Alfian membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket. Ada beberapa barang keperluan pribadi yang harus ia beli, dan juga titipan peri kecil kesayangannya tentunya.
"Iya sayang ... nanti dibeliin, mau tambah apa lagi?" bibirnya tersungging saat bidadari kecilnya itu menyebutkan sesuatu yang kurang jelas. Lalu suara lembut seorang wanita mengambil alih obrolan telepon itu.
" …. “
"Iya nggak lupa, ya udah aku tutup dulu.”
Laki-laki itu pun mematikan ponselnya dan melangkah ke dalam supermarket. Lalu mulai menjelajahi rak-rak besar yang menyimpan berbagai macam barang itu dengan matanya. Hal yang terlalu biasa untuknya, saat tatapan-tatapan kagum itu tertuju ke arahnya. Entah itu dari anak abege, pegawai supermarket, atau pun ibu-ibu genit yang terkadang tak segan-segan mendekatinya. Tanggapan Alfi pun selalu sama, hanya menatap sinis siapa saja yang tidak mempunyai kepentingan dengannya.
Braakkk!!!
Fokusnya sedikit teralih saat seorang gadis tampak menjatuhkan tumpukan kaleng s**u. Bukan hal yang menarik sebenarnya. Biasanya dia akan memilih tidak peduli, dan kembali meneruskan kegiatannya. Tapi kali ini dia terpaksa tertarik, karena gadis yang sedang memunguti kaleng-kaleng s**u sembari mengucapkan kata maaf itu seperti tidak asing di matanya.
Walaupun kini sebagian wajahnya tertutupi tudung jaket dan juga memakai kacamata. Tapi sepertinya Alfi benar-benar mengenal siapa dia.
Satu sudut bibir laki-laki itu sedikit terangkat dan memilih menjauh dari tempat itu. Dia akan sedikit bermain-main dengan gadis ini. Entah apa yang sebenarnya gadis itu lakukan, tapi Alfian yakin dia sedang mengikutinya. Ternyata gadis itu mempunyai semangat dan tingkat kesabaran yang sangat besar. Lihat saja, dia tidak juga berhenti mengganggunya padahal sikap Alfian di kantor bisa dibilang cukup keterlaluan. Alfian benar-benar penasaran, apa sebenarnya tujuan gadis itu. Pasti bukan sekedar fans yang tergila-gila kepadanya, Alfian yakin gadis itu memiliki misi penting. Namun entah apa misi yang sedang gadis itu kerjakan saat ini.
***
Anneta merutuki kecerobohan yang baru saja dia lakukan. Karena terlalu fokus pada target yang ia ikuti, dia sampai tidak memperhatikan sekeliling. Padahal jelas-jelas ada tumpukan toples s**u yang berjajar tidak jauh dari tempat ia berdiri. Tapi memang sial! Tanpa ia duga, ransel yang ia kenakan menyangkut pada tumpukan s**u tersebut. Lalu selanjutnya tidak perlu dijelaskan lagi, karena kalian pasti tahu apa yang terjadi.
Anneta bisa bernapas lega, karena ternyata Alfian tidak mengenalinya. Terbukti laki-laki itu yang lebih memilih pergi dari pada mendekatinya. Padahal Anneta sudah membayangkan laki-laki itu akan menuduhnya dengan tuduhan yang bukan-bukan. Atau mungkin akan mempermalukannya di depan umum.
Anneta terpaksa membeli sesuatu untuk menghindari tatapan curiga dari pegawai supermarket tersebut. Karena dari tadi dia memang hanya berputar-putar mengikuti langkah Alfian tanpa membeli apa pun.
Langkah Anneta melebar saat melihat laki-laki yang ia ikuti itu sudah melangkah ke luar dari area supermarket. Dia terlihat memasukkan dua kantong besar belanjaan yang baru saja dia beli ke dalam bagasi mobil. Jarang sekali ada laki-laki yang mau belanja seperti ini. Anneta sempat kagum pada sosok itu, namun jika mengingat sikap menyebalkan yang selalu ia tunjukkan, gadis itu langsung bergidik ngeri. Tidak bisa membayangkan jika mempunyai pasangan sejutek dan sedingin itu.
***
Alfian memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke coffe shop yang kebetulan ada di samping supermarket tersebut. Niatnya apa lagi kalau bukan untuk menyenangkan penguntitnya. Tangannya memang pura-pura sibuk pada ponsel yang kini sedang ia pegang. Tapi dari sudut matanya, dia sedang memperhatikan setiap gerak gerik gadis penguntit itu.
Sebenarnya bisa saja dia menghampirinya saat ini juga. Dan menanyakan langsung apa sebenarnya tujuan gadis itu terus mengikutinya. Tapi tidak, ini belum waktunya. Sudut bibirnya kembali terangkat karena gadis itu sekarang menabrak salah satu pelayan dan membuat satu kebodohan lagi.
***
Ingin sekali Anneta menangisi kecerobohonnya yang kembali terulang. Jika tadi menabrak tumpukan kaleng s**u, maka kali ini dia menabrak salah satu pelayan yang sedang mengantarkan satu cangkir kopi untuk pelanggan.
Sial!
“Maaf ya, Mas, nggak sengaja," katanya nyaris berbisik. Sesekali melirik ke arah Alfian yang sama sekali tidak terusik dengan kehadirannya. Sepertinya laki-laki ini memang sangat tidak peduli dengan sekitar. Tapi syukurlah, dengan begitu dia tidak tahu kalau sedang diikuti.
Setelah selesai dengan aksi tabrak menabrak itu, gadis itu pun memilih untuk duduk di salah satu bangku paling ujung. Memesan satu coffe latte, lalu berpura-pura memainkan ponselnya.
Sebenarnya apa yang dia lakukan sekarang ini tidak menghasilkan apa pun selain kesialan. Lihat saja, laki-laki itu sekarang hanya duduk santai sembari menatap ke arah luar jendela. Andai saja Anneta bisa membaca pikiran orang. Tentu dia bisa menyelami isi kepala laki-laki itu. Bukan seperti sekarang, duduk seperti orang bodoh dan hanya mengamati wajah tampan itu dari kejauhan.
Tampan! Tapi songong!
***
Sudah lebih dari setengah jam, dan laki-laki itu masih tetap dalam posisinya. Anneta benar-benar sudah mulai jengah dan putus asa. Tidak satu cara pun yang melintas di otaknya agar ia tahu apakah laki-laki ini Alfiannya Naira.
"Halo," bisiknya saat satu panggilan masuk dari Tara.
"Kamu di mana?" tanya suara dari seberang. Sedikit cemas, karena memang ini sudah menunjukan pukul delapan malam dan tidak biasanya Anneta belum ada di rumah.
"Aku ada perlu," bisik gadis itu dengan ekor mata yang terus mengamati setiap gerak-gerik seorang Alfian.
"Iya, ada perlunya di mana?" Tara mulai gemas, karena akhir-akhir ini sepupu cantiknya itu memang terlihat sedikit aneh dan sok sibuk.
"Lagi di ...." Anneta celingukan mencari-cari tempat yang tepat untuk menjadi alasannya berada sekarang. "Supermarket, ada yang harus aku beli," lanjutnya.
"Mau di jemput?"
Anneta tidak langsung menjawab, karena matanya menangkap pergerakan Alfian. Laki-laki itu nampak berdiri dari tempatnya dan melangkah keluar.
"Ta! Anneta?"
"Udah dulu ya, Tar. Ini aku mau bayar!" katanya sembari meletakkan lembaran uang di atas meja. Lalu melangkah cepat mengikuti Alfian. Memutuskan sambungan telepon begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Tara.
***
Sebenarnya dia masih ingin bermain-main, tapi sayang waktu sudah tidak memungkinkannya. Lagipula, seseoramg paling istimewa dalam hidupnya sedang menunggu kepulangannya di rumah. Jadi, mungkin dia bisa teruskan keisengan ini untuk esok hari. Entah kenapa dia harus menjadi sekonyol ini. Bahkan dia sudah memikirkan apa yang akan ia lakukan besok untuk membuat gadis itu kapok dan jera. Hingga pada akhirnya kesabarannya habis dan memutuskan untuk pergi dari hidup Alfian. Dan yang pasti melupakan apapun itu yang menjadi tujuannya. Karena entah mengapa, Alfian memiliki firasat jika gadis itu memiliki tujuan yang kurang baik.
Tubuh Alfian yang sudah siap masuk ke dalam mobil terhenti saat mendengar suara teriakan gadis penguntit itu.
"Lepasin! Gue bilang, lepasin!"
Dia pun mengurungkan niatnya, dan memilih mendekati gadis itu. Tampak seorang laki-laki yang kini menarik-narik lengannya. Apa mereka saling mengenal? Tapi dari cara gadis itu berbicara, sepertinya ada masalah di antara mereka. Awalnya dia ingin mengabaikan gadis itu dan memilih pulang, tapi urung karena sikap laki-laki itu semakin terlihat kasar.
"Lepasin dia!" Kedua orang itu sontak melihat ke arah yang sama. Di mana Anneta tampak membelalakkan mata, sementara sang lelaki menatap Alfian dengan tatapan tak suka.
"Ini bukan urusan, Anda!"
"Tentu akan menjadi urusan siapa saja, karena sekarang Anda ada di tempat umum!"
"Sakit Ryan! Lepasin! Mau lo apa lagi, si! Hah?" teriak Anneta saat cengkeraman di lengannya semakin menguat.
Dia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya laki-laki ini inginkan. Tiba-tiba saja dia muncul di hadapan Anneta, lalu menarik tangan gadis itu agar mengikutinya. Dia bilang ada yang harus mereka bicarakan. Tapi sungguh, Anneta sudah tidak tertarik lagi dengan apa yang ingin laki-laki itu ucapkan. Baginya, urusan antara mereka sudah selesai semenjak penghianatan itu. Bahkan Anneta mulai berhasil melupakan perkenalan mereka. Itu akan lebih baik, melupakan keberadaan Ryan dan Virni adalah cara paling mudah untuk melupakan sakit hati yang pernah ia rasakan juga.
"Lepasin dia! Atau saya telepon polisi!" gertak Alfian karena laki-laki itu benar-benar mulai menyakiti gadis di depannya. Tangan Alfian mulai bergerak untuk memiting satu tangan bebas laki-laki itu. Cukup mudah baginya, karena tubuh laki-laki itu jauh lebih kecil jika dibanding postur tubuhnya yang memang sedikit jangkung.
"Ok! Saya lepasin!" ringisnya sembari melepas tangan Anneta dan terhuyung ke samping saat tangan Alfian menghempaskan tubuh itu.
"Ta, aku bakal nemuin kamu lagi! Ada yang harus kita bicarakan, aku sama Virni nggak jadi nikah. Dan aku mau jelasin semuanya ke kamu!"
Anneta melangkah mundur saat tangan Ryan ingin kembali menyentuhnya. Dan laki-laki di sampingnya juga terlalu sigap dengan menarik Anneta ke belakang punggungnya.
"Sebaiknya Anda pergi sekarang," ujarnya datar tapi terkesan menakutkan, terbukti Ryan langsung memilih kabur dari tempat itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya saat mendengar helaan lega dari gadis yang kini berdiri di belakangnya.
Anneta mengangguk, "Terima kasih, Pak!"
Alfian mengangguk tanpa ekspresi, "Lain kali hati-hati."
"Iya, sekali lagi terimakasih. Saya permisi," ujarnya sebelum Alfian melontarkan komentar yang mungkin tidak akan enak di dengar.
"Tunggu!"
Deg! Anneta menghentikan langkahnya tanpa menoleh, tapi bisa ia rasakan langkah kaki tegap itu mendekat ke arahnya.
"Kacamata kamu jatuh," ucap Alfian sembari menyodorkan benda itu dari balik bahu gadis itu.
Anneta pun mengambil alih benda itu tanpa menoleh, lalu kembali melangkah pergi setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi.
Kedua sudut bibir Alfian kembali tertarik ke atas.
Gadis yang lucu! Lalu dia ikut melangkah pergi, karena ponselnya terus saja diteror oleh Moza, bidadari kecilnya.
Sementara Anneta mengembuskan napas lega saat berhasil duduk di atas motornya. Berharap Ryan tidak datang lagi dan melakukan hal yang lebih nekad. Sepertinya dia memang harus lebihn waspada. Diapun segera menyalakan motor dan melajukannya meninggalkan area parker. Hari ini sungguh melelahkan, dan yang semakin membuatnya kesal adalah karena tak satupun fakta ia dapat tentang Alfian. Mungkin dia harus memutar otak lebih dalam lagi. Entahlah … yang pasti saat ini dia butuh Kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah.
***