Anneta - Bab 7

1509 Words
Entah hanya perasaannya saja, atau memang ada orang yang mengikutinya dari semenjak dia keluar dari gedung tempatnya bekerja. Anneta terus melirik kaca spion motor matic-nya, bibir tipis itu berdecap lirih saat mengenali siapa orang yang kini memang sedang mengikutinya. Motor besar, sweater abu-abu, bahkan helm yang cowok itu gunakan sangat Anneta kenal. Mau ngapain lagi, si, tu orang! Gadis itupun membelokkan motornya ke area mal yang cukup ramai di sore hari. Karena kalau dia memilih pulang ke rumah, dia takut Ryan akan menghadangnya di jalanan sepi sebelum masuk komplek perumahannya. Dia pun segera melompat turun saat berhasil memarkirkan motornya lalu memilih memasuki area mal, berusaha menghilangkan jejaknya. Anneta memilih masuk ke dalam toilet perempuan, karena ia yakin Ryan tidak akan mengikutinya sampai ke sana. Dia hanya berharap cowok itu masih belum terlalu gila. Menurut cerita Tara, dua hari sebelum melangsungkan pernikahan, Virni mengalami keguguran. Dengan brengseknya, Ryan membatalkan pernikahan itu secara sepihak. Dan sekarang apa yang dia lakukan? Berusaha mendekati kembali Anneta? Sampai kapanpun dia tidak akan pernah memaafkan pengkhiatan cowok yang pernah sangat dicintainya itu. Lalu bagaimana mungkin Ryan bisa berpikir bahwa gadis itu mau kembali ke dalam pelukannya. Hanya orang bodoh yang mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya, kesalahan karena memberikan hati pada cowok b******k seperti Ryan. Anneta sudah cukup bersyukur Tuhan menunjukkan siapa Ryan sebelum hubungan mereka terjalin lebih jauh. Jadi dia tidak akan kembali masuk ke dalam perangkap laki-laki yang ternyata tidak mempunyai hati itu. Setelah berhasil menghancurkan Virni, dia pikir masih bisa memiliki Anneta. Jangan pernah bermimpi, Anneta bukan gadis semurah itu. Anneta mengintip dari balik tembok toilet, dia hanya bisa berdecap kesal karena cowok itu masih berdiri di sana dan menatap ke arah tempatnya kini bersembunyi. Kalau sudah begini apa yang bisa ia lakukan? *** Hampir satu jam Anneta berdiri di dalam toilet, berusaha mengabaikan tatapan-tatapan aneh dari orang-orang yang kini keluar masuk ke dalam tempat itu. Hingga akhirnya kesempatan emas itu datang. Ryan memalingkan wajahnya ke arah lain karena sepertinya ada yang memanggilnya. Dan saat itulah gadis itu berhasil lolos dari pengamatan cowok sinting itu. Anneta melangkah cepat menuju tempat parkir. Berdoa semoga Ryan tidak menyadari kepergiannya. Biarkan saja dia terus berdiri di tempat itu seperti orang bodoh. Namun langkah Anneta terhenti saat melihat seorang anak kecil yang sedang menangis karena di tarik-tarik oleh dua orang laki-laki. Apakah mereka penculik? Anneta mengedarkan pandangan, dia berteriak saat melihat seorang security melintas didekatnya. "Pak Satpam! Ada penculik!" Otomatis kedua laki-laki itu melepaskan tangan gadis kecil itu lalu kabur. "Mana penculiknya, Mbak?" tanya satpam itu sembari berlari. "Kabur, Pak!" jawab Anneta sembari menunjuk ke arah dua laki-laki yang sudah masuk ke dalam mobil. Lalu entah apalagi yang terjadi karena Anneta lebih memilih mendekati gadis kecil itu. "Adek nggak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Anneta sedikit panik. Berusaha memeriksa apakah ada yang salah dengan gadis kecil itu. Lalu mengembuskan napas lega karena sepertinya gadis kecil itu hanya syok. Gadis kecil itu terus menangis dan tampak ketakutan. "Kita cari Pak Satpam, yuk! Biar dibantuin nyari orang tua kamu," kata Anneta lembut. Gadis kecil itupun mengangguk dan menerima uluran tangan Anneta. *** Anneta memilih langsung menuju pusat informasi. Dia masih berusaha menenangkan gadis kecil itu. Untung saja dia tidak bertemu Ryan. Entah apa yang sedang cowok itu lakukan sekarang, mungkin masih berdiri di depan toilet. Anneta hanya tersenyum, membayangkan jika hal itu memang terjadi. Tidak lama kemudian seorang wanita masuk ke ruangan di mana Anneta dan gadis kecil itu menunggu. "Mamiiii!" teriaknya pada wanita yang menunjukkan wajah cemas itu, lalu menghambur ke dalam pelukannya. Anneta tersenyum melihat interaksi kedua ibu dan anak itu. Ah, dia jadi kangen orangtuanya. Pengin di peluk sama mama. "Kamu ngagak apa-apa, kan, sayang? Nggak ada yang terluka?" tanya wanita cantik itu dengan ekspresi cemas yang tidak bisa disembunyikan. Gadis kecil itu menggeleng, "Aku ditolong sama Tante Neta," katanya sembari menunjuk ke arah Anneta yang sedang menitikan air matanya. Tapi secepatnya ia hapus saat kedua orang itu menatap ke arahnya. Wanita itu tersenyum lembut dan berdiri untuk mendekati Anneta. "Terimakasih banyak. Saya tidak tahu bagaimana nasib Moza jika tidak kamu tolong," katanya sambil menggenggam kedua tangan Anneta. "Sama-sama, Kak. Kebetulan tadi saya pas lewat, lalu ...." kata Anneta sembari menggerdikkan bahunya. Dia tidak ingin menambah kadar kecemasan wanita itu dengan menceritakan kejadian yang tadi dia lihat. Wanita itu mengangguk, "Sekali lagi terimakasih ... ?" "Anneta, panggil saja Anneta," jawab Anneta saat wanita itu bertanya lewat isyarat mata. "Oke Anneta, saya Alana, bagaimana caranya saya berterimakasih untuk pertolongan kamu ini? Karena saya yakin, berapapun nominal yang saya berikan, tidak akan sepadan dengan apa yang kamu lakukan pada putri saya." Anneta tersenyum kikuk, padahal yang dia lakukan hanya sebatas karena rasa perikemanusiaan saja. Ia yakin, siapapun yang berada pada posisinya pasti akan melakukan hal yang sama. "Nggak perlu, Kak! Saya ikhlas, Kakak cukup jagain anak Kakak saja. Jangan sampai lepas dari pengamatan lagi," katanya tulus. Wanita itu tersenyum lembut, dia adalah wanita yang sangat cantik dan anggun. "Hati kamu sangat baik Anneta, emm ... gini aja, hari Minggu besok saya ada peresmian pembukaan untuk butik saya, kamu datang, ya?" katanya sembari menyodorkan kartu nama yang menampilkan nama dan juga alamat butik barunya. "Kakak designer?" tanya Anneta takjub, dia memang sangat menyukai fashion. Wanita itu mengangguk, "Kamu bisa datang? Kamu akan jadi tamu VIP saya," katanya. Anneta hanya meggigit bibirnya, lalu mengangguk antusias. "Saya usahakan untuk datang," "Ya sudah, kalau gitu saya tunggu kedatangan kamu." Anneta kembali mengangguk dengan senyum merekah. "Bilang apa sama Tante Anneta?" kata Alana pada putri kecilnya. "Telimakasih, Tante," katanya dengan bahasa cadel. Anneta tersenyum sembari mengacak rambut gadis manis itu. "Sama-sama sayang, nanti kita ketemu lagi, oke?" Gadis kecil itu tersenyum lebar sembari menganggukkan kepalanya. "Anneta saya duluan, kamu hati-hati, ya?" "Iya, Kak. Kak Alana juga hati-hati," jawab Anneta sopan. *** Anneta sangat antusias menyambut hari Minggunya. Jika biasanya dia memilih tidur sampai siang. Tapi kali ini tidak. Bahkan dia sudah sampai di alamat yang di berikan oleh Alana. Ini bukan butik biasa, butik ini cukup besar dan terlihat berkelas. Ia yakin, Alana bukanlah designer biasa. Pelanggannya mungkin sudah sekelas artis dan juga kaum sosialita.   Mata Anneta mengedar mencari-cari sosok Alana. Lalu menilik kembali penampilannya sendiri, karena orang-orang yang kini ada di sekitarnya terlihat sangat modis. Untung dia tidak salah kostum, yah walaupun apa yang ia pakai sangatlah sederhana. Mini dress warna peach lengan pendek dengan panjang sedikit di atas lutut. Masih bisalah di sandingkan dengan orang-orang kelas atas ini. "Anneta!" Seruan itu membuat kepalanya memutar ke arah samping. Dia tersenyum saat melihat Alana berjalan ke arahnya. Wanita itu terlihat sangat mempesona dengan gaun warna merah tanpa lengan. Sangat pas menempel di tubuhnya yang sangat proposional. Ah, Anneta merasa ciut jika di sandingkan dengan wanita cantik ini. Seharusnya Alana menjadi seorang model saja. "Tante Neta!" Moza tampak berlari-lari di belakang maminya lalu menghambur ke pelukan gadis itu. Padahal ini baru pertemuan kedua mereka. Tapi dia sudah langsung bisa akrab dengan Anneta. "Kamu cantik sekali, Ta," kata Alana. Anneta hanya tersenyum canggung. Dia merasa sangat jauh jika dibandingkan dengan Alana. "Kak Alana juga cantik banget," kata Anneta tulus. Wanita itu tersenyum lalu menggandeng Anneta untuk masuk lebih dalam lagi ke butik itu. Alana sangat baik dan tidak sombong, bahkan dia mengenalkan Anneta sebagai adiknya pada tamu-tamunya. Anneta benar-benar terharu, ini impiannya sejak lama. Memiliki saudara adalah satu impian yang tidak pernah terwujud. Apalagi saat ini dia merasa sendiri. Walaupun Tara sering menemaninya tapi pasti rasanya lain. "Tante, Papa Moza mau kenalan sama Tante, boleh ya, Mami?" kata gadis berusia lima tahun itu. Alana mengangguk, "Tentu dong, ayo Anneta." Ketiga orang itupun melangkah ke arah laki-laki yang kini sedang mengobrol bersama teman-temannya. "Papa! Katanya mau kenalan sama Tante Neta!" teriak gadis kecil itu. Yang dipanggil papa itupun menoleh dengan senyum mengembang. Dan saat itu juga bibir Anneta menganga lebar dengan mata membelalak. Alfian? Papa? Jadi ... dia sudah menikah? Senyum laki-laki itu pun langsung memudar saat melihat siapa gadis yang kini berdiri di depannya. Sementara Alana hanya menatap bingung kedua orang yang sepertinya sudah saling mengenal itu. "Kalian udah saling kenal?" tanyanya. Anneta menoleh ke arah Alana yang terlihat mengerutkan kening. Sementara Alfian memilih tidak peduli. Dia membopong Moza untuk menjauh dari dua wanita itu. Sialan! Gue dicuekin! “Maaf, ya. Dia memang orangnya seperti itu. Agak dingin jika berhadapan dengan gadis cantik, apalagi kayak kamu.” Anneta mengerutkan kening bingung. “Memang kenapa, Kak?” tanyanya mencoba menekan rasa penasaran yang bercokol di dalam hatinya. Dia yakin, bisa mengorek informasi tentang Alfian. Tapi jika mengingat jika laki-laki itu adalah suami Alana, ada rasa tak enak jika terus menjalankan misi ini. “Ada lah penyebabnya, tapi … kenapa kita jadi bahas ini?” Alana terkekeh kecil, Anneta ikut tertawa agar tak terlihat kecewa saat Alana memilih untuk tidak melanjutkan ceritanya. Dan malah menarik Anneta untuk melihat-lihat koleksi gaunnya. Sepanjang acara Anneta sungguh tidak bisa fokus. Pikirannya seolah berperang antara ingin melanjutkan, atau menghentikan misi pertolongannya sampai di sini saja. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan? Tidak mungkin kan dia mengusik rumah tangga yang terlihat sangat harmonis itu? Jadi, apa yang harus ia lakukan selanjutnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD