12. Terima Aku Apa Adanya.

1658 Words
Terimalah pasanganmu apa adanya, karena yang bersama kalian adalah manusia. Bukan malaikat yang mendekati sempurna. Sejatinya letak sempurna hanya ada pada Sang Pencipta, bukan ciptaanNya. -My Kayang- KINI pandangan mata Prilly terfokus pada setumpukan koleksi boneka doraemon yang ia susun dengan rapih. Namum pandangan Prilly tak lepas dengan boneka doraemon yang berukuran kecil itu. "Yeayy ... tuh kan aku bilang apa Kak, pasti dapet! horeee Kak Ali hebat," surak Prilly senang. "Nih udah puas kan?" Ali meraih telapak tangan Prilly dan memberikan bonekanya pada Prilly. "Makasih Kak." Prilly loncat-loncat serta memeluk leher Ali. Prilly tersenyum mengingat malam itu. Malam yang membuat dirinya bahagia sekaligus menyedihkan sampai detik ini Prilly masih saja bersedih hati. Kini Prilly tengah asik membereskan pekerjaan rumah. Ia menyibukkan dirinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. -o0O0o- "Akhirnya Kakak bisa melihat wajahmu, Sayang. Kakak rindu. Semoga kali ini kamu mau memaafkan Kakak," batin Ali tersenyum sembari menatap wanita yang kini berdiri tak jauh dari hadapannya. "Ka-kak!" Prilly buru-buru melangkah ingin pergi namun Ali berhasil lebih dulu menggapai pergelangan tangannya. Tidak ada penolakan. Tidak juga ada pemberontakan dari Prilly, yang Prilly lalukan justru menatap fokus ke arah lantai. Ia takut! Sungguh takut mengingat perlakuan kasar Ali semalam. "Mau ke mana?" Ali bertanya tanpa melepaskan pegangannya. Mata Prilly berkaca-kaca. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Ali namun takut Ali kembali memarahinya terlebih membentaknya. "Hey, Kakak bertanya Sayang." Prilly terhenyak karna dengan tiba-tiba Ali merangkum wajahnya, sampai tatapan matanya bertemu pandang sejenak. Mata Prilly semakin memanas kala bertatapan dengan mata itu. Mata yang selalu meluluhkannya. Prilly tidak ingin berkedip untuk saat ini, karena yakin setelahnya akan ada cairan yang mengalir ke pipinya. "Kamu gak mau bicara sama Kakak?" Air mata Prilly tak terbendung lagi. Ia memejamkan mata menangis tanpa suara. Sebisa mungkin ia menghindari kontak mata bersama Ali walau Ali berusaha lagi mengarahkan tatapannya agar selalu sejajar dengannya. Kaki Prilly melemas. Entah karena lelah menangis atau karena ia dihantui rasa takut yang selalu menyerang pikirannya. "Kamu baik-baik aja?" cemas Ali saat membaca gerak-gerik tubuh Prilly yang hampir terjatuh. "Duduk ya?" Ali menuntun Prilly berjalan ke arah sofa dan mendudukkannya dengan sangat hati-hati. Ali berjongkok di hadapan Prilly yang kini tengah fokus menatap lantai. "Oke, karna kamu nunduk terus Kakak di bawah biar yang kamu lihat tetap Kakak, bukan lantai." Ali meraih kedua tangan Prilly lalu menggenggamnya. "Dengar ... Kakak minta maaf soal kejadian semalam." Ali mengecup lembut lengan kiri Prilly bersamaan dengan jatuhnya air mata di pipi Prilly. "Hey, bicaralah ... Agar Kakak tau apa yang kamu inginkan. Please jangan siksa Kakak dengan melihat air matamu." Kedua tangan Ali beralih naik ke pundak Prilly dan mengusapnya lembut. Bukankah dirinya yang menyiksa batin sekaligus fisik Prilly semalam? Prilly kali ini memalingkan wajahnya, malas melakukan kontak mata dengan Ali, yang ada pasti dirinya cepat luluh. Bukan Prilly tidak mau memaafkan, hanya saja ia mencoba mendiamkan suaminya. Sejauh mana dia akan bertahan. Lagian Prilly malas bicara bila pada akhirnya mengundang kemurkaan Ali. "Sayang ... Jangan diamkan Kakak." Mata Ali berkaca-kaca melihat respons Prilly yang mungkin sudah benar-benar membencinya. "Maaf Kakak tidak pandai membuatmu tersenyum bahagia. Kakak lebih pandai membuatmu bersedih, menangis, takut, dan Kakak membuat kamu trauma." Ali menggigit bibir bawahnya tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Mengingat yang ia katakan itu semuanya benar. Kali ini Ali yang menundukkan wajahnya. Ia bungkam dalam keheningan. "Apa Kak Ali menangis?" Prilly bertanya hanya sanggup dalam batin. "Boleh Prilly tau apa kesalahan Prilly sampai Kak Ali tega ... nam-par Prilly semalam?" Kerongkongan Prilly tiba-tiba tercekat. Ia sempat mengira bila tadi malam ia hanya merasakan mimpi buruk. Prilly tidak mempermasahkan tingkat kesakitan yang ia rasakan atas tamparan Ali. Namun di sini Prilly merasa sakit yang teramat karna ia tak menyangka Ali yang benar-benar melakukannya. Ali yang ia kenal selama ini bukan lah pria kasar, tapi sosok kakak yang lembut yang memanjakan adiknya. Ali mendongakkan kepala, lagi ia mengusap air mata Prilly sebelum akhirnya menjawab pertanyaan istrinya. "Tangan Kakak refleks karena kamu minta pisah. Kakak gak suka kamu membahas itu di depan Kakak, Sayang," terang Ali membuat Prilly tersenyum miris. "Oh ... Gak suka. Jadi kalo Prilly melakukan apa yang tidak Kakak suka, Kak Ali bebas bertindak kasar sama Prilly gitu? Iya Kak?" Ali terpaku dalam diam. Prilly benar. Ali selalu berlaku kasar saat Prilly melakukan hal yang tidak Ali suka, ke luar rumah tanpa seijin darinya, misalnya. "Semalam Kakak gunakan tangan Kakak untuk melayangkan tamparan buat Prilly, besok-besok apa Kak? Kak Ali bisa aja melayangkan benda-benda untuk menyakiti Prilly lagi, benar kan?" d**a Prilly naik turun. Sebenarnya ia tak ingin menghakimi Ali seperti ini. "Boleh tau alasan lain? Sebelum Kakak nampar Prilly, Kak Ali kan sudah bentak-bentak Prilly. Kenapa Kakak marah-marah?" Prilly merasa ia sedang melakukan sidang. "Maaf Kak kalo Prilly gak sopan, Prilly cuma pengin tau letak salah Prilly. Kalau memang Prilly bersalah akan Prilly perbaiki semuanya," sambung Prilly yang masih menjaga perasaan Ali dan mencoba tetap menghargai Ali sebagai pemimpin dalam rumah tangganya. Ali menggeleng pelan. "Kamu gak ada salah apa pun, Sayang." Ali menatap manik mata Prilly. Ia melihat banyak siratan luka di sana. "Terus kenapa Kakak marah-marah sama Prilly? Kakak gak ingat yang terjadi semalam? Kakak bukan cuma marah tapi Kakak berteriak di depan wajah Prilly hiks. Kak Ali narik-narik tangan Prilly dari di mall. Sampe udah di rumah Kakak masih kasar sama Prilly. Hiks. Prilly gak suka dikasarin hiks." Tanpa aba-aba lagi, Ali merangkul erat wanita rapuh di hadapannya ini. "Maaf, Kakak emosi dan melampiaskan itu semua sama kamu, Sayang. Maaf, Kakak jahat sama Prilly. Kakak minta maaf...." Ali menenangkan Prilly dengan terus mengusap lembut punggungnya. "Bahkan aku sering dilampiaskan Kakak seperti itu. Kakak sering marah tanpa alasan. Padahal Kakak pernah bilang kalau Kakak akan marah bila aku melakukan kesalahan. Lalu tadi apa? Kakak bilang aku gak bersalah. Dan Kakak tetap menyakiti aku sekalipun aku tidak salah. Kenapa sih Kak! Kenapa!!" Prilly berteriak histeris dalam pelukan Ali. Ali pikir dengan memeluknya membuat wanitanya tenang, tapi lihatlah Prilly mengamuk saat Ali tak kunjung melepaskan pelukannya. "Iya ... Kamu boleh marah besar sama Kakak, boleh Sayang. Silakan kamu berteriak sepuas kamu dan terus lah salahkan Kakak atas semua ini. Kakak terima agar kamu tenang dan tidak lagi bersedih. Janji sama Kakak setelah ini kamu berhenti menangis. Oke?" Ali kembali mengeratkan pelukannya saat Prilly kembali berontak untuk dilepaskan. "Kakak gak akan maksa mendapat maaf dari kamu bila kamu tidak mau memberikannya. Tapi sekali lagi Kakak minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu, yah." Ali membingkai kedua pipi Prilly dengan tangannya. "Kak Ali selalu begini. Kakak berani mengeluarkan kata maaf disaat Kakak telah menyesal atas perbuatan yang Kakak lakukan. Sedangkan Prilly, sering kali Prilly memohon ampun dan berusaha mendapatkan maaf dari Kakak. Tapi? Hiks ... Kak