Lakukanlah apa yang menurutmu harus dilakukan, hasilnya biar Allah yang akan menilai.
-My Kayang-
SAAT-saat yang Prilly hindari tiba. Ia mulai merasa bosan di kala siang hari. Ia jenuh setiap hari ditemani rasa sepi di dalam rumah seorang diri. Akhirnya ia berinisiatif untuk ke kolam renang yang terdapat di halaman belakang rumah. Hanya di sanalah tempat yang paling nyaman untuk sendiri.
Prilly terduduk di tepi kolamnya. Ia mencelupkan setengah kakinya ke dalam air. Di saat-saat seperti ini, pasti ia teringat dengan seluruh anggota keluarganya yang telah tiada.
"I miss you all," lirihnya.
"Gimana kabar kalian semua di sana?" Prilly menengadah ke angkasa.
"Aku merindukan kalian, andai kalian masih di sini pasti sekarang aku nggak sendirian lagi saat Kak Ali kerja." Kini air mata Prilly sudah bercampur dengan air kolam karena sejak tadi ia menangis.
"Aku nggak boleh cengeng." Ia segera mengusap pipinya yang basah.
Prilly menghibur dirinya dengan bermain air, ia mengayun-ayunkan kedua kakinya yang berada dalam air.
"Aku harus kuat karena aku masih punya Kak Ali."
Terlihat Prilly terlelap tidur, tubuhnya bersandar pada pilar di sekitaran tepi kolam dengan setengah kaki yang masih tercelup di dalam air.
Memasuki pukul 3 sore, Ali segera pulang dari kantor, ia segera pulang karena tahu Prilly sudah menunggunya di rumah.
"Prilly ... Sayang kamu di mana? Kakak udah pulang nih." Ali memanggilnya tapi tidak ada sahutan dari mana pun.
"Kamu di mana, Sayang?" Ali mencari-cari Prilly ke berbagai sudut ruangan tapi nihil. Ia tidak menemukannya di manapun.
"Prill, kamu ke mana sih? apa kamu marah sama Kakak sampe kamu pergi nggak pamit?" Ali memijit pelipisnya.
"Ini semua gara-gara gue yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. Ya Allah bagaimana ini? arrghh!" Ali mengacak rambutnya frustrasi.
Tiba-tiba terlintas di benak Ali, tempat yang belum ia kunjungi.
Kolam renang!
"Gue harus ke kolam renang sekarang." Ali sedikit berlari menuju halaman belakang.
Ali berhenti melangkah kala mendapati Prilly yang sedang terduduk menyendiri di tepi kolam renang.
"Ternyata kamu di sini." Ali bernapas lega.
Senyum manis terpancar di wajah tampannya. Perlahan ia menghampiri wanitanya.
"Sayang...," panggil Ali dari belakang.
Prilly tidak menyahut, akhirnya Ali melangkah lebih dekat dan berjongkok, lalu dilihatnya wajah Prilly. Ia sedikit terkejut ketika melihat Prilly tertidur pulas.
"Kamu tidur, Prill?" Ali menyibakkan anak rambut Prilly melalui daun telinganya yang semula terurai menutupi wajahnya dari samping.
Ali mengecup pipinya dengan lembut membuat Prilly terbangun.
"Kak Ali...," gumam Prilly menyipitkan kedua matanya memastikan pria yang di hadapannya benar-benar Ali.
"Iya. Kakak di sini, Sayang. Kamu dari kapan di sini?"
"Kak Ali ... Kakak cium-cium aku waktu aku tidur yaa?"
"Ya ... apa itu salah?" Ali tersenyum manis.
"Kak Ali modus!!" Prilly menarik hidung Ali sampai memerah.
"Salah Kakak apa, Prill? lihat nih sampe merah." Ali memegangi hidungnya yang terasa panas.
"Hahaha, Kak Ali udah mirip kayak badut." Prilly menertawai Ali.
"Kakak mau ngomong serius sama kamu." Mendengar perkataan Ali yang begitu datar, tawa Prilly memudar.
"Ngomong serius? Kakak mau ngomong serius soal apa? Kak Ali marah gara-gara aku tarik hidungnya? maaf, Kak, aku cuma-"
"Kakak lapar, Sayang," potong Ali cepat.
"Maksud Kakak-"
"Iya, Kakak cuma mau bilang sekarang Kakak lapar, Sayang," potong Ali lagi.
"Maksud Kakak, tadi Kakak bilang mau ngomong serius, tapi ... jadi Kak Ali ngerjain aku?" geram Prilly.
"Hahaha, gantian dong Kakak ngerjain kamu."
"Ihh ... Kak Ali nakal." Prilly memukul pelan d**a Ali.
Ali tidak mau momen ini cukup berhenti sampai sini, ia segera bangkit, kini ia berlari.
"Ayo sini! kejar Kakak kalo bisa." Ali menantang Prilly.
"Oke! siapa bilang aku gak bisa." Prilly berlari mengejar Ali.
Mereka tampak bahagia saling berkejaran di area kolam renang sampai di antara keduanya tidak ada yang ingat bahwa Ali tidak bisa berenang. Bagaimana jika satu di antaranya ada yang terjatuh?
"Hayoo, mau lari kemana lagi, Kak. Hehe aku gelitikin pinggangnya ya kalo sampe tertangkap."
"Prill, Kakak gak suka ya bercanda kamu." Ali terus mundur sampai kini ia berada di tepi kolam. Satu langkah lagi Ali mundur, ia akan terjatuh.
Prilly baru tersadar jika keduanya telah di pinggiran kolam.
"Kak!" Mendengar Prilly memanggil refleks Ali memundurkan satu langkah lagi dan....
Byur!
"KAK ALI!!!" teriak Prilly melihat Ali terjatuh ke kolam renang.
"Aduh gimana ini? Kak Ali gak bisa renang. Sekarang dia jatuh, aku harus apa, aku harus apa!!" Prilly berucap panik.
"To-long Ka-kak, Prill," ucap Ali dengan susah payah, ia melambai-lambaikan tangannya ke atas sebisa mungkin
"Gimana ini? aku sendiri gak tau bisa renang atau nggak, ini dalem banget, hiks." Napas Prilly tidak beraturan.
"Aku harus melakukan sesuatu! aku gak mungkin diem aja, aku harus berani loncat demi Kak Ali." Prilly memutuskan ikut loncat untuk menolong Ali
Byur!
Seperkian detik kemudian, akhirnya Prilly bisa menemukan Ali dalam kolam, ia membawanya ke pinggir kolam. Dengan susah payah Prilly menaikkan setengah tubuh Ali ke atas daratan, disusul dirinya yang naik ke daratan. Kaki Ali masih menjuntai di bawah, ditariknya lagi tubuh Ali sampai semua anggota tubuhnya ia rebahkan menjauh dari kolam.
Ali terlalu banyak menelan air. Ali pingsan!
"Kak Ali, bangun, Kak. Maafkan aku, ini semua salah aku!" Prilly menepuk pelan pipi Ali walau ia masih tak sadarkan diri.
"Kak Ali, hiks ... bangun, Kak, aku mohon jangan bikin aku panik. Kak, bangun," pinta Prilly terus berusaha tapi nihil.
"Hiks ... hiks, Kak Ali jangan pergi, aku gak mau kehilangan Kakak. Kak jangan mati dulu dong, tolong biarin aku yang mati duluan setelah itu baru boleh Kakak nyusul aku. Kak aku mohon bangun, hiks ... bukankah Kakak sendiri yang sudah berjanji tidak akan meninggalkanku. Kak, tolong tepatin janji Kakak, hiks!" Prilly mengguncang tubuh Ali. Ia mengira Ali telah tiada.
"KAK ALI BANGUNNN!!" teriak Prilly histeris dalam tangis.
"Kak, aku gak mau hidup lagi kalo Kakak ninggalin aku, hiks." Prilly akhirnya pasrah ia menaruh kepalanya di d**a bidang Ali, ia meremas baju yang Ali pakai karena marah pada dirinya sendiri.
"Kak Ali, hiks ... hiks." Prilly terus menangis sambil memukul pelan bahu Ali.
"Prill...."
Alangkah terkejutnya Prilly ketika merasa ada yang menyentuh kepalanya dan mengusap rambutnya. "Kak Ali." Ia segera bangkit melihat keadaan Ali.
"Alhamdulillah ... akhirnya Kak Ali sadar. Terima kasih, Ya Allah." Prilly mengusap air matanya.
"Uhuk! uhuk!" Ali mengeluarkan sebagian air kolam yang tadi sempat ia telan.
"Apa Kak Ali akan marah?" batin Prilly menatap Ali sendu.
"Kak ... Kakak gak apa-apa kan?" Prilly menangkub pipi Ali yang masih dalam keadaan berbaring.
Ali masih diam. Perlahan bibirnya mengukir senyum.
"Kalo tadi mungkin apa-apa. Kalo sekarang seperti apa yang kamu lihat, Sayang." Ali ikut meletakkan tangan kanannya di pipi Prilly. Lalu diusapnya dengan lembut.
"Maafin aku, Kak. Ini semua gara-gara aku. Andai tadi kita gak main-main pasti gak akan terjadi kayak gini. Aku minta maaf, Kak." Sebulir bening kembali menghiasi pipi Prilly. Air itu berlanjut meluncur bebas sampai mengenai punggung tangan Ali.
"Kakak udah baik-baik kok, Prill. Ini bukan salah kamu. Jangan nangis yah." Ali mengusap air mata berharga milik Prilly.
Prilly meraih tangan kanan Ali yang masih melekat di pipinya. Ia letakkan tangan itu di keningnya. Prilly menundukkan kepalanya dan kembali menangis.
"Hiks, hiks...." Bukannya berhenti, isakkan Prilly semakin terdengar di telinga Ali.
"Hey, kok nangis lagi?" tanya Ali bingung.
Prilly kembali menatap ke arah Ali. "Aku cuma takut kehilangan Kakak, aku takut Kak Ali bener-bener pergi ninggalin aku. Tadi aku udah takut banget, hiks." Isak tangis Prilly kini lepas sudah.
Ali yang tidak tega melihat Prilly yang terus seperti ini, ia memutuskan bangkit dari rebahannya. Ia mendekap tubuh mungil Prilly erat-erat. Siapa tahu mampu menenangkan hatinya. Prilly sedikit merasa lega telah menumpahkan segala rasa takutnya di pelukan Ali.
"Hey, yang mau ninggalin kamu siapa, hem? Kakak ada di sini, Sayang," bisik Ali di telinga Prilly.
Prilly memperlihatkan jari kelingkingnya. "Kak Ali janji?"
"Kakak akan beri bukti, Sayang." Ali mengambil jari mungil Prilly dan malah menciumnya.
"Makasih, Kak." Prilly kembali bersandar di d**a Ali.
"Kakak yang harusnya ngucapin terima kasih karena kamu udah nolong Kakak tadi. Kakak gak tau akan selamat nggak kalo gak ada kamu. Makasih ya, Sayang." Ali mengecup kening Prilly lembut.
"Gak perlu berterima kasih, Kak. Aku ikhlas. Lagian tidak ada kata terima kasih dalam kamusku, Kak."
"Tetep aja kamu sudah menyelamatkan nyawa Kakak, Prill."
"Kak, istri mana sih yang diem aja kalau lihat suaminya dalam bahaya? selagi mampu, kita harus berusaha. Walau itu terasa sangat sulit. Urusan hasil, kita serahkan sama yang maha kuasa, Kak."
Saat-saat seperti ini Prilly mampu memperlihatkan sisi kedewasaanya.
"Iya, Sayang. Kamu pinter banget. Kakak malu gak bisa renang dan kalah sama kamu."
"Ingat Kak, kesempurnaan itu hanya milik Allah. Kita sebagai hambanya sudah diberikan masing-masing kekurangan dan kelebihan. Untuk menutupi kekurangan itu, kita harus saling melengkapi dengan salah satu kelebihan. Begitu, Kak." Prilly mencoba menjelaskan apa yang ia tahu. Hanya itu.
Prilly melihat respons Ali yang hanya diam.
"Kak Ali sedih, ya? maafin Prilly ya udah bikin Kakak sedih," sambung Prilly karna ia lihat wajah sendu Ali.
"Nggak sedih kok. Kakak justru seneng dan bangga memiliki kamu, Sayang."
"Ya udah kita mandi yuk. Ini kita masih basah-basahan loh Kak. Habis itu makan sore. Tadi Kakak bilang udah lapar." Prilly mengajak Ali untuk memasuki rumah.