Anneta - Bab 4

1632 Words
Peluh membasahi wajah dan juga piyama tidur Anneta. Napasnya memburu seperti baru saja berlari berkilo-kilo meter. Matanya nyalang mengamati sekitar. "Tolong aku, Anneta! Tolong ...." Suara lirih itu seolah terus berdengung di telinganya. Sosok gadis muda dengan pakaian serba putih yang tadi hadir dalam mimpinya, benar-benar seperti nyata. "Sampaikan maafku, pada Alfian ...." Anneta menghela napas, lalu meraih gelas minum dari atas meja samping tempat tidurnya. Dan saat itulah, iris cokelatnya menangkap buku harian yang tiba-tiba saja terlihat seperti benda mistis. Anneta benar-benar masih bingung, bagaimana bisa buku itu ada di teras rumah Tara. Padahal jelas-jelas sudah ia kembalikan ke tempat ia menemukannya waktu itu. Gadis itu mendongakkan kepalanya ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana horor tiba-tiba saja menyelimuti perasaannya. Dia kembali meringkuk di bawah selimut, menutupi tubuhnya hingga sebatas kepala. Bayangan Naira seolah memenuhi setiap sudut ruangan ini. Ah, Anneta tidak pernah membayangkan bisa berada pada situasi semenakutkan ini. Apakah hantu itu benar-benar ada? *** Pagi-pagi sekali Anneta sudah bangun dan rapi. Sebenarnya dia tidak bisa memejamkan mata kembali setelah terbangun karena mimpi itu. Hari ini Anneta memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dia sudah merasa lebih baik. Dan lagi, masih banyak hal yang harus ia urus. Dari skripsinya yang gagal, hingga toko bunga peninggalan mamanya yang entah sudah berapa lama ia abaikan. "Non, ada surat buat, Non Neta," kata Bi Wati, ART yang sudah bekerja semenjak gadis itu masih kecil. "Makasih ya, Bi," katanya sembari mengambil surat tersebut dan merobek amplopnya. Anneta hanya mengerjapkan matanya, lalu membuang surat beserta amplop yang ternyata adalah undangan pesta pernikahan Ryan dan Virni. Sungguh pasangan yang tidak tahu malu, bisa-bisanya mereka mengirim undangan itu pada Anneta. Gadis itu masuk ke kamarnya dan menyalakan laptop. Ada satu nama yang terus mengganggunya. Sekuat apapun Anneta untuk mengabaikan mimpinya bertemu dengan Naira malam tadi, nyatanya kata-kata gadis itu terus berdengung di dalam otaknya. Ia takut Naira akan terus menerornya melalui mimpi jika dia tidak membantunya meminta maaf pada Alfian. Tidak ada petunjuk apapun di buku itu tentang siapa Alfian. Hanya sekedar tulisan perasaan Naira pada laki-laki itu, dan juga foto tentunya. Namanya Alfian Pramudya Putra. Dia laki-laki pertama yang akhirnya mau melirikku. Dia tampan, aku akui itu. Bukan karena aku mencintainya, tapi dia memang laki-laki yang sangat tampan. Tapi tentu saja bukan itu yang membuatku pada akhirnya menyerahkan hati. Dia tidak hanya memiliki wajah tampan, tapi hatinya juga sangat baik. Aku beruntung karena bisa mengenalnya. Bahkan menjadi satu wanita yang akhirnya bisa meluluhkan hati seorang, Alfian. Anneta kembali mengingat barisan kalimat pujian yang Naira tulis untuk laki-laki itu, lalu memilah-milah akun sosial media mana yang kira-kira bisa membawanya pada sosok Alfian ini. Dan gadis itu memilih i********: sebagai awal dari pencariannya. Semoga saja, dia akan langsung menemukan laki-laki bernama Alfian ini di sana. Anneta berdecap kesal, karena banyak sekali yang memakai nama itu. Lalu dia mulai mengetik nama lengkap Alfian. "Alfian Pramudya Putra," gumamnya sembari menggerakkan jemarinya di atas keyboard. Satu senyum terbit saat hanya ada satu akun di sana. "Ck! Yah, di privat!" kesalnya sembari mengamati foto profil laki-laki itu. Tidak terlalu jelas, sama saja dengan foto yang terselip dalam buku harian Naira. Gadis itu mendengus kesal sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Lalu menekan tombol follow. Berharap laki-laki bernama Alfian itu mau menerima permintaan mengikutinya. Anneta mengetuk-ngetukkan jemarinya pada meja. Berusaha memikirkan cara lain untuk menemukan laki-laki ini. Sungguh merepotkan memang, tapi entah mengapa ini membuatnya seperti menemukan tujuan hidupnya kembali. Dia merasakan sebuah semangat yang sempat meredup karena pengkhianatan Ryan dan juga Virni. Gadis itu kembali membuka buku harian milik Naira. Berharap ada satu petunjuk yang bisa ia pakai untuk mengawali pencarian ini. Tapi tidak sekalipun Naira menyebutkan identitas laki-laki itu. Bahkan umurnya saja tidak Naira tulis. Anneta kembali menyisiri barisan kalimat yang tulisannya mulai memudar termakan waktu itu, tapi benar-benar tidak ada satu petunjuk pun di sana. Lalu bagaimana dia mencari sosok itu? Anneta mengembuskan napas pendek, lalu kembali berselancar pada dunia maya. Berharap, dengan begitu akan muncul satu ide yang bisa membantunya memecahkan masalah ini. Mungkin memang Tuhan yang sudah mengaturnya, di mana Anneta harus menulis akhir, dari kisah cinta Antara Alfian dan juga Naira. Namun pertanyaannnya, mampukah dia menuliskan akhir yang bahagia untuk kedua manusia itu? Semoga saja. *** Anneta memulai hari Seninnya dengan membuka toko bunga peninggalan mamanya yang beberapa bulan ini ia abaiakan. Sempat terpikir untuk menutup toko bunga yang sudah mamanya bangun selama bertahun-tahun ini. Namun saat memikirkan bagaimana perasaan mamanya jika mengetahui semua ini, Anneta merasa berdosa jika membuat hati mamanya kecewa. Walaupun kenyataannya, Anneta sendiri kurang mengerti tentang hal yang berhubungan dengan bunga. Sudah dibilang, dia dulu terlalu manja dan tak mau tahu menahu urusan lain selain apa yang ia jalani. Jadi inilah imbasnya, dia kerepotan sendiri karena sikapnya itu. Untung saja, Riska, pegawai mamanya yang sudah bekerja di tempat ini dari lama mau kembali bekerja di tempat ini. Sehingga sedikit banyak Anneta bisa belajar dari gadis yang senang sekali memakai bandana dengan berbagai jenis motif itu. “Ris! Kamu udah telepon yang mau kirim bunga belum?” tanya Anneta sembari memindahkan beberapa bunga yang sudah mongering pada tempat sampah. Wajar saja banyak bunga yang kering dan juga rusak karena sudah lama terabaikan. Riska yang juga sedang membantu merapikan toko bunga yang mulai sekarang berganti bos itupun menoleh sejenak kea rah Anneta sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. “Udah Mbak! Katanya udah dalam perjalanan,” jawabnya. Anneta hanya mengangguk, lalu tersenyum bangga pada hasil kerjanya. Tempat ini terlihat lebih rapi meski terlihat sangat kosong. Sebentar lagi, pemandangan warna warni bunga akan kembali hadir. Ia harap, di atas sana mamanya bisa bangga karena putri semata wayangnya yang manja bisa bserubah. Tak lama kemudian, bunga-bunga yang mereka pesan datang. Baik Anneta maupun Riska pun akhirnya menata bunga-bunga baru tersebut hingga memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. “Kangen sama pemandangan kayak gini, Mbak,” kata Riska sembari menatap takjub warna warni di hadapannya. Anneta yang kinin berdiri bersisihan dengan gadis itupun hanya bisa mengangguk dengan seulas senyum haru. Dia seperti kembali merasakan kehadiran mamanya di sini. Keduanya serempak menggerakkan kepala kea rah pintu saat terdengar suara lonceng yang sengaja di pasang tepat di atas pintu masuk. “Selamat siang, Tina Florist! Ada yang bisa dibantu?” Riska yang mengambil alih penyambutan tamu, seperti biasa ia lakukan saat bosnya masih mama Anneta. Sementara Anneta, gadis itu memilih untuk duduk di depan meja kasir. Sesekali memperhatikan interaksi anak buahnya saat melayani pelanggan. Dia memang harus belajar banyak pada gadis mungil itu. “Saya butuh bunga untuk bos saya, Mbak!” kata laki-laki yang memakai setelan hitam-hitam itu seraya mengedar pandang, mengamati satu persatu bunga yang terjajar rapi di sana. “Kalau boleh tahu untuk acara apa ya Pak?” tanya Riska ramah. Laki-laki yang sudah memasuki usia kira-kira limapuluh tahunan itupun merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kertas. “Ini ucapannya Mbak, buat calon istrinya,” katanya. Riska yang sudah mengambil alih coretan di kertas itupun mengangguk-angguk saat membaca ucapan yang tertera di sana. “Saya pasrahin Mbak aja ya, cocoknya bunga kayak apa. Pokoknya pilihin yang paling bagus.” “Oke Pak, siap!” Laki-laki itupun segera pamit setelah selesai melakukan pembayaran, dan berpesan agar bunganya nanti di antar ke alamat yang sudah ia serahkan pada Anneta. Riska langsung memulai pekerjaannya, sementara Anneta masih tertegun menatap kartu nama yang kini ada di tangannya. “Pramudya design?” gumamnya seraya memicingkan mata. Dia merasa tidak asing dengan nama itu. Seperti nama belakang seseorang. Lalu matanya sedikit membelalak saat ingat bahwa nama belakang Alfian adalah Pramudya. Dia segera menggerakkan kepalanya kea rah Riska yang sedang sibuk merangkai buket bunga. “Ris! Aku liat kartu ucapannya dong! Udah ditulis ulang?” Riska menggeleng kecil lalu menyodorkan kertas coretan yang tadi ia terima. “Kenapa Mbak?” tanya Riska heran saat Anneta terlihat begitu serius membaca ucapan tersebut. “Emm, biar aku yang tulis ya,” katanya mengabaikan pertanyaan Riska. Gadis itupun akhirnya hanya mengangguk bingung, lalu memilih meneruskan pekerjaannya. Anneta langsung membaca nama di bawah ucapan itu. “Al,” gumamnya. Happy birthday for my love, semoga apa yang menjadi harapan kita selanjutnya bisa berjalan lancer. Semoga yang sudah menjadi rencana kita ke depan akan benar-benar terlaksana. Tiada kado terindah yang bisa aku berikan. Hanya cinta, kasih sayang dan kesetiaan. Aku selalu membutuhkan kehadiranmu karena au mencintaimu. For Alana from Al. Love you more “Ris! Biar aku aja yang nganter nanti, ya!” Riska kembali mengernyit bingung dengan sikap Anneta yang kini sedang menampakkan binary bahagia dari matanya. “Iya Mbak.” Sedangkan Anneta masih tersenyum dengan harapan besar dalam hatinya, berharap semoga Al yang ada di kartu ini adalah benar Alfian yang sedang ia cari. Semoga …. *** Anneta menghentikan motor matic-nya di area parkir gedung dengan bangunan tiga lantai itu. Ternyata tempatnya tidak terlalu jauh dengan kampusnya. Bahkan setiap hari dia melintasi tempat ini. Hanya saja Anneta tidak tahu ini kantor apa. "Ada kiriman bunga untuk Ibu Alana dari Pak Al," kata Anneta pada CS yang menyambutnya dengan ramah. Wanita muda yang usianya sepertinya tidak jauh darinya itu hanya mengangguk lalu menerima buket bunga yang Anneta bawa. Anneta berpikir, apa yang akan ia lakukan setelah mengetahui tempat ini? "Ini kantor apa ya, Mbak?" tanyanya. "Ini kantor arsitek, Mbak." "Oh, Pak Al ini namanya Pak Alfian bukan Mbak?" Wanita itu mulai menatap Anneta dengan tatapan curiga. "Ada lowongan nggak, Mbak? Saya lagi butuh kerjaan," cengir Anneta sekenanya. Dia tidak bisa memikirkan hal lain lagi untuk mencari tahu tentang Alfian. Apalagi wanita di depannya seperti enggan menjawab pertanyaannya. "Oh, kebetulan ada lowongan untuk office girl, Mbak. Kalau Mbak tertarik, informasinya ada di depan." Hampir saja mulut Anneta menganga lebar kalau tidak segera menguasai diri. Office girl? Haruskah sampai segitunya? Maksudnya, haruskah dia benar-benar melamar pekerjaan itu hanya untuk mencari tahu tentang Alfian? Ah, Naira! ***            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD