13. Dokter Cinta.

1133 Words
Jangan terlalu membenci luka. Memang semua orang tidak ingin terluka, namun lukalah yang melatihmu tentang keikhlasan. Ikhlas menerima, ikhlas merasakan dan ikhlas menjalankan. -My Kayang- SEHABIS mandi Ali keluar dari kamar mandi sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang terasa perih. "Kakak...." Prilly sudah berdiri tepat di hadapan Ali. Matanya fokus menatap kedua tangan Ali. "Iya, Prill. Kenapa, hem?" Ali mengusap lembut dagu Prilly dengan lengan kirinya. "Tangan Kakak kenapa luka?" tanya Prilly meraih lengan Ali di mana tulang punggung tangannya membiru dan banyak lecet. "Gak usah dipikirin. Kakak baik-baik aja, Sayang." Ali menepis pelan lengan Prilly. "Gimana baik-baik aja kalo tangan Kakak luka begini? Kakak jujur. Ini kenapa?" Ali tersenyum dan mendekap erat tubuh Prilly. "Kak Ali jawab!" Prilly memberontak dalam pelukan Ali. "Jangan peluk-peluk aku kalo Kakak gak jujur sama aku!" Prilly terus meronta mencoba melepaskan pelukan Ali karena Ali tak kunjung bicara. Akhirnya Ali menceritakan semuanya bahwa malam itu, saat Prilly mengajak pisah ranjang, Ali tidak langsung tidur. Ia menyesal telah menampar istrinya dan berinisiatif melukai diri sendiri demi menyamakan rasa sakit yang Prilly rasakan dengan cara memukul dinding dengan ritme berulang hingga kini tangan Ali banyak lecet dan membiru. "Tangan Kakak hanya sedang melaksanakan hukuman karena sudah berani menampar kamu, Sayang. Sudah jangan dipikirin yaa." Ali mengusap halus rambut Prilly. "Kenapa Kak Ali nyakitin diri sendiri?" Prilly menggeleng lemah. Mata Prilly kembali berkaca-kaca. "Kakak lakukan itu supaya di sini bukan hanya kamu yang merasakan sakit, Sayang. Kakak menyesal tidak bisa mempergunakan anggota tubuh Kakak dengan baik sehingga melukai kamu." "Tapi Kak Ali gak perlu melukai diri Kakak sendiri, Kak. Mungkin aku memang salah sampe buat Kakak murka. Tapi harusnya Kakak gak melakukan ini, hiks." Mengapa Ali selalu dengan mudah membuatnya menangis. Hati Prilly terlalu lembut. Ia mudah menangis karena hal-hal kecil. Tapi bila menyangkut suaminya Prilly menganggapnya bukan hal kecil lagi. Prilly tidak sanggup melihat Kayang-nya terluka walau Ali sendiri sering menciptakan luka untuknya. "Tidak masalah, Prill. Kakak ingin merasakan sakitnya jadi kamu. Hanya itu." "Kakak luka kecil aja kamu udah nangis gini, kamu tau Kakak diteror mau nangis gaya apa, Sayang?" batin Ali menatap Prilly yang belum berhenti menangis. "Janji sama aku, next time Kakak gak boleh kayak gini!!" omel Prilly marah. "Janji, Sayang. Udah jangan nangis." Ibu jari Ali tergerak untuk menyapu lembut pipi Prilly yang lembap. "Maaf yah, Kakak udah kasar sama Prilly yah." Kini Ali mengusap-usap rambut Prilly dengan ritme cepat. "Prilly pantas kok dikasarin Kakak. Karena Prilly pembangkang. Prilly juga kekanakkan langsung minta pisah aja, Prilly tidak menjaga perasaan Kak Ali." Prilly sadar akan kesalahannya sendiri. "Tapi tetap saja kalo Kakak bisa menjaga emosi, Kakak tidak sampai menampar kamu." "Prilly sudah memaafkan Kakak kok." Prilly menyerbu leher Ali dan mencari posisi ternyaman di sana. "Love you." Ali meniup wajah Prilly. "Artinya apa Kak?" Prilly mengulum senyum. "Cinta kamu, Sayang." Ali yang gemas menggigit kecil leher Prilly "Juga! Hihi." "Juga apa nih?" tanya Ali mengunyel pipi Prilly gemas "Cinta." Prilly menjulurkan lidahnya. -oO0Oo- Seusai salat Magrib tadi, Prilly berinisiatif mengobati luka di tangan Ali. Bohong jika Ali bilang itu tidak sakit, jelas pasti semua luka akan sakit. Terlebih luka yang diciptakan secara sengaja. Seperti Ali, misalnya. Prilly membuka knop pintu sedikit sulit, karena ditangannya repot membawa baskom berisi air hangat serta alat-alat P3K. "Malam Kak...." Prilly duduk di pinggir ranjang dan menaruh baskom itu di dekatnya. "Malam. Kamu ngapain?" Kening Ali berkerut bingung. "Mana tangannya? Dokter cinta mau operasi tangan Kakak." Gaya bicara Prilly seperti layaknya dokter. Prilly meraih lengan Ali, detik berikutnya Prilly menggeleng kepala. "Ini terlalu bahaya kalau gak diobatin dari sekarang, Pak. Nanti Bapak terkena infeksi, mau?" Ali tertawa keras mendengar gaya bicara Prilly seperti pada pasiennya. "Baiklah, Bu dokter, saya mau diobatin. Untung Bu dokter cantik. Coba kalo nggak saya pulangin Ibu ke rumah sakit, Bu." Prilly mengulum senyum mendengar penuturan Ali yang menurutnya sungguh lucu. "Ibu kenapa? Kalau mau ketawa bebas di sini, Bu. Jangan ditahan-tahan. Atau jangan-jangan Ibu jatuh cinta sama saya? Maaf, Bu. Saya udah ada istri, cantik lagi. Ibu jangan suka sama saya, nanti istri saya cemburu." Ali berbisik di akhir kalimatnya. "Kalau boleh tau istrinya yang mana ya, Pak? Masa sih cantik? pasti cantikan aku deh." "Ibu yakin mau tau istri saya? akan saya tunjukkan dia jauh lebih cantik dari Ibu. Awas Ibu dokter menyesal kalah cantik dengan istri saya. Sebentar. Prilly Sayang! sini deh, ada yang mau ketemu kamu nih. Katanya dia lebih cantik dari kamu!" teriak Ali pura-pura memanggil Prilly. Prilly menutup mulutnya agar tawanya tidak tersembur keluar. "Ahahaha. Kak Ali udahhh." Prilly menaruh kedua tangannya di pundak Ali sambil berpegang erat padanya, Ia waspada kalau-kalau tawanya bisa membuat dirinya tumbang. "Kamu sih mulai." Ali menarik pipi Prilly gemas. "Udah ihh. Aku kan mau obatin Kakak." Prilly mencelupkan kain kecil pada baskom berisi air hangat yang Prilly bawa tadi. "Niat banget sih sampe pake baju kayak perawat gini." Ali memicingkan jas putih yang Prilly gunakan. "Pasien gak boleh protes! Mau sembuh gak!!" Prilly belaga galak. "Ampun, Bu dokter. Awh! pelan-pelan, Bu." Ali meringis kesakitan saat Prilly menempelkan kain yang telah dibasahkan pada lukanya. "Sekarang Kakak masih bilang kalau ini baik-baik aja?" tanya Prilly serius. Terlihat dari raut wajahnya yang menahan marah, sepertinya. Ali diam membisu. Ia pikir Prilly takkan semarah ini. Tangan Prilly beralih membuka kotak P3K. Mengeluarkan kapas, obat merah, plester dan keperluan lainnya. "Aku gak suka yah, Kakak nyakitin diri sendiri kayak gini! Sama aja Kakak ngegampangin diri sendiri!" Prilly terus mengomel, sedangkan Ali banyak diam. "Akh!" jerit Ali tertahan saat Prilly menekan kulit Ali dengan kapas yang sudah dibaluri obat merah. "Tahan yah, Kak, jangan banyak gerak dulu. Nanti makin sakit." Prilly memelankan aktivitasnya karena tidak tega melihat Ali yang sejak tadi merintih kesakitan. "Lain kali jangan belaga hebat. Kakak juga manusia bukan super hero yang bisa tahan luka." Ali tampak asik memerhatikan Prilly yang sejak tadi mengomel. Entah mengapa Prilly terlihat makin cantik di matanya. "Besok ke dokter sungguhan. Barangkali ada tulang yang patah. Jangan kerja dulu. Aku antar. Kak Ali bicara dong! Jangan diam saja!" Prilly sedang mengomel atau sedang merengek? Entahlah Ali bingung. "Iya, Sayang." Hanya itu yang bisa Ali ucapkan. "Masih sakit?" tanya Prilly memasang wajah cemas. "Better." Setelah dirasa cukup, Prilly membalut lukanya dengan kapas baru dan plester sebagai perekatnya. "Kamu gak perlu mencemaskan Kakak, Sayang. Bahkan Kakak sampai lupa tidak memikirkan kamu. Emm ... pipi kamu masih sakit gak?" Tangan kiri Ali meraba pipi Prilly yang memerah. "Gak sakit sih, Kak. Cuma gak ngerti deh masih merah sampe sekarang." Prilly menjauhkan tangan Ali karena risih. "Yakin? Kamu gak bohong, 'kan?" selidik Ali menaikkan satu alisnya. "Ish! Ini udah jujur, Kak." "Ya udah nanti Kakak kompresin ya. Ketahuan bohong, awas kamu!" "Tapi, Kak—" "Gak ada penolakan, Sayang. Kamu tunggu di sini. Biar Kakak yang taruh ini semua." Ali membawa apa yang Prilly bawa tadi dan melenggang pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD