Masalah akan melekat pada siapa pun yang menjalankan kehidupan.
-My Kayang-
"Pagi, Sayang," sapa Ali.
"Pagi juga, Kak" Prilly sudah menyambut Ali di meja makan.
"Sayang, Kakak ada meeting pagi, jadi kayaknya gak sarapan di rumah deh." Ali merapikan dasi yang ia pakai.
"Yah, kok gak bilang dulu sih, Kak. Kalo tau gitu ngapain aku cape-cape bikinin sarapan kalo akhirnya gak di makan," gerutu Prilly kesal.
"Hey...." Ali menguyel pipi Prilly gemas. "Yang bilang gak mau dimakan itu siapa? kan bisa makanannya Kakak bawa di tepak makan, terus nanti Kakak makan di kantor," jelas Ali.
"Serius, Kak? emang Kak Ali gak malu gitu bawa-bawa tempat makan ke kantor?" tanya Prilly menaikkan satu alisnya.
"Ya nggak lah ngapain harus malu," jawab Ali santai.
"Hmm, Kak! Tapi susunya di minum, ya," ucap Prilly dengan nada memohon.
"Oke, Sayang. Ini mau Kakak minum." Ali meraih gelas s**u cokelat hangat itu dan meneguknya sampai setengah gelas.
"Ya udah aku siapin bekal untuk Kakak ya, Kakak tunggu bentar di sini." Prilly beralih menuju rak piring.
Prilly kembali dengan membawa tas kecil berisi kotak makan siang.
"Prill, sini bentar." Ali mengisyaratkan Prilly untuk mendekat ke arah Ali.
"Ada apa, Kak?"
"Kapan terakhir Prilly minum s**u?"
"Hmm, Kak, aku udah siapin semuanya di sini, ntar Kakak tinggal makan aja," elak Prilly mengalihkan pembicaraan.
"Prill, Kakak lagi nanya loh."
"Dua bulan yang lalu, Kak." Prilly menjawab jujur walau setelah ini ia yakin Ali akan memaksa menyuruh untuk meminumnya.
"Kan Kakak udah bilang, minum s**u setiap hari," tegur Ali lembut.
"Kalau gak belajar dari sekarang, kapan lagi, Prill?"
"Kamu sendiri tahu, kalau s**u itu sehat. Buktinya kamu setiap hari selalu ingatkan Kakak. Tapi kenapa kamu sendiri gak mikirin untuk kesehatan kamu? Prill minum s**u gak ada yang rugi."
"Bagi Kakak gak rugi, lain halnya bagi Pri-"
"Gak ada yang rugi, Sayang," potong Ali cepat, "Percaya sama Kakak. Kamu hanya butuh keterbiasaan."
"Nanti Prilly minum, Kak"
"Kok nanti? Sekaranglah."
"Katanya ada meeting pagi, Kak? Ini udah siang." Prilly mencari cara agar Ali tidak sebagai pemaksa pagi ini.
"Bisa di-cancel. Kesehatan kamu jauh lebih penting."
"Kalau susah minum satu gelas full, kamu habisin sisa Kakak aja. Setiap hari kita minum setengahan. Anggap aja satu gelas berdua. Mau, ya?" tawar Ali.
Prilly menatap Ali malas. Untuk apa dia memberi tawaran jika tawaran itu sebuah keharusan?
Prilly mengangguk. Ia lebih memilih minum setengah gelas s**u dari pada satu gelas full ia harus minum sendiri.
"Nih minum sekarang, punya Kakak masih setengah." Ali menyerahkan gelas itu pada Prilly.
"Mulainya besok aja, Kak."
"Sekarang, Prilly."
"Tapi, Kak-"
"Ayo." Prilly sudah memegang gelas itu. Tapi hatinya enggan untuk meneguknya
Ali menghela napas melihat Prilly yang hanya diam. Ingin sekali ia marah namun ia tahan. Ali paham Prilly tidak suka diberi peringatan keras. Dipaksa secara halus saja, Prilly masih bisa menangis. Bagaimana jika Ali memaksanya dengan kasar?
"Kakak bantu ya, Prill." Akhirnya Ali merebut gelas itu dan membantu Prilly agar lebih cepat meminumnya.
"Kenapa Kakak pemaksa banget?" Mata Prilly berkaca-kaca.
"Karena Kakak berhak untuk memaksa kamu. Udah jangan nangis. Ayo, minum." Prilly mulai menegukkan s**u itu, dengan bantuan tangan Ali yang terus mendorong gelasnya. Ia tak memberi celah sedikit pun kalau-kalau Prilly melepaskan gelas itu sebelum susunya habis.
Berhasil!
Rencana Ali untuk memaksa Prilly pagi ini berhasil. Walau ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya membuat Prilly menangis di pagi hari adalah kebodohan yang pernah ia lakukan.
"Sekarang apa yang kamu rasakan? mual?"
Prilly menggeleng pelan.
"Benar, 'kan Kakak bilang? kamu gak akan rugi, Sayang. Itu hanya mindset kamu. Disaat kamu berpikir s**u membuat kamu mual. Kamu akan merasakan mual. Kamu hanya perlu keberanian, Prill. Pikirkan hal yang baik, Insha Allah hasilnya baik," terang Ali panjang lebar.
"Makasih ya, Kak."
"Untuk apa, Sayang?"
"Sudah menjadi pemaksa pagi ini."
Ali terkekeh pelan. Ia paham wanitanya pasti ngambek saat ini.
"Jangan nangis lagi, ya. Kakak sangat sayang kamu." Ali mengacak pelan rambut Prilly.
"Ya udah Kakak berangkat sekarang yah. Assalamualaikum." Ali sedikit membungkuk menjangkau kening Prilly lalu mengecupnya.
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Kak." Prilly mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan Ali.
"Inget Kak, jangan ganjen sama partner cewek!" Prilly sedikit berteriak di setiap paginya, mengingatkan pesan untuk suaminya itu.
Sementara Ali yang sudah sedikit menjauh itu kembali menoleh ke belakang dan mengacungkan jempol pada jarinya.
Drtt... Drttt....
Ponsel Ali terus bergetar saat Ali tengah fokus mengendarai kendaraan.
Ali mencoba meraihnya dalam saku jasnya.
Pluk..
Ponsel Ali terjatuh bersamaan dengan Ali yang tiba-tiba mengerem mobilnya. Hampir saja konsennya buyar dan ingin menabrak sepeda motor di hadapannya. Beruntunglah Ali masih mampu mengimbangi kendalinya, walau ponselnya menjadi korban.
"Hallo, Jer!" Ali akhirnya bersuara setelah mengambil ponselnya yang terjatuh di sekitar kakinya.
"Lo masih di mana Li? Rapat udah mulai, tinggal nunggu lo." Jerrel—Tangan kanan sekaligus sahabat karib Ali sudah mengoceh di seberang sana.
"Dua menit lagi gue sampe."
Tut!
Ali langsung memutus sambungan secara sepihak.
-o0O0o-
Selesai meeting, Ali tampak mengeluarkan tepak makan yang di bekalkan Prilly untuk sarapan paginya. Ia lebih suka dengan masakan Prilly dibanding harus makan masakan orang lain. Karena bagi Ali masakan Prilly adalah masakan terlezat seumur hidupnya yang pernah ia temui.
"Wih, belum sarapan lo?" Jerrel menghampiri Ali dan langsung duduk di meja berhadapan dengan Ali.
"Bisa gak, lo sopan dikit ke gue?" protes Ali kala melihat tangan Jerrel berkeliaran di area tepak makannya.
"Istri lo jago, ya," komentar Jerell setelah mencicipi hidangan yang Ali bawa.
"Istri gue bukan ayam kali." Ali melahap suapannya kali ini.
"Hahaha. Anyway, by the way, busway kenape lo telat?" tanya Jerrel dengan tatapan selidiknya.
"Prilly," singkat Ali berharap pria di hadapannya ini tidak memberi pertanyaan berikutnya atas rasa penasarannya.
"Ohh."
Finally ... Ali bernapas lega.
"Kenapa dia?" tambah Jerell dengan tangan yang kembali mengambil alih sendok Ali.
See. Benar, 'kan? Kalau bukan sahabatnya, Ali sudah mengusirnya jauh-jauh pria itu dari ruangan ini.
"Gue paksa minum s**u sebelum ke sini." Sebenarnya Ali malas menanggapi Jerell. Yang tidak seharusnya dia harus serba tahu mengenai urusan pribadinya. Termasuk rumah tangganya.
"Lo jangan terlalu pemaksa gitu, Li. Sapa tau dia emang gak suka dari kecil."
What the hell? Bahkan Ali saja belum tahu alasan Prilly tidak menyukai s**u. Mengapa Jerell so tahu tentang istrinya itu.
"Kalo gak gue paksa, dia bakal terus nolak dan akhirnya melunjak. Gimana kalo dia hamil dan gak ada asupan s**u? Lo mikir dong." Ali tak terima dengan nasehat Jerell yang seakan menggurui dirinya. Bagaimanapun Ali lebih tahu apa yang terbaik untuk Prilly.
"Tapi lo bisa, 'kan ajarin dia pelan-pelan gitu."
"Lain kali gue coba." Ali menyendok suapan terakhirnya.
"Kerja lo sana! Betah banget di sini deh. Heran." Ali beranjak dari kursi kebesarannya membereskan alat makan dan menghampiri wastafel membasuh mulutnya.
"Heleh. Tanpa lo usir gue juga mau ke luar keleus." Jerell turun dari meja yang sejak tadi ia duduki.
"Udah gue usir, baru lo bilang gitu." Jerell mendengar omelan Ali sebelum akhirnya tubuh itu ditelan pintu.
-o0O0o-
"Assalamualaikum, Ma." Prilly mengetuk pintu rumah Eci yang sedikit terbuka.
Tak butuh waktu lama pintu itu terbuka seluruhnya.
"Walaikumsalam, Prilly."
Prilly meraih tangan Eci dan dan langsung menciumnya.
"Masuk, Sayang." Eci menuntun Prilly masuk ke dalam.
"Kamu sama siapa ke sini? Kok gak bilang dulu? Ali mana?" Deretan pertanyaan akhirnya keluar dari mulut ibu mertuanya itu.
Prilly tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari wanita paruh baya yang ada di hadapannya ini.
"Prilly gak sengaja ke sini, Ma. Tadi Prilly mau licin baju tapi pewanginya habis. Jadi Prilly ke mini market, terus pulangnya mampir deh ke sini," jelas Prilly sejujurnya.
"Oh, iya. Prilly ke sini naik taksi dan Kak Ali kan lagi kerja, Ma. Toh Prilly bosen di rumah sendirian terus," adu Prilly membuat tangan Eci tergerak untuk mengusap rambut panjangnya.
"Kalau kamu bosen kenapa gak calling Mama, Sayang? Kan Mama bisa main ke rumahmu. Gak perlu kamu yang ke sini," terang Eci.
"Masa Prilly nyuruh Mama ke sana. Harusnya Prilly yang samperin Mama ke sini seperti sekarang." Prilly kembali menjelaskan.
"Ya sudah gak pa-pa. Lain waktu Mama yang ke sana ya, Prill." Eci tersenyum hangat.
"Gimana kabar Mama? Sehat, 'kan?" tanya Prilly meraih lengan Eci.
"Sehat ,Sayang. Kamu sendiri apa kabar? Ali gimana?"
"Alhamdulillah. Kak Ali baik-baik juga, Ma."
"Nanti pulang, Mama anter kamu ya, Prill."
"Gak perlu, Ma. Prilly mampu sendiri kok."
"Ya udah Mama ambilkan minum dulu ya." Eci hampir bangkit tapi Prilly menahannya.
"Gak usah, Ma. Prilly bentar kok di sini. Habis ini juga mau pulang lagi."
"Kok cepet banget ,Prill. Gak mau masak-masak bareng Mama nih?"
Setiap bertemu, mereka memang selalu menyempatkan untuk masak berdua. Namun kali ini Prilly menolaknya dengan alasan ia pergi ke luar rumah tanpa atas ijin Ali.
-o0O0o-
Seusai sarapan Ali kembali bekerja. Ia tampak sibuk berkutat dengan laptop yang ada di hadapannya, ia sempat merasa terganggu karna ada telepon yang masuk melalui ponselnya yang ia diamkan berdering sejak 2 menit berlalu.
"Maaf saya sedang berbicara dengan siapa?" tanya Ali sopan. Ia tidak tahu siapa penelepon itu, karena tidak ada nama kontaknya.
Ali merasa kesal karena si penelfon hanya diam di seberang sana. Akhirnya Ali memutuskan sambungan telepon itu.
Saat Ali kembali fokus pada kerjaannya lagi dan lagi ada yang mengusiknya. Namun kali ini sebuah pesan yang masuk.
"Anda yang bernama Ali kan?" isi pesan itu dari nomor tak di kenal.
"Ya, saya Ali. Maaf Anda siapa?" balas Ali pada si pengirim pesan.
"Anda tidak perlu tahu saya ini siapa."
"Lalu ada keperluan apa Anda menghubungi saya? jika Anda sendiri tidak mau memberi identitas Anda?"
"Berhubung saya tidak suka basa-basi, saya langsung aja. Keinginan saya sederhana hanya ingin Anda menyerahkan istri Anda kepada saya."
"Maaf sepertinya Anda salah orang."
"Saya tidak salah. Istrimu bernama Prilly bukan? Serahkan dia pada saya! sebelum saya merebutnya secara langsung!!!"
"Berani sekali Anda mengancam saya. Saya tidak akan pernah menyerahkan istri saya kepada siapa pun termasuk Anda!! Dan jika Anda berpikir saya takut dengan ancaman Anda, sepertinya Anda salah besar!!" balas Ali tegas.
"Baiklah lihat saja nanti. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Lambat laun istrimu akan menjadi milikku, hahaha."
"Siapa sih tuh orang nyasar kali, ya? apa orang itu kenal sama Prilly? Kok bisa tau nama Prilly sih," gumam Ali merasa cemas.
"Prill, apa kamu baik-baik aja? Jujur Kakak cemas mikirin kamu." Ali merasa khawatir dengan Prilly yang berada di rumah.
"Aku harus cepet pulang!!" Ali menutup laptopnya dan mengakhiri pekerjaannya siang ini.