian pipi Prilly yang masih memerah. Ia sedikit menekannya di bagian yang paling merah. Prilly menggigit bibir bawahnya. Ali melihat jelas bagaimana reaksi Prilly setelah ia menekan pipi Prilly barusan. Ia sedikit curiga bila Prilly membohonginya. "Kenapa? Sakit?" Suara itu seperti horor bagi Prilly. Prilly menggeleng cepat. Ali kembali mencelupkan kainnya ke baskom. Ia kembali menekan kulit pipi Prilly dengan kain basah itu lebih kencang. "Awh...," ringis Prilly akhirnya. See. Kini Ali tahu Prilly benar-benar membohonginya. Sejatinya Ali sudah tahu sejak tadi, hanya saja ia mencari bukti dan tak mau asal menyudutkan Prilly yang kesannya jatuh fitnah. "Bohong sama Kakak?" Ali tidak membentak, namun bertanya. "Ma-af, Kak," cicit Prilly takut. "Kenapa bohong?" Ali berusah payah menahan emosinya di hadapan Prilly. "Prilly! Kakak bertanya, kenapa kamu bohong?" Ali mengulang pertanyaan yang sama. "A-ku...." Prilly menunduk takut. Ali selalu membawa aura ketakutan untuk Prilly jika Ali sudah seperti ini. "Jangan nunduk terus, Prilly! Kakak lagi bicara!" Nada suara Ali naik satu oktaf. "I-ya, Kak." Prilly menaikkan pandangan dan berusaha menatap Ali yang kini sedang melempar pandangan tajam ke arahnya. "Kamu kan tau Kakak gak suka dibohongi." Ali memelankan nada suaranya. Ia melihat Prilly yang benar-benar tegang. Ia tak ingin Prilly trauma seperti sebelum-sebelumnya. "Kalau Kakak tau ini sakit, bisa Kakak obatin dari kemarin, Sayang. Kenapa baru bilang sekarang sih?" Emosi Ali mereda berubah menjadi rasa khawatir. "Prilly gak mau buat Kak Ali cemas dan terus merasa bersalah. Prilly gak bermaksud bohongin Kakak. Prilly minta maaf kalau Kakak merasa dibohongi. Prilly menyesal sudah bohong dan akhirnya Kakak tau. Hiks. Prilly mohon ampun, Kak." Prilly menjatuhkan kakinya. Ia memegang kaki Ali dan bersimpuh pada suaminya. Ali merengkuh tubuh Prilly dan membantu Prilly bangun. "Jangan lakukan hal tadi. Kakak juga masih banyak kekurangan. Kakak sudah memaafkanmu, Sayang. Lain kali kamu harus jujur apa pun sama Kakak, yah." "Terima kasih, Kayang." Tangan Prilly tergerak memeluk pinggang Ali dari samping. "Maaf, yah. Jangan kamu masukin ke hati soal kata-kata kasar Kakak barusan. Kakak mengkhawatirkanmu, untuk itu Kakak mudah marah. Udah yah, jangan nangis. Besok kita ke dokter bareng. Kita cari obat untuk luka kamu dan Kakak. Luka kita," terang Ali diakhiri dengan kekehan. Hal yang sama dirasakan Prilly. Ia geli mendengar kalimat akhir yang Ali ucapkan tadi. "Kak Ali udah gak marah, 'kan?" tanya Prilly memastikan. Ali tersenyum sebelum akhirnya menghadirkan kecupan lembut di pelipisnya. Hal ini menjadi jawaban atas pertanyaan Prilly. "Sekarang tidur yah. Kakak mau beresin ini dulu." Ali membantu Prilly berbaring. Ia menarik selimut sebatas d**a. "Kakak tinggal bentar yah." Kini Ali berlalu pergi dari kamarnya. Ali kembali berjalan menuju kamarnya yang terdapat di lantai atas. "Hiks." Ali mendengar suara Prilly yang sedang terisak, saat dirinya ingin memasuki kamar. Apa Prilly menangis lagi? "Sayang," panggil Ali lirih. Prilly menghapus cepat air matanya. Ia membetulkan posisinya yang kini sedang terduduk. "Kok belum tidur?" Ali duduk di sampingnya. "Belum ngantuk, Kak." Prilly menjawab seadanya. "Kamu habis nangis, ya?" Ali menyentuh kulit pipi Prilly yang lembap. Prilly bingung ingin menjawab apa. Ia tahu Ali tidak suka bila dirinya berdusta. Ali sendiri tahu kapan Prilly jujur dan berbohong. "Hey, Kenapa nangis lagi? Cerita sama Kakak kamu kenapa, hem?" Ali bingung mengapa Prilly selalu tidak ingin menatapnya bila sudah seperti ini. "Kamu nangis karena tadi Kakak bentak kamu