Ali gak pernah dengar maaf Prilly. Jika Prilly bersalah Kakak selalu mengutamakan hukuman, barulah abis itu Kakak memaafkan kesalahan Prilly setelah Kakak puas menghukum Prilly, setelah Kakak puas menyakiti Prilly, dan setelah Kak Ali puas melampiaskan semuanya sama Prilly. Hiks ... Sebenarnya Kakak sayang Prilly nggak sih? Prilly gak papa kok, kalau Kakak udah gak sayang Prilly. Nanti Prilly cari cara untuk pergi dari Kakak. Bahkan pergi dari muka bumi ini, Hiks." "Syutt ... Jangan bicara gitu. Nanti Allah murka sama Prilly kalau Prilly bicara sembarangan. Kakak sayang sama kamu, Prilly. Kakak mungkin sering marah sama kamu bukan berarti Kakak membenci kamu, Sayang. Kakak gak pernah benci sama kamu walau kamu sering buat Kakak marah. Udah yah. Maafkan atas sikap Kakak sama kamu. Kakak bukan manusia sempurna yang selalu berbuat benar. Kakak bukan suami yang baik buat Prilly. Kakak gak mampu buat kamu tersenyum setiap saat Prill. Tapi Kakak selalu mencari cara untuk bisa membawa kebahagiaan buat kamu walau cara yang Kakak gunakan kadang tidak seperti suami lain, tidak romantis. Kakak seperti ini Sayang. Kakak tempramental, kasar, galak. Kakak berharap kamu bisa terima Kakak apa adanya. Satu yang perlu kamu tau, tidak ada yang terlintas di pikiran Kakak untuk meninggalkan kamu." Setelah menyeka air matanya, Ali kembali mengeratkan pelukannya. Tangannya tak lelah untuk memanjakan rambut Prilly. Kedua insan ini banjir air mata. Apa lagi Prilly. Mungkin mata gadis itu sudah bengkak karna terlalu lama menangis. Prilly terenyuh akan penjelasan Ali. Egoiskah dirinya jika terus menginginkan Ali seperti yang dia mau? Tangan Prilly terangkat mulai membalas pelukan Ali. Hal ini membuat hati Ali menghangat. Sudah hadirkah hati pemaaf wanita itu? "Kayang...." Prilly memanggilnya masih dalam keaadan menangis. Ali tersenyum lebar kali ini, karena mendengar kembali panggilan itu. Panggilan sepesial untuk dirinya. "Iya, Sayang?" Ali melonggarkan pelukannya digantikan dengan aktivitas memperbaiki penampilan Prilly. Merapikan rambutnya yang berantakan, contohnya. "Kakak benar. Prilly kekanakkan. Maafin Prilly karena—" Ali membuat bibir Prilly terkatup karna jempol Ali sudah melekat di sana. Detik berikutnya, jempol Ali bergeser membelai pipinya selembut mungkin. "Jangan diterusin. Kakak yang harusnya minta maaf karna Kakak banyak salah." "Tapi Prilly sudah buat Kak Ali menangis, hiks...." "Bisa senyum gak?" Tangan Ali kini mengangkat kedua sisi bibir Prilly membuat seolah tersenyum. "Gak perlu disuruh, Prilly bisa sendiri kok. Nih." Prilly memamerkan deretan giginya yang rapi di hadapan Ali, membuat pria ini tersenyum penuh arti karena gemas akan kepolosan Prilly. "Gitu kan cantik ... Imut." Ali menusuk-nusuk pipi Prilly dengan telunjuk tangannya. "Kakak ih...." Prilly merengek manja. "Kamu ketawa tapi matanya merah. Gak konsisten banget." Ali meledek Prilly dengan menarik pelan rambut bagian belakang Prilly yang panjang itu. "Ih! Nakal!" Prilly memukul lengan Ali yang menurut Ali sama sekali tidak lah ada rasanya. Akhirnya Ali meraup wajah Prilly dengan telapak tangannya. "Nakal tapi cinta." Kini Ali menyembunyikan kepala Prilly di bawah ketiaknya. "Emm ... Prilly sayangggggg banget sama Kakak." Prilly mendongakkan wajahnya walau dirinya masih di bawah ketiak Ali. "Kakak nggak tuh." "Gak salah!" Prilly menjulurkan lidahnya membuat Ali menoyor pelan kepalanya. "Pinter ya sekarang...." "Kan Kak Ali gurunya." Kini Ali menarik hidung Prilly cukup lama sampai memerah. Prilly mencebikkan bibirnya kesal. "Udah ihh, Prilly cape Kak!." Tangan Prilly beralih memeluk pinggang Ali dari belakang. "Ya udah kamu ke kamar geh. Kakak mau mandi yaa." Ali membalikkan tubuhnya dan mengecup singkat kening dan pipi Prilly.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD