Tidak pernah ada yang tahu kapan datangnya hal menyakitkan. Bahkan perihal itu bisa hadir di situasi dan tempat yang sama, saat kita sedang asyiknya menikmati kebahagiaan.
–My Kayang–
BRUK!!!
SEORANG pria mendorong tubuh Prilly hingga ia terjatuh. Namun akhirnya ia berhasil selamat dari mobil yang hampir menabraknya.
"Kamu baik-baik aja, 'kan?" Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Prilly berdiri namun Prilly menolak uluran tangan itu.
"Maaf aku bisa sendiri." Prilly membetulkan posisinya untuk berdiri.
"Hm, makasih ya sebelumnya udah nolong aku," ucap Prilly tersenyum.
"Iya, tapi lain kali hati-hati yah." Pria itu membalas senyum Prilly.
"Pulang!" Seseorang menghampiri Prilly dengan mencekal kasar lengannya.
Merasa tiba-tiba ditarik, Prilly memprotes seseorang ini yang ia yakini perbuatan Ali. Suaminya. "Kak, apaan sih? Aku belum selesai ngmong sama dia." Prilly mencoba melepaskan tangannya dari Ali.
"Belum selesai kenalannya? Begitu maksud kamu?" Ali semakin menguatkan cekalannya yang cukup kencang dan sudah pasti memberi tanda kemerahan di sana.
"Kak, pelan-pelan, ini sakit...," ringis Prilly kesakitan.
"Eh, lo gak usah kasar gitu sama cewek!" Pria itu mencoba membantu Prilly.
"Lo siapa? Gak usah ikut campur!!" ketus Ali yang langsung menyeret Prilly masuk ke dalam mobil.
Prilly hanya menangis dalam mobil. Selama perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan, barang sepatah kata pun. Terutama Ali fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hal ini yang membuat Prilly menangis, sudah tau gadis itu takut namun tetap saja Ali melakukannya.
Sesampainya di rumah, dengan tidak sabaran Ali langsung membawa Prilly masuk ke dalam.
"Jawab jujur pertanyaan Kakak, siapa cowok itu?" tanya Ali sedikit menyentak.
"A-ku gak tau, Kak. Kan baru aja ketemu tadi." Ketakutan Prilly kini bertambah atas sikap Ali. Tangan Prilly masih menggenggam erat boneka Doraemon yang ia dapatkan tadi.
"GAK USAH BOHONG!!" teriak Ali membuat Prilly semakin larut dalam tangis.
"Aku gak bohong, Kak. A—ku gak tau dia siapa," tangis Prilly pecah saat Ali kembali berbicara dengan nada tinggi bahkan kini berteriak.
Ali berpikir pria yang menolong Prilly tadi adalah orang yang menerornya selama ini.
"Dulu kamu pernah cerita sama Kakak ada orang yang nolong kamu dan itu kejadiannya sama persis, pasti orang tadi orang yang dulu pernah nolong kamu juga, 'kan? Harusnya kamu tau dong itu orang yang sama?" Prilly terus didesak dengan berbagai pertanyaaan dari Ali.
"Ngaku!" gertak Ali seolah menuduh Prilly seorang pencuri.
"Kak, aku beneran gak tau orang yang dulu itu pake masker kalo yang tadi kan nggak. Jadi aku gak tau orang itu sama atau nggak." Prilly mencoba menjelaskan. "Tolong percaya sama aku Kak, hiks," sambung Prilly kala Ali menatapnya tajam.
"Sebenernya ada apa, Kak? Permasalahannya apa? aku gak mengerti. Kakak kenapa sih, akhir-akhir ini aku perhatiin Kak Ali sering marah-marah?" Merasa diabaikan Prilly seperti tak dianggap.
"Apa aku gak boleh tau masalah Kakak? Kakak sekarang beda. Kakak jadi sering bentak aku. Kak Ali gampang marah sama aku. Sebenernya salah aku di mana Kak? jangan buat pikiran aku bermacam-macam." Prilly bersusah payah menahan bulir bening yang telah menggumpal di pelupuk matanya.
"Kakak jenuh sama Prilly?"
Ali belum juga membuka suara.
"Sekarang Kakak jujur deh kalau ada wanita lain di hati Kakak." Prilly memberanikan diri untuk mengatakan kalimat perih ini, walau setelahnya ia langsung mengusap air matanya.
"Kenapa diam, Kak? Ucapan Prilly benar yah?
Ali masih bungkam dalam keheningan.
"Kalo memang benar Kakak jenuh sama Prilly, ceraikan Prilly saja, Kak!"
Plak!
Jari-jari tangan Ali bergetar hebat setelah melayangkan tamparan keras yang mendarat sempurna di pipi Prilly. Kemarahan Ali meningkat kala mendengar Prilly sudah membahas perceraian, hingga tanpa sengaja ia menampar wajah Prilly.
"Hikss...." Prilly terisak dengan memegangi pipinya yang panas dan perih.
Dahulu, Prilly tak pernah menyangka jika Ali yang selalu bersikap lembut bisa membentaknya, kini bukan hanya sentakan yang Prilly dapatkan. Ali mulai berani bermain tangan dan berlaku kasar padanya, sungguh Prilly tak menyangka.
"Prill...." d**a Ali sesak melihat jelas kepedihan yang Prilly rasakan.
"Kak Ali jahat...," lirih Prilly berbisik dengan suara pelan, hampir tak bersuara.
"Hey, Kakak gak sengaja, maaf...." Ali menelan salivanya saat dirasa tenggorokannya kini tercekat.
"Makasih untuk malam ini, boneka Doraemon sekaligus hadiah tamparannya, Kak. Prilly suka!" Prilly menutup mulutnya agar isakkannya tidak sampai terdengar di telinga Ali.
"Sayang...," tahan Ali meraih pergelangan tangan Prilly, kala melihat wanitanya ingin melangkah pergi.
"Lepasin!" Prilly menepis kuat lengan Ali walau sia-sia dan malah membuat hati Ali kembali mendidih.
"Jangan membuat Kakak semakin murka atas kekanakkan kamu PRILLY!!!" Ali menekan kuat cekalan di lengan Prilly membuat wanita itu memilih diam. Ia tampak meringis kesakitan bercampur rasa takut setelah Ali kembali membentaknya.
"Maaf...." Ali melonggarkan pegangannya setelah akhirnya sadar dirinya kembali menyakiti Prilly.
"Jangan pergi dulu, kita selesaikan ini baik-baik, Sayang," ucap Ali melembut.
"Selesaikan ini baik-baik dengan cara menampar? Itu yang Kakak bilang baik-baik? Begitu Kak?" tanya Prilly dengan suara bergetar.
"Prill—"
Prilly memotong ucapan Ali. "Kakak sadar gak barusan memukul wajah Prilly? Aku ini siapa buat Kakak?"
"Segitu marahya Kakak sama aku? Kak Ali bilang Kakak gak akan marah kalo aku gak salah. Lalu tadi? Kakak marah-marah sama aku tanpa alasan. Salah aku apa Kak? Kak Ali tuh sekarang berubah! Kakak memang udah gak sayang aku! Kak Ali gak punya perasaan! Dan perlu Kakak tau, aku gak akan pernah lupa soal tamparan itu." Prilly memberontak pegangan tangan Ali yang masih betah mencekal lengannya.
"Prill, Kakak gak sengaja nampar kamu. Kakak minta maaf." Ali meraih kedua pergelangan Prilly namun wanita itu menolak keras.
"Sekarang lepasin tangan aku, Kak!" tangis Prilly kembali pecah saat Ali berusaha mendekapnya.
"Diam Prilly! Kamu bisa diam tidak!" sentak Ali dihadapan wajah Prilly dengan tatapan mengerikannya.
"Lepasin, Kak!!" Prilly memukul d**a Ali sekuat tenaga yang ia bisa.
"KAKAK BILANG DIAM!!!"
"Hiks." Prilly menunduk takut melihat Ali yang benar-benar murka padanya.
"Jangan melawan, Sayang. Kakak gak suka." Ali mengatur napasnya. Ia tidak ingin menyakiti Prilly lebih dalam sebenarnya.
"Cuma ada kamu di hati Kakak. Ngerti? Kamu ingin pisah dari Kakak sama saja kamu menyakiti Kakak! Sangat! Maaf Kakak sudah menamparmu. Kakak benar-benar gak sengaja karena mendengar keinginanmu itu dan Kakak gak suka. Anggap itu peringatan keras buat kamu, untuk tidak lagi bahas perceraian di depan Kakak. Karena sampe Kakak mati kamu adalah hak paten milik Kakak. Paham?" Ali menyeka air mata Prilly yang kini berjatuhan.
"Sumpah demi apa pun, Kakak cuma cinta sama Prilly! Jangan lagi menuduh Kakak mencintai wanita lain, yah." Ali menarik tubuh mungil Prilly untuk dipeluknya.
Dan kali ini Prilly membiarkan pria itu memeluk dirinya.
"Kamu boleh balas menampar Kakak, Sayang. Lakukanlah sekarang." Ali mengusap lembut kepala Prilly, berharap Prilly berhenti menangis.
"Sekarang lebih baik Kakak tidur. Aku cape mau istirahat. Ada baiknya kita pisah ranjang." Prilly berlari meninggalkan Ali dengan perasaan yang hancur.
Ali hanya mematung saat Prilly sudah tidak lagi ada di hadapannya.
"Suatu saat nanti kamu akan mengerti sendiri kenapa Kakak seperti ini, Sayang," batin Ali sedih.
Memasuki kamar, Prilly segera mengunci pintunya. Tangannya berpegang erat pada gagang pintu. Kakinya melemas seperti tak bernyawa lagi, sebisa mungkin Prilly mempertahankan posisinya untuk tetap berdiri. Namun sepuluh detik kemudian, tubuhnya ambruk, merosot ke lantai. Prilly menyandarkan punggungnya di balik pintu. Ia menangis. Rapuh. Sakit.
Tangan mungilnya kembali menyentuh pipi gembulnya, tidak begitu sakit saat dipegang. Tapi mengingat siapa yang telah menamparnya, di situlah Prilly merasakan sakit. Benarkah malam indahnnya berubah menjadi menyakitkan?
"Hiks ... Kak Ali." Prilly menatap lekat-lekat boneka Doraemon berukuran kecil yang sejak tadi tak lepas dari genggamannya.
"Kenapa Kakak gak jujur aja kalo ada wanita lain di hati Kakak? Aku tau dengan sikap kasar yang Kakak tunjukkan tadi ngebuat aku semakin yakin kalo Kakak cuma pura-pura cinta sama aku, hiks ... Hiks."
"Aku sayang Kakak, hiks, hiks." Prilly menangis di balik pintu.
Dengan sisa tenaga, Prilly beranjak dari posisinya. Ia menaiki ranjang tidur, tangannya memeluk guling dengan eratnya.
"Biarpun Kakak udah berubah, aku akan terus mencintai Kakak. Selamanya, hiks." Ia mencoba menutup mata dalam keadaan manangis.
Bagaimana dengan Ali? Mungkin ia tidur di sofa untuk malam ini. Malam yang indah sekaligus menyakitkan, untuk keduanya.