Quality time bersama keluarga itu bagus, justru sangat dianjurkan untuk mengenali lebih dalam pasangan, jadi tidak perlu disesali walau hasilnya tidak selalu mengesankan.
-My Kayang-
ALI merangkum wajah Prilly agar tatapannya sejajar dengannya. Prilly enggan menoleh Ali sebab ia masih teringat akan tatapan tajam Ali beberapa waktu sesaat terdahulu.
"Sayang, Kakak mohon jangan kayak gini. Kalo kamu merasa sakit hati atas ucapan Kakak tadi udah marahin kamu, oke sekarang gini, kamu bayangkan posisi kamu kalo Bunda sedang marah sama kamu pasti kamu kesal sama Bunda, iya, 'kan? Sekarang balik lagi Bunda marahin kamu karena Bunda tuh sayang sama kamu. Nah begitupun dengan yang Kakak lakukan tadi, Kakak begitu bukan karena benci, tapi karena Kakak sayang banget sama kamu, Prill. Tolong banget maafkan Kakak, yah." Ali mengelus bahu Prilly mencoba memberi pengertian pada istrinya itu.
"Emang Kak Ali masih sayang sama aku?" tanya Prilly mendongakkan kepalanya.
"Jelas, Kakak udah berkali-kali bilang, 'kan? kalo Kakak sayang sama kamu itu selamanya," jelas Ali penuh penekanan.
Melihat keraguan dari raut wajah Prilly, Ali semakin frustrasi.
"Ya udah Kakak mau tebus kesalahan Kakak, malam ini Kakak akan ajak kamu jalan-jalan, kamu mau ke mana aja Kakak siap antar, kamu minta beli apa aja Kakak beliin. Gimana? mau, yah?" Ali memakai cara seperti ini siapa tahu Prillynya bisa kembali tersenyum.
"Beneran, Kak?" tanya Prilly dengan mata berbinar.
"Iya, Sayang. Kita quality time malam ini." Rupanya cara Ali yang satu ini berhasil membuat Prilly tersenyum lagi.
"Ya udah aku mau. Kalo gitu aku ganti baju dulu yah, Kak," antusias Prilly senang.
"Dandan yang cantik, yah." Ali mencium puncak kepala Prilly dengan sayang.
"Kakak ke luar dulu dong," suruh Prilly malu.
"Oh, emang harus banget ya Kakak ke luar dulu?" Ali mencoba menggoda Prilly.
"Ih, Kakak, aku kan malu," jawab prilly dengan polosnya.
"Tapi kan Kakak suami kamu. Kita udah sah, Prill, ngapain harus malu?" Ali senang jika sudah menggoda istrinya yang super polos itu
"Ih, Kakak mah gitu, aku kan tetap maluu, udah sana di luar dulu." Prilly mendorong punggung Ali, menggiringnya untuk ke luar kamar
"Ya, ya, ya. Kakak ke luar nih."
Akhirnya Ali hilang di balik pintu.
-o0O0o-
"Kak Ali aku udah cantik belum?" Prilly tampil dengan atasan model turtleneck dan dipadukan celana jeans hitam, heels putih dengan rambut yang diurai membuat Ali terpesona dengan kecantikan Prilly. Tak lupa sling bag quilted berwarna merah ikut melengkapi accesories yang Prilly gunakan.
"Masih kurang cantik," jawab Ali membuat Prilly cemberut seketika.
"Kamu kurang cantik kalo belum pake ini, Sayang." Ali memberi sebuah headband kain tribal berwarna merah. Kalau begini matching dengan sling bag-nya.
"Ini buat aku, Kak?" Baru saja Ali membuat Prilly cemberut, seperkian detik kmudian Prilly kembali dibuat tersenyum.
"Suka?" Ali menaikkan satu alisnya.
"Sukaa. Kakak ih ... Kapan belinya?" tanya Prilly heran.
"Ada deh." Ali mengacak-acak rambut Prilly lalu tertawa.
"Kakak ngapain ngasih aku headband kalo rambut aku di acak-acak gini," protes Prilly dengan nada suara anak kecil manja yang dibuat-buat.
"Hahaha kamu nih memang cocok jadi Little Barbie Kakak." Tangan Ali mendorong pelan wajah Prilly dengan gemasnya.
"Oh ya, sini biar Kakak yang pakein yah." Ali memakaikan pengikat rambut itu di rambut panjang Prilly.
"Uhhh, Barbie tembem Kakak makin cantik sekarang." Mendapat pujian seperti itu Prilly mengulum seyumnya malu.
"Aku kira Kak Ali udah gak sayang aku, tapi itu semua salah." Prilly bersuara dengan batin, mindset Prilly mengenai perubahan Ali mulai terkikis dari jarak pikirannnya.
"Makasih yah, Kayang, aku sayang Kak Ali selamanya." Prilly menyerbu caruk leher Ali.
"Sama-sama, Sayang. Ya udah yuk berangkat," ajak Ali.
"Yuk." Prilly memeluk pinggang Ali dari samping sedangkan Ali merangkul bahu Prilly dari samping juga.
"Silakan masuk, Barbie Ali." Pintu mobil telah terbuka sedia, sengaja Ali siagakan khusus untuk Prilly.
"Makasih pangeran, Kayang." Prilly menyahut sebelum akhirnya masuk ke mobil.
-o0O0o-
"Kita mau jalan ke mana, Sayang?" tawar Ali begitu keduanya sudah dalam mobil.
"Terserah Kak Ali aja." Prilly tertawa kecil.
"Loh kok terserah Kakak, kan kamu yang mau jalan-jalan."
"Tapi kan aku cuma di ajak sama Kakak, jadi terserah Kakak ajaa," ucap Prilly manja.
"Kalo ke kuburan mau?" tanya Ali terkekeh.
"Ihh Kakak! Serem dong." Prilly memprotes atas jawaban yang Ali berikan.
"Tadi katanya terserah Kakak, gimana sih?" Ali meraih lengan Prilly sebelah dan menggenggam dengan eratnya.
"Ya bukan berarti ke kuburan dong, Kak. Bercanda mulu nih Kakak!" gerutu Prilly kesal. "Kenapa tangan Prilly dipegangin terus, Kak?" sambung Prilly bertanya ketika mulai sadar.
"Nanti tangan kamu bisa jatuh kalo gak Kakak pegangin." Ekspektasi Ali sungguh meyakinkan. Bilang saja kalau Ali ingin terus memegang tangan Prilly.
Prilly? Entah memang polos atau berpura-pura polos, yang jelas ia selalu gembira diperlakukan Ali seperti ini. Lihat, wanita itu kini tersenyum manis. Ali menyadari wanitanya diam. Karena Prilly kehabisan kata-kata, mungkin.
"Kita ke mall, ya." Ali mengecup lengan Prilly yang sejak tadi digenggam erat olehnya.
-o0O0o-
"Yeay!" Prilly membuka pintu mobil dengan antusias begitu mobil Ali telah terparkir di basemen. Padahal Ali saja belum mematikan mesin mobilnya.
"Prilly seneng banget ... Udah lama gak ke luar rumah, Kak!" teriak Prilly berlari mendahului Ali. Dia bersorak ria seperti anak kecil.
"Kak Ali lagi apa sih? Lama banget?" Merasa heran karna Ali belum juga menyusul dirinya, akhirnya Prilly kembali berjalan menemui Ali.
Kreck!
Ali membidik wajah Prilly dengan kamera digitalnya begitu Prilly mendekat ke arahnya.
"Kakak lagi apa sih?" Prilly mengerecutkan bibirnya karna Ali tampak sibuk dengan kameranya.
"Oh ... Jangan-jangan Kakak abis culik gambar Prilly yaa?" Prilly menebak seadanya.
"Hidih ... Pede banget kamu." Ali mengunyel pipi Prilly gemas.
"Terus ngapain kalo bukan fotoin Prilly? Kak Ali ngaku aja dehh."
"Kakak lagi ngetes kamera, Sayang." Prilly mengangguk paham. Percayakah dia dengan berbagai kebohongan yang Ali lakukan sejak tadi?
"Ya udah ayo, Kak." Prilly menarik-narik lengan Ali tak sabaran.
"Iya, Sayang. Emang kamu mau beli apa sih? Gak sabaran banget."
"Kak kita main games aja yuk. Prilly kangennnn," ajak Prilly memasang wajah imutnya.
"Hmm iyaa, udah Kakak tebak pasti ujung-ujungnya kamu minta ke sini. Dasar ya kayak anak kecil," ledek Ali menarik hidung Prilly
"Kak, please deh ini di tempat umum, jangan nakal." Prilly memukul lengan Ali pelan.
Sambil berjalan saja mereka ribut, tapi suasana itulah yang membuat keduanya harmonis.
---------TIMEZONE---------
Setelah membeli banyak koin untuk bermain games, begitu antusiasnya Prilly yang langsung menarik lengan Ali menuju mesin capit boneka. Mata Prilly terfokus hanya pada boneka Doraemon di dalam sana. Ia sungguh menginginkannya.

"Kak Ali itu ada boneka Doraemon, bantuin aku ambil dong, Kak. Kakak harus bisa dapetin boneka itu yaa. Prilly gak mau tau pokoknya Kakak harus dapet," antusias Prilly membuat Ali membulatkan matanya.
"Ya ampun, Sayang. Kok jadi Kakak yang main? Kakak gak bisa. Lagian yah
kamu kalo mau boneka Doraemon tinggal beli aja kan banyak bisa pilih lagi, gak perlu dari games ini. Kalo gak dapet gimana?" sebenarnya Ali sudah malas sejak awal mengunjungi tempat ini, kalau bukan Prilly yang meminta.
"Kalo beli kan gak seru, Kak. Kalo ini seru. Kak Ali kok gitu, ayo dong, Kak. Masa gak mau sih." Prilly merengek manja namun Ali seperti mengabaikannya.
"Ih! Kakak aku sebel, ya udah kita pulang aja sekalian," gertak Prilly.
"Iya, iya. Sini Kakak minta koinnya satu," pinta Ali.
"Gak usah, Kak. Kita pulang aja," Prilly mulai sedih.
"Hmm ngambek. Dikit-dikit ngambek." Ali menyentil hidung Prilly.
"Apaan sih!" ketus Prilly menepis lengan Ali
"Iya deh, iya, Sayang. Ini mau Kakak ambil, kamu berdoa biar cepet dapet." Ali mulai memasukkan koin itu.
Koin pertama sia-sia. Ali mencoba lagi memasukkan koin yang kedua
"Bismillahh," gumam Ali dengan mulut komat-kamit. Tanpa sadar tindakan itu membuat Prilly menahan tawanya.
"Yeayy ... tuh kan aku bilang apa Kak, pasti dapet! horeee Kak Ali hebat," surak Prilly senang.
"Nih udah puas, 'kan?" Ali meraih telapak tangan Prilly dan memberikan bonekanya pada Prilly.
"Makasih, Kak." Prilly loncat-loncat serta memeluk leher ali.
Ukuran bonekanya tak seberapa tapi Prilly sangatlah bahagia.

"Ya udah anter Kakak makan yuk Sayang, Kakak laper nih," ajak Ali
"Tapi koinnya masih banyak, Kak."
"Nanti abis makan kita ke sini lagi deh, Sayang."
-o0O0o-
Setelah mereka berdua makan, keduanya kembali berkeliling di sekitar mall spertinya Prilly lupa untuk kembali ke tempat games tadi.
"Kak Ali liat deh di situ banyak baju tidur motif Doraemon. Ke situ yuk, Kak. Aku pengin lihat," antusias Prilly menarik-narik tangan Ali.
"Doraemon lagi, Doraemon lagi! kenapa sih nih anak suka banget sama kartun itu, terus kenapa ya gue punya istri kayak gini banget. Kalo gak sayang udah gue kilo nih anak," batin Ali mendumel kelakukan Prilly yang menurutnya childish.
"Kak liat deh lucu-lucu banget Kak. Aku suka yang ini beliin yah, Kak, please," ucap Prilly memohon. Ali menatap Prilly jengah.
"Tadi katanya cuma pngen lihat, lah kenapa sekarang malah minta beli? Lagian nih Prill ini tuh cocok dipake buat anak kecil ya minimal masih pake ginian itu anak SMP juga udah jarang, inget kamu udah gede, udah punya suami, Sayang...," jelas Ali mengingatkan.
"Ah Kakak mah gitu, gak ngerti banget kalo aku suka Doraemon. Please dong, Kak, sekali aja," Prilly memasang tatapan memohon kali ini.
"Nggak. Cukup boneka aja udah." Lagi Prilly di buat kesal oleh Ali.
"Ih! Kakak kok gitu sih? Tadi di rumah janjinya apa ? Aku minta apa aja Kakak belikan, tapi buktinya sekarang aku minta ini gak boleh." Raut wajah Prilly menjadi sedih.
Bagaimana tidak sedih, Prilly hanya minta dibelikan barang-barang sederhana dan Ali menolaknya, ia tak ingin dimanjakan dengan barang-barang mewah atau semacam berlian yang harganya sangatlah tinggi.
Ali baru ingat dengan janjinya sebelum pergi tadi. Ia juga tak ingin melihat Prilly yang kembali bersedih.
"Ya udah iya. Silakan kamu pilih satu, tapi kali ini aja ya." Prilly yang mendengar ijin Ali sontak kembali bersemangat.
"Seriusan, Kak ?" tanya Prilly memastikan.
"Hmm," deheman Ali cukup jadi jawabannya.
"Asyikk makasih yah, Kak."
-o0O0o-
"Sayang Kakak capek pulang yuk," ajak Ali setelah kembali ke tempat games tadi yang mana Prilly ingat juga akhirnya.
"Kak aku haus, mau beli minum dulu yah, Kak," ijin Prilly.
"Ya udah Kakak tunggu di sini aja ya, kamu bisa beli sendiri kan?" tanya Ali yang begitu kelelahan karna sejak tadi berkeliling mall hanya untuk menemani Prilly jalan-jalan.
"Iya, Kak, tapi jangan ke mana-mana yah. Ya udah aku ke sana dulu."
Ali duduk di sebuah kursi panjang dekat pintu menuju parkiran basemen.
Prilly pergi ke seberang jalan namun ia tak melihat-lihat sisi kiri kanan hingga ia tak melihat ada mobil lewat ke arahnya.
Tinnnnn!!
Suara klakson mobil yang dibunyikan dengan sangat mendadak membuat Prilly yang melihat hanya syok dan diam di tempat.
"Aaaaaa!!" teriak Prilly menutup matanya kuat-kuat.
Bruk!!!