Dikatakan telah melakukan yang terbaik bagi keduanya, bukan hanya salah satunya.
–My Kayang–
SETELAH lamanya semalaman Prilly mengurung dirinya di dalam kamar kini ia ke luar kamar. Matanya tak sengaja menangkap sosok Ali yang masih tertidur pulas di sofa.
Seusai salat Subuh tadi, Prilly tampak sibuk berkutat dengan alat dapurnya.
Dalam keadaan marah Prilly tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri.
Ia tetap menyiapkan sarapan untuk Ali walau Ali sudah melukai dirinya sekalipun.
Sarapan telah siap di atas meja, Prilly beralih ke kamar untuk menyiapkan baju kerja Ali. Ia letakkan baju itu di samping Ali agar saat Ali bangun ia langsung melihatnya.
Selesai sudah, tugas Prilly pagi ini. Ia kembali mengunci dirinya di dalam kamar.
Tak lama setelah itu, akhirnya Ali terbangun.
"Ternyata udah pagi." Ali menyipitkan matanya untuk melihat jam dinding.
"Loh, ini siapa yang nyiapin baju untuk gue?" Ali sempat bertanya.
"Lo jangan gila, Li. Di rumah ini cuma ada lo sama Prilly. Jelas pasti ini Prilly," gumam Ali.
Akhirnya Ali segera bersiap-siap karena harus pergi ke kantor.
Kini Ali melihat ada banyak makanan di atas meja yang ia yakini makanan itu lah yang telah disiapkan Prilly.
"Kakak gak ngerti apa yang membuat kamu melakukan ini, Sayang. Kakak udah jahat sama kamu," batin Ali dengan mata terpejam.
Ali menarik kursi dan mendudukinya. Ia sedikit terkaget melihat kertas kecil yang diselipkan di bawah gelas air putih. Ali tersenyum penuh arti sebelum akhirnya meraih kertas itu.
Kalau gak sudi untuk menikmatinya, buang saja! Aku gak mood masak, pasti masakanku tidak enak.
Senyum Ali memudar setelah membaca rentetan huruf dalam kertas itu, ia pikir surat kecil itu berisi pesan untuk menyemangati Ali yang ingin bekerja atau mengingatkan baca doa sebelum makan, seperti yang sudah-sudah. Dahulu jauh sebelum Prilly pintar memasak.
"Enak gak?" Prilly bertanya setelah suapan pertama masuk dalam mulutnya.
Prilly menunggu sekali, kalimat apa yang Ali lontarkan setelah mencicipi hidangannya.
"Emm, kebanyakan natrium klorida. Tapi ... Kakak kan suka yang asin-asin, jadi...."
Prilly tertawa lepas. Ali bermaksud menghina masakannya atau ingin mempetahankan agar pujian tidak hilang darinya?
"Jadi apa!" Prilly berdecak sebal. Bilang saja kalau masakannya tidak enak. Apa susahnya. Lagian Prilly tidak akan menangis tujuh hari tujuh malam hanya karena mendengar masakannya tidak enak. Benarkah?
"Jadi yaa sumpah ini sedap, Sayang. Horee kamu lolos Prillyku." Ali mencubit gemas pipi Prilly.
"Hahahaha bawa-bawa lolos. Casting kali ah." Prilly tertawa bahagia.
Ali melahapkan hidangan yang ada di hadapannya saat ini, setelah selesai membayangkan kejadian dulu. Wajah bahagia gadis itu masih tercetak jelas di dalam isi otak Ali. Menemaninya disaat sarapan. Tidak seperti sekarang, hanya kursi kosong yang menjadi saksi bisu di mana Ali merindukan sosok Prilly.
Setelah sarapan selesai, Ali melangkah menuju kamar karena ingin berpamitan kepada Prilly.
"Sayang ... buka dulu pintunya, Kakak mau bicara sebentar, Sayang." Ali mencoba mengetuk pintu yang masih terkuci dari dalam.
"Prilly, Sayang ... Hey, Kakak mohon sebentar aja." Tidak ada respons. Pintu tetap terkunci.
"Kakak datang baik-baik loh, cuma mau minta maaf." Usaha Ali gagal Prilly tidak juga membukanya, justru ia kini mendengar suara isak Prilly.
"Hiks!" Sebisa mungkin Prilly menutup hidung serta mulutnya agar Ali tak mendengar suara tangisnya namun naasnya, Ali mendengar jelas Prilly yang tengah menangis saat ini.
"Maafin Prilly, Kak. Prilly belum siap ketemu Kakak," batin Prilly dalam tangis.
"Pasti dia nangis lagi karena ingat semalam," batin Ali setia menyandarkan tubuhnya di pintu.
"Gue bodoh!!" Ali menjenggut rambutnya sendiri mengingat perlakuan kasar yang ia lakukan pada Prilly semalam. Pantas Prilly tidak ingin menemuinya. Lagian siapa yang tidak takut melihat kemarahan suami yang dilampiaskan melalui tangannya sendiri.
"Pasti Prilly benci banget sama guee. Lo bodoh, Li! buat istri lo sendiri jadi takut sama lo!" Ali mengusap wajahnya gusar, ia tampak frustrasi.
"Harusnya gue seneng liat dia selamet dari mobil itu, tapi yang gue lakukan malah menyakitinya. Arghh!"
Ali memejamkan mata, sulit menghilangkan bayangan semalam di mana ia mendengar suara ketakutan Prilly, suara rintihan Prilly, suara isak Prilly. Ia berusaha tidak mengingat itu semua, namun otaknya menolak keras. Hingga bayangan itu justru menghantui pikirannya, membuat ia ingin menangis sekarang juga.
"Prilly ... Kakak tau pasti kamu bisa dengar suara Kakak. Iya, 'kan? Kakak mohon buka pintunya sebentar, Sayang." Kaki Ali melemas hingga tak lagi mampu menopang dirinya untuk tetap berdiri. Ali menjatuhkan dirinya ke lantai.
Prilly berjalan ke arah pintu saat mendengar suara Ali yang sepertinya terjatuh. Entah apa yang membuat ia mengkhawatirkan keadaan Ali. Sebenarnya ingin sekali Prilly membuka pintunya memastikan Ali baik-baik saja. Namun, ketakutannya sisa semalam mampu menjadi benteng pertahanan untuk tidak dulu mengacuhkan Ali. Sehingga Prilly tidak jadi membuka pintunya.
Kini kedua insan ini saling menyandarkan tubuh masing-masing di balik pintu yang sama. Padahal jarak keduanya sangat dekat hanya terhalang oleh pintu.
"Prilly, Sayang...," panggil Ali tak menyerah.
"Jangan panggil aku dengan sebutan sayang lagi! Aku tau Kak Ali udah gak sayang sama aku, 'kan? hiks!" Akhirnya Prilly bersuara walau diakhiri dengan isakkan.
"Hey, kamu ngomong apaan sih? Prilly, Kakak sayang sama kamu. Sangat! Jangan bicara yang nggak-nggak!" kata Ali dari luar.
"BOHONG!!" teriak Prilly histeris.
Ali benar-benar khawatir. Ingin sekali ia masuk ke dalam kamar dan memeluk erat-erat istrinya.
"Prilly ... Buka pintunya, Sayang." Ali kembali mengetuk pintu itu.
"Aku tau Kak Ali cuma pura-pura sayang, 'kan? Padahal sebenarnya Kakak itu malu punya istri yang manja, cengeng, cerewet, bawel kayak aku. Aku tau Kakak udah bosan dan aku tau—" Prilly menjeda ucapannya karna ia merasa dadanya mengilu. "Kakak udah gak nyaman hidup sama aku, 'kan? Itu sebabnya Kak Ali berubah jadi kasar karena Kakak memang udah gak sayang aku dan berpaling ke hati yang lain hiks...," tangis Prilly tersedu-sedu.
Kini keduanya pun terduduk lemas di lantai, Ali masih setia mendengarkan.
"Lebih baik sekarang Kakak pergi dan cari wanita lain yang tidak kekanakkan! Yang bisa bikin Kakak nyaman dan buat Kak Ali bahagia. Ada baiknya aku pergi dari hidup Kakak!"
"Dulu Kakak lembut gak pernah kasar seperti sekarang, karena aku percaya dulu Kakak sayang aku. Tapi sekarang beda! Kak Ali berani main tangan sama aku, itu udah cukup bukti kalo aku udah gak penting di hati Kakak! PRILLY BENCI KAKAK!! KAK ALI PERGI SEKARANG!!!"
Ali menggeleng lemah, ia tak menyangka bagaimana bisa Prilly mengucapkan kalimat itu, kalimat yang membuat hatinya perih. Kini ia hampir putus asa menghadapi cobaan yang ia tanggung sendiri.
"Apa ini udah saatnya Prilly tau semuanya, kalo gue seperti ini karena punya alasan," batin Ali mengusap genangan air mata yang hampir jatuh membasahi pipinya.
"Nggak! Ini belum saatnya Prilly tau. Gue rela Prilly membenci gue. Yang penting gue gak nambah kesedihan lagi," sambung Ali yang sudah basah air mata.
Menurut Ali ini adalah pilihan terbaiknya, membiarkan Prilly membenci dirinya dan menyembunyikan apa yang telah terjadi sebenarnya, termasuk merahasiakan masalah besar dalam pernikahannya.
"Sayang, Kakak mohon buka pintunya, Kakak gak akan pergi sebelum kamu buka pintunya."
"Kenapa? Kakak mau nyiksa aku kalo aku buka pintunya? Kakak mau mukulin aku? Please jangan sekarang, Kak! Nanti aku temuin Kakak kalo aku udah siap dipukulin lagi! Hiks." Prilly trauma dengan perlakuan Ali semalam yang menurutnya sudah melewati batas.
"Prilly ... Siapa yang mau pukulin kamu sih? Kakak semalem gak sengaja nampar kamu, Sayang. Kakak gak sengaja. Kakak menyesal tidak bisa menjaga emosi hingga kamu berpikir seperti ini. Kakak minta maaf, yah. Nanti kamu boleh balas nampar Kakak. Kakak siap!"
"AKU BILANG PERGI!!!" teriak Prilly bercampur tangis.
"Hiks...." Prilly merasa ia menjadi wanita paling menyedihkan di bumi ini.
"Baiklah ... Kakak pergi sesuai keinginanmu. Hati-hati di rumah. Sarapannya tetap enak walau kamu buatnya sedang marah. Love you, Barbie Ali." Ali menghapus jejak air matanya sebelum akhirnya berlalu.
"Love you too, My Kayang. Aku sayang Kakak melebihi apa pun. Walaupun Kakak udah berubah tapi rasa sayang aku tetap sama, Kak. Gak ada yang berubah," batin Prilly mencoba berdiri dengan kaki yang melemas.