Anneta berlutut di samping motornya. Wajahnya nampak menyedihkan saat ini. Bagaimana tidak? Ban motornya pecah di situasi yang tidak tepat.
Gadis itu mengedarkan mata ke sekeliling, dan tidak menemukan apa pun selain jalanan sepi dan juga dedaunan yang tertiup angin. Lalu wajahnya menengadah ke arah langit. Suara gemuruh di atas sana semakin membuatnya ingin menangis.
Ya Tuhan! Pending dulu dong, hujannya.
Anneta berdiri saat sebuah mobil berhenti di hadapannya. Mobil itu seperti tidak asing, tapi ....
"Tante Neta!" Suara Moza terdengar bersamaan dengan gadis kecil itu yang melompat turun dari mobil. Lalu sosok lain yang tidak asing di mata Anneta juga nampak turun dari sana.
"Anneta, kan?" tanya pria berkacamata yang selalu saja tersenyum manis itu dan dibalas anggukan bingung oleh Anneta.
"Om, ini Tante Neta yang aku celitain kemalin, yang nolongin Moza, Om!" kata Moza antusias, dia memang belum bisa menyebut huruf "r" dengan benar.
"Oh, jadi kamu yang nolongin Moza?"
Anneta tersenyum canggung sambil mengangguk. Sebenarnya dia sedang bingung. Kenapa Moza malah bersama Alta? Bukan ikut dengan mama papanya makan siang dengannya tadi?
"Motornya kenapa?" kata Alta sembari melongokkan kepalanya ke arah ban motor Anneta yang terlihat kempes.
"Bocor kayaknya, Pak," jawab Anneta sembari berlutut untuk memeriksa kembali ban motornya.
"Om! Om! Kita Antelin Tante Neta pulang yuk, Om!"
"Eh, nggak perlu. Tante Neta bisa pulang sendiri kok Moza sayang," katanya cepat sambil menggigit bibir. Tentu saja dia tidak enak pada Alta jika harus menuruti kata-kata Moza.
"Pulang sendiri naik apa? Di sini sepi loh," kata Alta dengan senyum tertahan. Ah, senyum itu manis sekali, sungguh.
"Bentar, saya telpon bengkel langganan saya dulu. Biar motor kamu mereka yang urus," lanjutnya sembari mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang. Anneta hanya bisa menggaruk keningnya yang tidak gatal. Sebenarnya dia tidak enak hati, tapi tidak ada pilihan lain.
***
"Tante Neta! Main ke lumah Moza dulu, yuk! Aku punya hadiah buat Tante," teriak Moza saat ketiga orang itu sudah duduk di dalam mobil.
"Hadiah?" Anneta melirik tidak enak ke arah Alta. Laki-laki itu selalu saja sedang menampilkan senyuman manis.
"Jangan mengecewakan anak kecil," katanya yang akhirnya hanya membuat Anneta menyetujui permintaan Moza.
Tidak lama ketiganya sudah sampai di rumah gadis kecil itu.
"Mamiii!!" teriak Moza pada Alana yang ternyata juga baru saja sampai di rumahnya.
"Lihat, deh! Aku sama siapa?" katanya lagi. Alana pun menoleh ke arah Alta dan juga Anneta yang sedang melangkah ke arahnya.
"Loh! Kok kalian bisa barengan?"
"Tadi nggak sengaja ketemu di jalan, ban motor Anneta kempes," jelas Alta yang mendapat anggukkan maklum dari Alana.
"Mami aku mau ambil hadiah buat Tante Neta dulu, ya!" kata Moza lagi sembari berlari ke dalam.
"Ayo Ta, masuk dulu," kata Alana sembari menggandeng tangan Anneta untuk masuk ke dalam. Dan saat itu juga gadis itu sadar, ada tatapan dingin yang ternyata terus melesat dari sisi lain.
***
"Wah cantik banget, ini buat Tante?" kata Anneta pada Moza yang baru saja menyodorkan sebuah gantungan kunci berbentuk bunga mawar. Gadis kecil itu mengangguk antusias dengan mata berbinar.
"Makasih sayang," katanya lagi.
"Tante suka? Moza punya kembalannya," kata Moza sembari menunjukkan benda yang sama hanya berbeda warna.
Anneta tersenyum sembari mencubit gemas pipi gembil Moza. Lalu matanya melirik ke arah Alana dan Alta yang sedang duduk di teras rumah. Keduanya terlihat terlalu mesra jika disebut sebagai teman. Sementara Alfian, ke mana laki-laki itu? Dia malah tidak terlihat di mana-mana. Apa dia tidak melihat ada yang aneh dari sikap Alta dan Alana? Jangan-jangan mereka mempunyai hubungan spesial secara diam-diam.
Anneta mengalihkan perhatiannya kembali ke arah Moza, saat Alta dan juga Alana terlihat masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau pulang sekarang Ta? Biar saya an ...."
"Biar gue yang nganter!" Semua mata otomatis menoleh ke arah yang sama. Di mana Alfian kini sudah berganti pakaian yang lebih santai. Kaos hitam panjang, dipadu dengan celana jeans dan juga sneakers putih. Membuat laki-laki itu tampak lebih muda dari biasanya. Tapi sayangnya dia tidak sedang terpesona dengan wajah yang terlihat makin tampan itu. Dia sedang bingung dengan apa yang terjadi. Matanya sedari tadi melirik ke arah tangan Alta dan Alana yang kini bertautan. Lalu berpindah ke arah Alfian yang terlihat biasa saja. Apa mereka ini sudah gila?
"Saya nggak punya banyak waktu nungguin orang bengong," ketus Alfian.
"Eh, iya," kata Anneta sembari mengambil tas kecilnya yang ia letakkan di sofa ruang tengah rumah itu. Lalu berpamitan dengan Moza dan juga dua orang lainnya. Entah kenapa Anneta menangkap sebuah senyum geli yang kini Alana dan juga Alta tunjukkan. Sementara Alfian hanya mendengus kesal lalu memutuskan pergi begitu saja.
***
"Jangan ge-er, jangan pikir saya nganterin kamu karena saya mau, saya terpaksa," ujar laki-laki itu dengan ekspresi dinginnya. Anneta yang dari tadi diam kali ini pun memilih diam.
"Saya nggak mau kamu menggoda calon kakak ipar saya."
Anneta sontak menoleh ke arah laki-laki yang kini sedang fokus dengan kemudinya itu. "Kakak ipar?" tanya Anneta bingung.
"Kenapa? Kecewa? Karena dia sudah nggak bisa dideketin?"
Anneta berdecap kesal, ingin sekali menyentil mulut pedas itu dengan karet rambut yang kini ia jadikan gelang tangan. Kakak ipar? Jadi sebenarnya Alana itu siapa? Kalau Alfian menyebut Alta kakak ipar, Alana itu adalah kakaknya? Kok mukanya malah tuaan Alfian? Terus, kalau Alana itu kakaknya, Kenapa Moza memanggilnya, Papa?
Kening Anneta kembali berkerut saat mengingat pesanan buket bunga waktu itu. Bukankah buket itu tertuju untuk calon istri Alfian? Tunggu-tunggu, calon istri? Berarti jelas jika mereka belum menikah kan? Lalu Moza itu anak Alana dan siapa? Dan lagi di kertas itu hanya tertulis inisial ‘Al’, jadi bisa saja yang memesan bunga itu bukan Alfian tapi Alta. Yah, bisa jadi seperti itu.
Anneta merasa bingung dengan pemikirannya sendiri, semua yang ada di laki-laki ini memang membingungkan. Tapi lebih baik dia diam, daripada bertanya tapi dibalas ucapan pedas. Dia bisa bertanya pada Alana nanti. Yah, sepertinya itu keputusan yang bagus.
***
"Terimakasih, Bapak sudah mau repot-repot nganterin saya," kata Anneta sembari membuka pintu mobil.
"Saya bukan Bapak kamu."
Sebenarnya gadis itu mendengar dengan jelas kata-kata itu, tapi Anneta memilih untuk tidak menanggapinya.
"Bapak, hati-hati di jalan," katanya dengan senyum tanpa dosa. Seperti sengaja menekankan kata 'Bapak' dalam kalimatnya.
Kaki Anneta sudah menginjak tanah, tapi kembali naik ke dalam mobil saat melihat sosok Ryan dengan motor besarnya terlihat sedang menunggunya di depan pintu gerbang rumahnya.
"Kenapa nggak jadi turun?" kata Alfian dengan tatapan yang menyebalkan.
Anneta menggigit bibirnya dengan senyuman konyol. "I-itu, Pak. Ada orang stres, saya takut," cicitnya. Alfian hanya memicingkan matanya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah yang Anneta tunjuk.
"Dia sebenarnya siapa kamu, si?"
"Dia ... emm." Alfian hanya berdecap malas lalu turun tanpa menunggu jawaban Anneta. Laki-laki itu memutari mobilnya dan membuka pintu kursi penumpang.
"Tapi, Pak! Saya takut, boleh ya nunggu di sini dulu?" kata Anneta dengan tatapan memohon.
"Turun!"
"Pak ...." rengek Anneta dengan wajah memelas.
"Saya bilang, turun!"
Gadis itu mendesah pasrah, lalu menggerakkan tubuhnya untuk turun dari mobil. Tapi matanya melebar, karena ternyata Alfian tidak membiarkan dia jalan sendiri. Tangan besar itu menggenggam jemarinya dan menariknya lembut untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Sepertinya kamu kedatangan tamu,” kata laki-laki itu memulai akting. Jangan lupakan tangan Alfian yang kini berpindah merangkul bahu Anneta.
"Ada perlu apa dengan pacar saya?" lanjutnya lagi dengan nada menantang.
Anneta hanya diam di tempatnya. Mencoba menetralkan debaran hebat di jantungnya yang tiba-tiba saja muncul. Apalagi saat tercium aroma parfum yang menguar dari tubuh tegap di sampingnya. Anneta merasakan kakinya lemas dan siap untuk meleleh saat itu juga. Bagaimana tidak, tangan besar itu tidak hanya merangkul bahunya. Tapi juga mengusap-usap pipi Anneta dengan telunjukknya. Ya Tuhan, akhiri ini atau Anneta akan pingsan saat itu juga.
"Ta, aku perlu bicara," kata Ryan mengabaikan tatapan mengintimidasi dari pria yang mengaku sebagai pacar Anneta.
"Ryan, aku udah bilang! Di antara kita udah selesai! Jadi please! jangan ganggu aku lagi!"
"Tapi, Ta! Aku masih sangat mencintai kamu."
Anneta berdecih mendengar kata-kata cinta yang keluar dari bibir Ryan. Bahkan untuk sesaat melupakan keberadaan Alfian yang kini sedang menatap penuh ke arahnya.
"Aku sama Virni itu nggak berjodoh Ta, terbukti kan bayi itu gugur dan semuanya sudah berakhir."
Ingin sekali Anneta menampar wajah Ryan dengan sepatunya. Ternyata inilah rupa laki-laki yang pernah sangat dicintainya dulu.
"Kamu itu b******k! Lebih baik kamu lupakan aku! Karena aku sudah menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dari kamu! Yang pasti dia lebih menghargai wanita. Nggak kayak kamu!" kata Anneta tegas. Dengan berani dia menggamit lengan Alfian.
"Tapi Ta! Nggak mungkin secepat itu kamu lupain aku, kan? Aku yakin laki-laki ini hanya pelarian kamu kan, Ta?"
Anneta sudah mengepalkan tangannya, siap mencakar ataupun menonjok wajah itu. Tapi Alfian mencegahnya.
"Lebih baik kamu pergi, atau saya bisa berbuat kasar lagi sama kamu," ucap Alfian setelah beberapa saat hanya menjadi pendengar.
Nyali Ryan langsung menciut. Dia pun menyalakan motornya. "Aku akan buat kamu kembali lagi sama aku Ta, aku janji!" katanya sebelum pergi meninggalkan rumah gadis itu.
Anneta mengembuskan napas lega. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa aslinya Ryan seperti itu.
"Kamu harus hati-hati, dia sepertinya akan kembali lagi," kata Alfian. Anneta hanya mengangguk, lalu melepaskan tangannya yang ternyata masih menggamit lengan laki-laki itu. Entah hanya perasaan Anneta saja, atau memang ada secuil senyum yang terlihat di bibir Alfian.
"Terimakasih, Bapak sudah menolong saya."
Alfian hanya berdecap kesal, karena gadis ini seperti dengan sengaja menekankan kata bapak lagi pada kalimatnya.
"Saya sudah bilang, saya bukan Bapak kamu! Dan lagi sekarang kamu sudah tidak bekerja dengan saya. Jadi stop! Memanggil saya dengan sebutan itu, atau kamu akan saya beri hukuman."
Anneta menunjukkan cengiran tanpa dosanya. Sama sekali tidak terpengaruh dengan ancaman laki-laki itu.
Lalu kalau bukan, Bapak? Gue harus manggil apa?