Oliv, jika hari ini Tuhan pada akhirnya ingin mengambil nyawaku. Aku rela ... hanya satu yang aku ingin katakan pada dia.
Alfian ... maafkan aku.
Anneta menghela napasnya, lalu menutup buku harian tersebut. Ia seperti baru saja membaca cerita romance dengan akhir yang menyedihkan.
Dia benar-benar tidak bisa membayangkan jika ada di posisi Naira. Buku ini pasti sangat berarti untuk gadis itu. Tapi jika melihat warnanya yang sudah kusam dan terkoyak dibeberapa bagian, sepertinya buku itu sudah lama terbuang. Atau memang sengaja dibuang?
Anneta membuka kembali biodata sekolah yang Naira tulis entah di halaman berapa. Dia benar-benar penasaran dengan sosok Naira. Mungkin dia bisa mengembalikan buku ini pada pemiliknya. Bisa saja kan, buku ini terjatuh dan saat ini Naira sedang mencari keberadaannya.
"SMA Dwika," gumamnya sembari mengingat apakah dia mempunyai teman yang bersekolah di SMA tersebut. Dan saat satu nama muncul, gadis itu langsung bangkit lalu melangkah lebar ke arah anak tangga. Di mana kamar Tara ada di lantai dua.
"Tar!" Cowok yang sedang berbaring sembari bermain game di ponselnya itu pun langsung bangkit saat mendengar suara Anneta.
"Kenapa?" tanyanya dengan mata memindai setiap jengkal tubuh gadis di depannya. Pasalnya Anneta yang kini berdiri di kamarnya terasa berbeda dari Anneta yang beberapa jam lalu ada di dalam mobilnya. Wajah layu dan lesu itu sudah tak lagi nampak.
"Kamu punya temen alumni SMA Dwika, kan?" tanya Anneta sembari duduk di samping sepupunya itu. Tara mengangguk dengan kening mengernyit. Anneta tampak sangat antusias saat mengatakan ini.
"Masih punya kontaknya, nggak?"
"Ada, emang kenapa?"
Kerutan di dahi Tara makin dalam, apalagi saat Anneta menunjukkan sebuah senyuman. Entah ke mana hilangnya kesedihan yang masih ia tunjukan beberapa jam yang lalu.
"Tolong tanyain, dong! Kenal sama Naira apa enggak."
Kini Tara mengangkat sebelah alisnya, "Naira?"
Anneta mengangguk yakin, "Tanyain, ya?"
Meski masih penasaran dan juga bingung, tapi akhirnya cowok itu mengangguk lalu mencoba menghubungi salah satu temannya yang pernah bersekolah di SMA yang tadi Anneta sebutkan.
"Naira siapa? Nama panjangnya?" tanya Tara di sela-sela teleponnya.
"Prameswari," jawab Anneta begitu semangat. Tara benar-benar bingung dengan perubahan Anneta. Perubahan baik, tapi rasanya terlalu cepat, dan itu sedikit membuatnya khawatir.
"Nggak kenal," kata Tara sembari menutup teleponnya.
Bahu Anneta merosot, "Yah ... nggak ada yang lain?"
"Emangnya Naira ini siapa, si? Dia angkatan berapa?"
Anneta nampak berpikir, lalu berlari keluar menuju kamarnya. Melihat kembali tahun kelahiran Naira yang kebetulan tercantum juga di buku itu. Tidak lama gadis itu kembali lagi dengan wajah berbinar. Tara hanya menatap gadis itu bingung, tapi tetap memenuhi permintaannya untuk menanyakan soal Naira ke temannya yang lain. Karena ternyata tahun kelahiran Naira sama dengan mereka.
"Naira Prameswari," kata Tara pada benda pipih yang kini menempel di telinganya, cowok itu sedang menghubungi temannya yang lain.
"Hah? Udah meninggal?" kata Tara sembari melirik ke arah Anneta yang kini menatapnya dengan wajah penasaran, apalagi saat mendengar kata "meninggal".
"Gimana? Apa katanya?" tanyanya tidak sabar saat Tara sudah mengakhiri panggilan teleponnya.
"Kenal, dia sekelas sama Naira Prameswari. Tapi katanya, anaknya udah meninggal dua tahun yang lalu."
Anneta hanya mengerjap-ngerjapkan matanya mendengarkan penjelasan itu. "Beneran?" tanyanya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ya kalau Naira yang kamu maksud sama kaya Naira temennya Dito si gitu, emangnya Naira siapa si, Ta?"
Bukannya menjawab, Anneta malah pergi begitu saja dari kamar Tara. Meninggalkan sepupunya itu dengan kerutan bingung, Anneta benar-benar sangat aneh di matanya.
***
Gadis bersurai panjang itu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sementara matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar. Bukan lagi meratapi nasibnya, tetapi dia sedang memikirkan Naira. Kalau memang gadis itu sudah meninggal, apakah keinginannya untuk minta maaf pada Alfian sudah tersampaikan? Masalah apa yang sebenarnya mereka alami, hingga dengan teganya laki-laki itu mencampakan gadis sebaik Naira.
Walaupun Naira tidak tumbuh di lingkungan yang bisa dikatakan baik. Tapi entah mengapa, ia sangat yakin kalau Naira adalah gadis baik-baik.
Menurut buku harian yang ia temukan itu, Naira terlahir dari seorang ibu yang memiliki pekerjaan sebagai wanita penghibur. Bahkan Naira tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Sejak usia tujuh belas tahun gadis itu dipaksa menjalani pekerjaan kotor seperti ibunya. Tapi dia menolak dan memilih kabur, lalu bekerja apa saja untuk membiayai hidupnya. Dalam masa kaburnya itulah Naira bertemu dengan laki-laki bernama Alfian.
Hampir seisi buku itu menceritakan bagaimana sosok seorang Alfian. Dia laki-laki yang sangat baik. Bahkan saat mengetahui asal usul gadis itu, dia tidak mempermasalahkannya sama sekali. Tapi di akhir bukunya, Naira menceritakan bahwa dia akhirnya tertangkap oleh orang-orang rumah bordir tempat ibunya bekerja. Dan dipaksa menjalani pekerjaan kotor Itu lagi.
Awalnya Alfian berusaha menolong Naira dengan berbagai cara. Tapi sampai pada suatu hari, tiba-tiba saja laki-laki itu berubah. Dia seolah sangat membenci gadis itu. Bahkan Alfian pernah mengatakan bahwa dia menyesal telah mengenal Naira.
Anneta mendesah lelah, ingin sekali dia mencari tahu tentang Naira. Dan yang paling penting adalah, dia ingin tahu, apakah Alfian dan Naira sudah berbaikan? Apakah pada akhirnya Naira tahu apa alasan yang membuat Alfian menjauh? Apakah kini mereka sudah bersatu? Mengakhiri cerita kelam Naira dengan sebuah akhir yang bahagia?
"Ya!" seru Anneta saat mendengar ketukan di pintu kamarnya.
"Mau ikut, nggak?" tanya Tara sembari menyembulkan kepalanya di daun pintu.
"Ke mana?"
"Mau ke rumah Dito, anak-anak pada mau ngumpul. Siapa tahu kamu masih butuh info soal, Naira?"
Entah kenapa Anneta begitu antusias mendengar kalimat itu. Tara yang melihatnya pun hanya bisa ikut tersenyum. Meski dia masih bingung dengan siapa sebenarnya Naira. Tapi ada sedikit rasa lega, karena akhirnya ada yang mengalihkan pikiran gadis itu.
"Oke aku ikut!" katanya seraya berdiri dan menarik tas kecilnya. Tidak lupa membawa foto yang terselip di buku harian Naira. Dalam hati ia berharap, semoga pertemuan ini akan memberinya sebuah informasi.
***
Anneta sebenarnya tidak terlalu mengenal teman-teman Tara yang sekarang sedang berkumpul di rumah Dito. Tapi dia tidak terlalu mempedulikan itu karena sebenarnya dia memang tipe gadis yang cuek, dan mudah berbaur dengan siapa pun. Apalagi rasa penasarannya pada Naira benar-benar tidak bisa dibendung lagi.
"Aku bawa fotonya," kata Anneta setelah Dito kembali menceritakan bahwa Naira teman sekolahnya dulu memang sudah meninggal. Itupun kalau benar Naira yang mereka maksud adalah orang yang sama.
"Iya bener! Ini Naira temen gue," kata laki-laki berkacamata itu.
"Jadi Naira udah meninggal?" tanya Anneta masih tidak ingin mempercayai apa fakta yang baru saja ia dengar.
Cowok itu mengangguk mantap, membuat satu perasaan aneh menjalar di hati gadis beriris cokelat itu.
"Masuk berita kok waktu itu, gue juga tahunya dari berita. Nggak jauh dari taman kota, ketabrak mobil dia."
Mata Anneta mengerjap, mengingat di mana dia menemukan buku itu. Jadi, kemungkinan besar di sana jugalah tempat Naira tertabrak mobil. Tapi dua tahun itu bukanlah waktu yang sebentar. Bukankah harusnya buku itu sudah diangkut tukang sampah, atau setidaknya sudah hancur terkena panas dan juga air hujan. Ini sedikit aneh, dan entah kenapa bulu kuduk Anneta tiba-tiba saja meremang.
"Emangnya lo tahu Naira dari mana?" Pertanyaan Dito seolah menarik kembali kesadaran gadis itu pada tempatnya.
"Emm, ada lah ... makasih ya infonya," kata Anneta dengan senyum tipis. Tadinya dia sudah berniat untuk bangkit dan mengajak Tara pulang. Tapi urung saat mengingat nama Alfian. Dia kembali duduk dan menanyakan soal Alfian pada cowok yang sedang sibuk dengan ponselnya itu. Tapi sayang, Dito tidak mengenal siapa Alfian.
***
"Sebenarnya Naira itu siapa, si?" tanya Tara entah untuk yang keberapa kali. Tapi jawaban Anneta masih sama, hanya menggeleng. Dia bukannya tidak mau cerita, tapi Anneta hanya tidak mau dianggap konyol.
"Naira gadis baik tapi, katanya ibunya itu wanita nggak bener. Jadinya dia dikucilin di sekolahan. Udah gitu, dia tiba-tiba menghilang waktu kelas tiga, masuk ke semester dua. Ya, denger-denger kabarnya lagi, waktu meninggal itu."
Anneta masih mengingat-ingat cerita teman Tara tadi. Kasihan sekali Naira. Kalau dia boleh menebak, Naira menghilang saat memilih kabur dari rumahnya. Saat dia dipaksa menjadi wanita penghibur sama seperti ibunya. Kejam sekali ibu itu, bukannya menyelamatkan masa depan anak gadisnya. Malah dengan sengaja menjerumuskannya dalam dunia hitam. Dalam hati Anneta bersyukur, karena memiliki mama papa yang sangat menyayanginya. Terlalu memanjakannya malah. Miris, kehidupan Naira sungguh miris.
***
Anneta sedang menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan pada buku harian itu. Entah kenapa, ada rasa tidak nyaman setelah mengetahui fakta bahwa pemiliknya sudah meninggal. Ada perasaan takut yang mungkin akan terdengar konyol, tapi itulah yang kini gadis itu rasakan. Dia tidak mau berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis. Setidaknya, itulah yang kini terpikir oleh Anneta. Jadi lebih baik ….
Akhirnya, dia memilih mengembalikan buku itu pada tempatnya. Apapun yang terjadi pada Naira, dia hanya bisa mendoakan agar gadis itu bisa tenang di alam sana. Dan semoga, segala masalah yang pernah gadis itu alami sudah terselesaikan. Atau setidaknya, kesalahpahaman antara dia dan laki-laki bernama Alfian sudah menemui titik temu.
Tapi ternyata semuanya tidak semudah yang Anneta pikir. Buku itu kembali tergeletak di teras Rumah Tara saat dia kembali. Dan malam harinya, dia bermimpi bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan sosok Naira.
Sungguh, Anneta tidak mau berpikir horror. Tapi bagaimana caranya buku itu bisa berada di sini lagi?
Tanpa gadis itu sadari, dari kejauhan, sebuah senyum tersimpul di bibir seorang laki-laki. Dia tertawa geli saat melihat ekspresi takut yang kini gadis itu tunjukkan. Ia terpaksa melakukan ini, walaupun ia tahu semua caranya ini pasti akan sangat menganggu gadis itu. Tapi taka da cara lain yang terpikir di otaknya.
***