ya? Maaf, Sayang, maaf ... Kakak gak bermaksud. Prilly jangan takut sama Kakak yah. Kakak sungguh menyesal." "Bukan, Kak!" Prilly menggeleng cepat. "Terus kamu kenapa? Apa pipinya masih sakit? Iya?" Ali meraba pipi Prilly yang masih memerah lalu ia mengusapnya pelan. "A-ku ... Emm, Kangen Bunda, Kak." Hati Ali mencelos sakit melihat kerinduan yang Prilly rasakan pada ibunya. Ia pun pernah merasakan kehilangan seorang ayah. "Sayang, Bunda kan udah tenang di sana. Kakak yakin kalo Bunda ada di sini dia gak mau lihat kamu sedih." "Aku rindu pelukan Bunda, Kak." "Kakak paham, Sayang." Ali merengkuh bahu Prilly yang kini bergetar. "Kapan yah, Kak, aku bisa bertemu mereka semua lagi?" lirih Prilly yang kini menyandar di d**a bidang Ali. "Belum saatnya, Sayang. Kalau udah saatnya kamu pasti bisa," terang Ali mencoba memberikan pengertian untuk Prilly. "Kak Ali, apa dosa aku banyak banget ya, sampe aku dibiarkan hidup jadi anak yatim piatu sendiri?" "Sayang, dengar Kakak. Kamu itu nggak sendiri. Masih ada Allah di hati kamu. Dan kamu ada bersama Kakak, ada Kakak yang jagain kamu. Kamu gak sendiri, Prill." Ali mengelus pundak Prilly. "Aku gak punya siapa-siapa lagi selain Kakak, hiks." Prilly mulai terisak. "Kata siapa, hey? Kamu masih punya Mama Eci,  banyak yang sayang sama kamu, Prill," jelas Ali. "Kenapa mereka ninggalin Prilly secepat itu, Kak? Kenapa gak sekalian aja aku ikut mereka semua saat kecelakaan itu, biar aku gak kehilangan mereka, hiks." "Kalau kamu ikut dengan mereka, Kakak sama siapa dong?" "Kak Ali ganteng, kalaupun bukan aku sebagai istri Kakak, pasti banyak wanita lain di luar sana yang siap jadi istri Kakak. Tidak seperti aku. Cuma Kak Ali yang sudi menampung wanita yatim piatu seperti aku, ke rumah ini. Kak Ali terlalu sempurna buat wanita seperti aku." "Kakak bahagianya cuma sama kamu, Sayang. Begitu pun dengan kamu hanya boleh bahagia sama Kakak. Justru Kakak senang tidak ada yang mau sama kamu selain Kakak, karena Kakak gak punya saingan. Cukup Kakak yang mengagumi kamu seorang. Berhenti bicara soal kesempurnaan. Kakak gak sesempurna itu." "Kalo aku jelek, Kakak tetap cinta aku gak?" "Kakak cinta sama kamu gak perlu pake alasan. Kamu pikir deh, kalo Kakak cari yang cantik kenapa Kakak gak nikahin Chloe Grace Moretz aja? Dia kan idola Kakak hihi." Prilly tersenyum mendengar penuturan Ali di akhir kalimatnya. "Dia kan artis, Kak." "Tadi kan kamu bilang Kakak bisa sama siapa pun." "Ya udah Kakak nikahin dia dong." Prilly menggembungkan pipinya hingga terlihat semakin chubby di mata Ali. "Sembarangan. Memang kamu ikhlas?" Ali menyentil hidung Prilly gemas. "Kalo Kakak bahagia kenapa nggak?" "Buat Kakak bahagia gampang, Sayang. Cukup kamu bilang i love you. Kakak sudah bahagia." "Jadi...." Prilly menggantung ucapannya. "Apa pun keadaan kamu tidak akan merubah perasaan Kakak." "Udah yah. Jangan sedih lagi," sambung Ali memegang kedua sisi wajah Prilly dan sedikit menariknya, ia mengecup kelopak mata Prilly secara bergantian yang teelihat masih sembap itu. "Aku ... Emm, merasa jadi wanita paling beruntung ada di samping Kak Ali." "Udah malem. Kamu tidur. Besok Kakak ajak kamu main ke rumah Mama Eci, biar ngobatin rasa rindu kamu pada sosok ibu. Gimana mau gak?" tawar Ali. "Beneran, Kak?" antusias Prilly senang. "Iyaa, Sayang. Tapi pulang dari dokter yah." "Yeay, akhirnya Prilly bisa ke luar rumah pergi bersama Kakak." Ali gemas mendengar suara Prilly yang dibuat-buat layaknya anak kecil. Ali kembali membantu Prilly berbaring. Dirinya ikut merebahkan tubuhnya kali ini. Dipeluknya pinggang Prilly posesif.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD